25 Okt 2014

Menjadi Ayah yang Hebat

Oleh Budi Ashari, Lc

Seringkali kita harus menyerah pada kenyataan. Tidak berdaya di hadapan keadaan. Tinggal bertanya: apakah ayah seperti saya harus menelan kenyataan pahit dalam kepasrahan?

Sedih ya yah, dengarnya...Kalau boleh menolak dan mampu, para ayah akan menolak untuk jauh dari anak-anaknya. Tetapi seringkali kita para ayah harus menyerah. Mau tidak mau. Mau walau sebenarnya tidak mau. Mau karena harus pergi untuk sebuah tugas, tidak mau karena ada tanggung jawab anak yang harus dibesarkan dalam didikan berkualitas. Belum lagi, sebelah nyawa dan sepenggal hati yang harus tertinggal di seberang sana. Uhh...beraatt sekali.
Baiklah, terus bagaimana solusinya kalau semua ini harus menjadi bagian dari episode hidup kita. Jauh dari anak-anak. Bisa jauh jaraknya yang otomatis sulit waktu pertemuannya. Atau tidak jauh jaraknya tetapi sulit waktu untuk buah hati. Bagaimana solusi untuk ayah kadang-kadang ini.
Para ayah yang baik... Saat Anda sedang ada bersama anak, ambillah peran maksimal sebagai ayah yang hadir secara fisik.
Tetapi saat tidak bersama anak-anak atau sedang berjauhan jarak, maka mari kita belajar dari sejarah ayah yang pernah melahirkan orang besar. Karena ayah yang satu ini tahu betul harus berbuat apa untuk melahirkan orang besar. Dengan masalah sama seperti yang kita keluhkan dalam pembahasan ini. Bahkan lebih besar lagi.
Ayah itu bernama Abdul Aziz bin Marwan. Seorang ayah yang telah melahirkan tokoh dunia yang hingga hari ini tidak ada tandingannya. Seorang ayah yang telah membuktikan mimpi Umar bin Khattab: “Di antara anak cucuku ada yang mempunyai bekas di wajahnya, akan memenuhi bumi dengan keadilan.”
Ya, beliau adalah ayah dari pemimpin adil nan fantastik dalam kehidupan dan kepemimpinannya; Umar bin Abdul Aziz. Salah seorang pemimpin dari dinasti Bani Umayyah yang oleh ulama sejarah sering disebut sebagai khalifah rasyid kelima, artinya disejajarkan kepemimpinannya dengan 4 khulafaur rasyidin. Hanya dalam 29 bulan memakmurkan dunia.
Abdul Aziz bin Marwan sebagai seorang ayah mengalami nasib serupa dengan nasib banyak ayah hari ini. Saat tugas harus memaksanya pergi dan jauh dari sang buah hati, seberapa pun perihnya hati Abdul Aziz dia tetap harus pergi. Antara Madinah dan Mesir. Umar sang anak ada di Madinah tempat kelahirannya, sementara Abdul Aziz sang ayah ada di Mesir. Subhanallah, hari itu jarak Madinah dan Mesir bukanlah jarak yang sederhana seperti hari ini. Alat transportasi paling canggih hanyalah kuda dan unta.
Tapi Abdul Aziz mampu melahirkan Umar. Umar adalah karya Abdul Aziz. Kita baca kembali sejarah mereka, semoga mampu memberikan pelajaran untuk para ayah.
Tugas menjadi seorang Gubernur Mesir memanggil Abdul Aziz. Dia pun segera berangkat mengemban tugas. Tidak terpikir di awal bahwa dia akan dipisahkan padang pasir dan laut merah dengan Umar sang putra. Karena skenarionya, dia pergi dulu dan kemudian disusul oleh istri dan anaknya. Tetapi nyatanya hanya istrinya yang pergi ke Mesir, sementara Umar ditinggal di Madinah atas permintaan Abdullah bin Umar bin Khattab sebagai paman Umar bin Abdul Aziz dari ibunya.
Untuk memenuhi kebutuhan Umar, Abdul Aziz mengirimkan 1000 dinar setiap bulannya. (Umar ibn Abdil Aziz, Ali M. Ash-Shalaby, h. 10-11, MsW). Semenjak itulah Umar hidup di lingkungan keluarga besar keturunan Umar bin Khattab.
Selanjutnya, Umar bin Abdul Aziz pergi ke Mesir untuk tinggal bersama ayahnya. Tetapi sang ayah harus melepas kembali anaknya ke Madinah dalam rangka menuntut ilmu. Abdul Aziz menitipkan sang anak kepada seorang ulama besar di Madinah Shalih bin Kaisan –rahimahullah-Salah satu peristiwa sangat menarik yang dicatat sejarah adalah, tanggung jawab penuh seorang Shalih bin Kaisan terhadap anak didiknya Umar bin Abdul Aziz. Shalih tidak mau Umar terlambat shalat wajib walau hanya sekali.
Suatu saat, Umar terlambat shalat. Shalih tidak membiarkan hal ini terjadi. Shalih bertanya mengapa Umar terlambat. Ternyata, Umar terlambat karena sibuk merapikan rambutnya. Shalih bin Kaisan pun melaporkan hal itu kepada Abdul Aziz di Mesir. Abdul Aziz mengirimkan seseorang yang ditugaskan untuk menggunduli kepala Umar di Madinah. (Siroh wa Manaqib Umar ibn Abdil Aziz, Ibnu al-Jauzi, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, h. 13-14)
Ayah...Pelajaran yang menarik bukan. Abdul Aziz sebagai ayah, tetap berfungsi maksimal sebagai ayah. Dan memang harus begitu, kalau para ayah mau melahirkan anak-anak istimewa walau sulit berjumpa dengan mereka.
Dari kisah di atas, inilah pelajaran untuk semua ayah yang sulit bertemu anak-anaknya:

1. Titipkan anak, kepada yang layak
 Kalau masih ada ibu, maka ibu harus menciptakan dirinya menjadi seperti keluarga Abdullah bin Umar yang mengasuh Umar bin Abdul Aziz. Demikian juga, kalau ternyata pengasuhnya harus orang lain seperti kerabat atau yang lainnya. Ayah tidak boleh asal meninggalkan anak dan tidak peduli kepada siapa dititipkan. Karena anak adalah aset masa depan yang sangat mahal. Maka seorang ayah harus seperti menitipkan perhiasan mahal. Hanya kepada orang yang amanah dan mengerti besarnya amanah tersebut serta mengerti harus berbuat seperti apa dalam menjaganya.
Baik ayah pergi jauh, atau sulit mempunyai kesempatan bertemu dengan anak, maka sang anak harus hidup di tangan orang yang berfungsi seperti Abdullah bin Umar.

2. Berikan guru, yang berperan sebagai ayah dan guru.
 Pendidikan merupakan bekal utama masa depan anak. Saat ayah jauh dari anak atau sulit memerankan fungsinya karena keterbatasan waktu, maka pilihkan bagi anak-anak, guru yang berperan sebagai guru yang sesungguhnya. Bahkan mampu berperan dalam perhatian dan evaluasi selayaknya ayah. Seperti peran Shalih bin Kaisan untuk Umar bin Abdul Aziz.

3. ‘Hadirkan’ ayah, walau tak benar-benar hadir.
 Ayah harus tetap mengambil perannya dalam pendidikan dari kejauhan atau di sela waktu padatnya. Bahkan siapapun yang dititipi anak, baik pengasuh ataupun pendidik, harus selalu melibatkan ayah dalam evaluasi hasil pendidikan.
Saat Umar bin Abdul Aziz berbuat kesalahan karena terlambat shalat, maka sang guru melaporkan hal tersebut kepada ayahnya. Ayah yang berada di negeri jauh, segera mengambil peran sebagai ayah yang bisa dirasakan oleh anak. Tindakan evaluasi pendidikan.
Dengan demikian anak tetapi merasakan ‘kehadiran’ ayah, walau ayah tak benar-benar hadir secara fisik. Seperti Abdul Aziz saat menggunduli kepada Umar.

4. Fasilitas fisik, jangan mengusik.

 Fasilitas fisik memang sesuai dengan kemampuan ayah. 1000 dinar sebulan, jelas hanya bisa diberikan oleh ayah yang berekonomi kuat seperti Abdul Aziz. Ini pelajaran pertama bagi ayah yang mampu. Intinya, bukan sekadar memenuhi kebutuhan anak. Tetapi menampilkan sosok ayah yang penuh tanggung jawab di mata anak. Jangan sampai, anak mengukir dalam ingatannya tampilan ayah yang egois.
Bagi ayah yang tak semampu Abdul Aziz tentu tak layak bermuram. Karena di sinilah peran ibu atau siapapun yang mendidik untuk menampilkan sosok seorang ayah yang berjuang maksimal bagi anaknya.
Fasilitas fisik jangan mengusik pertumbuhan anak. Kalau Anda ayah yang mampu, tunjukkan sebuah tanggung jawab yang menghilangkan kesan egois. Kalau Anda ayah yang kurang mampu, berikan semampu Anda dan siapapun yang bersama sang anak harus memberikan kesan seorang ayah yang penuh tanggung jawab.


5. Manfaatkan kecanggihan alat komunikasiKecanggihan alat komunikasi hari ini, seharusnya memudahkan kita untuk berinteraksi walau fisik berjauhan. Hari ini bukan hanya suara bijak seorang ayah yang bisa didengar. Tetapi guratan wajah ayah pun bisa dinikmati oleh sang buah hati. Belum lagi komunikasi kata yang sangat mudah dikirimkan.
Walaupun, ayah tidak boleh hanya merasa cukup dengan komunikasi model ini. Pertemuan fisik, sentuhan khas ayah, kecupan sayang di suatu hari, tetapi dinanti dan tidak tergantikan.
Setelah ini semua, ayah jangan lupa munajatnya ya...
Seperti Ibrahim, ayah yang kaya doa. Mendidik anaknya dalam jarak Palestina- Mekah.Kirimkan sentuhan hati itu sejujurnya. Saat ayah menelpon, berikan suara yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Saat ayah mengirimkan sms atau email, goreskan dengan sapuan dari relung hati. Dan doa adalah ungkapan hati yang paling dalam dan jujur.
Selamat mencoba ayah...semoga para ayah bisa menjadi seperti Abdul Aziz yang melahirkan Umar. Amin ya Robb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata