3 Jun 2012

Hermeneutika dalam Perspektif Islam

Pengertian
Hermeneutika secara etimologi diambil dari kata Yunani “Hermenuin” yang berarti tafsir dan penjelasan serta penerjemahan. Ketika pindah ke ranah teologi seperti kondisi waktu itu, maka ditemukan bahwa bahasa wahyu ketuhanan yang tidak jelas sangat membutuhkan penjelasan tentang kehendak Tuhan agar dapat sampai kepada pemahaman tentang hal itu, begitu juga agar dapat mentransformasikannya sesuai dengan kondisi kontemporer.

Kata “hermeneutic” dalam pendapat yang lain diambil dari kata Hermes. Yang artinya utusan dewa-dewa dalam mitologi Yunani. Dalam terminology modern hermeneutika adalah ilmu yang digunakan dalam rangka mencari pemahaman teks secara umum, yaitu dengan memunculkan pertanyaan-pertanyaan beragama dan saling berkaitan seputar teks dari segi karakteristiknya dan hubungan dengannya dengan kondisi yang melingkupinya dari satu sisi serta hubungannya dengan pengarang teks serta pembacanya dari sisi yang lain. Penting untuk diketahui bahawa hermenutika hanya fokus membahas dengan serius seputar hubungan penafsir dengan teks.
Hermeneutika bisa berarti tafsir, secara istilah menafsirkan. Istilah ini merujuk pada seorang tokoh mitologi Yunani yang dikenal dengan nama Hermes (Merurius). Di kalangan mitologi Yunani Hermes dikenal sebagai dewa yang bertugas menyampaikan pesan-pesan Dewa kepada manusia.
The New Ensyclopedia Britannica menulis, bahwa hermenutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang intrepetasi Bible. Ada empat model intrepetasi Bible, yaitu: pertama, literal interpretation. Kedua, moral interpretation. Ketiga, allegorical interpretation dan anagogical interpretation.
Hermeneutika bukan sekedar tafsir, melainkan metode tafsir atau filsafat tentang penafsiran yang bisa sangat berbeda dengan metode tafsir Al-Quran. Di kalangan Kristen, saat ini penggunaan Hermeneutika dalam interpretasi Bibel sudah lazim meskipun juga menimbulkan perdebatan. Menurut Sumryono Hermenutika adalah proses mengubah sesuatu atau situasi ketidakketahuan menjadi tahu. Jadi Hermeneutika adalah membuat interpretasi yang banyak dikutip mengenai proses penerjemahan yang dilakukan oleh Hermes. Proses itu mengandung tiga makna Hermenutis yang mendasar, yaitu;
1.    Mengungkapkan sesuatu yang tadinya masih dalam pikiran melalui kata-kata sebagai medium penyampaian;
2.    Menjelaskan secara rasional sesuatu yang sebelumnya masih samar-samar sehingga maknya dapat dimengerti
3.    Menerjemahkan suatu bahasa yang asing ke dalam bahasa lain yang lebih dikuasai pemirsa.
Menurut Roger Trig “the paradigm for hermeneutic is the interpretation of a traditional text, where the problem must always be how we can come to understand in our own context something which was written in a radically different situation”.

Macam Hermeneutika
Pertama, hermeneutika romantic dengan eksemplar Friederich Ernst Daniel. Ini bermula dari pertanyaan yang universal: bagaimana pemahaman manusia dan bagaimana ia terjadi. Dalam hal ini ia mengajukan dua teori; pertama, pemahamana ketatabahasaan terhadap semua ekspresi. Kedua, pemahaman psikologis terhadap pengarang, artinya hermeneutika bertugas untuk merekonstruksi pikiran pengarang. Tujuannya pemahaman bukan makna yang diperoleh dari dalam materi subjek, tetapi lebih merupakan makna yang muncul dalam pandangan pengarang yang telah direkontruksi tersebut. Di sini adalah lima unsur dalam upaya memahami wacana text antara lain penafsir, text, pengarang, konteks historis dan konteks kultural.
Kedua, hermeneutika metodis dari Wilhelm Dilthey (1833-1911). Ini mengkritik hermenutika pertama bahwa manusia adalah mahluk yang berbahasa. Menurutnya manusia awalnya tidak pernah hidup hanya sebagai mahluk linguistic yang hanya mendengar, menulis dan membaca untuk kemudian memahami dan menafsirkan. Lebih dari itu, manusia adalah mahluk yang memahami dan menafsirkan dalam aspek kehidupannya. Menurutnya hermenutika adalah proses pemahaman bermula dari pengalaman kemudian mengekspresikannya. Baginya “hermeneutika adalah teknik memahami ekspresi tentang kehidupan yang tersusun dalam bentuk tulisan”.
Ketiga, hermeneutika fenomenologis dari Edmund Husserl. Pendapatnya pengetahuan dunia objektif itu tidak pasti, artinya apa yang kita andaikan sebagai dunia objektif itu sesungguhnya adalah dunia yang sudah diwarnai oleh apparatus sensor yang tidak sempurna dari tubuh manusia dan dari aktivitas-aktivitas rasional maupun abstraksi pikiran.
Hermenutika fenomenologis ini berpendapat bahwa teks merefleksikan kerangka mentalnya sendiri dan karenanya penafsir harus netral dan menjauhkan diri dari unsur-unsur subjektifnya atas objek.
Keempat, hermeneutika dialektis dari Martin Heidegger. Hermeneutika ini sangat menentang tegas hermeneutika fenomenologis. Sebab, kerja penafsiran hanya bisa dilakukan dengan didahului oleh prasangka mengenai objek. Menurutnya prasangka-prasangka historis atas objek merupakan sumber-sumber pemahaman, karena prasangka adalah bagian dari eksistensi yang harus dipahami.
Kelima, hermeneutika dialogis dari Hans-Georg Gadamer. Hermeneutika ini mengembangkan interpretasi ontologis, Gadamer tidak memaknai hermeneutika sebagai penerjemah eksistensi, tetapi pemikiran dalam tradisi filsafat, sebenarnya, ia tidak menganggap hermeneutika sebagai metode. Sebab baginya pemahaman yang benar adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologism, bukan metodologis. Artinya, kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode, tetapi melalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan. Dengan begitu, bahasa menjadi medium sangat penting bagi terjadinya dialog.
Keenam, hermeneutika kritis dari Jurgen Habermas. Hermeneutika ini lebih mengedepankan refleksi kritis penafsir dan menolak kehadiran prasangka dan tradisi. Karena itu, untuk memahami suatu teks, seorang penafsir harus mampu mengambil jarak atau melangkah keluar dari tradisi dan prasangka. Hanya dengan cara demikian hermeneutika mampu mengemban tugas untuk mengembangkan masyarakat komunikatif yang universal.
Hermeneutika dekonstruksionis dari Jacques Derrida, intinya bahasa symbol merupakan sesuatu yang tidak stabil. Karena itu, makna tulisan selalu mengalami perubahan tergantung konteks dan pembacanya, sebagaimana dinyatakan.
Perspektif ini menghindari dan bahkan menolak, ambisi untuk menangkap makna esensial yang tunggal dan utuh dan lebih menekankan pada makna eksistensial, makna yang disini dan sekarang.

Hermeneutika dalam Islam
Hermeneutika itu sebenarnya termasuk dalam ajaran filsafat, yang mana filsafat itu mengajarkan kepada kita untuk berfikir secara mendalam. Hermeneutika itu sendiri adalah salah satu metode tafsir yang mana di sini menyelidiki pengarang, historis hingga budaya dari teks yang akan ditafsirkan itu.
Dalam perspektif Islam menggunakan hermeneutika untuk menafsirkan teks itu tidak menjadi masalah baik yang tekstual maupun kontekstual. Tetapi menjadi masalah jika metode ini diterapkan dalam Al-Quran, karena Al-Quran adalah kebenaran postulat. Yakni kebenaran di atas kebenaran yang tidak mungkin dipertanyakan tentang pengarangnya, historis hingga budaya waktu penulisan ataupun ketika wahyu itu diterima oleh nabi Muhammad saw,
Ingat, Al-Quran itu sudah menjadi wahyu yang kebenarannya sudah pasti, kalau tidak percaya silahkan diteliti dan metodologi hermeneutika itu tidak cocok diterapkan untuk mengkritisi Al-Quran. Saya yakin bagi orang yang ingin mengkritik Al-Quran itu karena ia tidak mempelajari Islam secara hakiki dan dengan niat yang baik.
Hermeneutika apabila diterapkan itu sangat baik untuk ilmu eksak dan ushul fiqh dalam Islam. Bukankah Allah swt sering berfirman “tidakkah kamu berfikir?”. Ini menandakan bahwa hermeneutika itu diperlukan oleh Islam.

Perkembangan dalam kajian Islam
Sebenarnya Ilmu Hermeneutika ini sudah diperdalam dan dikembangkan oleh orang Islam seperti Nashr Hamid Abu Ziyad dengan Tafsir Hermeneutikanya, Mohammed Arkoun dengan metodologi studi Al-Quran (intinya Al-Quran itu harus diteliti dari segi sejarahnya, budaya hingga bahasanya, dekontruksinya).
Kedua orang ini merupakan peletak dasar dari Hermeneutika dalam Islam, Cuma menjadi permasalahannya ialah mereka ditolak oleh kelompok Islam Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah karena dianggap terlalu berbahaya dan mengusung pemikiran orientalis yang ingin menghancurkan Islam.
Namun dikalangan intelektual Muslim pemikiran mereka berdua juga diikuti karena ini menambah khazanah pengetahuan dari mereka. Hermeneutika itu mengajarkan untuk berfikir kritis dan sistematis. Hermeneutika ini merupakan bagian dari filsafat.
_Ruang Lingkup Kajian Hermeneutika itu sangat luas, mulai dari agama, politik hingga budaya. Dengan adanya kajian Hermeneutika orang akan selalu kritis karena konsep dasar dari Hermeneutika adalah kita menafsirkan. Contohnya politik Gus Dur yang selalu dibumbui dengan Humor. Kenapa Hermeneutika itu bermanfaat bagi kita jika kita tahu ruang lingkupnya
1.    Hermeneutika adalah suatu displin ilmu, pemikiran yang membidik kehidupan yang tidak terkatakan dari diskursus-diskursus yang ada disekeliling kita
2.    Hermeneutika adalah displin yang menyangkut paut dengan motif-motif dan maksud yang muda dimengerti melalui kata-kata yang ada secara eksplisit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata