15 Jan 2014

Gaya Penyelesaian Konflik



Oleh Dedi Hariadi
  
Setiap manusia tentu pernah mengalami konflik, baik itu berat maupun ringan. Masing-masing dari kita memiliki gaya tersendiri dalam menghadapi konflik. Memahami gaya penyelesaian konflik diri sendiri dan orang lain sangatlah penting. Bagi diri sendiri, hal ini bisa menjadi bahan evaluasi agar kedepannya lebih baik lagi. Sedang dengan memahami gaya penyelesaian konflik orang lain, kita bisa mengetahui kapan momen yang tepat untuk membahas permasalahan bersama dan pendekatan apa yang harus digunakan, sehingga konflik yang terjadi tidak melebar dan dapat diselesaikan dengan baik.

Konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokkan antar nilai atau tujuan-tujuan yang hendak dicapai, baik yang ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain (Kilman & Thomas, dalam Wijono, 1993).
Tidak dapat dipungkiri, bahwa setiap individu memiliki kebutuhan dan tujuan yang berbeda-beda dalam hidupnya. Melihat persoalan dengan perspektif yang beragam juga akan sulit dielakkan. Oleh karenanya, wajar apabila terjadi konflik atau benturan kebutuhan dan kepentingan antara individu yang satu dengan yang lain. Kenyataan menunjukkan bahwa semakin sering berinteraksi, semakin besar kemungkinan terjadinya konflik interpersonal ini (Muryantinah dkk, 2008).

Pendekatan Penyelesaian Konflik
Dua pendekatan penyelesaian konflik yaitu, pendekatan yang konstruktif dan pendekatan yang destruktif. Dalam pendekatan penyelesaian konflik yang konstruktif, lebih menekankan pada persoalan yang dihadapi saat ini (bukan persoalan yang telah lalu), sharing perasaan (positif maupun negatif), berbagi informasi secara terbuka, mengakui kesalahan, dan mencari kesamaan dalam keberbedaan.
Sementara penyelesaian konflik yang destruktif lebih banyak mengangkat persoalan yang telah lalu, hanya mengungkap ekspresi emosi negatif, mengungkap informasi-informasi tertentu saja, berfokus pada orang (bukan permasalahan), dan lebih menonjolkan perbedaan.

Gaya Penyelesaian Konflik
Competition

Avoiding

Compromise

Collaboration

Accomodation

Concern for Other

Concern for Sel f
Ada beberapa model resolusi konflik. Model ini dikembangkan dengan pemikiran bahwa terdapat aspek yang menjadi fokus perhatian saat individu mengusahakan tujuannya, yaitu: perhatian pada diri sendiri dan orang lain. Perhatian pada diri sendiri diukur dengan sejauh mana tingkat asertivitas atau agresivitas seseorang. Perhatian terhadap orang lain ditekankan kepada tingginya kerjasama. Model resolusi konflik ini mengidentifikasi 5 gaya resolusi konflik, yaitu: competitive style, collaborative style, compromise style, avoidance style, dan accommodating style (Galvin, dkk, 2004).

Competitive Style
Pada gaya kompetitif, individu cenderung agresif dan sulit untuk bekerjasama; menggunakan kekuasaan untuk melakukan konfrontasi secara langsung; dan berusaha untuk menang tanpa ada keinginan untuk menyesuaikan tujuan dan keinginannya dengan orang lain. Gaya ini tidak kondusif untuk mengembangkan intimacy. Seperti yang digambarkan pada grafik, gaya kompetitif lebih memperhatikan diri sendiri daripada orang lain.

Collaboration Style
Individu dengan collaborative style memiliki sikap asertif dan perhatian terhadap orang lain. Mungkin ia akan kelelahan karena gaya ini membutuhkan energi yang sangat besar untuk menyelesaikan konflik. Persoalan lainnya, biasanya gaya ini dilakukan oleh seseorang yang powerfull dan kadangkala menggunakan kekuasaannya untuk memanipulasi orang lain.
Orang dengan collaborative style bersedia menghabiskan waktu banyak untuk menyelesaikan konflik dengan tuntas. Ia mampu memperhatikan orang lain sekaligus diri sendiri. Ia akan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya dan bersedia mendengarkan pikiran orang lain. Wajar saja jika gaya ini menghabiskan energi yang sangat besar. Biasanya gaya ini sangat diperlukan untuk menyelesaikan konflik yang sangat sulit dan kompleks.

Compromise Style
Gaya kompromi lebih terbuka dibandingkan dengan avoidance, tetapi masalah yang terungkap tidak sebanyak gaya collaborative. Yang membedakan antara compromise style dengan collaborative style adalah waktu. Waktu yang dibutuhkan compromise style untuk menyelesaikan konflik lebih sedikit, namun solusi yang dihasilkan bisa jadi bukan solusi yang terbaik untuk semua pihak

Avoidance Style
Ciri utama gaya ini adalah perilaku yang tidak asertif dan pasif. Biasanya mereka mengalihkan perhatian dari konflik atau justru menghindari konflik. Kelebihan dari gaya ini adalah memberikan waktu untuk berfikir pada masing-masing pihak, apakah ada kemauan dari diri atau pihak lain untuk menangani situasi dengan cara yang lebih baik. Kelemahan dari gaya ini adalah individu menjadi tidak peduli dengan permasalahan dan cederung untuk melihat konflik sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari dengan cara apa pun. Gaya ini biasanya justru mengarahkan pada konflik yang lebih parah.
Orang dengan gaya avoidance style biasanya akan mengalihkan pembicaraan ketika mulai membahas konflik yang dihadapi. Apa pun caranya dia akan berusaha untuk terus menghindar. Dia tidak peduli dengan orang lain namun juga tidak mau mengungkapkan keinginannya (nahan uneg-uneg di hati), intinya ia mencoba menghindari konflik dan menganggap konflik itu tidak ada.

Accommodating Style
Ditandai dengan perilaku non asertif namun kooperatif. Individu cenderung mengesampingkan keinginan pribadi dan berusaha untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan orang lain. Orang dengan gaya accommodating style biasanya akan berbicara seperti ini “ya sudah terserah kamu, aku ikut aja”.
Referensi: Muryantinah dkk. 2008. Psikologi Keluarga. UP3 Universitas Airlangga: Surabaya. Bahan ajar Psikologi Keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata