15 Mei 2013

Pengertian Metode Pembelajaran Tradisional Pondok Pesantren

Oleh MuFe El-Bageloka
Pada awalnya pesantren itu terbentuk dari surau yang dimulai dari pengajian yang diadakan dilanggar-langgar kecil oleh para kyai sehingga secara perlahan surau itu bergeser menjadi pesantren sebagai lembaga formal. Tidak heran jika dalam pembelajaran pondok pesantren yang disajikan adalah metode klasik karena metode ini adalah metode warisan asli dari pesantren. Berikut ini penulis akan menyajikan beberapa metode
tradisional ini;
1.    Sorongan, berasal dari kata sorog (bahasa Jawa), yang berarti menyodorkan, sebab setiap santri menyodorkan kitabnya dihadapan kyai atau pembantunya (badal, asisten kyai). Sistem sorongan ini termasuk belajar secara individual, dimana seorang santri berhadapan dengan seorang guru dan terjadi interaksi saling mengenal keduanya. Sistem ini memungkin seorang guru mengawasi, menilai dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang santri dalam menguasai materi pembelajaran.
2.    Wetonan/Bandongan, istilah ini berasal dari kata weku (bahasa Jawa) yang berarti  waktu, sebab pengajian tersebut diberikan pada waktu waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah melakukan shalaat fardu. Metode ini merupakan metode kuliah, dimana para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling kyai yang menerangkan pelajaran secara kuliah, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya. Istilah wetonan ini di Jawa Barat disebut dengan bandongan. Metode bandongan dilakukan oleh kyai terhadap sekelompok santri untuk mendengarkan atau menyimak apa saja yang dibacakan oleh kyai dari sebuah kitab.
3.    Metode Musyawarah/Bahtsul Masa’il, merupakan metode pembelajaran yang lebih mirip dengan metode seminar atau diskusi atau seminar. Beberapa santri dengan jumlah membentuk halaqah yang dipimpin langsung oleh kyai atau ustadz, atau juga mungkin santri senior untuk membahas atau mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam pelaksanaanya, para santri dengan bebas mengajukan pertanyaan atau pendapatnya. Dengan demikian metode ini lebih menitik beratkan pada kemampuan perseorangann di dalam menganalisis dan memecahkan suatu persoalan dengan argumen logika yang mengacu pada kitab-kitab tertentu. Musyawarah pada bentuk kedua ini bisa digunakan oleh para santri tingkat menengah atau tinggi untuk membedah topic tertenu.
4.    Pengajian Pasaran adalah kegiatan belajar para santri melalui pengkajian (kitab) tertentu pada seorang kyai/ustadz yang dilakukan oleh sekelompok santri dalam kegiatan yang terus-menerus (marathon) selama tenggang waktu tertentu dan pada umumnya sering dilakukan di bulan Ramadhan. Metode ini lebih mirip dengan metode bandongan, tetapi pada metode ini target utamanya adalah selesainya kitab yang dipelajari. Titik beratnya pada pembacaan bukan pada pemahaman sebagaimana pada metode bandongan.
5.    Metode hafalan (muhafazhah), ialah kegiatan santri dengan cara menghafal suatu teks tertentu dengan bimbingan kyai.
6.    Metode Demonstrasi/praktik, ini masih berlaku sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata