6 Jul 2013

Ada 4 golonganyg ingin FPI dibubarkan



oleh DaGreat BankeiDzar (Catatan) pada 15 Juli 2010 pukul 6:11
Sejak tahun 2006, FPI berusaha diadu domba dan difitnah, agar

pemerintah memiliki dalih untuk membubarkan FPI. FPI berusaha

dibenturkan dengan Banser dan terakhir dengan Satgas PDIP.

Namun perilaku jahat kelompok Liberalis itu selalu mengalami


kegagalan. Terakhir pada peristiwa Banyuwangi (24/6) lalu,

dimana FPI difitnah akan membubarkan sosialisasi kesehatan

yang dilakukan tiga anggota DPR RI.

Berikut ini wawancara dengan Ketua Umum DPP FPI, Habib Rizieq

Syihab, seputar konspirasi jahat untuk membubarkan FPI. Jika

sampai berhasil, maka akan menjadi langkah awal untuk

membubarkan ormas-ormas Islam di Indonesia yang dinilai keras

menentang kezholiman dan ketidakadilan.



Apakah ada konspirasi untuk membubarkan Front Pembela Islam

(FPI) pasca peristiwa Banyuwangi atau sebelumnya?

Sebetulnya konspirasi sejumlah pihak untuk pembubaran FPI

sudah berlangsung sejak lama. Kita juga sudah mengidentifikasi

pihak-pihak yang melakukan konspirasi untuk membubarkan FPI.

Pertama, kelompok mafia, yang memang selama ini FPI dianggap

sebagai momok yang sangat menakutkan sekaligus menganggu

bisnis haram mereka. Adapun yang saya maksud mafia disini,

apakah mereka yang terlibat dalam sindikat narkoba, film-film

porno, perjudian, pelacuran dan sebagainya. Ini semua sudah

menjadi sindikat dan bukan kejahatan biasa, sementara FPI

sejak lahir sangat concern dalam persoalan tersebut. FPI

banyak mengungkap, menguak bahkan memejahijaukan mereka

sehingga sudah jelas mana kelompok mafia ini menjadikan FPI

sebagai musuh. Mereka mempunyai kepentingan untuk membubarkan

FPI.

Kedua, yang masuk dalam konspirasi adalah kelompok liberal.

Karena mereka melihat FPI secara fulgar melakukan konfrontasi

terhadap gerakan-gerakan kaum liberal. Artinya FPI tidak lagi

sembunyi-sembunyi bahkan perang pemikiran maupun perang di

lapangan sekalipun. Karena kalau kita lihat peristiwa

perjuangan RUU Pornografi dan Pornoaksi, bagaimana kelompok

liberal memanfaatkan preman-preman untuk menyerang posko FPI

di berbagai daerah. Jadi artinya mulai perang pemikiran sampai

perang otot. Belakangan kita lihat banyak usaha kaum liberal

yang kandas, apakah itu judicial review UU Pornografi, UU

Penistaan Agama. Termasuk juga upaya mereka memanfaatkan Gus

Dur untuk membatalkan TAP MPRS No XXV/MPRS/ 1966 soal PKI,

tetapi kan usaha mereka kandas. Sebetulnya kandasnya mereka

bukan hanya karena perjuangan FPI, tetapi semua ormas Islam.

Cuma karena FPI dianggap terlalu fulgar, mungkin lebih

meninjau atau mungkin konfrontasinya lebih terbuka, sehingga

mereka melihat FPI sebagai musuh utama. Jadi kelompok liberal

ini masuk dalam konspirasi tersebut.

Ketiga, kelompok Kristen radikal. Radikalisme ada di semua

kelompok. Kelompok Kristen radikal mempunyai catatan

tersendiri terhadap laskar-laskar Islam, mulai dari peristiwa

Ambon hingga Poso. Dimana salah satu diantaranya adalah FPI.

Ditambah lagi gerakan Kristen radikal ini yang mencoba

mendirikan gereja-gereja liar di berbagai tempat. Jadi bukan

geraja resmi yang mempunyai ijin resmi dan sesuai dengan

peruntukannya, no problem. Markas FPI di Petamburan Jakarta

Pusat ini sekitarnya ada 5 gereja, hubungannya dengan FPI saat

ini baik-baik saja. Bahkan para pendetanya suka sowan kemari

dan kita diskusi, no problem. Kenapa, karena gereja-gereja ini

resmi punya ijin dan sesuai dengan peruntukannya. Sementara

kalau ruko jadi gereja, kan lain cerita. Berarti peruntukannya

untuk rumah tinggal dan toko, kok tiba-tiba berubah jadi

gereja.

Sebetulnya penutupan gereja-gereja liar ini merupakan gerakan

masyarakat, tetapi lagi-lagi FPI yang dituduh. Mungkin dalam

gerakan tersebut ada warga FPI yang ikut bersama masyarakat.

FPI kan sekarang dimana-mana ada, warganya juga dimana-mana

ada. Tidak selalu perbuatan mereka mengatasnamakan organisasi

FPI. Ada kalanya mereka bergerak atas nama organisasi tetapi

ada kalanya atas nama masyarakat, jadi mereka tidak sendiri.

Kalau mereka bersama masyarakat setempat, jangan salahkan FPI.

Tetapi walau bagaimanapun juga, keterlibatan warga yang

berafiliasi kepada FPI ini akhirnya membuat FPI terseret juga,

Sehingga bagi kelompok Kristen radikal, FPI menjadi musuh

utamanya. Jadi ada kelompok mafia yang merasa bisnis haramnya

terganggu, ada kelompok liberal yang aqidah sesatnya juga

terganggu dan ada kelompok Kristen radikal yang gerakan

Kristenisasinya juga terganggu.

Keempat, adanya konspirasi politik. Kelompok-kelompok politik

melihat banyak kepentingan politik mereka yang terganggu

dengan gerakan-gerakan ormas Islam. Sekarang ada konspirasi,

dimana kelompok politik ingin mengoalkan suatu UU, tiba-tiba

UU ini berbenturan dengan Syariat Islam. Secara otomatis akan

berhadapan dengan gerakan Islam dan salah satunya adalah FPI.

Mungkin dimata mereka FPI dilihat terlalu fulgar melakukan

konfrontasi, sehingga dianggap menganggu agenda politik

mereka. Jadi konspirasi antara kelompok mafia, liberal,

Kristen radikal dan politik. Mereka bersatu untuk menjadikan

FPI sebagai musuh bersama.


Berarti mereka mencari momentum yang tepat untuk membubarkan

FPI?

Akhirnya mereka mencoba mencari momentum untuk pembubaran FPI.

Momentum apa saja yang mereka dapat, apakah momentum peristiwa

Depok, dimana ada kontes waria yang dibubarkan warga yang

didalamnya juga ada FPI. Bagaimana dengan peristiwa Bekasi,

dimana ada patung yang dirubuhkan, walaupun sebetulnya yang

merubuhkan patung adalah Walikota Bekasi, bukan FPI atas

desakan masyarakat. Tetapi di media massa yang dituduh kan

FPI.

Kenapa peristiwa Banyuwangi dianggap momentum, karena memang

lebih dahsyat daripada Bekasi, Singkawang dan Depok.

Persoalannya ada tiga anggota DPR RI yang katanya sedang

melakuan kunjungan kerja. Artinya, kalau melibatkan anggota

DPR RI berarti bersingungan dengan lembaga tinggi negara. Ini

berarti bisa dikatakan subversib kalau membubarkan acara

negara. Meraka lihat ini momentum penting untuk dibenturkan

dengan berita FPI telah membubarkan kunjungan kerja anggota

DPR RI dan FPI mengusir anggota DPR RI.

Peristiwa Banyuwangi mereka jadikan momentum untuk membubarkan

FPI. Cuma mereka kecelek, mereka salah fakta, karena ternyata

di Banyuwangi, subhanallah nasrullah. Tepatnya pada 25 April

2010 lalu, DPW FPI Banyuwangi dibekukan karena ada konflik

internal diantara mereka yang terkait Pilkada. Kemudian sikap

politik dari para pengurus FPI berbeda, yang membuat mereka

ada sedikit konflik. Kemudian kita tugaskan Sekjen FPI untuk

menyelesaikannya dan akhirnya disepakati supaya tidak ada

fihak yang dimenangkan dan dikalahkan, maka dibekukan dulu.

Berarti, kalau sudah dibekukan tidak boleh ada pergerakan

apapun atas nama FPI. Tahu-tahu mereka mengkaitkannya dengan

FPI, kan salah fakta dan mereka kecelek. Pada peristiwa ini

kan tidak ada yang memakai seragam FPI. Jadi kesimpulannya,

mereka salah fakta. Mereka sudah ramai-ramai ingin membubarkan

FPI, ternyata salah fakta.

Begitu Munarman, Ustad Awit dan Ustad Khathath tampil di

televisi, dengan debat terbuka dan kita ungkapkan fakta-

faktanya, akhirnya mereka malu sendiri. Karena mereka malu,

maka mereka lari ke berbagai peristiwa sebelumnya seperti

insiden Monas. Sekarang semua film yang ditayangkan Metro TV,

RCTI atau televisi swasta lainnya, itu peristiwa yang sudah

diadili, sudah divonis dan pelakunya sudah dipenjara, artinya

sudah inkracht dan sudah selesai. Tidak ada satu persoalan

hukum yang diadili sampai dua kali. Kalau persoalan hukumnya

telah selesai, kok televisi mengadili lagi. Pengadilan saja

tidak berhak untuk mengadili lagi, apalagi televise. Jadi

kesimpulannya, mereka kecelek.


Mengapa selama ini media massa terutama televisi dan koran

selalu memojokkan FPI, bagaimana tanggapan Habib?

Kalau media massa memojokkan FPI, memang ada beberapa asumsi.

Pertama, kelompok-kelompok yang memusuhi FPI adalah kelompok

beruang seperti kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan

kelompok politik. Meraka bisa dengan mudah untuk memberi

siaran televisi. Jadi ini hanya persoalan duit, siapa yang

bisa bayar itu yang mereka beritakan dengan senang hati.

Saya kasih contoh, pada saat Ustad Awit tampil di salah satu

televisi dengan menyerahkan salah satu film ceramah Ribka

Tjiptaning di Banyuwangi, mereka kita tantang untuk berani

setel ini karena isinya soal PKI, ternyata mereka tidak

berani. Adapun yang disetel lagi ribut-ributnya. Tetapi

ceramah Ribka soal PKI di Banyuwangi selama 20 menit, kok

tidak berani mereka setel. Apa karena FPI tidak bayar, kalau

disuruh bayar nanti dulu. Tadi itu asumsi pertama, tetapi

indikasinya kan kuat siapa punya duit bisa menguasai media

massa.

Kedua, jangan lupa, hampir semua stasiun televisi tidak ada

yang luput dari protes FPI. Hampir semua televisi pernah

didemo oleh FPI. Biasalah, mungkin mereka tersinggung karena

pernah didemo FPI. Jadi mereka enggan untuk menyiarkan berita

-berita yang menurut mereka dapat mengangkat citra FPI. Jadi

sepertinya ada sakit hati dan dendam kepada FPI yang pernah

mendemo mereka. FPI tidak peduli kalau mereka salah kita demo.

Metro TV, SCTV, RCTI dan Indosiar pernah kita demo, bahkan

TVRI pernah kita demo. Televisi mana yang tidak pernah kita

demo. FPI tidak peduli mendemo televisi, yang penting kalau

salah ya kita protes. FPI tidak peduli apakah beritanya akan

dimuat atau tidak dimuat di televisi. Itu asumsi kedua,

artinya indikasinya kan ada.

Ketiga, ini yang paling kuat. Sesuai dengan dokumen Rand

Corporation, disitu ditulis donasi-donasi AS dan sekutunya

memang berupaya dengan segala kekuatan finansialnya untuk

membeli media massa. Paling tidak, kalau tidak beli ya mereka

kuasai. Itu memang ada dalam Rand Corporation, itu artinya

terperinci betul. Adapun yang menarik disitu juga disebutkan,

kalau ada perbuatan-perbuatan yang menaikkan citra yang

dilakukan kelompok Islam manapun tidak boleh dimuat. Bukan

hanya FPI, tetapi kelompok Islam manapun. Sebaliknya, kalau

ada perbuatan-perbuatan yang sekiranya dapat menurunkan citra

kelompok Islam, maka harus dimuat dan harus diulang-ulang.

Makanya jangan kaget, kita bisa lihat acara di Metro TV dan

SCTV, peristiwa penyerangan tempat biliar yang dijadikan ajang

judi oleh laskar FPI tahun 2002 atau sudah 8 tahun lalu.

Tetapi film itu selalu diulang, kadang-kadang kalau diulang

seperti peristiwa Banyuwangi filmnya selalu diulang. Berarti

apa yang dilakukan SCTV dan Metro TV serta beberapa televisi

lain sesuai dengan dokumen Rand Corporation. Bukan saya

mencoba mengkait-kaitkan, tetapi faktanya memang begitu.

Apa isi dokumen Rand Corporation?

Dalam dokumen itu juga disebutkan, kalau kelompok-kelompok

Islam yang mereka anggap sebagai musuh, kalau menyebutkan

identitas cukup nama saja, tidak perlu disebut titelnya

seperti Prof Dr dan sebagainya. Kalau Kyai Haji dan Habib

jangan disebut KH dan Habibnya. Kalau Ustad jangan disebut

ustadnya, pokoknya disebut namanya saja. Tetapi sebaliknya,

kalau kelompok yang mendukung mereka harus disebut dengan

lengkap titelnya, seperti Prof, Dr, PhD, MA, MSc dan

sebagainya, itu tertulis dalam dokumen Rand Corporation. Jadi

dengan demikian, ini memang grand design mereka. Jadi tidak

perlu kaget dan ini tidak akan menjadi yang terakhir. Besok

pasti mereka akan mencari lagi momentum untuk membubarkan FPI,

dan itu akan terus berlangsung sampai mereka berhasil

membubarkan FPI. Kita harapkan sekarang gerakan Islam semakin

merapatkan barisan dan memperkokoh ukhuwan Islamiyah, karena

sebetulnya yang ditarget itu bukan hanya FPI saja tetapi semua

gerakan Islam. Mungkin FPI dianggap sebagai pintu gerbangnya

untuk dibobol terlebih dahulu.

Apa kerugian yang akan dialami bangsa Indonesia seandainya FPI

sampai dibubarkan?

Secara pribadi kalau FPI dibubarkan tidak ada masalah. Kalau

hari ini Front Pembela Islam dibubarkan, maka besok akan saya

bikin Front Pecinta Islam. Dengan singkatan yang sama,

pengurus yang sama, gerakan yang sama dan wajah yang sama

pula, kan UU tidak melarang. Jadi saya tidak pernah pusing

dengan pembubaran. Nanti kalau Front Pecinta Islam juga

dibubarkan, maka akan saya bentuk Front Penyelamat Islam. Jadi

mengapa pusing-pusing, saya tidak pernah pusing mengenai

pembubaran ini, tidur saya tetap nyenyak.

Jadi saya bicara pribadi, artinya yang ingin saya tekankan,

ada FPI atau tidak ada FPI amar makruf nahi mungkar tetap

wajib dijalankan. Ada FPI atau tidak ada FPI, perjuangan para

kader FPI yang ada dimana saja tetap berjalan. Artinya, saya

dan kawan-kawan yang ada di FPI tidak pernah menjadikan FPI

sebagai tujuan perjuangan. Kita selalu mengingatkan, FPI cuma

kendaraan. Jadi kalau kendaraan ini rusak ditengah jalau atau

dibakar orang atau dicuri orang atau kendaraan terbalik dan

tidak bisa dipakai lagi, kita ganti kendaraan yang lain.

Kenapa susah-susah amat karena FPI bukan tujuan. Tujuan kita

hanya mencari ridha Allah, tujuan kita liilai kalimatillah

subhanahu wa taala. Jadi bukan tujuan kita mencitrakan FPI,

membaguskan FPI, membesarkan FPI. Itu hanya proses perjuangan,

tujuannya liilai kalimatillah subhanahu wa taala.

Itu yang secara pribadi saya melihat wacana pembubaran FPI,

bahkan saya katakan bukan wacana lagi. Sebab ini sudah

merupakan gerakan sistimatis yang dilakukan musuh-musuh Islam

untuk membubarkan FPI. Tetapi memang kalau kita bicara secara

umum buat masyarakat kasihan. Kalau ormas Islam bukan hanya

FPI yang concern terhadap amar makruf nahi mungkar terhadap

penegakan keadilan melawan kedholiman. Kalau yang seperti ini

sampai dibubarkan, kasihan umat Islam itu sendiri. Artinya

kekuatan mereka semakin lemah, kekuatan pembelaan mereka

semakin surut. Bahkan kita khawatirkan begitu ada ormas Islam

semacam FPI yang dibubarkan, jangan-jangan nanti ada

masyarakat yang takut untuk berjuang. Itu yang kita

khawatirkan. Artinya mereka nanti akan menjadikan proyek

percontohan. Jangan keras-keras, nanti nasibnya akan seperti

FPI. Nanti kita jadi takut melawan kedholiman, kemungkaran,

mafia, bajingan dan takut melawan okum pejabat yang bejat

akhlaknya, ini berbahaya. Jadi kalau ada pembubaran suatu

ormas Islam, ini kan melemahkan semangat juang umat Islam

Indonesia. Walaupun secara pribadi kita tidak akan kendor,

walaupun dibubarkan sepuluh kalipun kita tetap akan berjuang.

Tetapi umat yang awam kan tidak begitu fikirannya.

Jadi kalau FPI dibubarkan, berarti akan mengulang sejarah

ketika Soekarno meminta Masyumi membubarkan diri atau

dibubarkan tahun 1960 lalu?

Kalau kita kembali kepada sejarah Sukarno, ini kan sejarah

yang sangat ironis. Tatkala Masyumi dituduh terlibat dalam

PRRI, ini kan tuduhan dan firtnah, Masyumi kemudian

dibubarkan. Tetapi begitu PKI yang nyata-nyata berkhianat,

Sukarno tidak membubarkannya. Ini fakta sejarah, ada apa ?

Seharusnya Sukarno bersikap adil. Kalau Masyumi dibubarkan,

PKI yang terlibat pemberontakan G30S seharusnya dibubarkan.

Ini lebih berbahaya, tetapi nyatanya tidak dibubarkan Sukarno.

Sejak zaman kemerdekaan, terjadi pergulatan apakah itu

ideologi, pertempuran fisik antara kelompok Islam dengan

sekuler. Jadi kelompok sekuler ini memang selalu ingin menang

sendiri. Jadi segala yang jelek dari sekuler mereka maklumi,

tetapi apapun yang kelihatannya jelek dari kelompok Islam,

kalaupun tidak jelek mereka jelek-jelekkan. Itu akan dijadikan

mereka alasan untuk penghancuran.

Sekarang kalau kita bicara soal pembubaran, kita lihat

alasannya. Apa alasan mereka ingin membubarkan FPI, karena FPI

melakukan sejumlah kekerasan. Saya tidak ingin membela diri.

Katakanlah benar FPI melakuan kekerasan, itupun kekerasan

harus kita diskusikan dulu. Apa betul itu kekerasan, apa betul

itu kekerasan struktural yang dilakukan secara organisatoris

atau bagaimana. Itu masih perlu diskusi dan pembuktian dulu,

andaikata FPI dituduh keras dan musti dibubarkan. Pertanyaan

kita, bagaimana dengan berbagai kekerasan yang dilakukan

partai politik. Berbagai pilkada di daerah sejak reformasi

hingga sekarang ini selalu diwarnai kekerasan. Ada pembunuhan,

pembakaran gedung pemerintana, pembakaran mobil, pembakaran

pom bensin, luar biasa. Itu yang tidak pernah dilakukan FPI.

FPI tidak pernah bakar gedung pemerintah, FPI tidak pernah

membunuh Ketua DPRD, ini kan massa partai.

Kalau FPI dibubarkan, Parpol harus juga dibubarkan?

Jadi kalau massa FPI melakukan kekerasan FPI nya harus

dibubarkan, maka logikanya kalau massa partai melakuan

kekerasan, maka partainya harus juga dibubarkan. Sekarang

massa PDIP, PKB dan Demokrat melakukan kekerasan. Kalau begitu

PDIP, PKB dan Demokrat harus dibubarkan. Ini kalau kita

memakai logika pembubaran. Jadi tidaklah adil jika ada massa

FPI melakukan kekerasan maka FPI dibubarkan. Tetapi kalau

massa partai yang melakukan kekerasan, partainya tidak

dibubarkan, enak betul ! Memang yang punya negara ini partai !

Kekerasan yang dilakukan massa partai lebih dahsyat, lebih

keras bahkan biadab. Masak Ketua DPRD Sumatera Utara sampai

dibunuh di dalam Gedung DPRD. Pembakaran gedung kabupaten

seperti di Tuban dan pembakaran mobil di Mojokerto. Apa ada

aksi FPI semacam itu. Apa ada massa FPI seperti itu. FPI

paling-paling memakai pentungan. Adapun yang dirusak cuma kaca

biliar dan tidak lebih dari itu. Ini kalau kita bicara fakta.

Kalau pemerintah ingin membubarkan FPI, maka PDIP, PKB,

Demokrat dan Golkar juga dibubarkan, jadi sama-sama bubar,

termasuk negara ini juga bubar.

Selama ini kelompok liberal ingin membenturkan FPI dengan

massa Gus Dur dan sekarang PDIP, tetapi usaha mereka selalu

gagal?

Kelompok liberal ini tidak mempunyai massa, tidak mempunyai

grass-roots. Mereka antek Barat dan hanya mampu membuat LSM-

LSM komprador. Mereka dibantu dengan bantuan asing, ini mereka

sendiri yang mengakuinya. Kalau kita ingin bicara jujur, FPI

ingin dibubarkan karena melangar UU No. 8 Tahun 1985 tentang

Keormasan. Sekarang salah satu larangan dalam UU Keormasan

adalah menerima bantua luar negeri atau asing. LSM yang dibuat

kelompok liberal, semuanya menerima bantuan asing. Bubarkan

meraka dulu, FPI sudah siap untuk dibubarkan. Jadi kita bubar

-bubaran, mereka ini tidak bercermin. Jadi kalau ada pepatah

mengatakan kuman disebarang lautan tampak, gajah di pelupuk

mata tak tampak. Kesalahan FPI yang kecil jauh mereka lihat,

tetapi kesalahan mereka yang besar dalam diri mereka sendiri,

tidak mereka lihat.

Kelompok liberal memang tidak punya massa. Masyarakat mana

yang mau jadi antek asing. Serendah-rendahnya pendidikan,

pemikiran, status sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia,

secara umum mereka masih mempunyai ras cinta tanah air, cinta

bangsa dan negara. Mereka tidak mau menjual negaranya untuk

orang asing. Sehingga kelompok liberal tidak mendapatkan

tempat di tengah masyarakat dan mereka tidak mempunyai

kekuatan grass-roots. Adapun yang mempunyai kekuatan grass-

roots di Indopnesia seperti NU dan Muhammadiyah. Kalau partai

politik seperti PDIP yang mengakar ke bawah.

Kelompok liberal melihat FPI sebagai ancaman dan FPI mempunyai

kekuatan grass-roots kebawah. Bagaimana cara untuk menghadapi

FPI, mereka berusaha untuk menunganggi NU tetapi tidka

berhasil. Karena waktu itu Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, beliau

dikenal orang baik, cerdas dan tidak bisa ditunggangi oleh

Ulil dan kawan-kawan. Karena itu ketika tersiar kabar di

beberapa daerah terjadi konflik antara massa FPI dengan NU, KH

Hasyim Muzadi langsung klarifikasi. Itu ternyata bukan NU,

tetapi massa preman yang dibayar suatu kelompok dan dipakaikan

baju NU. Akhirnya kebongkar semua dan mereka cuma ingin

mengadu domba.

Dikabarkan ada seorang tokoh yang kirim Banser palsu ke

Pengadilan, tetapi ternyata itu preman yang diberi baju

Banser. Padahala Banser sendiri tidak tahu menahu. Berbagai

cara kotor seperti ini dilakukan kelompok liberal. Karena Gus

Dur sudah meninggal dunia dan mereka menunganggi NU sudah

tidak ada pintunya, maka sekarang mereka mencoba menunganggi

PDIP. Kebetulan ada kasus Banyuwangi PDIP sedang marah, maka

masuk Ulil ngipasin PDIP. Kebetulan Ulil pengurus Partai

Demokrat. Maka kita sampaikan informasi itu ke PDIP, apa anda

mau ditunganggi sama Partai Demokrat dan diadu dengan FPI,

sehingga PDIP jadi mawas diri. mnh/Abdul Halim/suara-islam.com

Ada 4 golonganyg ingin FPI dibubarkan
oleh DaGreat BankeiDzar (Catatan) pada 15 Juli 2010 pukul 6:11
Sejak tahun 2006, FPI berusaha diadu domba dan difitnah, agar 

pemerintah memiliki dalih untuk membubarkan FPI. FPI berusaha 

dibenturkan dengan Banser dan terakhir dengan Satgas PDIP. 

Namun perilaku jahat kelompok Liberalis itu selalu mengalami 

kegagalan. Terakhir pada peristiwa Banyuwangi (24/6) lalu, 

dimana FPI difitnah akan membubarkan sosialisasi kesehatan 

yang dilakukan tiga anggota DPR RI.

Berikut ini wawancara dengan Ketua Umum DPP FPI, Habib Rizieq 

Syihab, seputar konspirasi jahat untuk membubarkan FPI. Jika 

sampai berhasil, maka akan menjadi langkah awal untuk 

membubarkan ormas-ormas Islam di Indonesia yang dinilai keras 

menentang kezholiman dan ketidakadilan.



Apakah ada konspirasi untuk membubarkan Front Pembela Islam 

(FPI) pasca peristiwa Banyuwangi atau sebelumnya?

Sebetulnya konspirasi sejumlah pihak untuk pembubaran FPI 

sudah berlangsung sejak lama. Kita juga sudah mengidentifikasi 

pihak-pihak yang melakukan konspirasi untuk membubarkan FPI.

Pertama, kelompok mafia, yang memang selama ini FPI dianggap 

sebagai momok yang sangat menakutkan sekaligus menganggu 

bisnis haram mereka. Adapun yang saya maksud mafia disini, 

apakah mereka yang terlibat dalam sindikat narkoba, film-film 

porno, perjudian, pelacuran dan sebagainya. Ini semua sudah 

menjadi sindikat dan bukan kejahatan biasa, sementara FPI 

sejak lahir sangat concern dalam persoalan tersebut. FPI 

banyak mengungkap, menguak bahkan memejahijaukan mereka 

sehingga sudah jelas mana kelompok mafia ini menjadikan FPI 

sebagai musuh. Mereka mempunyai kepentingan untuk membubarkan 

FPI.

Kedua, yang masuk dalam konspirasi adalah kelompok liberal. 

Karena mereka melihat FPI secara fulgar melakukan konfrontasi 

terhadap gerakan-gerakan kaum liberal. Artinya FPI tidak lagi 

sembunyi-sembunyi bahkan perang pemikiran maupun perang di 

lapangan sekalipun. Karena kalau kita lihat peristiwa 

perjuangan RUU Pornografi dan Pornoaksi, bagaimana kelompok 

liberal memanfaatkan preman-preman untuk menyerang posko FPI 

di berbagai daerah. Jadi artinya mulai perang pemikiran sampai 

perang otot. Belakangan kita lihat banyak usaha kaum liberal 

yang kandas, apakah itu judicial review UU Pornografi, UU 

Penistaan Agama. Termasuk juga upaya mereka memanfaatkan Gus 

Dur untuk membatalkan TAP MPRS No XXV/MPRS/ 1966 soal PKI, 

tetapi kan usaha mereka kandas. Sebetulnya kandasnya mereka 

bukan hanya karena perjuangan FPI, tetapi semua ormas Islam. 

Cuma karena FPI dianggap terlalu fulgar, mungkin lebih 

meninjau atau mungkin konfrontasinya lebih terbuka, sehingga 

mereka melihat FPI sebagai musuh utama. Jadi kelompok liberal 

ini masuk dalam konspirasi tersebut.

Ketiga, kelompok Kristen radikal. Radikalisme ada di semua 

kelompok. Kelompok Kristen radikal mempunyai catatan 

tersendiri terhadap laskar-laskar Islam, mulai dari peristiwa 

Ambon hingga Poso. Dimana salah satu diantaranya adalah FPI. 

Ditambah lagi gerakan Kristen radikal ini yang mencoba 

mendirikan gereja-gereja liar di berbagai tempat. Jadi bukan 

geraja resmi yang mempunyai ijin resmi dan sesuai dengan 

peruntukannya, no problem. Markas FPI di Petamburan Jakarta 

Pusat ini sekitarnya ada 5 gereja, hubungannya dengan FPI saat 

ini baik-baik saja. Bahkan para pendetanya suka sowan kemari 

dan kita diskusi, no problem. Kenapa, karena gereja-gereja ini 

resmi punya ijin dan sesuai dengan peruntukannya. Sementara 

kalau ruko jadi gereja, kan lain cerita. Berarti peruntukannya 

untuk rumah tinggal dan toko, kok tiba-tiba berubah jadi 

gereja.

Sebetulnya penutupan gereja-gereja liar ini merupakan gerakan 

masyarakat, tetapi lagi-lagi FPI yang dituduh. Mungkin dalam 

gerakan tersebut ada warga FPI yang ikut bersama masyarakat. 

FPI kan sekarang dimana-mana ada, warganya juga dimana-mana 

ada. Tidak selalu perbuatan mereka mengatasnamakan organisasi 

FPI. Ada kalanya mereka bergerak atas nama organisasi tetapi 

ada kalanya atas nama masyarakat, jadi mereka tidak sendiri. 

Kalau mereka bersama masyarakat setempat, jangan salahkan FPI. 

Tetapi walau bagaimanapun juga, keterlibatan warga yang 

berafiliasi kepada FPI ini akhirnya membuat FPI terseret juga, 

Sehingga bagi kelompok Kristen radikal, FPI menjadi musuh 

utamanya. Jadi ada kelompok mafia yang merasa bisnis haramnya 

terganggu, ada kelompok liberal yang aqidah sesatnya juga 

terganggu dan ada kelompok Kristen radikal yang gerakan 

Kristenisasinya juga terganggu.

Keempat, adanya konspirasi politik. Kelompok-kelompok politik 

melihat banyak kepentingan politik mereka yang terganggu 

dengan gerakan-gerakan ormas Islam. Sekarang ada konspirasi, 

dimana kelompok politik ingin mengoalkan suatu UU, tiba-tiba 

UU ini berbenturan dengan Syariat Islam. Secara otomatis akan 

berhadapan dengan gerakan Islam dan salah satunya adalah FPI. 

Mungkin dimata mereka FPI dilihat terlalu fulgar melakukan 

konfrontasi, sehingga dianggap menganggu agenda politik 

mereka. Jadi konspirasi antara kelompok mafia, liberal, 

Kristen radikal dan politik. Mereka bersatu untuk menjadikan 

FPI sebagai musuh bersama.


Berarti mereka mencari momentum yang tepat untuk membubarkan 

FPI?

Akhirnya mereka mencoba mencari momentum untuk pembubaran FPI. 

Momentum apa saja yang mereka dapat, apakah momentum peristiwa 

Depok, dimana ada kontes waria yang dibubarkan warga yang 

didalamnya juga ada FPI. Bagaimana dengan peristiwa Bekasi, 

dimana ada patung yang dirubuhkan, walaupun sebetulnya yang 

merubuhkan patung adalah Walikota Bekasi, bukan FPI atas 

desakan masyarakat. Tetapi di media massa yang dituduh kan 

FPI.

Kenapa peristiwa Banyuwangi dianggap momentum, karena memang 

lebih dahsyat daripada Bekasi, Singkawang dan Depok. 

Persoalannya ada tiga anggota DPR RI yang katanya sedang 

melakuan kunjungan kerja. Artinya, kalau melibatkan anggota 

DPR RI berarti bersingungan dengan lembaga tinggi negara. Ini 

berarti bisa dikatakan subversib kalau membubarkan acara 

negara. Meraka lihat ini momentum penting untuk dibenturkan 

dengan berita FPI telah membubarkan kunjungan kerja anggota 

DPR RI dan FPI mengusir anggota DPR RI.

Peristiwa Banyuwangi mereka jadikan momentum untuk membubarkan 

FPI. Cuma mereka kecelek, mereka salah fakta, karena ternyata 

di Banyuwangi, subhanallah nasrullah. Tepatnya pada 25 April 

2010 lalu, DPW FPI Banyuwangi dibekukan karena ada konflik 

internal diantara mereka yang terkait Pilkada. Kemudian sikap 

politik dari para pengurus FPI berbeda, yang membuat mereka 

ada sedikit konflik. Kemudian kita tugaskan Sekjen FPI untuk 

menyelesaikannya dan akhirnya disepakati supaya tidak ada 

fihak yang dimenangkan dan dikalahkan, maka dibekukan dulu. 

Berarti, kalau sudah dibekukan tidak boleh ada pergerakan 

apapun atas nama FPI. Tahu-tahu mereka mengkaitkannya dengan 

FPI, kan salah fakta dan mereka kecelek. Pada peristiwa ini 

kan tidak ada yang memakai seragam FPI. Jadi kesimpulannya, 

mereka salah fakta. Mereka sudah ramai-ramai ingin membubarkan 

FPI, ternyata salah fakta.

Begitu Munarman, Ustad Awit dan Ustad Khathath tampil di 

televisi, dengan debat terbuka dan kita ungkapkan fakta-

faktanya, akhirnya mereka malu sendiri. Karena mereka malu, 

maka mereka lari ke berbagai peristiwa sebelumnya seperti 

insiden Monas. Sekarang semua film yang ditayangkan Metro TV, 

RCTI atau televisi swasta lainnya, itu peristiwa yang sudah 

diadili, sudah divonis dan pelakunya sudah dipenjara, artinya 

sudah inkracht dan sudah selesai. Tidak ada satu persoalan 

hukum yang diadili sampai dua kali. Kalau persoalan hukumnya 

telah selesai, kok televisi mengadili lagi. Pengadilan saja 

tidak berhak untuk mengadili lagi, apalagi televise. Jadi 

kesimpulannya, mereka kecelek.


Mengapa selama ini media massa terutama televisi dan koran 

selalu memojokkan FPI, bagaimana tanggapan Habib?

Kalau media massa memojokkan FPI, memang ada beberapa asumsi. 

Pertama, kelompok-kelompok yang memusuhi FPI adalah kelompok 

beruang seperti kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan 

kelompok politik. Meraka bisa dengan mudah untuk memberi 

siaran televisi. Jadi ini hanya persoalan duit, siapa yang 

bisa bayar itu yang mereka beritakan dengan senang hati.

Saya kasih contoh, pada saat Ustad Awit tampil di salah satu 

televisi dengan menyerahkan salah satu film ceramah Ribka 

Tjiptaning di Banyuwangi, mereka kita tantang untuk berani 

setel ini karena isinya soal PKI, ternyata mereka tidak 

berani. Adapun yang disetel lagi ribut-ributnya. Tetapi 

ceramah Ribka soal PKI di Banyuwangi selama 20 menit, kok 

tidak berani mereka setel. Apa karena FPI tidak bayar, kalau 

disuruh bayar nanti dulu. Tadi itu asumsi pertama, tetapi 

indikasinya kan kuat siapa punya duit bisa menguasai media 

massa.

Kedua, jangan lupa, hampir semua stasiun televisi tidak ada 

yang luput dari protes FPI. Hampir semua televisi pernah 

didemo oleh FPI. Biasalah, mungkin mereka tersinggung karena 

pernah didemo FPI. Jadi mereka enggan untuk menyiarkan berita

-berita yang menurut mereka dapat mengangkat citra FPI. Jadi 

sepertinya ada sakit hati dan dendam kepada FPI yang pernah 

mendemo mereka. FPI tidak peduli kalau mereka salah kita demo. 

Metro TV, SCTV, RCTI dan Indosiar pernah kita demo, bahkan 

TVRI pernah kita demo. Televisi mana yang tidak pernah kita 

demo. FPI tidak peduli mendemo televisi, yang penting kalau 

salah ya kita protes. FPI tidak peduli apakah beritanya akan 

dimuat atau tidak dimuat di televisi. Itu asumsi kedua, 

artinya indikasinya kan ada.

Ketiga, ini yang paling kuat. Sesuai dengan dokumen Rand 

Corporation, disitu ditulis donasi-donasi AS dan sekutunya 

memang berupaya dengan segala kekuatan finansialnya untuk 

membeli media massa. Paling tidak, kalau tidak beli ya mereka 

kuasai. Itu memang ada dalam Rand Corporation, itu artinya 

terperinci betul. Adapun yang menarik disitu juga disebutkan, 

kalau ada perbuatan-perbuatan yang menaikkan citra yang 

dilakukan kelompok Islam manapun tidak boleh dimuat. Bukan 

hanya FPI, tetapi kelompok Islam manapun. Sebaliknya, kalau 

ada perbuatan-perbuatan yang sekiranya dapat menurunkan citra 

kelompok Islam, maka harus dimuat dan harus diulang-ulang.

Makanya jangan kaget, kita bisa lihat acara di Metro TV dan 

SCTV, peristiwa penyerangan tempat biliar yang dijadikan ajang 

judi oleh laskar FPI tahun 2002 atau sudah 8 tahun lalu. 

Tetapi film itu selalu diulang, kadang-kadang kalau diulang 

seperti peristiwa Banyuwangi filmnya selalu diulang. Berarti 

apa yang dilakukan SCTV dan Metro TV serta beberapa televisi 

lain sesuai dengan dokumen Rand Corporation. Bukan saya 

mencoba mengkait-kaitkan, tetapi faktanya memang begitu.

Apa isi dokumen Rand Corporation?

Dalam dokumen itu juga disebutkan, kalau kelompok-kelompok 

Islam yang mereka anggap sebagai musuh, kalau menyebutkan 

identitas cukup nama saja, tidak perlu disebut titelnya 

seperti Prof Dr dan sebagainya. Kalau Kyai Haji dan Habib 

jangan disebut KH dan Habibnya. Kalau Ustad jangan disebut 

ustadnya, pokoknya disebut namanya saja. Tetapi sebaliknya, 

kalau kelompok yang mendukung mereka harus disebut dengan 

lengkap titelnya, seperti Prof, Dr, PhD, MA, MSc dan 

sebagainya, itu tertulis dalam dokumen Rand Corporation. Jadi 

dengan demikian, ini memang grand design mereka. Jadi tidak 

perlu kaget dan ini tidak akan menjadi yang terakhir. Besok 

pasti mereka akan mencari lagi momentum untuk membubarkan FPI, 

dan itu akan terus berlangsung sampai mereka berhasil 

membubarkan FPI. Kita harapkan sekarang gerakan Islam semakin 

merapatkan barisan dan memperkokoh ukhuwan Islamiyah, karena 

sebetulnya yang ditarget itu bukan hanya FPI saja tetapi semua 

gerakan Islam. Mungkin FPI dianggap sebagai pintu gerbangnya 

untuk dibobol terlebih dahulu.

Apa kerugian yang akan dialami bangsa Indonesia seandainya FPI 

sampai dibubarkan?

Secara pribadi kalau FPI dibubarkan tidak ada masalah. Kalau 

hari ini Front Pembela Islam dibubarkan, maka besok akan saya 

bikin Front Pecinta Islam. Dengan singkatan yang sama, 

pengurus yang sama, gerakan yang sama dan wajah yang sama 

pula, kan UU tidak melarang. Jadi saya tidak pernah pusing 

dengan pembubaran. Nanti kalau Front Pecinta Islam juga 

dibubarkan, maka akan saya bentuk Front Penyelamat Islam. Jadi 

mengapa pusing-pusing, saya tidak pernah pusing mengenai 

pembubaran ini, tidur saya tetap nyenyak.

Jadi saya bicara pribadi, artinya yang ingin saya tekankan, 

ada FPI atau tidak ada FPI amar makruf nahi mungkar tetap 

wajib dijalankan. Ada FPI atau tidak ada FPI, perjuangan para 

kader FPI yang ada dimana saja tetap berjalan. Artinya, saya 

dan kawan-kawan yang ada di FPI tidak pernah menjadikan FPI 

sebagai tujuan perjuangan. Kita selalu mengingatkan, FPI cuma 

kendaraan. Jadi kalau kendaraan ini rusak ditengah jalau atau 

dibakar orang atau dicuri orang atau kendaraan terbalik dan 

tidak bisa dipakai lagi, kita ganti kendaraan yang lain. 

Kenapa susah-susah amat karena FPI bukan tujuan. Tujuan kita 

hanya mencari ridha Allah, tujuan kita liilai kalimatillah 

subhanahu wa taala. Jadi bukan tujuan kita mencitrakan FPI, 

membaguskan FPI, membesarkan FPI. Itu hanya proses perjuangan, 

tujuannya liilai kalimatillah subhanahu wa taala.

Itu yang secara pribadi saya melihat wacana pembubaran FPI, 

bahkan saya katakan bukan wacana lagi. Sebab ini sudah 

merupakan gerakan sistimatis yang dilakukan musuh-musuh Islam 

untuk membubarkan FPI. Tetapi memang kalau kita bicara secara 

umum buat masyarakat kasihan. Kalau ormas Islam bukan hanya 

FPI yang concern terhadap amar makruf nahi mungkar terhadap 

penegakan keadilan melawan kedholiman. Kalau yang seperti ini 

sampai dibubarkan, kasihan umat Islam itu sendiri. Artinya 

kekuatan mereka semakin lemah, kekuatan pembelaan mereka 

semakin surut. Bahkan kita khawatirkan begitu ada ormas Islam 

semacam FPI yang dibubarkan, jangan-jangan nanti ada 

masyarakat yang takut untuk berjuang. Itu yang kita 

khawatirkan. Artinya mereka nanti akan menjadikan proyek 

percontohan. Jangan keras-keras, nanti nasibnya akan seperti 

FPI. Nanti kita jadi takut melawan kedholiman, kemungkaran, 

mafia, bajingan dan takut melawan okum pejabat yang bejat 

akhlaknya, ini berbahaya. Jadi kalau ada pembubaran suatu 

ormas Islam, ini kan melemahkan semangat juang umat Islam 

Indonesia. Walaupun secara pribadi kita tidak akan kendor, 

walaupun dibubarkan sepuluh kalipun kita tetap akan berjuang. 

Tetapi umat yang awam kan tidak begitu fikirannya.

Jadi kalau FPI dibubarkan, berarti akan mengulang sejarah 

ketika Soekarno meminta Masyumi membubarkan diri atau 

dibubarkan tahun 1960 lalu?

Kalau kita kembali kepada sejarah Sukarno, ini kan sejarah 

yang sangat ironis. Tatkala Masyumi dituduh terlibat dalam 

PRRI, ini kan tuduhan dan firtnah, Masyumi kemudian 

dibubarkan. Tetapi begitu PKI yang nyata-nyata berkhianat, 

Sukarno tidak membubarkannya. Ini fakta sejarah, ada apa ? 

Seharusnya Sukarno bersikap adil. Kalau Masyumi dibubarkan, 

PKI yang terlibat pemberontakan G30S seharusnya dibubarkan. 

Ini lebih berbahaya, tetapi nyatanya tidak dibubarkan Sukarno.

Sejak zaman kemerdekaan, terjadi pergulatan apakah itu 

ideologi, pertempuran fisik antara kelompok Islam dengan 

sekuler. Jadi kelompok sekuler ini memang selalu ingin menang 

sendiri. Jadi segala yang jelek dari sekuler mereka maklumi, 

tetapi apapun yang kelihatannya jelek dari kelompok Islam, 

kalaupun tidak jelek mereka jelek-jelekkan. Itu akan dijadikan 

mereka alasan untuk penghancuran.

Sekarang kalau kita bicara soal pembubaran, kita lihat 

alasannya. Apa alasan mereka ingin membubarkan FPI, karena FPI 

melakukan sejumlah kekerasan. Saya tidak ingin membela diri. 

Katakanlah benar FPI melakuan kekerasan, itupun kekerasan 

harus kita diskusikan dulu. Apa betul itu kekerasan, apa betul 

itu kekerasan struktural yang dilakukan secara organisatoris 

atau bagaimana. Itu masih perlu diskusi dan pembuktian dulu, 

andaikata FPI dituduh keras dan musti dibubarkan. Pertanyaan 

kita, bagaimana dengan berbagai kekerasan yang dilakukan 

partai politik. Berbagai pilkada di daerah sejak reformasi 

hingga sekarang ini selalu diwarnai kekerasan. Ada pembunuhan, 

pembakaran gedung pemerintana, pembakaran mobil, pembakaran 

pom bensin, luar biasa. Itu yang tidak pernah dilakukan FPI. 

FPI tidak pernah bakar gedung pemerintah, FPI tidak pernah 

membunuh Ketua DPRD, ini kan massa partai.

Kalau FPI dibubarkan, Parpol harus juga dibubarkan?

Jadi kalau massa FPI melakukan kekerasan FPI nya harus 

dibubarkan, maka logikanya kalau massa partai melakuan 

kekerasan, maka partainya harus juga dibubarkan. Sekarang 

massa PDIP, PKB dan Demokrat melakukan kekerasan. Kalau begitu 

PDIP, PKB dan Demokrat harus dibubarkan. Ini kalau kita 

memakai logika pembubaran. Jadi tidaklah adil jika ada massa 

FPI melakukan kekerasan maka FPI dibubarkan. Tetapi kalau 

massa partai yang melakukan kekerasan, partainya tidak 

dibubarkan, enak betul ! Memang yang punya negara ini partai ! 

Kekerasan yang dilakukan massa partai lebih dahsyat, lebih 

keras bahkan biadab. Masak Ketua DPRD Sumatera Utara sampai 

dibunuh di dalam Gedung DPRD. Pembakaran gedung kabupaten 

seperti di Tuban dan pembakaran mobil di Mojokerto. Apa ada 

aksi FPI semacam itu. Apa ada massa FPI seperti itu. FPI 

paling-paling memakai pentungan. Adapun yang dirusak cuma kaca 

biliar dan tidak lebih dari itu. Ini kalau kita bicara fakta. 

Kalau pemerintah ingin membubarkan FPI, maka PDIP, PKB, 

Demokrat dan Golkar juga dibubarkan, jadi sama-sama bubar, 

termasuk negara ini juga bubar.

Selama ini kelompok liberal ingin membenturkan FPI dengan 

massa Gus Dur dan sekarang PDIP, tetapi usaha mereka selalu 

gagal?

Kelompok liberal ini tidak mempunyai massa, tidak mempunyai 

grass-roots. Mereka antek Barat dan hanya mampu membuat LSM-

LSM komprador. Mereka dibantu dengan bantuan asing, ini mereka 

sendiri yang mengakuinya. Kalau kita ingin bicara jujur, FPI 

ingin dibubarkan karena melangar UU No. 8 Tahun 1985 tentang 

Keormasan. Sekarang salah satu larangan dalam UU Keormasan 

adalah menerima bantua luar negeri atau asing. LSM yang dibuat 

kelompok liberal, semuanya menerima bantuan asing. Bubarkan 

meraka dulu, FPI sudah siap untuk dibubarkan. Jadi kita bubar

-bubaran, mereka ini tidak bercermin. Jadi kalau ada pepatah 

mengatakan kuman disebarang lautan tampak, gajah di pelupuk 

mata tak tampak. Kesalahan FPI yang kecil jauh mereka lihat, 

tetapi kesalahan mereka yang besar dalam diri mereka sendiri, 

tidak mereka lihat.

Kelompok liberal memang tidak punya massa. Masyarakat mana 

yang mau jadi antek asing. Serendah-rendahnya pendidikan, 

pemikiran, status sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia, 

secara umum mereka masih mempunyai ras cinta tanah air, cinta 

bangsa dan negara. Mereka tidak mau menjual negaranya untuk 

orang asing. Sehingga kelompok liberal tidak mendapatkan 

tempat di tengah masyarakat dan mereka tidak mempunyai 

kekuatan grass-roots. Adapun yang mempunyai kekuatan grass-

roots di Indopnesia seperti NU dan Muhammadiyah. Kalau partai 

politik seperti PDIP yang mengakar ke bawah.

Kelompok liberal melihat FPI sebagai ancaman dan FPI mempunyai 

kekuatan grass-roots kebawah. Bagaimana cara untuk menghadapi 

FPI, mereka berusaha untuk menunganggi NU tetapi tidka 

berhasil. Karena waktu itu Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, beliau 

dikenal orang baik, cerdas dan tidak bisa ditunggangi oleh 

Ulil dan kawan-kawan. Karena itu ketika tersiar kabar di 

beberapa daerah terjadi konflik antara massa FPI dengan NU, KH 

Hasyim Muzadi langsung klarifikasi. Itu ternyata bukan NU, 

tetapi massa preman yang dibayar suatu kelompok dan dipakaikan 

baju NU. Akhirnya kebongkar semua dan mereka cuma ingin 

mengadu domba.

Dikabarkan ada seorang tokoh yang kirim Banser palsu ke 

Pengadilan, tetapi ternyata itu preman yang diberi baju 

Banser. Padahala Banser sendiri tidak tahu menahu. Berbagai 

cara kotor seperti ini dilakukan kelompok liberal. Karena Gus 

Dur sudah meninggal dunia dan mereka menunganggi NU sudah 

tidak ada pintunya, maka sekarang mereka mencoba menunganggi 

PDIP. Kebetulan ada kasus Banyuwangi PDIP sedang marah, maka 

masuk Ulil ngipasin PDIP. Kebetulan Ulil pengurus Partai 

Demokrat. Maka kita sampaikan informasi itu ke PDIP, apa anda 

mau ditunganggi sama Partai Demokrat dan diadu dengan FPI, 

sehingga PDIP jadi mawas diri. mnh/Abdul Halim/suara-islam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata