27 Apr 2015

Catatan Awal Kuliah bersama 8 Chibi plus Si Cebol

Oleh MuFe El-Bageloka
Ini Group Chibi Chibi, kurang 2

Sekedar Ucapan
Cerita ini kupersembahkan kepada sahabat-sahabatku yang telah berbagi dalam suka dan duka selama di Malang, terutama bersama Si Cebol (teman satu kamar) selama empat tahun. Catatan awal kuliah merupakan kilas balik cerita kita bersama atau lebih kita kenal dengan flassback/ muraja’ah dalam sebuah kenangan, seperti dalam lagu lagu Maroon 5 kemesraan jangan pernah berakhir (Cie cie cie). Terus terang selama kita bersama ada saja kejadian aneh, penasaran ayo kita simak dalam bingkai cerita ini di berbagai Edisi

Edisi Pertemuan

Pagi itu, lantunan adzan memanggil untuk shalat bertemu dengan-Nya. Entah apa yang terjadi, hari ini aku malas untuk bangun untuk shalat subuh ke Mushallah. Akupun langsung melanjutkan tidurku, terbang ke pulau kapuk. Baru terlelap dua menit, tiba-tiba badanku terguncang dan kudengar suara yang memanggil namaku “Fer, bangun, bangun Fer”. Aku membuka mataku, ternyata Kang Arush,
    “Ya kang” Jawabku sambil mengucek mata kantukku
    “Ayo, jangan ya ya aja!”
    “Kita Shalat ke mana?” Tanyaku setengah sadar
    “Ke Mushallahlah masa ke kali brantas” Jawab Kang Arush sekenanya
    “Oke kang, saya ke kamar mandi dulu”
    “Ya cepetan, saya tunggu”
Oke, jawabku sambil melangkah menuju kamar mandi. Kuberjalan dengan langkah setengah sadar, samping kananku kulihat Hajier, Izuel, Ahmad, Kribo dan Sanusi masih menikmati tidurnya. Entah mungkin mereka kecapaian ketika bertarung di depan playstation. Maklumlah tadi malam mereka bertanding hingga jam dua, aku tidak ikut perkembangannya karena aku tidur cepat akibat dari kekalahan yang aku terima. Aku hanya tersenyum melihat mereka.
Setelah selesai hajatku di kamar, akupun berwudhu. Setelah itu, aku langsung berangkat ke Mushallah bersama Kang Arush. Jalan menuju ke Mushallah melalui gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja, benar-benar jalan setapak  kita lalui. Tanpa terasa kita sudah tiba di Mushallah. Jadilah kita shalat, menyerahkan raga ini pada sang khalik. Setelah itu, kita dzikir dan lain sebagainya. Selesai dzikir, aku langsung keluar dan duduk menanti Kang Arush yang sedang berdzikir. Akupun duduk di teras Mushallah, kepala kusandarkan di kedua tanganku sambil tersenyum aku teringat tempo dulu, ketika pertama kali tiba di Malang.
Kala itu, pertama kali ke Malang, aku diantar oleh Ustadz Ahmad Jama’an. Di perjalanan, aku banyak mendapat informasi tentang Jawa dari beliau. Ya maklumlah, saat itu aku baru pertama kali meninggalkan kota Sumbawa. Ketika tiba di tanah Jawa pada pagi hari, kira-kira pada jam setengah tujuh, aku bersemangat untuk menoleh ke Jendela untuk melihat tanah Jawa. Yang ada saat itu, hamparan sawah dan hutan yang indah, anak-anak bersemangat untuk berangkat ke sekolah mencari ilmu
    “Ya Allah, Alhamdulillah aku sudah tiba di tanah Jawa” Guman hatiku
    “Fer, sekarang kita tiba di tanah Sitobondo, bentar lagi kita tiba di tanah Porbolinggo habis itu Pasuruan” Kata Ustadz Ahmad Jama’an
    “Sayaa” Jawabku tersenyum
    “Bentar lagi kita makan di Sitobondo” Kata Ustadz Ahmad Jama’an
Bus Titian Mas itu melaju menuju Malang. Jalan raya tidak begitu ramai, para petani masih di sawahnya, mereka memanen padi, memotong rumput buat ternak-ternak mereka. Karena semangat dan asyik memperhatikan keindahan tanah Jawa, tanpa terasa Bus Titian Mas sudah tiba di kota Lawang. Yakni sebuah kota penyambutan ketika tiba di Malang,
    “Fer, ada sms dari Shobri kalau dia akan jemput kita”
    “Dia jemput kita dimana?”
    “Di terminal Landungsari”
    “Terus kita ke sana naik apa paman?”
    “Katanya kita disuruh naik angkot ADL”
Akhirnya Bus yang kita tumpangi itu tiba di terminal Arjosari, hati sangat gembira ketika pertama kali tiba di kota Malang “Alhamdulillah, akhirnya tiba di kota Malang” Hatiku berujar. Aku dan Ustadz Jama’an langsung mengambil barang dalam bagasi, tak berapa lama kemudian handphoneku bordering, ternyata bapakku menelpon
    “Assalamualaikum Pak”
    “Waalaikumussalam, nak sudah nyampai Malang ta?”
    “Udah Pak, ramai di terminal sini”
    “Ada preman ta di situ?”
    “Alhamdulillah tidak ada pak”
    “Oke, hati hati di situ ya nak, semoga jadi orang sukses”
    “Amien, terima kasih pak”
    “Fer, kita cari angkot dulu ya” Ujar Ustadz Jama’an
    “Saya, paman kita cari dimana?” Tanyaku kebingungan
    “Di depan terminal”
Kita pun melangkah menuju depan terminal untuk menunggu angkot. Ketika melihat angkot yang ada tulisan ADL kita pun langsung naik untuk singgah sebentar di Terminal Landungsari. Setibanya di Terminal Landungsari, aku dan Ustadz Jama’an menunggu Kak Shabri untuk menjemput kita. Lima menit kemudian seseorang mengendarai sepeda motor merek Suzuki, memakai jaket warna hitam. Ketika dia melihat kita berdua dia langsung memacu sepeda motornya dan menuju ke tempat kita duduk. Setibanya di depan kita dia berhenti, dia heran menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan heran. Kemudian dia memperkenalkan diri dengan nama Shabri. Kemudian aku dibonceng menuju Kampus Universitas Muhammadiyah Malang, sewaktu aku melihat kampus putih hatiku langsung takjub, karena baru kali ini aku melihat secara langsung. Aku langsung diajak ke Masjid AR. Fachruddin. Awalnya, aku heran dengan Masjid ini. Ini lantai satu atau lantai berapa, hatiku bertanya heran
    “Kak, ini lantai berapa?” Tanyaku
    “Ini lantai tiga”
    “Loh, lantai satunya mana kak”?
    “Itu, coba lihat ke bawah”
    “Owww”
Aku baru sadar ternyata Masjid AR Fachruddin dibangun sesuai dengan struktur tanahnya yang berbukit. Waktu itu, aku mengira bahwa lantai tiga adalah lantai satu. Tapi luar biasa, ternyata yang kukira itu adalah lantai tiga.  Setibanya dalam kamar, aku langsung beristirahat dan berbincang banyak hal dengan Kak Shabri dan Ustadz Jama’an, karena keasyikan berbincang tanpa kusadari aku sudah terbuai dalam alam mimpi. Sorenya, aku terbangun dari tidurku. Kulihat di sekelilingku sudah pada siap-siap, namun ada satu yang unik. Yakni, seseorang yang berambut kriting, dia tersenyum ramah melihatku.  Dia langsung menyalamiku untuk berkenalan
    “Arush” Katanya
    “Feri”
    “Dari mana?”
    “Sumbawa, kakak sendiri dari mana?”
    “Flores, oh ya kenalkan ini Ariel, dia suka tidur, kalau sudah tidur dia akan ngiler da banjir satu kamar” Ujar Kang Arush memperkenalkan Ariel. Terlihat depanku orang berkulit putih, berambut cepak dengan tekstur wajah oval tersenyum padaku, cie cie.
    “Jangan percaya dia, dia ini suka mengada-ada Fer” Jawab Mas Ariel yang langsung memanggil namaku, terasa begitu akrab
    “Asli mana?” Tanya Mas Ariel
    “Sumbawa”
    “Satu asal dengan Shobri ya?”
    “Ya, saya gak tahu pergi kemana Kak Shobri bersama ustadz Jama’an”
Aku pun langsung beristirahat, menikmati indahnya suasana malam di Malang untuk pertama kalinya. Sorenya aku terbangun kala mendengar lantunan adzan yang mengalun indah. Seolah-olah suara indah itu membelas gendang telingku, tenang rasanya hati ini untuk menghadap-Nya. Sore itu juga, selesai shalat aku bertemu dengan Kak Ramedan. Awalnya, aku tahu Kak Ramedan karena diperkenalkan oleh adik Iparnya yakni Kak Badar, yang merupakan saudara sepupuku. Ketika aku melihat Kak Ramedan pertama kalinya, senyuman tulus dan teduh terpampang di wajahnya.
    “Fer, kapan nyampai Malang?” Tanya Kak Ramedan tersenyum
    “Barusan kak, tadi siang?” Jawabku dengan Polos
    “Aku ini kakak ipar ustadz Badar” Kata Kak Ramedan tersenyum
    “Kak Ramedan yaa?” Tanyaku sedikit ingin tahu
    “Ya”
Kemudian kita pun berbincang segala macam tema yang ada dalam fikiran kita. Namun yang paling kuingat dari perbincangan itu, yakni ketika Kak Ramedan menasehatiku untuk tekun dalam belajar. Karena banyak mahasiswa asal Sumbawa yang terkadang lulus overdosis. Saat itu, aku hanya ngangguk saja kala mendengar petuah yang berharga itu. Atas pesan itulah aku bisa melalui liku-liku kehidupan di Malang.
Dua bulan kemudian,
Malam hari, setelah mendapatkan kepastian menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang jurusan Tarbiyah. Sorak gembira hatiku sangat menggema, gendang belajar mulai dilaksanakan. Ketika pertama kali aku mengenakan jas Al-Mamater UMM hatiku girang tak terkira, aku lirik samping kiri, samping kanan, depan belakang seolah-olah aku sudah mulai kuliah padahal baru mengikuti kegiatan PESMABA. Teman-teman yang melihatku terheran, entah apa yang mereka pikirkan. Tapi aku tak peduli, yang penting aku heppy. Hehehe
Setelah itu, aku keluar untuk berkumpul dengan teman-teman satu kos untuk sekedar bercanda, menyanyi dan lain sebagainya. Puas menunaikan segala gitaran bersama teman-teman, aku mengundurkan diri dari majelis itu untuk melihat situasi kampus. Maklumlah, kostku saat itu berdekatan dengan kampus tempat kukuliah. Hendak menuju ke kampus, aku bertemu dengan pemuda sarungan, berkopiah hitam dan berkulit sawo matang tersenyum padaku. Dia mengulurkan tangannya padaku,
     “Feri” Dia memperkenalkan diri, aku agak terperanjat
    “Feri”
    “Loh?” Dia lebih kaget dan tersenyum nunduk, lalu dia berjalan menuju kamar
Ternyata nama pemuda itu adalah Achmad Ferry Wahyudi, dia termasuk anak yang taat di kost. Karena dia sering di mushalla dan paling rapi penampilannya ketika shalat. Berbeda dengan kita yang terkadang shalat memakai baju biasa. Besoknya, sehabis shalat kita siap-siap untuk mengikuti kegiatan PESMABA yang ada oleh Kampus Putih. Saat itu, kita semua berkumpul di depan Masjid Lantai Satu. Tepatnya di depan Bank BNI, jadilah kita dibentuk perkelompok dan setiap kelompok wajib untuk membuat yel-yel karena akan dijadikan yel-yel kebesaran Fakultas Agama Islam angkatan 2009.
Kala itu, ketika kita diminta maju untuk mengemukakan pendapat kita, malu. Tapi saat itu, ada satu anak yang berani, kulitnya sawo matang, tersenyum tulus, berambut keriting bermodel cepak, ada bekas sujud di keningnya. Dia maju lalu memamerkan senyumannya. “Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh” Ucapnya lantang. Kami semua pun menjawab dengan semangat dan lantang pula.
    “Teman-teman, saya punya lagu untuk fakultas kita, lagu ini sudah pernah kita nyanyikan ketika masih di pondok” Kita menunggu penjelasan selanjutnya,

Lam salam salam salam dari Kami
Kami akan senang anda jadi sahabat kami

Selesai dia menyanyikan lirik itu, tiba tiba ada yang nyeletuk
“Bagaimana kalau kata KAMI diganti dengan kata FAI?”
“Coba ulang lagi” Kata pendamping kita
Kemudian kita mempresentasikan lagi lagu ini, dan akhirnya ini lagu yang disepakati untuk menjadi lagu kebangsaan anak FAI angkatan 2009. Melalui capeknya kegiatan PESMABA (Pengenalan Studi Mahasiswa Baru) Universitas Muhammadiyah Malang, tibalah saatnya memasuki dunia perkuliahan, yakni dunia yang kunanti-nanti dalam hidupku. Pertama kali aku menginjakkan kakiku di Kampus Putih, aku teringat hari pertamaku di Malang. Waktu itu, aku bangun tidur dengan perut lapar. Tapi yang aku lihat tidak ada makanan yang terhidang dan Alhamdulillah di depanku ada magic com, kemudian aku buka dan ternyata ada sebongkah nasi sisa tadi malam, jadilah aku makan seadanya karena aku tak tahu letak warung makan terdekat di Malang, masa culun.

 Dua bulan kemudian,,,
Riak riuh semangat belajarku tertera dalam kelas C bahasa Arab. Kebetulan di kelas itu aku satu kelas dengan Muhajir Musa. Jadilah kita bertemu dalam satu atap. Menikmati sajian pelajaran yang diberikan oleh Ustadz Ali Wafa yang dituangkan dalam bahasa Arab. Kuperhatikan setiap apa yang diterangkan oleh Beliau, waktu itu beliau menerangkan mata pelajaran kalam. Yakni, cara berbicara bahasa arab yang baik dan benar, istilahnya maharatul kalam fil lughatul ‘arabiyah. Beliau menyuruh kita untuk berbicara satu persatu, jadilah kita belajar seru dan asyik.
Bagiku, Ustadz Ali Wafa merupakan ustadz favoritku karena beli karena beliau berperan ganda, yakni menjadi ustadz dan menjadi seorang sahabat yang bisa mengayomi dan menasehatiku. Alkisah, pertemuan pertama dengan Ustadz Ali Wafa ketika di Masjid AR. Fachruddin. Aku duduk menonton sendiri karena yang lain entah pergi kemana. Asyik menikmati acara televisi yang tersaji, segala macam acara yang kulihat mulai dari yang gak jelas hingga acara berkelas. Tiba-tiba dari dari luar kudengar suara mengucapkan salam,
    “Assalamualaikum” Terucap suara nyaring dari luar.
    “Waalaikumussalam warahmatullahi wabakaratuh”
Aku menuju ke luar dan melihat, ternyata seorang ustadz yang menentang tas gendong warna hitam, kulitnya sawo matang, berjanggot tipis, celana menutupi mata kaki dan dia tersenyum padaku. Feeling saya berkata, ini pasti seorang ustadz
    “Ruslan mana?” Dia bertanya
    “Saya tidak tahu Ustadz” Jawabku
    “Ariel?”
    “Saya tidak tahu juga Ustadz”
Ustadz itu menyodorkan tangannya dengan maksud untuk bersalaman
    “Ali” Katanya memperkenalkan diri
    “Feri” Ujarku menjawab perkenalan beliau
    “Anak baru ya?”
    “Ya ustadz”
    “Dari mana?”
    “Sumbawa ustadz”
Kemudian kita berdua masuk mengobrol banyak hal dengan ustadz Ali. Ternyata ustadz yang kharismatik ini berasal dari Madura, hebatnya lagi beliau masih single alias belum menikah, mungkin belum ada bidadari yang datang tersenyum padanya, cie cie. Begitu tiba di dalam kamar Ustadz Ali langsung mengambil remote untuk melihat berita up date. Hilir mudik acara yang lalu lalang di depan mata kita, membuat kita tak menyangka kalau waktu maghrib sudah datang menyambut. Acara itu langsung ditinggalin oleh Ustadz Ali, kemudian dia menuju masjid. Ketika di dalam Masjid dia bertemu dengan Kang Arush, saat itu Kang Arush terburu-buru menuju kamar, entah karena. Melihat Kang Arush yang terburu-buru seperti itu, Ustadz Ali langsung menghadangnya, tampak sudah raut muka Kang Arush panik dengan kejailan Ustadz Ali “Cepetan sana” Ujar Ustadz Ali. Maghrib itu, suara adzan yang disajikan oleh Kang Arush mengalun syahdu di telingaku. Selain itu, suara khas Ustadz Ali Wafa ketika menjadi imam shalat Maghrib sangat menenangkan hatiku yang kering ini, Masya Allah.

Esoknya, seperti biasa kita kuliah. Maklum semester awal merupakan semester yang padat dengan jadwal kuliah. Tak hanya padat akan jadwal yang bergelimpangan, tapi juga banyak tugas yang siap merongrong hati dan pikiran kita. Iringan penjelasan Ustadz ataupun dosen menemani telingaku setiap pagi hingga sore. Sore hari, suasana dingin kota Malang masih seperti biasa, sejuk. Walaupun begitu, tak pernah menyulut semangatku untuk menyerap ilmu yang diberikan oleh dosen-dosen kita.
Jam sudah menunjuk angka lima akhirnya jam kuliah selesai, waktunya pulang. Jadilah kita anak tarbiyah angkatan 2009 pulang dengan versinya masing-masing. Aku lebih memilih pulang bersama Achmad Ferry Wahyudi, Moch. Makruf dan Muhajir Musa. Tapi yang ajaib, Muhajir Musa memanggil sahabatnya, “Mad” maka Ahmad Irsyadin, Zulfikar Yusuf dan Syamsu Abdurrahman. Jadilah kita ngumpul berjumlah enam orang yang kesemuanya itu berasal dari daerah yang berbeda. Yakni, Achmad Ferry dari Pandaan, Moch Makruf dari Madura, Ahmad Irsyadin dari Makasar. Sementara Muhajir Musa, Syamsu Abdurrahman dan Zulfikar Yusuf dari Flores. Diantara kita bertujuh yang memiliki kulit putih hanya Muhajir saja. Selain itu, kita semua berkulit sawo matang.
    “Per, coba lihat Fajar, kayaknya orang taat banget”
    “Iyalah, gak kayak kamu, pakai celana gak jelas!!” Jawab Muhajir dengan nada yang ceplas ceplos
    “Bettul, coba lihat celana apa besar seperti ini, lututnya robek lagi” Sahut Izuel ikut memancing suasana seru
    “Per, per mau jadi ustadz atau preman nih” Canda Ahmad ikut memperkeruh suasana perjalanan kita
    “Waduh rek,kayaknya saya jadi tersangka sekarang” Ujarku dengan nada polos
    “Kalau gitu Per, berarti mulai sekarang kamu harus tobat” Kata Ferry ikut menasehati.
    “Tobat?, aku sudah alim dari dulu Per, cie”
    “Preeett” Sahut Syamsu Abdu Rahman
    “Coba lihat Syamsul, dari dulu hingga sekarang istiqomah, rambutnya tetap saja kriting dan gak pernah lurus” Kata Muhajir mencela Syamsu Abdu Rahman
Jadilah sore bersahaja itu menjadi suasana canda tawa kita berenam, entah saling cela, saling dorong ataupun saling ketok kepala, semuanya tersaji di sore itu. Syamsu Abdu Rahman hanya diam ketika digojlokin oleh teman-teman. Dia hanya bereaksi sedikit saja, diantara kita Syamsu Abdu Rahman merupakan orang yang paling malas berbicara kalaupun berbicara palingan hanya seperlunya saja. Syamsu Abdur Rahman berambut keriting ikal sehingga wajar dia sering dipanggil Kribo. Selain itu, Kribo memiliki kulit yang cukup hitam diantara kita semua. Adapun Ahmad Irsyadin hampir sama dengan Kribo bedanya dia paling gampang tertawa. Berbeda halnya dengan Zulfikar Yusuf atau Izuel yang lebih ceria dan gampang membawa suasana jadi lebih asyik. Begitu juga dengan Makruf dan Ferry, dua mahluk ini paling kalem diantara kita. Dalam perjalanan banyak macam mahasiswa ataupun mahasiswa yang lewat, tidak tahan rasanya mata ini untuk selalu melihat mahasiswi-mahasiswi yang cantiknya selangit.
    “Jir, coba kamu salamin ke cewek yang berjilbab biru itu, kayaknya ahmad tertarik” Usul usilku pada Muhajir
    “Ngawur koen Per!” Sanggah Ahmad
    “Bagus juga tuh” Ujar Hajir, ini panggilannya Muhajir
Hajir langsung menghampiri Mahasiswi berjilbab biru, tingginya semampai dengan body aduhai. Hajir langsung berkata
    “Mbak, ada salam dari sahabat saya, itu yang pakai tas hitam, yang senyumnya sok manis, sok imut, katanya dia suka sama mbak” Cerocos Hajir
    “Ma kasih ya Mas” Ujar cewek itu sambil berlalu dari depan kita
    “Sama-samaa” Jawab kita semua
    “Cie cie Ahmad, diam diam menghanyutkan” Canda Izuel
    “Aseeek, Ahmad sekarang punya gebetan” Kata Hajir
    “Icikiwiiiiirrrrrr” Ujar Ferry
     “Asem arek arek” Umpat Ahmad dengan nada tertawa senyum
    “Mad, ntar buat sayur asem sama sia dia, asekkkk” Tambah Hajier yang membuat muka Ahmad bersemu merah
Ahmad hanya bisa senyam senyum dengan tingkah kita yang kocak dan usil. Begitulah sikap kita satu sama lain apabila ngumpul bersama dalam jamaah. Entah siapa yang jadi korban bully, tak ada dalam kamus kita, siapapun jadi. Tapi di situlah letak keunikan kita bertujuh, karena tanpa bumbu-bumbu canda tawa kayaknya ada sesuatu yang kurang. Sesampainya di depan parkiran Masjid AR Fachruddin lantai satu. Kita pun pisah, aku dan Ferry ke kost Tlogo Kautsar, Hajier ke Masjid AR Fachruddin karena dia takmir Masjid, Izuel ke Komisariat KAMMI karena dia seorang aktivitis. Sementara Ahmad, Kribo dan Makruf ke kostnya masing, “rek, jangan lupa ke kostnya Ahmad ya” Teriak Hajir ketika mau berpisah. “Oke” jawab kita serempak sambil mengancungkan jempol.
Dinginnya angin malam ini membuatku malas keluar dari kamar. Entah apa, entah dari mana sesuatu merasuki fikiranku. Aku hanya bergelut dengan selimutku, hatiku terpekur dengan gundah gulanaku. Di luar kamarku, teman-temanku sedang asyik menyanyi yang diiringi dengan suara gitar cempreng mereka, aku tidak peduli. Bangsat!!!. Hatiku mengumpat, ternyata malam aku ada janji sama teman-teman untuk kerja kelompok dari Mama Rom. Panggilan Mama Rom merupakan sebutan untuk Ibu Romlah, wali mahasiswa tarbiyah angkatan 2009. Di kelas beliau terkenal paling galak tapi bermurah senyum kepada kita. Terkadang di kelas beliau suka menceritakan ketiga putrinya. Jangtungku langsung der deg tak karuan, asekkk.
Aku langsung keluar dari kamar dan memanggil Ferry, sahabat satu kelasku. Ketika aku keluar dari kamar, kulihat Moh. Anis sedang senyam senyum dengan handphone menempel di telinga kanannya. Terkadang dia mengambil batu sambil melemparkan ke selokan. Maklum kost kita ada dua tingkat dan di sampingnya ada kuba Mushallah. Di situlah Moh. Anis sedang teleponan sama jin ifrit ataupun sama siapa, aku tidak tahu.
    “Cie cie cie yang teleponan” Godaku padanya
    “Ah kamu Fer, ganggu orang yang sedang bermesraan saja” Dia menanggapi dengan kedipan mata
    “Oww oke oke” Jawabku mengangguk nganguk sambil berlalu dari hadapannya
    “Fer, mau kemana kau?”
    “Ke kost teman, ngerjakan tugas”
    “Sukses yaa”
    “Oke, terima kasih” Jawabku mengancungkan jempolku
Di malam dingin ini aku meninggalkan keasyikannya. Aku langsung naik ke lantai tiga untuk bertemu dengan Ferry. Setibanya di kamar Ferry, terlihat dia sedang menyisir rambutnya. Saat itu, dia berpakaian lengkap dengan syal ala Palestina, jaketan beserta parfum nyong nyong yang harum semerbak.
    “Per, ayo” Ajakku
    “Oke, mari kita berangkat”
    “Kata teman-teman, setelah mengerjakan tugas kita tahlilan ya”
    “Sepertinya ya”
Istilah tahlilan merupakan sebutan bagi kita bereenam kalau kita mau main play station. Dan di majelis ini semua keseruan kita berenam membuncah ke sidratul muntaha. Mulai dari yang berteriak, bersumpah serapah bahkan menghina pemain dari tim yang dimainkan tersaji di majelis ini. Padahal kita sendiri yang mengarahkan pemain tersebut. Aku dan Ferry menuju ke kostnya Ahmad mengandarai beat, aku setia dibelakang. Kalau aku yang mengandarai, sudah dipastikan akan masuk ke dalam selokan.
Menyusuri hiruk pikuk keramaian kota Malang membuat hatiku senang. Karena di malam hari, aku bisa memandang gadis-gadis seksi yang berkeliaran di jalan. Biasa bujangan, matanya jelalatan. Beda halnya dengan Ferry, dia hanya fokus mengendarai beatnya saja. Sepeda motor yang kita tunggangi melaju dengan senangnya. Tiba-tiba dihadapan kita ada dua gadis yang berbodi indah mekar, tampak dari belakang mereka berdua berambut lurus, memakai celana sepangkal paha. Bah!!! Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, penasaran. Ketika Ferry hendak menyalip, “Per, coba lihat cewek ini” Ferry pun langsung semangat menyalip, aku langsung pasang ancang-ancang untuk melihat. Kala Ferry berhasil mendahului, akupun melihat. Ternyata, Subhanallah kedua cewek itu bergigi padat plus maju ke depan, cewek yang duduk di depan berkulit kuning langset sedangkan yang duduk di belakang berkulit sawo matang. Aduuhhh, keriting mata rasanya melihat mereka berdua, penyesalan terdalam.
    “Per, nyesel aku, rugi rasanya mata ini menatap mereka berdua” Ungkapku
    “Siapa suruh Per, makanya pandang” Jawab Ferry
    “Betul Per”
Akhirnya tiba juga di kostnya Ahmad, Tirto Gang 5. Kost itu berlantai tiga. Lantai pertama untuk tuan rumah, lantai dua untuk anak-anak kost sedangkan lantai tiga merupakan tempat nyuci dan jemur pakaian. Letak kost itu berhadapan dengan kost para mahasiswi. Jadi ketika kita keluar kamar bisa memandang segala jenis mahasiswi, mulai dari yang sopan hingga yang keblinger. Malam itu, kita pun mengerjakan tugas meskipun yang mengerjakan tugas hanya Ahmad, sedangkan kita bertujuh pada nonton televisi di ruang tengah. Entah apa yang kita omongin, asal ngomong. Yang penting ada bahan untuk dibicarakan
    “Mad, udah selesai belum?” Teriak Hajier dari ruangan tengah
    “Belum, bentar lagi” Jawab Ahmad
    “Yang rajin ya dek, ntar kakak kasih permen” Canda Hajier
    “Asem loe Jir” Umpat Ahmad
Kita bertujuh tertawa mendengar umpatan kekesalan dari Ahmad. Bagaimana tidak, dia yang paling capek mengerjakan tugas sementara kita bersantai ria di luar sambil menikmati siaran televisi. Malam ini, kita bercanda satu sama lain. Bahan-bahan yang kita bicarakan, entah datang darimana, tidak usah dipikir. Tak berapa lama kemudian Ahmad keluar dengan muka lelahnya, memandang kita yang lagi bercanda
    “Rek, aku pusing nih, ayo yasinan” Ajaknya
    “Kemana?” Tanyaku sambil memandangnya
    “Kuburan Per, ya di tempat biasalah” Jawab Ahmad kesal
    “Preettt” Ujarku tersenyum
    “Ntar yang bayar Hajier ya” Ujar Izuel, nama panggilan dari Zulfikar
    “Sepakatttt” Teriak kita bertujuh dengan kompak
    “Enaknya di kalian dong, gak ah, patungan patungan!!” Jawab Hajier kesal
    “Ayo berangkat” Ajak Ferry
Kita bertujuh pun berangkat ke Tirto Gang 9. Di sini merupakan tempat langganan kita bertujuh untuk bersenang-senang dengan Playstation.  Di sana terdapat rental Playstation yang cukup megah untuk ukuran mahasiswa. Rental itu terdiri dua tempat, kedua tempat itu saling berhadapan. Masing-masing dari tempat itu terdapat empat Playstation. Kita bertujuh biasanya memilih tempat yang paling pojok yang dekat dengan kantin dari rental itu. Hal ini dikarenakan tempat tersebut memudahkan akses kita untuk memesan makanan, asekk. Setibanya di tempat pertandingan, rental PS. Kita langsung menentukan tim untuk bertanding, seperti biasanya kita berembuk dan yang menjadi operatornya, Kribo. Sudah tentu dia memilih Barcelona, karena dia fans berat Barcelona.
    “Ayo rek, tentukan tim kalian” Seru Kribo
    “Inter” Ujar Hajier  dengan kesibukan di handphonenya
    “Real Madrid” Kata Izuel
    “Juventus” Kata Ferry
    “Mad?” Tanya Kribo, karena dari tadi dia diam
    “Biasaa booyy” Jawab Ahmad. Sudah bukan rahasia lagi kalau Ahmad fans berat dari Manchester City.
    “Aku rek, AC Milan” Kataku, karena dari tadi tidak ditanya
    “Sudah tahu Fer” Jawab Kribo
Malam ini jadilah kita bersatu dalam pertandingan Playstation. Jadwal pertandingannya pun telah diatur. Saat ini, timku bertanding dengan timnya Ferry. Kebetulan giliran kita kena yang pertama, mulailah sebuah pertandingan. Konon kabarnya orang yang paling sering kalah adalah aku, paling sering teriak. Pertama-pertama, aku menentukan formasi untuk timku, yang paling kusukai yakni formasi 4-3-1-2, dengan menduetkan Antonio Cassano dengan Ibrahimovic sebagai penyerang inti. Dipadukan dengan Kevin-Prince Boateng sebagai penyerang tengah. Adapun formasi dari sahabatku, aku tak tahu, bodoh amat, yang penting main. Setelah semuanya beres, mulailah pertandingannya, pertama kali yang mengendalikan permainan adalah Ferry.
Awalnya, Ferry mengarahkan pemainnya untuk menyerang secara bertahap. Dimulai dari Buffon kemudian diarahkan pada Chellini dan langsung dioper ke Pirlo. Bola itu tidak langsung dioper tapi dikontrol dulu “Segitiga, segitiga Per” Teriak sahabat-sahabatku menyemangati Ferry secara berjama’ah. Segitiga tandanya adalah umpan terobosan yang diberikan oleh seorang pemain kepada penyerang. Nah ketika Ferry bermaksud hendak memberikan umpan terobosan. Dengan segera umpan itu dipotong oleh pemainku. Jadi sekarang, aku yang memegang kendali permainan. Bolanya langsung kuarahkan pada Sulley Muntari dan bola itu langsung diberikan pada Kevin Prince Boateng. Aku langsung memencet segitga, umpan terobos pada Ibrahimovic. Dengan cepat kilat dia berlari kemudian aku langsung memencet kotak dan “GOOLLLL” aku berteriak penuh semangat.
    “Aduuhh” Keluh Ferry
    “Gitu Per, itu baru gol namanya” Ejekku setengah bercanda sambil berbisik di telinga
    “Ah preett loe Per, gitu aja kok senang” Kata Ahmad kesal
    “Namanya juga prestasi” Jawabku dengan melankolis
    “Preetttt” Sahut sahabat-sahabatku kompak kesal
    “Ayo Fer, kalahin anak ini. Biar dia gak banyak omong” Ujar Hajier memberikan semangat
    “Owww, tidak bisaa” Jawabku untuk memanaskan suasana
    “Sombong ya sekarang” Kata Ferry
    “Gak, tapi karena faktanya saya emang jago kok, hahaha” Kilahku
    “Asem loe Fer” Umpat Hajir setengah tersenyum
Pertandinganpun dilanjutkan pada babak kedua. Karena sudah tertinggal satu kosong, Ferry segera merombak formasi. Entah formasi apa yang digunakan, aku tak tahu. Sementara aku tidak terlalu pusing dengan formasi. Karena yang paling penting bagiku, main. Mau menang, mau kalah, yang penting main.
Pertandingan babak keduapun bergulir. Jual beli serangan menganulir, saling serang, saling tikam. Tapi jujur yang paling sering kena serang adalah diriku. Bagaimana tidak, permainanku yang paling payah diantara mereka, istilahnya terakreditasi C. Terlihat Ferry serius menikmati permainan ini. Dia mengarahkan pemain-pemainnya untuk menyerang. sudah tentu timku terkepung dalam alur penyerangannya. Ketika bola berada di kaki Andrea Pirlo, Ferry langsung memencet tanda segitiga. Yakni umpan terobosan kepada Marco Vucinic kemudian dia langsung menendang dan
    “Goollll” Teriak Sahabat-sahabatku berjama’ah. Tak heran ruangan rental ramai dengan suara kita
    “Gol ta?” Tanya Izuel yang terbangun karena terkejut mendengar suara sahabat-sahabatku
    “Bangunin ya kalau udah giliranku” Pinta Izuel
    “Oke Zuel” Jawabku
Pertandingan berlanjut dengan sorak seru yang membahana dalam ruang malam. Kita tidak memikirkan apakah mengganggu tetangga yang beristirahat, karena yang penting bagi kita adalah meluapkan emosi dalam pertandingan. Kala pertandingan semakin seru, sumpah serapahpun keluar dari mulut kita, aku yang paling keras bersorak saru. Entah karena kesal ataupun salah pencet tombol. Aktivitas tahlilan kita berlanjut hingga jam setengah tiga malam. Pada waktu ini, mata kita sudah pada tepar alias ngantuk berat. Malam ini yang masuk final adalah timnya Ferry versus timnya Ahmad. Sedangkan kita berlima sudah terbang ke alam mimpi. Ketika pertandingannya sudah selesai. Kita berlima langsung dibangunin oleh Ahmad untuk segera pulang. Setibanya di kostnya Ahmad, kita semua langsung tidur dengan posisi tanpa formasi. Aku bangun megusap mataku, kulihat jam di handphoneku ternyata jarum jam menunjukkan jam 06.30 WIB. Aku langsung membangunkan sahabat-sahabatku yang sedang tertidur pulas.
    “Per, bangun setengah tujuh” Ujar menggoyangkan badan Ferry
    “Beneran ta?” Ferry bertanya heran
    “Iya Per, ntar kita telat loh” Kataku
    “Ayo” Dia bergegas bangun dari tempat tidurnya
Tak lupa pula dia membangunkan sahabat-sahabat lain yang tertidur pulas. Setelah itu, kita berdua langsung pulang ke kost untuk mengganti pakaian dan persiapan kuliah. Ferry langsung turun memanaskan sepeda motornya. Setibanya di kost, aku langsung ke kamar mandi untuk membasuh mukaku ini, supaya kelihatan seperti orang mandi. Hari ini, kita masuk pada jam tujuh, jadilah kita buru-buru ke kampus.
Setibanya di kost, aku langsung masuk ke kamar menggantikan pakaianku. Setelah itu, aku ke kamar mandi membasuh bilas muka pucatku agar lebih berseri. Aku langsung bergegas ke kampus, terlihat Ferry sudah siap-siap berangkat lalu kita pun berangkat barengan. Setibanya di kampus, kita berdua langsung menuju ke Masjid AR. Fachruddin. Aku masuk kelas C, konon katanya kelas ini berisi mahasiswa yang tingkat pemahaman bahasa Arabnya mengengah alias rata-rata. Kebetulan selama dua semester aku sekelas dengan Hajier. Sedangkan sahabat-sahabatku yang lain tersebar di kelas yang berbeda; Ferry, Kribo dan Makruf di kelas D, Izuel di kelas B dan Ahmad di kelas A.
Di semester awal ini, jadwal kuliah kita teramat padat. Sehingga tak heran jika kita selalu pulang hingga jam lima sore. Pada pagi hari kita kuliah di Masjid AR. Fachruddin sedangkan pada siang hari kita kuliah di Gedung Kuliah Bersama (GKB) tiga Universitas Muhammadiyah Malang.
Ketika matahari berjalan dan perjalanannya berada diperbatasan Timur dan Barat. Saat itulah suara adzan terdengar memanggil hambanya untuk menghadap sang Khalik, shalat Dzuhur. Mensucikan hati, mengharap ridha-Nya, mahasiswa mahasiswi UMM pun menunaikan ibadah shalat Dzuhur.
Selesai shalat, aku beristirahat sejenak untuk berdzikir dan menghilangkan kantukku ini. Sedang asyik bertafakkur dalam kantuk. Terdengar suara yang memanggilku. Kuangkat kepalaku, ternyata Ustadz Ali Wafa. Kemudian beliau memberikan isyarat agar aku datang menghadap
    “Fer, gimana keadaanmu sekarang?” Tanya Ustadz Ali Wafa
    “Alhamdulillah, lancar ustadz” Jawabku tersenyum
    “Fer, ada masjid yang membutuhkan takmir, cuma di sana tidak digaji, hanya disediakan tempat tinggal. Gimana, antum mau ta?”
    “Alhamdulillah, saya mau ustadz, yang penting saya dapat tinggal” Jawabku mantap
    “Alhamdulillah” Beliau mengancungkan jempolnya, kemudian beliau melihat ke depan, sepertinya mencari seseorang.
    “Rur” Ustadz Ali setengah berteriak sambil memberikan kode untuk datang
Tak berapa lama, orang yang dipanggilpun datang. Setibanya di hadapan kita berdua, Miftah langsung menyodorkan tangannya padaku sambil tersenyum
    “Miftah”
    “Feri”
    “Fer, ini mahasiswaku yang tinggal di Masjid Al-Maun, namanya Muhammad Miftahus Sururi, orangnya dermawan, baik hati dan suka menabung” Ujar Ustadz Ali memperkenalkan dia secara detail.
Yang diperkenalkan cuma tersenyum simpul kemudian setelah itu kita berbincang-bincang seputar Masjid Al-Maun, yang mana kita berbincang seputar persyaratan untuk tinggal di Masjid. Salah satu syarat melegenda yang pernah diterangkan oleh Miftah, yakni bahwa syarat untuk tinggal di Masjid harus mempunyai komitmen untuk mengabdi dengan ikhlas selama tinggal di Masjid. Selanjutnya aku mesti menunggu hasil musyawarah dari jajaran takmir Masjid Al-Maun. Artinya aku mesti kabar dari Muhammad Miftahus Sururi.
Malamnya habis Maghrib, aku harap-harap cemas menunggu kabar kepastianku untuk tinggal di Masjid. Kecemasan ini kuutarakan pada salah satu sahabatku, Achmad Ferry Wahyudi, tanggapannya hanya tersenyum dan ngangguk-ngangguk. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba handphoneku berbunyi getar. Kubuka, ternyata pesan singkat dari Miftah.
    Assalamualaikum, Alhamdulillah antum diterima di masjid al-maun
Membaca sms dari Miftah, aku langsung melonjat kegirangan. Menggemgamkan tangan, berteriak “YESS”. Melihat tingkahku yang seperti itu, Ferry terheran. Mungkin hatinya bertanya, ada apa dengan sahabatku ini.
    “Fer, aku diterima di Masjid Al-Maun”
    “Alhamdulillah, berarti sekarang kamu harus siap-siap, key”
    “Okey, besok bisa bantu saya gak ngantar ke sana?”
    “Malam ini juga bisa”
    “Oke, kalau begitu. Besok saya kroscek, tempatnya dulu”
    “Sip”
    “Sama siapa?”
    “Kak Ramedan, sehabis dzuhur” Jawabku mantap
Malam ini, agendaku hanya merapikan semua pakaian dan buku-bukuku yang telah kubawa dari Sumbawa. Sungguh hatiku sangat gembira tercerah. Artinya pertualangan terbaruku akan mulai kulalui. Kusambut hari esok dengan senyum semerbak merekah. Kala senandung adzan terdengar syahdu, aku agak malas untuk bangun. Tapi malas itu kulawan, aku bangun mengambil air wudhu, kemudian aku shalat. Setelah itu, aku tertidur kembali.
Aku terbangun pada jam enam tepat. Setelah itu, aku langsung mandi untuk menyegarkan raga ini. Sehabis persiapan ke kampus dan lain sebagainya, aku langsung berangkat ke kampus bersama Ferry. Setibanya di kampus, aku langsung masuk kelas. Hari ini dosen yang mengajar kita adalah Pak Sunarto. Gaya mengajar dosen ini sangat santai, renyah tapi terkadang membuat kita mengantuk. untuk melawan rasa kantuk, aku langsung mengirim pesan pada Kak Ramedan,
    Kak, Alhamdulillah saya diterima tinggal di Masjid Al-Maun
Tak berapa lama kemudian beliau menjawab,
    Alhamdulillah, ntar habis siang ke sana
Membaca jawaban kak Ramedan hatiku girang tiada tara,
    Ya kak, ntar ketemu dimana?
Kak Ramedan menjawab
    Di AR
Yes, hatiku bersorak riang. Bentar lagi aku hijrah dari kos-kosan ke Masjid, rumah Allah. Peluh penat mengikuti kegiatan pembelajaran di Masjid AR. Fachruddin lantai dua sempat membuatku tak bersemangat. Kala kegiatan belajar mengajar di waktu dzuhur. Para mahasiswa langsung menunaikan shalat Dzuhur, menghadap kepada-Nya. Aku langsung ke Masjid lantai tiga setelah berwudhu. Setibanya di lantai tiga, aku langsung mencari Kak Ramedan. Kutoleh kiri kanan, depanpun tak ketinggalan dan ternyata dia ada di depanku. Kira-kira berjarak dua meter dari hadapanku.
Sang muadzin pun mendendangkan iqamah. Semuanya jama’ahpun berdiri untuk shalat. Setiap hari, antara Dzuhur dan Ashar. Jumlah jama’ah yang berdiri kira-kira ada empat sampai lima shaf. Sebagian besar jama’ahnya dari berbagai aliran, berbagai fashion tapi semuanya bersatu dalam jama’ah shalat Dzuhur.

BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata