14 Des 2011

Konsep Manajemen Pendidikan Islam




oleh
Muhajir Musa
Fajar Kusuma (dagreatbankeidzar)
Syamsul Abdurrahman (kribo unik tampil beda)
achmad ferry wahyudi (ferry ahmad)
Moh. Makruf
Ahmad Irsyadin (Napster al-anshory)

A. Pengertian Manajemen
Istilah manajemen, terjemahannya dalam bahasa Indonesia hingga saat ini belum ada keseragaman. Banyak penulis yang telah berusaha untuk memberikan definisi atau batasan-batasan tentang pengertian manajemen (nitisemito, 1983:13). Berikut ini akan kami kutipkan beberapa definisi tentang manajemen dari beberapa penulis:
- Menurut Koontz dan O’Donnell dalam bukunya
Principle of Management antara lain mengatakan sebagai berikut : “management” is getting done through the efforts of other people.”
- GR. Terry dalam bukunya Principles of Management (1972) menyebutkan bahwa manajemen merupakan suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya lainnya.
- Menurut Sukanto Reksohadiprojo M. Com, dalam bukunya “Dasar-Dasar Management” yang dikutip oleh Nitisemito mengatakan “Suatu usaha merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkordinir serta mengawasi kegiatan dalam suatu organisasi agar tercapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif.
Dari pemaparan beberapa definisi di atas pada dasarnya memiliki titik kesamaan yang sama, sehingga dapat disimpulkan menjadi beberapa hal yang oleh Marno dan Triyo Supriyatno di simpulkan sebagai berikut :
1. Manajemen merupakan suatu usaha atau tindakan ke arah pencapaian tujuan melalui sebuah proses.
2. Manajemen merupakan system kerja sama dengan pembagian peran yang jelas.
3. Manajemen melibatkan secara optimal konstribusi orang-orang, dana, fisik dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien. (Marno, 2008 : 1-2)
Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah manajemen mengandung tiga pengertian yaitu:
1. Manajemen sebagai suatu proses,
2. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,
3. Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)
Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, mengandung makna bahwa diperlukan pengetahuan tentang fungsi-fungsi manajemen dan hubungan antar fungsi-fungsi manajemen.
Fungsi-funsi manajemen (akan dibahas selanjutnya) sangat banyak dan berbeda-beda antara satu penulis dengan penulis lain. Namun, pada intinya tidak akan lepas dari istilah yang sudah masyhur di dunia manajemen yaitu POAC-D yang merupakan kepanjangan dari: Planing, Organizing, Actuating, Controlling, and Directing.
Hubungan antara fungsi-fungsi manajemen yang satu dengan yang lain adalah saling bertautan. Dengan kata lain antara fungsi manajemen yang satu dengan yang lain adalah saling pengaruh-mempengaruhi. Meskipun demikian fungsi perencanaan merupakan landasan dari fungsi-sungsi manajemen yang lain.
Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.
Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan. Manajemen dianggap sebagai ilmu dan seni dikarenakan prinsip-prinsipnya saat ini memang sudah dapat dipelajari, tetapi dalam penerapannya hasilnya masih sangat dipengaruhi pada bakat-bakat perseorangan (Nitisemito, 1989: 16). Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalam kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.
Mengapa di dalam manajemen diperlukan bakat-bakat tertentu? Hal ini disebabkan karena pekerjaan memimpin agar lebih berhasil memerlukan kewibawaan, kemampuan untuk mengambil keputusan cepat, human relation dan sebagainya, padahal sebagaimana kita tahu hal-hal tadi sampai saat ini kesemuanya itu terletak pada diri seseorang tersebut yang merupakan bakat yang “agak” sulit untuk dipelajari.
B. Manajemen Islam
Istilah ini (Manajemen Pendidikan Islam) menimbulkan beberapa pandangan yang menurut Marno dan Triyo Supriyatno dalam Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam ada tiga asumsi yang terbentuk karena istilah Manajemen Pendidikan Islam yaitu: pertama, pendidikan Islam yang dalam proses penyelenggaraannya memakai prinsip-prinsip, konsep-konsep, dan teori-teori manajemen yang berkembang dalam dunia bisnis. Kedua, pendidikan Islam yang dalam proses penyelenggaraannya menggunakan prinsip-prinsip dan konsep-konsep manajemen yang digali dari sumber dan khazanah keislaman. Ketiga, pendidikan Islam yang dalam proses penyelenggaraannya memakai prinsip-prinsip, konsep-konsep, dan teori-teori manajemen yang berkembang dalam dunia bisnis dengan menjadikan Islam sebagai nilai yang memandu dalam proses penyelenggaraannya (Marno, 2008:3).
Dari ketiga asumsi diatas Marno dan Triyo Supriyatno memberikan kesimpulan bahwa manajemen pendidikan Islam didefinisikan sebagai sebentuk kerjasama untuk melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling) terhadap usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya manusia, financial, fisik, dan lainnya dengan menjadikan Islam sebagai landasan dan pemandu dalam praktek operasionalnya untuk mencapai tujuan organisasi (pendidikan Islam) dalam berbagai jenis dan bentuknya yang intinya berusaha membantu seseorang atau sekelompok siswa dala menanamkan ajaran dan/atau menumbuhkembangkan nilai-nilai Islam (Marno, 2008:5)
C. Teori-Teori dan Model-Model Manajemen
Perkembangan teori manajemen sampai pada saat ini telah berkembang dengan pesat. Tapi sampai detik ini pula belum ada suatu teori yang bersifat umum ataupun berupa kumpulan-kumpulan hukum bagi manajemen yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Suatu yang sama tapi karena dilihat dari kaca mata yang berbeda, akan dapat menimbulkan pendapat yang berbeda. Nitisemito dalam bukunya manajemen suatu dasar dan pengantar menggambarkan perbedaan cara pandang tersebut dengan petani yang sedang mencangkul sawah, apabila yang memandang adalah seorang ekonom maka ia beranggapan bahwa kegiatan mencangkul adalah kegiatan yang produktif, seorang dokter akan beranggapan mencangkul adalah kegiatan yang menyehatkan namun bila dilakukan secara berlebihan akan menyebabkan sakit berbeda lagi dengan seorang pakar hukum ia akan melihat bahwa kegiatan mencangkul itu legal atau tidak (Nitisemito, 83: 247).

Dalam perkembangannya ada tiga aliran dalam manajemen yaitu:
a. Aliran klasik yang terbagi dalam manajemen ilmiah dan teori organisasi klasik.
b. Aliran hubungan manusiawi, disebut sebagai aliran neoklasik atau pasca klasik.
c. Aliran manajemen modern.
Disamping itu akan dibicarakan juga dua pendekatan manajemen yaitu :
a. Pendekatan sistem (System Approach)
b. Pendekatan kontingensi (Contingency Approac)

1. Teori Manajemen Klasik
Ada dua tokoh manajemen yang mengawali munculnya manajemen, yaitu :
1. Robert Owen (1771 1858)
Dimulai pada awal tahun 1800-an sebagai Manajer Pabrik Pemintalan Kapas di New Lanark, Skotlandia. Robert Owen mencurahkan perhatiannya pada penggunaan faktor produksi mesin dan faktor produksi tenaga kerja. Dari hasil pengamatannya disimpulkan bahwa, bilamana terhadap mesin diadakan suatu perawatan yang baik akan memberikan keuntungan kepada perusahaan, demikian pula halnya pada tenaga kerja, apabila tenaga kerja dipelihara dan dirawat (dalam arti adanya perhatian baik kompensasi, kesehatan, tunjangan dan lain sebagainya) oleh pimpinan perusahaan akan memberikan keuntungan kepada perusahaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kuantitas dan kualitas hasil pekerjaan dipengaruhi oleh situasi ekstern dan intern dari pekerjaan.
Robert Owen adalah orang yang menentang praktek-praktek memperkerjakan anak-anak usia 5 atau 6 tahun dan standar kerja 13 jam per hari. Tersentuh dengan kondisi kerja yang amat menyedihkan itu, beliau mengajukan adanya perbaikan temadap kondisi kerja ini. Pada tahun-tahun awal revolusi industri, ketika para pekerja dianggap instrumen yang tidak berdaya, Owen melihat rneningkatkan kondisi kerja di pabrik, rnenaikkan usia minimum kerja bagi anak-anak, mengurangi jam kerja karyawan, menyediakan makanan bagi karyawan pabrik, mendirikan toko-toko untuk menjual keperluan hidup karyawan dengan harga yang layak, dan berusaha memperbaiki lingkungan hidup tempat karyawan tinggal, dengan membangun rumah-rumah dan membuat jalan, sehingga lingkungan hidup dan pabrik rnenjadi menarik. Sebab itu, beliau disebut "Bapak Personal Manajemen Modem". Selain itu, Owen lebih banyak memperhatikan pekerja, karena menurutnya, investasi yang penting bagi manajer adalah sumber daya manusia. Selain mengenai perbaikan kondisi kerja, beliau juga rnembuat prosedur untuk meningkatkan produktivitas, seperti prosedur penilaian kerja dan bersaing juga secara terbuka.
2. Charles Babbage (1792 1871)
Charles Babbage adalah seorang Profesor Matematika dari Inggris yang menaruh perhatian dan minat pada bidang manajemen. Dia dipercaya bahwa aplikasi prinsip-prinsip ilmiah pada proses kerja akan menaikkan produktivitas dari tenaga kerja menurunkan biaya, karena pekerjaan-pekerjaan dilakukan secara efektif dan efisien. Dia menganjurkan agar para manajer bertukar pengalaman dan dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen. Pembagian kerja (devision of labour), mempunyai beberapa keunggulan, yaitu :
a. Waktu yang diperlukan untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang baru.
b. Banyaknya waktu yang terbuang bila seseorang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain akan menghambat kemajuan dan ketrampilan pekerja, untuk itu diperlukan spesialisasi dalam pekerjaannya.
c. Kecakapan dan keahlian seseorang bertambah karena seorang pekerja bekerja terus menerus dalam tugasnya.
d. Adanya perhatian pada pekerjaannya sehingga dapat meresapi alat-alatnya karena perhatiannya pada itu-itu saja.
Kontribusi lain dari Charles Babbage yaitu mengembangkan kerja sama yang saling menguntungkan antara para pekerja dengan pemilik perusahaan, juga membuat skema perencanaan pembagian keuntungan.
2. Teori Manajemen Ilmiah
Tokoh-tokoh dari teori manajemen ilmiah antara lain Frederick Winslow Taylor, Frank dan Lilian Gilbreth, Henry L. Gantt dan Harrington Emerson.
1. Frederick Winslow Taylor
Pertama kali manajemen ilmiah atau manajemen yang menggunakan ilmu pengetahuan dibahas, pada sekitar tahun 1900an. Taylor adalah manajer dan penasihat perusahaan dan merupakan salah seorang tokoh terbesar manajemen. Taylor dikenal sebagai bapak manajemen ilmiah (scientifick management).
Hasil penelitian dan analisanya ditetapkan beberapa prinsip yang menggantikan prinsip lama yaitu sistem coba-coba atau yang lebih dikenal dengan nama sistem trial and error.
Hakekat pertama daripada manajemen ilmiah yaitu A great mental revolution, karena hal ini menyangkut manajer dan karyawan. Hakekat yang ke dua yaitu penerapan ilmu pengetahuan untuk menghilangkan sistem coba-coba dalam setiap unsur pekerjaan.
Taylor mengemukakan empat prinsip Scientific Management, yaitu :
a. menghilangkan sistem coba-coba dan menerapkan metode-metode ilmu pengetahuan disetiap unsur-unsur kegiatan.
b. memilih pekerjaan terbaik untuk setiap tugas tertentu, selanjutnya memberikan latihan dan pendidikan kepada pekerja.
c. setiap petugas harus menerapkan hasil-hasil ilmu pengetahuan di dalam menjalankan tugasnya.
d. harus dijalin kerja sama yang baik antara pimpinan dengan pekerja.
Hal yang menarik dari pendapat Taylor salah satunya adalah mengenai posisi manajer. Dimana manajer adalah pelayan bagi bahwahannya yang bertentangan dengan pendapat sebelumnya yang mengatakan bahwa bawahan adalah pelayan manajer. Oleh Taylor ini dinamakan studi gerak dan waktu (Time and a motion study).
2. Henry Laurance Gantt (1861 1919)
Henry merupakan asisten dari Taylor, dia berdiri sendiri sebagai seorang konsultan, dimana titik perhatiannya pada unsur manusia dalam menaikkan produktivitas kerjanya.  Sumbangan Henay L. Grant yang terkenal adalah sistem bonus harian dan bonus ekstra untuk para mandor. Beliau juga memperkenalkan system "Charting" yang terkenal dengan "Gant Chart".
Metodenya yang terkenal adalah rnetode grafis dalam menggambarkan rencana-rencana dan memungkinkan adanya pengendalian manajerial yang lebih baik. Dengan rnenekankan pentingnya waktu maupun biaya dalam merencanakan dan rnengendalikan pekerjaan. Hal ini yang menghasilkan terciptanya "Gantt Chart" yang terkenal tersebut. Teknik ini pelopor teknikteknik modern seperti PERT (Program Evaluation and Review Techique).
Adapun gagasan yang dicetuskannya yaitu :
a. kerja sama yang saling menguntungkan antara manajer dan tenaga kerja untuk mencapai tujuan bersama.
b. mengadakan seleksi ilmiah terhadap tenaga kerja.
c. pembayar upah pegawai dengan menggunakan sistem bonus.
d. penggunaan instruksi kerja yang terperinci.

3. Teori Organisasi Klasik
Tokoh-tokoh teori organisasi klasik antara lain yaitu Henry Fayol, James D. Mooney, Mary Parker Follett dan Chaster I. Bernard.
a. Henry Fayol (1841-1925)
Fayol adalah seorang industrialis Perancis. Fayol mengatakan bahwa teori dan teknik administrasi merupakan dasar pengelolaan organisasi yang kompleks, ini diungkapkan dalam bukunya yang berjudul Administration Industrielle et General atau Gneral and Industrial Management yang ditulis pada tahun 1908 oleh Constance Storrs.
Fayol membagi manajemen menjadi lima unsur yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian dan pengawasan, fungsi ini dikenal sebagai fungsionalisme.
Fayol. Selanjutnya membagi enam kegiatan manajemen, yaitu 1. Teknik Produksi dan Manufakturing Produk, 2. Komersial, 3. Keuangan, 4. Keamanan, 5. Akuntansi dan 6. Manajerial.
Henry Fayol mengemukakan 14 prinsip manajemen, yaitu :
1. Devision of Work
Adanya spesialisasi dalam pekerjaan
2. Uathority and Responsibility
Wewenang yaitu hak untuk memberi perintah dan kekuasaan untuk meminta dipatuhi.
3. Dicipline
Melakukan apa yang sudah menjadi persetujuan bersama.
4. Unity of Command
Setiap bawahan hanya menerima instruksi dari seorang atasan saja untuk menghilangkan kebingungan dan saling lempar tanggung jawab.
5. Unity of Direction
One head and one plan or a group or activities having the same objective. Seluruh kegiatan dalam organisasi yang mempunyai tujuan sama harus diarahkan oleh seorang manajer.
6. Subordination of Individual Interest to Generale Interest
Kepentingan seseorang tidak boleh di atas kepentingan bersama atau organisasi.
7. Renumeration
Gaji bagi pegawai merupakan harga servis atau layanan yang diberikan, kompensasi.
8. Centralization
Standarisasi dan desentralisasi merupakan pembagian kekuasaan.
9. Sealar Chain (garis wewenang)
Jalan yang harus diikuti oleh semua komunikasi yang bermula dari dan kembali ke kuasaan terakhir.
10. Order
isini berlaku setiap tempat untuk setiap orang dan setiap orang pada tempatnya berdasarkan pada kemampuan.
11. Equity
Persamaan perlakuan dalam organisasi.
12. Stability of Tonure of Personel
Seorang pegawai memerlukan penyesuaian untuk mengerjakan pekerjaan barunya agar dapat berhasil dengan baik.
13. Initiative
Bawahan diberi kekuasaan dan kebebasan di dalam mengeluarkan pendapatnya, menjalankan dan menyelesaikan rencananya.
14. Esprit the Corps
Persatuan adalah keleluasaan, pelaksanaan operasi organisasi perlu memiliki kebanggaan, keharmonisan dan kesetiaan dari para anggotanya yang tercermin dalam semangat korps.

b. Mary Parker Follett (1868 1933)
Follett menjembatani antara teori klasik dan hubungan manusiawi, dimana pemikiran Follett pada teori kalsik tapi memperkenalkan unsur-unsur hubungan manusiawi. Dia menerapkan psikologi dalam perusahaan, industri dan pemerintahan. Konflik yang terjadi dalam perusahaan dapat dibuat konstruktif dengan menggunakan proses integrasi.
Adapun kritik terhadap pendekatan teori organisasi klasik, antara lain:
a) Merangsang berfikir yang mengutamakan konformitas dan formalitas.
b) Merupakan rutinitas yang membosankan
c) Ide-ide inovatif tidak sampai kepada pengambil keputusan karena panjangnya jalur komunikasi
d) Tidak memperhitungkan organisasi nonformal yang seringkali berpengaruh terhadap organisasi formal
e) Dijalankan secara berlebihan
f) Terlalu banyak aturan yang berbelit-belit
g) Kecenderungan menjadi orwelian yaitu keinginan birokrasi mencampuri (turut melaksanakan, bukan mengendalikan urusan.
4. Aliran Hubungan Manusiawi (Neo Klasik)
Pendekatan ini muncul untuk merevisi teori manajemen klasik yang ternyata tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja. Para ahli selanjutnya melengkapi teori manajemen klasik dengan menerapkan sosiologi dan psikologi dalam manajemen.
Munsterberg(1863-1916), profesor psikologi Jerman yang mendapat sebutan Bapak Psikologi Industri, menyarankan agar penggunaan teknik-teknik manajemen menggunakan hasil eksperimen psikologi. Sebagai contoh, berbagai metode psikologi dapat digunakan untuk memilih kharakteristik tertentu yang cocok dengan kebutuhan suatu jabatan. Ia juga menyarankan agar faktor sosial dan budaya turut dipertimbangkan dalam suatu organisasi. Kontribusi utama dari Munsterberg untuk manajemen adalah aaplikasi psikologi industri dalam manajemen.
Penelitian Hawthorne yang dilakukan oleh Mayo (1880-1949) menghasilkan bahwa hubungan manusiawi merupakan istilah umum yang sering dipakai untuk menggambarkan cara interaksi manajer dengan bawahannya secara manusiawi. Asumsinya, jika manajer personalia memotivasi pekerja dengan baik maka hubungan manusiawi dalam organisasipun menjadi baik. Apabila moral dan efisiensi menurun, maka hubungan manusiawi dalam organisasipun menurun. Ahli lain yang termasuk dalam pendekatan ini adalah Lewin, Roger, Morino, dan lainnya.
Keterbatasan dari teori hubungan manusiawi ini adalah bahwasanya konsep makhluk sosial tidaklah menggambarkan secara lengkap individu-individu di tempat kerjanya. Perbaikan kondisi kerja dan kepuasan kerja tidak menghasilkan perubahan produktivitas yang mencolok. Lingkungan sosial ti tempat kerja bukanlah satu-satunya tempat pekerja saling berinteraksi dengan unit lain di luar tempat kerja. Kelompok yang diteliti mengubah perilakunya karena merasa kelompoknya menjadi objek dan subjek penelitian.
5. Pendekatan Teori Perilaku
Teori perilaku merupakan pengembangan dari pendekatan hubungan manusiawi. Pendekatan ini memandang bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh sistem sosialnya. Perilaku dapat dipahami melalui tiga pendekatan, yaitu:
1) Rasional
Model rasional memusatkan perhatiannya pada anggota organisasi yang diasumsikan bersifat rasional dan mempunyai berbagai kepentingan, kebutuhan, motif dan tujuan. Pendukung model ini antara lain, Down dan Simon
2) Sosiologis
Model ini lebih memusatkan perhatiannya kepada pengetahuan antropologi, sosiologi dan psikologi. Pendukung model ini antara lain Bern
3) Pengembangan hubungan manusia
Model pengembangan hubungan manusia lebih memusatkan perhatiannya kepada tujuan yang ingin dicapai dan pengembangan berbagai sistem motivasi menurut jenis motivasi agar dapat meningkatkan produktivitas kerja. Pendukung model ini antara lain, Mc Gregor, Maslow, dan Bennis.
Keterbatasan dari pendekatan perilaku ini adalah bahwa beberapa ahli manajemen termasuk ahli perilaku percaya bahwa bidang perilaku tidak sepenuhnya nyata karena berkenaan dengan manusia yang bersifat unik. Model, teori dan istilah perilaku oleh ahli perilaku sangat kompleks dan abstrak untuk dipraktekkan para manajer. Dikarenakan perilaku manusia sangat unik, maka ahli-ahli perilaku sering berbeda dalam menyimpulkan penelitian, dan rekomendasinya pun sulit bagi manajer untuk memilih dan melaksanakannya.
6. Aliran Kuantitatif
Pendekatan kuantitatif ditandai dengan berkembangnya tim penelitian operasi dalam pemecahan masalah-masalah industri. Pendekatan ini didasari oleh kesuksesan tim penelitian operasi Inggris pada PD II. Teknik-teknik penelitian operasi ini semakin berkembang sejalan dengan kemajuan komputer, transportasi dan komunikasi. Teknik-teknik penelitian operasi selanjutnya disebut sebagai pendekatan manajemen ilmiah.
Pendekatan manajemen ilmiah dipakai dalam banyak kegiatan seperti penganggaran modal, manajemen produksi, penjadwalan, pengembangan strategi produk, pengembangan SDM dan perencanaan program. Penggunaan riset operasi dalam manajemen ini selanjutnya dikenal sebagai aliran manajemen science.
Langkah-langkah pendekatan manajemen science yaitu :
1. perumusan masalah dengan jelas dan terperinci
2. penyusunan model matematika dalam pengambilan keputusan
3. penyelesaian model
4. pengujian model atas hasil penggunaan model
5. penetapan pengawasan atas hasil
6. pelaksanaan hasil dalam kegiatan implementasi

D. Kedudukan, Tugas, Fungsi Dan Peran Manajer

a. Tingkatan Manajer (Manajer Level)
Tingkatan manajemen dalam organisasi akan membagi tingkatan manajer menjadi 3 tingkatan :
1. Manajer lini garis-pertama (first line) adalah tingkatan manajemen paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Dan mereka tidak membawahi manajer yang lain.
2. Manajer menengah (Middle Manager) adalah manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya kadang-kadang juga karyawan operasional.
3. Manajer Puncak (Top Manager) terdiri dari kelompok yang relative kecil, manager puncak bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi.
b. Fungsi-Fungsi Manajemen (Management Functions)
Sampai saat ini, masih belum ada konsensus baik di antara praktisi maupun di antara teoritis mengenai apa yang menjadi fungsi-fungsi manajemen, sering pula disebut unsur-unsur manajemen.
Berbagai pendapat mengenai fungsi-fungsi manajemen akan tampak jelas dengan dikemukakannya pendapat beberapa penulis sebagai berikut:

Allen Henry Gullich Koontz Siagian Lyndak Stoner Terry
Planning V V V V V V V V
Organizing V V V V V V V V
Actuating
Controlling V V V V V V V
Directing V V
Commanding V V
Staffing V V V
Coordinating V V V
Reporting V
Forecasting V
Leading V
Motivating V V



Dari beberapa pendapat para penulis di atas dapat dikombinasikan, fungsi-fungsi manajemen adalah sebagai berikut:
1. Planning
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit.
Misalnya yang sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencaan merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut :
1. Tindakan apa yang harus dikerjakan ?
2. Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan ?
3. Di manakah tindakan itu harus dikerjakan ?
4. kapankah tindakan itu harus dikerjakan ?
5. Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu ?
6. Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu ?
Menurut Stoner Planning adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi.
2. Organizing
Organizing (organisasi) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.
3. Leading
Pekerjaan leading meliputi lima kegiatan yaitu :
• Mengambil keputusan
• Mengadakan komunikasi agar ada saling pengertian antara manajer dan bawahan.
• Memberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak.
Memilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya, serta memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka terampil dalam usaha mencapai tujuan yang ditetapkan.
4. Directing/Commanding
Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.
5. Motivating
Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.
6. Coordinating
Coordinating atau pengkoordinasian merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarahdalam upaya mencapai tujuan organisasi.
7. Controlling
Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula.
8. Reporting
Adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi.
9. Staffing
Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi.
10. Forecasting
Forecasting adalah meramalkan, memproyrksikan, atau mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang lebih pasti dapat dilakukan.
C. Peran Manajer
Tiga bidang peranan manajer
1. Peranan antar pribadi
-sebagai pemuka simbolis, misal menerima dan menjamu tamu besar, menghadiri pernikahan karyawannya, upacara-upacara seremonial dsb
- pemimpin, mendidik, mengatur, memimpin, memberikan motivasi, memberikan bimbingan, nasehat dsb kepada bawahan.
- perantara, berhubungan dengan pihak-pihak ekstern perusahaan, baik dalam mengadakan peremuan, perwakilan dsb
2. Peranan informasional
- Monitoring aliran informasi yang ada baik kedalam maupun ke luar perusahaan
- Penerus informasi yaitu menyebarkan informasi-informasi kepada bawahannya atas keputusan yang diambil dan informasi lainnya dari luar perusahaan.
- Perwakilan, yaitu sebagai wakil dari perusahaan keluar perusahaan baik sebagai warga negara biasa, mewakili dalam pengadilan dan mengadakan hubungan dengan unsur-unsur masyarakat lainnya.
3. Peranan pembuat keputusan
- Wiraswasta, berdasarkan pada inisiatif dan kreatif sendiri
- Penangkal kesulitan, penanggulangan pemogokan, pembatalan kontrak, penampung keluhan dan sebagainya
- Pengalokasian sumber daya, kepada siapa kapan, untuk apa, dan bagaimana sumber daya yang di punyainya, di alokasikan.
- Negotiator, mengadakan perundingan-perundingan dengan pihak lain.

E. Model-Model Manajemen Dalam Pendidikan Islam

A. School Based Managemen Dalam Kerangka Otonomi Daerah
1. Otonomi Daerah dan Dampak Terhadap Dunia Pendidikan
Salah satu tuntutan masyarakat untuk mereformasikan tatanan kenegaraan adalah otonomi daerah. Tuntutan ini menjadi urgen dan mendesak ketika sebagian anak bangsa sudah mulai tercerahkan dan sadar setelah “dikibuli” rezim orde baru yang menerapkan pemerintahan sentralistik-diskriminatif. Pasca pemerintah orde baru, pemerintah mulai berusaha mengakomodasi tuntutan tersebut yang kemudian dikristalisasikan dalam undang-undang No. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, dan undang-undang No. 25 tahun 1999 tentang perimbangan keuangan antra pusat dan daerah. Sebagai dampak otonomisasi daerah terutama pada bidang pendidikan terdapat beberapa permasalahan yang perlu dipertimbangkan lebih mendalam, yaitu yang terkait dengan kepentingan nasional, mutu pendidikan, efisiensi pengelolaan, pemerataan, peran serta masyarakat, akuntabilitas.
Pertama, dalam skala nasional pemerintah mempunyai kepentingan antara lain sejalan dengan isu wajib belajar dan sebagai upaya mewujudkan salah satu tujuan nasional “mencerdaskan kehidupan”.Kedua, peningkatan mutu. Salah satu dasar pemikiran yang melandasai lahirnya undang-undang pemerintah daerah 1999 adalah untuk menghadapi tantangan persaiangan global.  Dengan demikian, mutu pendidikan diharapkan tidak hanya memenuhi standar nasional tetapi perlu memenuhi standar internasional. Ketiga, efesiensi pengelolaan. Keempat, pemerintah. Pelaksanaan otonomi pendidikan diharapkan dapat meningkatkan aspirasi masyarakat yang diperkirakan juga akan meningkatnya pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan. Kelima, peran serta masyarakat. Keenanm, akuntabilitas.
2. School Based Management dan Kesiapan LPI Menyambut Otonomi
Konsep dasar school Based Management adalah mengalihkan pengambilan keputusan dari pusat/Kanwil/Kandep ke level sekolah. Oleh karena itu ada beberapa pakar yang memberi istilah school based decesion making and management (Chapman, 1990). Dengan pengalihan wewenang pengambilan keputusan ke level sekolah diharapkan sekolah lebih mandiri dan mampu menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan tuntutan lingkungan masyarakatnya.
Diantara potensi yang dimiliki LPI adalah kekuatan yang ada pada masyarakat, bahwa disatu sisi masayarakat Indonesia beragama Islam yang memiliki ikatan emosional dengan simbol-simbol keberagamaannya yang dimanifestasikan dengan menjaga dan mengembangkan simbol-simbol tersebut dan madrasah merupakan salah satu simbol tersebut.

B. Total Quality Management (TQM) Dalam Pendidikan
1. Pengertian total Quality Management (TQM)
TQm adalah suatu cara meningkatkan kerja performansi secara terus menerus dalam setiap tingkatan operasi atau proses dalam setiap area fungsional dari suatu organiasi dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia. Ross dalam William Mantja (2000) mendefenisikan TQM sebagai integrasi dari semua fungsi dan proses dalam organisasi untuk memperoleh dan mencapai perbaikan setiap peningkatan kualitas barang sebagai produk dan layanan yang berkesinambungan.

2. Tujuan TQM
Tujuan utama TQM dalam pendidikan meningkatkan mutu pendidikan secara berkelanjutan, terus menerus dan terpadu. Upaya peningkatan mutu pendidikan yang dimaksudkan tidak sekaligus, melainkan dituju berdasarkan peningkatan mutu pada setiap komponen pendidikan.
3. Prinsip TQM
Pencapaian tujuan di atas dapat diwujudkan jika menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut: pertama, memfokuskan pada penggunaan atau pelanggan. Kedua, peningkatan kualitas pada proses. Ketiga, melibat semua komponen pendidikan.
4. Karakteristik TQM dalam pendidikan
Menurut Gandem dalam Supriyanto (1999: 42) bahwa karakterisktik TQM itu indikasinya ditunjukan melalui: (1) komitmen yang tinggi dari seluruh jajaran organisasi (pimpinan tertinggi sampai dengan karyawan terendah); (2) organisasi yang  mantap; (3) motivasi dan displin yang tinggi.
Persyaratan yang harus dipenuhi jika TQM diimplementasikan dalam institusi pendidikan, antara lain: (1) Peningkatan secara berkesinambungan; (2) perubahan budaya; (3) organisasi ke atas samping-bawaah; (3) menjaga hubungan dengan pelanggan; (4) kolega sebagai pelanggan.
5. Komponen penting dalam implementasi TQM
Pada lembaga pendidikan yang ingin maju haruslah memiliki visi. Visi adalah sebuah cita-cita atau hayalan yang menatap pada masa depan untuk menjadikan sebuah lembaga menjadi bermutu dan berkembang. Ada tiga fungsi visi yaitu: (1) memberikan inspirasi; (2) untuk pijakan pembuatan keputusan; (3) untuk memungkinkan bagi semua yang ada dalam lembaga menemukan point yang penting untuk memfokuskan energi dalam mencapai perkembangan kualitas yang bertahan (Murgatroyd dan Collin, 1994: 83).
Komitmen merupakan suatu tantangan visi yang riil. Mengambil komitmen dan strategi yang terkait adalah persoalan yang dapat diambil dengan ringan. Komitmen adalah kualitas yang sulit diperoleh dan dijamin dari anggota organisasi yang komplek dari seperti perguruan tinggi.
6. Alat teknik TMQ untuk peningkatan mutu
Agar suatu filsofi dapat diwujudkan, ada alat dan teknik TQM yang dapat dugunakan untuk kepentingan peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai alatberrti sebagai sarana fisik (komputer, buku pinter). Sedangkan sebagai teknik berarti cara-cara untuk memilih memilih alat dalammemecahkan persoalanayang ada. Oleh karena itu keduanya saling terkaitdan terjadi interrelasi. Alat dan teknik yang disebut diatas TQM yang tersebut di atas dalam pendidikan  lebih merupakan sarana yang didalamnya memuat langkah-langkah untuk kepentingan perbaikan, dilakukan secara terus menerus, dan memfokuskan kepada kebutuhan pelanggan serta melibatkan semua orang.
C. Respon lembaga pendidikan Islam terhadap  perubahan sosial.
1. Dalam sistem sosial, pendidikan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat. Pendidikan dan masyarakat memiliki hubungan resiprokal yang sangat kuat. Hubungan resiplokal ini dapat dijelaskan secara filosofis maupun sosiologis.
Secara filosofis, Muhammad Nursyam (1973) mengatakan bahwa masyarakat yang maju dan modern adalah masyarakat yang di dalamnya ditemukan suatu tingkatan pendidikan yang maju, modern dan merata, baik bentuk kelembagaannya maupun jumalah dan tingkat yang terdidik.
Secara sosiologis, Emile Durkheim (Karabel dan Halsy, 1977) menyatakan bahwa transformasi pendidikan selalu merupakan hasil dan gejalah transformasi sosial. Artinya, transformasi pendidikan hanya bisa dijelaskan melalui telaah atas transformasi sosial yang telah berlangsung.
2. Menjadikan lembaga pendidikan Islam sebagai alternatif pilihan masyarakat.


F. Kriteria Manajemen Pendidikan Islam Yang Efektif
Kunci kesuksesan sebuah lembaga pendidikan terletak pada manajemennya. Manajemen lembaga Pendidikan dianggap berhasil manakala mutu pendidikan itu diakui dan bisa bersaing dengan pendidikan di dalam maupun di luar negeri, demikian juga dengan pendidikan Islam. Menurut Malik Fadjar bahwa manajemen pendidikan Islam seharusnya menerapkan manajemen berbasis sekolah (School Based Managemet) pendapat ini tidak ada bedanya dengan manajemen TQM yakni melalui kedua manajemen ini masyarakat sekolah memiliki kemandirian dalam merencanakan, mengelola dan mengatur rumah tangga sekolahnya sendiri.
Menurut Abudin Nata (2003: 237), untuk mewujudkan sekolah atau organisasi pengelola keagamaan yang efektif dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut; Pertama, organisasi tersebut harus memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas dan diarahkan pada upaya mewujudkan cita-cita Islam. Kedua, organisasi tersebut harus dipimpin oleh orang yang memiliki visi, capability, loby dan morality. Visi berkaitan dengan gagasan cita-cita dan imajinasi yang terus mengalir. Sedangkan capability berkaitan dengan kesanggupan untuk mewujudkan cita-cita dan visi tersebut. Sementara loby terkait dengan kemampuan berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan berbagai pihak yang memungkinkan dapat diakses untuk mencapai tujuan. Selanjutnya morality berkaitan dengan akhlak yang mulia seperti keikhlasan dalam bekerja, jujur, amanah dan lain sebagainya. Ketiga, organisasi tersebut harus memiliki sumber ekonomi yang dihasilkan melalui berbagai usaha. Keempat, organisasi tersebut harus mampu membaca peluang yang memungkinkan dapat dilakukan berbagai kegiatan yang dibutuhkan oleh jama’ah. Kelima, organisasi tersebut harus didukung oleh sarana dan prasarana pendukung yang baik. Keenam, organisasi tersebut harus memperoleh legitimasi dari masyarakat dengan cara menciptakan berbagai kegiatan yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Untuk mengembangkan manajemen suatu lembagai pendidikan yang berkualitas subtansi manajemen pengembangan lembaga pendidikan Islam yang harus diperhatikan, antara lain:
1. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran
Kurikulum dan pembelajaran merupakan salah satu elemen yang terdapat dalam pendidikan. Keduanya saling mendukung satu sama lainnya. Di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang system Pendidikan Islam Nasional dinyatakan bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
Dalam kurikulum terdapat prinsip kolektivitas tim, yang mana ini menuntut kerjasama satu sama lainnya. Selain itu, kurikulum pula tempat mengejewatahkan nilai, ide dan pembelajaran serta kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Dari kurikulum inilah akan diketahui arah pendidikan serta hasil pendidikan yang hendak dicapai dari aktivitas pendidikan.
Sedangkan pembelajaran menjadi tiang dalam kurikulum. Pembelajaran yang diterapkan dalam lembaga pendidikan itu sangat berpengaruh bagi psikis siswa. Dalam teori ilmu pendidikan modern ataupun ilmu pendidikan Islam berbagai macam model pembelajaran pilihan yang harus diterapkan oleh pendidik. Seperti model pembelajaran kooperatif, kuantum, pembelajaran dengan membacakan kisah-kisah, tematik dan lain sebagainya. Kesemuanya itu bermuara pada satu tujuan yakni bagaimana membuat murid itu senang, nyaman dan menikmati pembelajaran yang disajikan. Dengan begitu dalam pembelajran semakin mudah dimengerti dengan materi yang diajarkan.
2. Manajemen Personalia
Dalam lembaga pendidikan, personalia (sumber daya manusia) terlebih kepala sekolah/madrah memiliki peran vital. Sebagai puncak pimpinan tertinggi dan penanggung jawab pelaksanaan otonomi pendidikan di tingkat sekolah/madrasah, ia memiliki peran sentral dalam pengelolaan personalia. Beberapa prinsip dasar manajemen personalia, yang dijadikan pedoman kepala sekolah/madrasah adalah:
a. Dalam mengembangkan sekolah/madrasah, sumber daya manusia adalah komponen paling berharga
b. Sumber daya manusia akan berperan secara optimal, jika dikelola dengan baik, sehingga mendukung tercapainya tujuan institusi.
c. Kultur dan suasana organisai/sekolah, serta perilaku manajerialnya sangat berpengaruh pada pencapaian tujuan pengembangan sekolah atau madrasah.
d. Manajemen personalia di sekolah/madrasah pada prinsipnya mengupayakan agar setiap warga (guru, staf administrasi, peserta didik, serta orang tua, dan stakeholders) dapat bekerja sama dan saling mendukung untuk mencapai tujuan sekolah/madrasah. (Hasbullah. 2006: 113).
3. Manajemen Peserta didik
Suryosubroto memberi batasan defenisi manajemen peserta didik, sebagai berikut: Manajemen peserta didik menunjuk pada pekerjaan-pekerjaan atau kegiatan-kegiatan pencatan murid, semenjak dari proses penerimaan sampai saat murid meninggalkan sekolah/madrasah, karena sudah tamat mengiktui pendidikan pada sekolah/madrasah itu. (Suryosubroto. 2004: 74).
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa manajemen peserta didik adalah upaya penataan peserta didik. Mulai dari mereka masuk hingga lulus. Manajemen peserta didik termasuk salah satu bagian dari manajemen pendidikan secara keseluruhan. Manajemen peserta didik menempati posisi yang sangat penting, karena yang sentral di sekolah adalah peserta didik. Semua kegiatan yang ada di sekolah adalah peserta didik. Semua kegiatan yang ada di sekolah, diarahkan agar peserta didik mendapat layanan pendidikan yang baik dan tercipta suasana belajar yang kondusif.
4. Manajemen Administrasi Sekolah/Madrasah
Secara etimologis, kata “administrasi”, berasal dari bahasa latin yang terdiri dari kata “ad” dan “ministrare”. Kata “ad” mempunyai persamaan makna dengan kata “to” dalam bahasa Inggrisnya yang berarti ke atau kepada. Kata “ministrare” memiliki arti sama dengan “to serve” atau “to conduct” yang berarti melayani, membantu atau mengarahkan.
Secara terminologis adalah suatu kegiatan atau proses, terutama mengenai cara-cara (alat-alat) sarana untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Administrasi dalam perspektif manajemen, dipandang mempunyai peran penting sebagai “prevoyange” atau kemampuan melihat masa depan. Hal ini berarti administrasi dinilai mampu melihat keadaan masa yang akan datang dan mempunyai kesiapan untuk menghadapinya.
Hakikat manajemen adalah rangkaian tindakan yang bermaksud untuk mencapai hubungan kerjasama yang rasional dalam suatu sistem administrasi. Inti keberhasilan suatu manajemen adalah kerjasama dan komunikasi. Dalam manajemen administrasi terdapat yang Tata Usaha, adapun pekerjaan mereka ke dalam tiga kelompok, antara lain; pembukuan, surat-menyurat dan sarana dan prasarana.

5. Manajemen Sarana dan Prasarana
Manajemen sarana prasarana adalah suatu kegiatan bagaimana mengatur dan mengelola sarana dan prasarana pendidikan secara efesien dan efektif dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Tim Pakar Manajemen Universitas Negeri Malang, manajemen sarana prasarana pendidikan adalah proses kerjasama pendayagunaan semua sarana dan prasarana pendidikan secara efektif dan efesien.
Manajemen sarana dan prasarana pendidikan pada dasarnya bertujuan: 1) meciptakan sekolah/madrasah yang rapi, bersih, indah sehingga menyenangkan bagi masyarakat sekolah/madrasah, 2) tersedianya sarana dan prasarana pendidikan yang memadai, baik secara kualitatif maupun kualitatif dan relevan dengan kepentingan pendidikan
6. Manjemen Keuangan
Manajemen keuangan atau pembiayaan merupakan serangkaian kegiatana perencanaan, melaksanakan dan mengevaluasi serta mempertanggungjawabkan pengelolaan dana secara transparan kepada masyarakat dan pemerintah.
Dalam manajemen pendidikan, masalah dana merupakan potensi yang sangat menentukan dan tidak bisa dipisahkan dari kajian manajemen pendidikan. Adapun biaya adalah keseluruhan dana baik secara langsung maupun tidak langsung yang diperoleh dari berbagai sumber.
7. Manajemen Hubungan Masyrakat
Berfungsi sebagai pencitraan sekolah atau lembaga pendidikan. Humas itu sendiri merupakan fungsi manajemen yang diadakan untuk menilai dan menyimpulkan sikap-sikap publik, menyesuaikan kebijakan dan prosedur instansi atau organisasi untuk mendapatkan pengertian dan dukungan dari masyarakat



Susunan pencapaian?
Apa bedanya menejer dengan kepemimpinan?
Teori manajemen?faktor apa saja yg menjadi hambatan manajemen?
Cara penerapan manajemen peserta didik?
D luar kbm atau d luar KBM (kegiatan blajar mngajr)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata