5 Jun 2014

WAHYU DAN AKAL DALAM STUDI ISLAM

Allah swt telah menetapkan dua hujjah bagi manusia, yang pertama di luar diri manusia yakni wahyu (al-Quran dan kenabian), sedangkan yang kedua di dalam diri manusia yaitu akal. Islam sebagai agama yang diyakini kesempurnaannya sudah selayaknya memberikan tempat kepada keduanya.

Wahyu merupakan sumber utama Islam. Ia menjadi inspirasi dan bahan yang tak pernah lapuk ditelan masa atau rapuh dimakan usia. Kandungan al-Quran tidak terbatas, karena pemahaman atasnya akan terus berkembang seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Al-Quran adalah ayat Allah yang tersurat dan alam adalah ayat Allah yang terbentang, maka keduanya akan selalu selaras, serasi, dan sepadan. Penelitian kepada alam akan menghasilkan pemahaman baru kepada al-Quran, sedangkan pengkajian terhadap al-Quran akan memberi pijakan dan bahan dasar bagi penelitian alam semesta. Untuk itu, segala sesuatu yang dapat menghantarkan kita kepada pemahaman al-Quran yang baik haruslah kita pelajari sebagaimana pentingnya sarana dan ilmu pengetahuan untuk memahami alam semesta. Inilah langkah awal islamisasi sains, begitulah keakraban wahyu dan akal dalam Islam.

Dengan demikian, wahyu dan akal akan benar-benar berfungsi sebagai hujjah bagi kekuatan Islam yang menjadi agama masa lalu, masa kini dan masa depan. Dengan keduanya kita akan mampu menjawab berbagai problematika zaman yang semakin nyata melindas manusia untuk lebih jauh dari nilai-nilai spiritual. Bagi sebagian pemikir, agama mulai terpinggirkan bahkan nyaris menemui kematian, yang salah satu sebab utamanya kata Huston Smith (2003) adalah apa yang disebut dengan saintisme. Selain itu virus-virus modernisme, materialisme, sekularisme, dan banyak lagi lainnya yang telah menjadi corak hidup masyarakat sekarang, jelas merupakan ancaman besar yang tidak bisa kita nafikan keberadaannya. Seluruh agama merasakan bahayanya, dan merespon sesuai dengan tingkat pemahamannya. Tak terkecuali Islam, seperti dikatakan Shabbir Akhtar bahwa akhir-akhir ini muncul gerakan-gerakan menentang tatanan semi sekuler yang semakin bertambah kuat. Semua tujuan gerakan tersebut adalah kejayaan monopoli Islam; banyak dari gerakan tersebut menimbulkan antusiasme temporer sebelum berakhir di keranjang sampah sejarah (Akhtar, Islam Agama Semua Zaman, 2002, hal. 27).

Walaupun kritik di atas tidak lebih ingin menunjukkan suatu realitas, namun bukan berarti sikap optimis kita mesti pudar. Sebab bagaimanapun, Islam jika dipotensikan dengan baik akan mempunyai kesanggupan mendamaikan agama dan sains, wahyu dan akal. Namun, jika kita gagal, maka Islam tak lebih dari sekedar agama yang ‘dikeramatkan’.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan ini kita senantiasa membutuhkan pembimbing yang kita anggap mempunyai otoritas lebih dari kita. Allah swt sebagai pencipta dan pengelola semesta ini, mustahil membiarkan umat manusia berjalan tanpa bimbingan. Jika kita mau dengan jernih melihat persoalan ini, maka akan tampaklah dengan nyata bahwa wahyu dan akal merupakan pembimbing yang diberikan Allah swt kepada umat manusia. Perhatikan apa yang ditulis Allamah Thabathabai :
“…manusia bisa memperoleh gagasan tentang apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang bermanfaat dan apa yang merusak bagi dirinya sendiri, dengan menggunakan akalnya. Tetapi yang sering lebih terjadi adalah akal tersebut menyerah kepada kecenderungan-kecenderungan hawa nafsu; kadang-kadang akal juga melakukan kekeliruan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa bimbingan ilahi harus diberikan melalui sarana tambahan selain akal, suatu sarana yang sepenuhnya bebas dari kesalahan…cara ini adalah kenabian. Lewat kenabian, Tuhan Yang Maha Tinggi mengajarkan perintah-perintah-Nya kepada salah seorang hamba-Nya melalui wahyu.” (Thabathabai, Inilah Islam, 1989, hal. 65)
Wahyu sebagai sumber pengetahuan telah dibuktikan dalam koridor filsafat dan sains. Sederetan para filosof papan atas, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Massarah, Ibnu Thufai, dan Ibnu Rusyd, dan Mulla Sadra telah menuangkan pikiran mereka untuk membuktikan jembatan emas antara wahyu dan akal. Selain itu, jika kita mengkaji tafsir al-Quran, maka dominan penafsiran dengan menggunakan ra’yu (akal). Hal ini menunjukkan bahwa akal mengakui otoritas wahyu sebagai pedoman kehidupan dan petunjuk pengetahuan.

Begitu pula, wahyu mengakui otoritas akal sebagai sarana manusia untuk mendapatkan kebenaran. Telah banyak defenisi diberikan oleh para ahli, baik secara etimologis atau terminologis tentang akal. Beragam defenisi yang dibuat menunjukkan akal merupakan suatu yang kudus (suci) yang berfungsi menangkap berbagai fenomena dan mengambil sisi terbaik dari fenomena itu, serta mencegah manusia dari tindakan penyelewengan.

Ibnu Faris misalnya, dalam Maqayis al-Lughah mengartikan akal sebagai sesuatu yang menahan seseorang dari perbuatan dan perkataan yang tercela. Sedangkan Ibrahim Madkour dalam al-Mu’jam al-Falsafi, mengemukakan al-Aql (akal) adalah daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia yang dengannya segala sesuatu dapat diserap. Ia merupakan anugerah Allah yang tidak dimiliki makhluk lain di luar manusia. Di bawah pancarannya manusia dapat membedakan yang benar dan yang batil, bersih dan kotor, bermanfaat dan mudharat, serta baik dan buruk.
Jika kita menganalisis al-Quran, memang kata al-aql (dalam bentuk kata benda) tidak ditemukan dalam satu ayatpun. Yang ada adalah dalam bentuk kata kerja (fi’il), dalam arti perintah penggunaan akal, terdapat 49 kali yaitu :
1. ‘Aqaluhu sebanyak satu kali yaitu dalam Q.S. al-Baqarah: 75
2. Ta’qilun sebanyak 24 kali yang umumnya diikuti kata harapan (raja’) yakni dalam Q.S. al-Baqarah: 44, 73, 76,242; Ali Imran: 65,118; al-An’am: 32,151; al-A’raf: 169; Yunus: 16; Hud: 51; Yusuf: 2, 109; al-Anbiya: 10,57; al-Mukminun: 80, An-Nur: 61; al-Syuara: 28; al-Qashas: 60; Ya Sin: 62; al-Shaffat: 138; Ghafir: 67; al-Zukhruf: 3; al-Hadid: 17.
3. Na’qilu disebutkan satu kali yaitu Q.S. al-Mulk: 10
4. Ya’qiluha disebutkan satu kali yakni Q.S. al-Ankabut: 43
5. Ya’qilun (positif) /La ya’qilun (negatif) sebanyak 22 kali baik dalam yaitu Q.S. al-Baqarah: 164, 170, 171; al-Maidah: 58,103; al-Anfal: 22; Yunus: 42,100; al-Rad: 4; al-Nahl: 12,67; al-Hajj: 46; al-Ankabut: 35, 63; al-Rum: 24,28; Ya Sin: 68; al-Zumar: 43; al-Jasiyat: 5; al-Hujurat: 4; al-Hasyr: 14.

Selain kata-kata tersebut di dalam al-Quran terdapat kata-kata yang juga menunjukkan aktifitas akal yakni berpikir seperti nazhara, tadabbara, tafakkara, tazakkara, fahima, faqiha. Kemudian terdapat pula sebutan-sebutan yang memberi sifat berpikir bagi seorang muslim seperti ulul al-bab, ulul ilm, ulul abshar,dan ulul nuha. Dengan demikian, ayat-ayat al-Quran memberikan penghargaan tinggi kepada akal. (cr/liputanislam.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata