25 Okt 2014

Refleksi Status Mas Teguh Dzudan Fathoni

Doa

Doa termasuk sebab yang paling kuat untuk mendapat keinginan dan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak dikehendaki. Meskipun demikian, terkadang doa tidak memberikan efek apapun. Hal ini bisa terjadi disebabkan doa itu pada dasarnya memang lemah, misalnya doa yang tidak disukai oleh Allah karena mengandung kedzaliman, atau karena kelemahan hati orang yang berdoa serta tidak adanya ketundukan kepada Allah. Mungkin juga hal ini disebabkan sesuatu yang menghalangi terkabulnya doa tersebut, seperti mengkonsumsi makanan yang haram, berbuat kedzaliman, tertutupnya hati dengan maksiat, serta kondisi jiwa yang terkuasai dan terkalahkan oleh kelalaian juga oleh hawa nafsu syahwat.

Disebutkan dalam Al Mustadrak Al Hakim, dari Abu Hurairah bahwasanya nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "berdoalah kepada Allah dengan keyakinan doa kalian terkabul. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak serius" (H.R At-Tirmidzi No. 3479)
Berdasarkan hadits di atas, doa adalah obat penawar yang memberikan manfaat dan menghilangkan penyakit. Namun, kelalaian hati dari ingat kepada Allah dan mengkonsusi makanan yang haram akan melemahkan sekaligus melenyapkan kekuatan doa.
Penjelasan tersebut senada dengan riwayat dalam shahih muslim (no.1015) dari Abu Hurairah, dia menuturkan: " satu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami; " wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik dan tidak akan menerima kecuali yang baik. Sungguh Allah juga telah memerintahkan kaum mukminin denga perkara yang Ia perintahkan kepada para rasul. Dia berfirman :
'wahai para rasul, makanlah makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al Mukminun :51). Allah juga berfirman: "wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu" ( Q.s Al Baqoroh 172).

kemudian, beliau menceritakan tentang seorang laki-laki yang tengah mengadakan perjalanan panjang, rambutnya kusut, tubuhnya berdebu, dan ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa : "ya robbku !" akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dibesarkan dengan hal-hal yang haram. maka bagaimana mungkin doanya akan terkabulkan????

abdullah bin Imam Ahmad meyebutkan dalam kitab Az Zuhd karya ayahnya : "Dahulu bani israil pernah tertimpa bencana sehingga mereka pun keluar ke suatu tempat untuk berdoa. Kemudian, Allah mewahyukan kepada nabi-Nya untuk mengabarkan kepada mereka : ' sesungguhnya kalian keluar ke dataran tinggi ini dengan badan yang najis. Kalian menengadahkan tangan-tangan kalian kepadaKu, padahal ia berlumuran darah dan dengannya kalian penuhi rumah-rumah dengan barang-barang yang haram. Apakah kalian sekarang memohon pada saat murka-Ku kepada kalian telah bertambah? kalian hanyalah akan semakin menjauh dariku "
Abu Dzarr berkata : "Cukuplah doa itu bisa diterima jika disertai dengan kebajikan, yakni layaknya sejumput garam yang mencukupi sejumlah makanan"."

Wallahu 'alam
_Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' = Ibnul Qoyyim al - Jauziyyah : 10 - 12_


Manfaat Ruqyah
Saya pernah tinggal di Mekkah selama beberapa waktu. Saat itu, saya terkena penyakit tanpa bisa medapatkan obat maupun dokter. Akhirnya, saya mengobati diri sendiri dengan surat Al fatihah dan merasakan efeknya yang menakjubkan. Pengalaman ini lantas saya ceritakan kepada orang yang sakit, hingga kemudian banyak dari meraka yang sembuh dalam waktu singkat.
Namun, ada satu permasalahan yang harus diperhatikan di sini. Dzikir-dzikir, ayat-ayat, doa-doa, atau obat-obatan yang digunakan u/ ruqyah serta penyembuhan, walaupun pada hakekatnya bermanfaat, dan mampu menyembuhkan, namun tetap mempunyai ketergantungan terhadap keadaan tubuh penderita dan kuatnya pengaruh yang mengobati.
Jika terjadi keterlambatan di dalam penyembuhan, hal ini disebabkan oleh lemahnya pengaruh dan semangat dari pihak yang mengobati, serta lemahnya tubuh , atau bisa jadi karena kuatnya faktor penghalang yang mencegah efek penyembuhan dari doa tersebut.
Hal ini sebagaimana terjadi pada obat-obatan dan penyakit fisik. Efek penyembuhan terkadang hilang disebabkan fisik penderita yang tidak sesuai dengan obat tersebut., atau bisa jadi disebabkan oleh adanya suatu penghalang. Jika kondisi fisik seseorang mampu menerima obat tersebut, tentulah tubuhnya juga akan mendapatkan manfaat dari obat tersebut sesuai dengan kadarnya.
Demikian pula ruqyah. Jika jiwa penderita mampu menerima ruqyah dan ta'awwudz tersebut dengan sempurna, sementara pihak yang meruqyah memiliki pengaruh dan semangat yang kuat, maka ruqyah tentu akan memberi efek positif dalam menghilangkan penyakit.

Wallahu 'Alam

_Ad-Daa' wa Ad-Dawaa' = Ibnul Qoyyim al - Jauziyyah : 9 - 8_

Tawakkal
Abu Ali Ad-Daqqaq berkata,
“Tawakkal itu ada tiga derajat:

1/. Tawakkal itu sendiri,
2/. Berserah diri,
3/. Lalu pasrah.

Orang yang tawakkal merasa tenang karena janji Allah, orang yang berserah diri cukup dengan pengetahuannya tentang Allah dan pasrah adalah ridha terhadap hukum-Nya.
Tawakkal merupakan permulaan, berserah diri merupakan pertengahan dan pasrah merupakan penghabisan.
Tawakkal merupakan sifat orangorang Mukmin, berserah diri merupakan sifat para wali dan pasrah merupakan sifat muwahhidin. Tawakal merupakan sifat orang-orang awam, berserah diri merupakan sifat orang-orang khusus, dan pasrah merupakan sifat orang-orang yang lebih khusus dari orang-orang yang khusus.Tawakkal adalah sifat para nabi, berserah diri adalah sifat Ibrahim, sedangkan pasrah merupakan sifat Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Bisyr Al-Hafy berkata,
“Adakalanya seseorang yang berkata, ‘Aku tawakkal kepada Allah’, tetapi dia berdusta kepada Allah. Kalau memang dia benar-benar tawakkal kepada Allah, tentu dia meridhai apa pun yang dilakukan Allah terhadap dirinya.”

Hikmah Subuh
Dunia mempunyai 5 kebaikan. Selain dari ke-5 hal ini adalah melenakan dan membinasakan.
1. Ilmu yag bermanfaat
2. Harta yang halal
3. Anak yang soleh
4. Pasangan hidup yang soleh dan solehah
5. Beramal yang soleh

_Ustad Jhon Hariadi mengutip dari Ibnu Katsir_
Menjadi Mulia atau Hinakah Anda dengan Ujian?

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :

لَوْلاَ هَذَا الاِبْتِلاَءُ والاِمْتِحَانُ لَمَا ظَهَرَ فَضْلُ الصَّبْرِ وَالرِّضَا وَالتَّوَكُّلِ وَالْجِهَادِ وَالْعِفَّةِ وَالشَّجَاعَةِ وَالْحِلْمِ وَالْعَفْوِ وَالصَّفْحِ

 

"Kalau bukan karena ujian dan cobaan maka tidak akan terlihat keutamaan sabar, rido, tawakkal, jihad, kemuliaan menjaga kehormatan diri, keberanian, keutamaan memaafkan dan berlapang dada" (Syifaaul 'Alil)

Allah mengujimu untuk melihat manakah dari sifat-sifat mulia yang nampak pada dirimu sehingga memuliakanmu dan mengangkat derajatmu...

Ataukah sebaliknya engkaupun terpuruk dengan ujian tersebut, mencela, protes terhadap keputusan Allah, bertawakkal kepada dunia dan manusia, emosi dan balas dendam..., yang semua ini hanyalah menjadikanmu hina dan merendahkan derajatmu....!!!

Oleh: Ustadz Firanda Andirja, M.A.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata