21 Des 2011

Hakikat Sabar Dalam Kehidupan Sehari-hari



A. Pengertian
Secara etimologis, sabar (ash-Shabr) berarti menahan dan mengekang (al-habs wa al-kuf). Secara terminologis sabar berarti menahan dari segala sesuatu yang  tidak sukai karena mengharap ridha Allah. Yang tidak disukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak disenangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi bisa juga berupa hal-hal yang disenangi misalnya segala kenikmatan duniawi yang disukai oleh hawa nafsu. Sabar dalam hal ini berarti
menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu.
Menurut Hamzah Ya’qub, sabar menurut bahasa adalah teguh hati tanpa mengeluh ditimpa bencana apabila dikatakan dengan pandangan Islam maka sabar diartikan tabah menerima ujian-ujian Tuhan dalam bakti dan perjuangan dengan tujuan memperoleh ridhanya.

يا أيها الذين آمنوا اصبروا وصابروا ورابطوا واتقوا الله لعلكم تفلحون
 Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.200
Para ulama telah mendefiniskan sabar dengan banyak definisi. Diantara yang terpenting Dzunnun al-Mishri. Menurutnya sabar adalah menghindarkan diri dari hal-hal yang menyimpang, tetap tenang sewaktu tertimpa suatu ujian dan menampakkan kekayaan dikala  ditimpa kefakiran dalam kehidupan.
Menurut Raghib asy-Shafahani sabar adalah menahan diri berdasarkan apa yang diharus oleh akal dan syari’at, atau menahan diri dari apa yang diharuskan oleh keduanya untuk ditahan.
Menurut al-Jurjani sabar adalah meninggalkan keluh kesah kepada selain Allah tentang pedihnya suatu cobaan.
 Dari defenisi yang telah dipaparkan bahwa sabar merupakan berlapang dada dalam menghadapi segala cobaan baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Dalam sabar sudah pasti sudah sifat ikhlas ikut serta, jadi orang sabar itu sudah tentu ikhlas dan menyerahkan apapun yang dikasih oleh Allah kepadanya. Selain itu, orang sabar tidak pernah mengeluh akan takdir yang diberikan oleh Allah, orang sabar akan terus berusaha untuk tetap
berusaha untuk mencapai impiannya. Sudah banyak orang sukses karena atas kesabaran dan ketelatenan mereka.
1. macam-macam sabar beserta dalil dan contoh masing-masing
Para Ulama telah membagi sabar dengan pembagian yang beraneka ragam. Dan semuanya bermura pada tiga macam, yakni sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar terhadap maksiat dan sabar dalam musibah.
a. Sabar dalam menjalankan ketaatan adalah bersikap istiqomah dalam menjalankan syaria’at Allah; membiasakan diri untuk senantiasa menjalankan segala macam ibadah, baik yang berkaitan dengan harta, jasmani maupun hati. Meneruskan amar ma’ruf nahi mungkar dan bersabar dalam menjalankan semua itu terhadap beraneka macam ujian dan cobaan. Seperti yang telah dicontohkan oleh Luqman kepada anaknya.

يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانه عن المنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور
 “hai anakku, dirikanlah shalat, suruhlan manusia mengerjakan yang baik, cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, bersabarlah terhadap apa yang menimpamu”. (Qs. Luqman:17)
b. Sabar terhadap maksiat adalah dengan melakukan perjuangan melawan hawa nafsu, memerangi penyelewengan jiwa, meluruskank kebengkokannya dan mengekang pendorong-pendorong kejahatan dan kerusakan yang  dibisikkan oleh Syaitan ke dalam hati manusia. Dan apabila seseorang bersabar terhadap segala macam ujian dari Allah, maka ia akan mendapatkan hidayah yang sempurna.

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين
 “dan orang-orang yang berjuang untuk mencari ridha Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”. (QS. Al-Ankabut: 69).
c. Sedangkan sabar dalam menghadapi musibah adalah dengan menyadari bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan. Allah akan menguji iman hamba-Nya dengan beraneka ragam musibah, sebab Dialah yang lebih tahu segala sesuatu. Dan Allah akan menyaring kaum mukminin dengan beragam cobaan untuk memisahkan yang baik dan buruk, yang beriman dari yang munafik.

الم. أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون
 “alif  lam mi`m. apakah manusi itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan, ‘kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji’ (QS. Al-Ankabut: 1-2).
Menurut Yusuf al-Qardawi dalam bukunya Ash-Shabrfi al-Quran sabar dapat dibagi menjadi enam macam:
a. Sabar menerima cobaan hidup
Setiap manusia pasti akan selalu diterpa oleh cobaan. Cuma yang menjadi permasalahannya yakni bagaimana cara kita mensikapi cobaan yanag telah diberikan oleh Allah SWT. Dengan diberikan cobaan Allah itu berarti menandakan bahwa Allah masih menyayangi hamba-Nya. Karena Allah SWT menguji hamba-Nya sesuai dengan kadar keimanan yang dimiliki oleh hamba tersebut.
b. Sabar dari keinginan hawa nafsu
Hawa nafsu menginginkan segala macam kenikmatan hidup, kesenangan dan kemegahan dunia. Untuk mengandalikan segala keinginan itu diperlukan kesabaran. Jangan sampai semua kesenangan dunia itu membuat seseorang lupa diri, apalagi lupa Tuhan. Al-Quran mengingatkan, jangan sampai harta benda dan anak-anak menyebabkan seseorang lalai dari mengingat Allah SWT.

يا أيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله ومن يفعل ذلك فأولئك هم الخاسرون
 “hai orang-orang yang beriman, jaaganlah harta-harta dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi (QS. Al-Munafiqun: 9)
c. Sabar dalam ta’at kepada Allah SWT
Dalam mena’ati perintah Allah, terutama dalam beribadah kepada-Nya diperlukan kesabaran. Allah berfirman:

رب السماوات والأرض وما بينهما فاعبده واصطبر لعبادته هل تعلم له سميا
 “Tuhan langit dan Tuhan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65).
d. Sabar dalam berdakwah
yang penuh dengan segala onak dan duri. Seorang melalui jalan itu harus memiliki kesabaran. Luqman hakim menasehati putranya dalam surat Luqman ayat 13.

وإذ قال لقمان لابنه وهو يعظه يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar".
e. Sabar dalam perang
Dalam peperangan sangat diperlukan kesabaran, apalagi menghadapi musuh yang lebih banyak atau lebih kuat. Dalam keadaan terdesak sekalipun, seorang prajurit Islam tidak boleh lari meninggalkan medan perang. Karena ini adalah sifat-sifat orang yang bertakwa.
f. Sabar dalam pergaulan
Dalam pergaulan sesama manusia baik antara suami isteri, anak dengan orang tua dengan anaknya dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, dalam pergaulan sehari-sehari diperlukan kesabaran, sehingga tidak cepat marah atau memutuskan hubungan apabila menemui hal-hal yang tidak disukai.
B. keutamaan sabar (dalil dan contoh)
Sifat sabar dalam Islam menempati posisi istimewa. Al-Qur’an mengaitkan sifat sabar dengan bermacam-macam sifat mulia lainnya. Antara lain sifat ini dikaitkan dengan keyakinan (QS. As-Sajdah 32: 24), Syukur (QS. Ibrahim 14: 5), tawakkal (QS. An-Nahl 16: 41-42) dan taqwa (QS. Ali ‘Imran 3: 15-17) dan masih banyak lagi.
Karena sabar merupakan sifat mulia yang istimewa, tentu dengan sendirinya orang-orang yang sabar juga menempati posisi yang istimewa. Misalnya dalam menyebutkan orang-orang yang beriman yang akan mendapatkan surga dan keridhaan Allah SWT, orang-orang yang sabar ditempatkan dalam urutan pertama sebelum yang lain-lainnya (QS. Ali ‘Imran 3: 15-17).
Di samping itu, setelah menyebutkan dua belas sifat hamba-hamba yang akan mendapatkan kasih sayang dari Allah SWT, Allah menyatakan bahwa mereka akan mendapatkan balasan Surga karena kesabaran mereka. Artinya untuk dapat memenuhi dua belas sifat-sifat tersebut diperlukan kesabaran. Selain itu, sifat sabar sangat diperlukan untuk mencapai kehidupan dunia dan akhirat.
C. gaya penerapan kesabaran
Ketika hati diliputi oleh rasa frustasi sudah tentu hati tidak tenang, perasaan ingin marah terus. Adanya perasaan marah, gelisah dan ingin terburu-buru dalam menyelesaikan sesuatu atapun pekerjaan kita merupakan sifat yang menghalangi kita menuju kesuksesan ataupun impian yang ingin kita raih.
Maka sudah tentu kesabaran dalam melakukan pekerjaan kita diperlukan kesabaran dan ketelatenan dalam mengerjakannya. Selain itu, berdoalah kepada Allah untuk tetap istiqomah untuk berada dan mengerjakan pekerjaan yang anda lakoni. Karena prinsip orang berhasil adalah doa, usaha, ikhlas dan tawakkal (DUIT) kepada Allah.


Daftar Pustaka
Ya’qub, Hamzah.1987.  Tashawuf dan Taqqrrub; tingkat ketengan dan kebahagian mukmin. Bandung: Pustaka Madya
Qadir Isa, Abdul. 2006. Hakikat Tasawuf. Jakarta: Qibthi press
Ilyas, Yunahar. 2007. Kuliah Akhlak. Yogyakarta: LPPI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata