6 Jan 2014

Ulasan Ringkas Tiga Pondasi Dasar Tauhid

Oleh MuFe El-Bageloka

Setiap umat Islam wajib mengetahui perkara, yakni mengenal Allah, Mengenal Rasululullah SAW dan Mengenal Agama Islam beserta dalil-dalilnya. Dengan mengetahui tiga perkara ini maka dapat menguatkan pondasi akidah orang Islam. Karena akidah merupakan permasalahan yang sangat urgen dan tidak ada istilah toleransi. Masalah akidah juga sering disebut masalah dasar (keyakinan) karena para ulama tidak pernah berbeda pendapat terkait masalah ini.

Aqidah itu sendiri secara etimologi adalah keyakinan, I’tikad. Sedangkan menurut terminologi adalah keyakinan seorang dalam bertindak dan beramal atau lebih dikenal dengan prinsip untuk mencapai tujuan. Aqidah Islam yang telah meresap, tertanam kokoh dalam lubuk hati, tentu akan mempengaruhi suasana hati dan pada gilirannya akan melahirkan pandangan, perilaku dan langkah-langkahnya.
Menurut Asy-Syaikh Muhammad Ibnu Wahhab At-Tamimi tiga ilmu yang harus diketahui oleh seorang mukmin yakni;

a.    Mengenal Allah (Tuhan semesta Alam)
Satu hal yang sangat ditekankan dalam agama Islam yakni mengenal Allah sebagai tuhan yang telah menciptakan, membantu dan memberikan rizki kepada hamba-Nya dengan hati serta siap menerima konsekuensi:
1.    Menerima apa yang telah disyariatkan oleh-Nya
2.    Tunduk dan patuh terhadap-Nya
3.    Berhukum kepada syariat-Nya yang Nabi Muhammad SAW
Untuk mengenal Allah dapat dilakukan memperhatikan ayat-ayat syari’iyah sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Selain pada ayat Syari’iyah mengenal Allah dapat dilihat dapat memperhatikan ayat-ayat kauniyah-Nya (tanda-tanda kekuasaan Allah) sebagaimana yang terdapat di dunia. Allah SWT berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ
وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُون

Artinya: "Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?" (Adz-Dzariyat 20-21)


Ayat ini secara gamblang untuk mengambil ibrah dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, sebagaimana telah digambar pada:

 وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS. Yasin ayat 38-40).
Dengan adanya tanda-tanda kekuasaan baik dari ayat-ayat alquran dan Al-Hadist. Sehingga wajar apabila Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar tidak berbuat syirik (menduakan Allah dalam beribadah dan berkeyakinan) atau dengan istilah kita harus mentauhidkan Allah. Tauhid itu sendiri adalah mengesakan Allah dalam semua bentuk ibadah yang khusus dan wajib bagi-Nya. Macam Tauhid telah terhimpun dalam al-Quran

  رَبُّ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَما بَيْنَهُما فَاعْبُدْهُ وَ اصْطَبِرْ لِعِبادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا َ
Tuhan bagi semua langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; maka sembahlah Dia nya dan berteguh hatilah di dalam beribadat kepadaNya. Apakah engkau mengetahui bahwa bagiNya ada yang menyamai? (QS. Maryam ayat 65).

هُوَ اللَّهُ الَّذي لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ عالِمُ الْغَيْبِ وَ الشَّهادَةِ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحيم
هُوَ اللَّهُ الَّذي لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُ
هُوَ اللَّهُ الْخالِقُ الْبارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْماءُ الْحُسْنى‏ يُسَبِّحُ لَهُ ما فِي السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ وَ هُوَ الْعَزيزُ الْحَكيم


Dialah Allah, Yang tiada tuhan selain Dia; Yang Maha Menge­tahui yang ghaib dan yang nyata. Dia adateh Maha Murah, Maha Penyayang.
Dialah Allah, yang tiada Tuhan selain Dia !  Maha Raja ,Maha Suci, Maha Sejahtera,Yang Mengurniakan Keamanan , Maha Memelihara , Maha Perkasa, Maha Gagah , Yang Membesarkan Diri;Maha Sucilah Allah dari apa pun yang mereka persekutukan. "
"Dialah Allah, Maha Pencipta , Yang Mengadakan , Yang Membentuk rupa , BagiNyalah nama-nama yang baik. Bertasbih kepadaNya apa pun yang ada pada sekalian langit dan bumi , Dan Dia adalah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(surat al-Hasyr ayat 22-24).
Berdasarkan ayat ini maka dapat disimpulkan tauhid itu ada tiga, antara lain: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma’ dan Sifat.
_Tauhid Rububiyah; mengimani (meyakini) dalam hal penciptaan, kepemilikan, kepengurusan (Yang menghidupkan, Yang mematikan dan Yang mengatur langit dan bumi). Sebagaimana yang telah termaktub dalam Quran

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَأَنَّى تُؤْفَكُونَ  

(Quran surat  Fathir ayat 3,)





 إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Al-A’raf ayat 54,

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
 Al-Fatihah ayat 1.

Dengan begitu tidak ada yang mengingkari tauhid rububiyah ini kecuali segolongan kecil manusia. Sebenarnya mereka ini hanya mengingkari secara lahiriyah saja, tetapi jiwa dan batin mereka mengakui adanya tauhid ini. Sebagaimana Firman Allah dalam Surat An-Naml: 14), dan Az-zukhruf ayat 9.
Ketika manusia ingin mengakui keesaan Allah dalam Rububiyah ada empat dalil yang dijadikan patokan;
•    Dalil Naluri; pengakuan manusia tentang keberadaan Allah SWT sudah tertanam dalam jiwa. Yang dimaksud fitrah atau naluri menurut ahli tafsir adalah perjanjian yang diambil Allah akan rububiyah-Nya atas bani Adam sebelum mereka diwujudkan. Naluri ini merupakan hujjah yang tegak atas mereka, tidak mungkin tidak mengetahuinya atau mengingkarinya dengan alasan beraklid kepada orang tua dan nenek moyang terdahulu. Ini telah digambarkan dalam Surat Yunus: 31).

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
•  Dalil alam semesta; Baik mahluk mati maupun mahluk mati (tidak bernyawa), ini adalah bukti kalau Allah itu ada. Sebagaimana dalam surat Ath-Thur: 35).



أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ    

•    Ijma’ Ummat; berkata rasul-rasul mereka, ‘apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi’.(Ibraim ayat 10)


قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا تُرِيدُونَ أَنْ تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ


•    Dalil Akal; tiga pondasi dalil akal, antara lain
a.    Setiap ciptaan ada yang menciptakannya (Ath-Thur: 35-36)
b.    Ciptaan merupakan cerminan dari kemampuan penciptanya dan sifat-sifatnya. (Ar-Rum: 48-50)
c.    Suatu ciptaan tidak mungkin dilakukan oleh yang tidak mampu menciptakannya (ahlinya).

_Tauhid Uluhiyah adalah bahwa Allah merupakan satu-satunya tuhan (sesembahan) yang benar, dan tidak ada sekutu-Nya. Sedangkan al-ilah artinya al-mu’lah yakni sesuatu yang dibadahi (disembahi) dengan penuh kecintaan dan pengagungan. Atau mengesakan Allah SWT, dalam segala macam bentuk ibadah dengan tidak menjadikan sesuatu pun yang disembahi bersama-Nya. Karena tauhid inilah, Allah menciptakan mahluk-Nya. Firman Allah seperti yang tertera dalam surat sebagai berikut; (Q.S. Al-Baqarah: 163) Qs. Ali Imran: 18, QS. Al-Hajj: 62,  Hud: 61, Adz-Dzariyat: 56,
Bentuk tauhid inilah yang diingkari oleh kaum musyrikin ketika para rasul dating mengajak menyembah Allah saja. QS. Al-A’raf: 70.
Barang siapa mencintai Allah sebagaimana kecintaannya kepada Allah maka ia telah termasuk golongan yang mengadakan tandingan bagi Allah SWT, yaitu tandingan dalam kecintaan, bukan pada hal penciptaan dan Rububiyah. Allah mencela kaum musyrikin dalam ayat ini dimana mereka telah menyetarakan kecintaan kepada Allah dan kepada tandingan yang mereka buat atas Allah, tidak mengikhlaskan seluruh ibadah kepada-Nya sebagaimana kecintaan orang-orang yang beriman kepada-Nya. (Al-Baqarah: 165).
Karena itulah Rasulullah SAW melarang sikap berlebih-lebihan, beliau bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana sikap berlebihan orang-orang nashrani terhadap putra Maryam. Sesungguhnya aku adalah seorang hamba, maka katakanlah (atas diriku): hamba Allah dan Utusan-Nya.” (Muttafaqqun ‘alaih). Rasulullah SAW berabda:
“Hindarilah sikap berlebih-lebihan. Sesungguhnya kehancuran umat-umat yang ada sebelum kalian bermula dari sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. An-Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad dalam Musnadnya). Saat Rasulullah SAW mendengar seorang budak wanita menisbatkan ilmu gaib kepada beliau, maka beliau melarangnya karena hal itu mengandung sikap berlebih-lebihan. Al-Bukhari telah meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Rabi’ bin Muawwidz bin Afra’, ia berkata “Nabi dating saat menikah dengan saya kemudian beliau duduk di atas tempat tidurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para anak-anak kecil perempuan mulai menabuh gendang dan menyebut-nyebut orang tua saya yang terbunuh pada perang Badar. Salah seorang di antara mereka berkata. “Di antara kita ada seorang nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi besok,” Maka Rasulullah bersabda, “Janganlah engkau ucapkan itu. Ucapkanlah apa yang sebelumnya engkau katakan”.
Akan tetapi orang-orang musyrik itu tetap saja membangkang tauhid uluhiyah ini. Sikap orang-orang musyrik yang menjadi sesembahan selain Allah terbantahkan oleh Allah SWT dengan dua dalil akal ini, antara lain;
1.    Sesembahan-sesembahan yang dijadikan oleh mereka tidaklah memiliki keistimewaan-keistemewaan uluhiyyah sedikitpun. Karena semua sesembahan itu adalah mahluk yang tidak mampu untuk melakukan penciptaan, tidak dapat memberikan manfaat bagi para penyembahnya, dan menghilangkan kemudharatan dari mereka, tidak pula kuasa menghidupkan maupun mematikan mereka serta tidak memiliki kekuasaan terhadap sesuatupun yang ada di langit dan tidak juga ikut memilikinya, (Al-Furqan: 3), (Saba: 22-23), (Al-A’raf: 191-192)
2.    Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Rabb dan pencipta, yang ditangan-Nya terdapat kekuasaan segala sesuatu. Mereka mengakui bahwa Dia-lah yang dapat melindungi dan ia tidak membutuhkan perlindungan. Ini semua menuntut adanya pengesaan terhadap uluhiyyah-Nya, sebagaimana mereka telah mengesakan terhadap rububiyah-Nya. Allah berfirman (Al-Baqarah: 21-22), (Az-Zukhruf: 87), (Yunus: 31-32).

_Tauhid Asma wa sifat; yaitu beriman kepada nama-nama Allah SWt dan sifatnya, baik yang ditetapkan sendiri untuk diri-Nya maupun yang ditetapkan oleh para Rasul-Nya. Mengimani dalam arti yang sebenarnya sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa tahrif (penyelewengan), ta’thil (penghapusan), takyif (menanyakan bagaimana) dan tamtsil (penyerupaan). Artinya pengesaan Allah Azza wa jalla dengan asma’ dan sifat yang menjadi milik-Nya. Hal ini mencangkup dua hal: Pertama, penetapan. Artinya kita harus menetapkan seluruh asma’ dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang Dia tetapkan bagi Diri-Nya dalam kitab-Nya atau sunnah Nabi-Nya. Kedua, penafian permisalan, bahwa kita tidak menjadikan sesuatu yang semisal dengan Allah dalam asma’ dan sifat-Nya, sebagaimana firmannya: CANTUMKAN YA FER (QS. AS-SYUARA: 11). Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin, ada dua golongan yang sesat dalam mengingkari sifat dan nama Allah, antara lain;
•    Golongan Mu’aththilah; mereka yang mengingkari nama-nama dan sifat Allah atau mengingkari sebagaian yang lain, dengan opini (persangkaan) bahwa nama-nama dan sifat itu bagi Allah menyebabkan tasybih (penyerupaan), yakni menyerupakan Allah dengan mahluk ciptaannya.
•    Golongan yang Musyabbihah, yaitu mereka yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat, namun menyerupakan Allah SWT dengan mahluknya. Ini yang perlu dipahami di sini adalah hakikat dan dzat sesungguhnya yang berkaitan dengan makna tersebut adalah perkara yang hanya diketahui oleh Allah SWT saja, yang terkait dengan Dzat dan sifat-sifat-Nya.
Yang harus dilakukan adalah beriman kepada yang diberikan Allah kepada Diri-Nya di dalam al-Quran seperti yang disampaikan Rasul-Nya, tanpa ada pengubahan, peniadaan, pengguguran dan penyerupaan.


b.    Mengenal Rasulullah SAW; tauladan, apa yang diucapkan pasti benar
Sebelum membahas tentang Nabi Muhammad SAW, terlebih dahulu baca surat ini (An-Nahl: 36). CANTUMKAN,,.
Ada beberapa yang perlu diketahui yakni, antara lain:
a.    Perbedaan Nabi dan Rasul, Nabi hanya meneruskan risalah dari para rasul dan mengubah, sedangkan Rasul menerima dan menyampaikan risalah yang baru.
b.    Rasulullah SAW berdakwah selama 23 Tahun yakni sepuluh tahun di Mekkah dan tiga belas tahun di Madinah, dengan tiga tahun dakwah secara sembunyi-sembunyi.
c.    Poin cinta Nabi SAW, antara lain: Belajar Sirah dan Sunnah, Meneruskan perjuangan beliau, Mengajarkan dan menghidupkan sunnah, membela syari’at Islam, Bershalawat kepada Nabi SAW, Menjalankan beliau uswah dan qudwah dan selalu menundukkan beliau.
NASAB DAN KELAHIRAN; Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib (yang namanya Syaibah), bin Hasyim (yang namanya Amru), bin Abdu Manaf (yang namanya Al-Mughirah), bin Qushay (namanya Zaid), bin Kilab, bin Murrah, bin Ka’ab, bin Lu’ay, bin Ghalib, bin Fihr (yang berjuluk Quraisy), bin Malik, bin An-Nadhr (yang namanya Qais), bin Kinanah, bin Khuzaimah, bin Mudrikah (yang namanya Amir), bin Ilyas, bin Mudhar, bin Nizar, bin Ma’ad, bin Adnan (dan seterusnya); yaitu, bin Ud, bin Hamaisa, bin Salaman, bin Ush, bin Bauz, bin Qimwai, bin Ubay, bin Awwam, bin Nasyid, bin Haza, bin Haldas, bin Yadlaf, bin Thabikh, bin Jahim, bin Nahisy, bin Makhy, bin Aidh, bin Abqar bin Ubaid, bin Ad-Da’a, bin Hamdan, bin Sinbar, bin Yatsriby, bin Yaluan, bin Yalhan, bin Ar’awy, bin Aidh, bin Daisyan, bin Aishar, bin Afnad, bin Aiham, bin Muqashir, bin Nahists, bin Zarih, bin Sumay, bin Muzay, bin Iwadhah, bin Aram, bin Qaidar, bin Ismail, bin Ibrahim AS, dan seterusnya. Yaitu, bin Tarih (Azar), bin Nahur, bin Saru’ atau Sarugh. Bin Ra’u, bin Falak, bin Aibar, bin Syalakh, bin Arfakhsyad, bin Sam, bin Nuh Alaihissalam, bin Lamk, bin Matausyalakh, bin Akhnukh atau Idris Alaihissalam bin Yard, bin Mahla’il, bin Qainan bin Yanisya, bin Syaits bin Adam alaihissalam.
Keluarga beliau dikenal dengan sebutan keluarga Hasyimiyah. Nama ini dinisbatkan kepada kakeknya, Hasyim bin Abdu Manaf. Rasulullah SAW dilahirkan di tengah keluarga Bani Hasyim di Mekkah pada pagi, 9 Rabi’ul Awwal, permulaan tahun dari Peristiwa Gajah, dan empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan, atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M, berdasar penelitian Ulama besar Muhammad Sulaiman Al-Manshurfuri dan peneliti astronomi Mahmud Basya.
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasulullah SAW didatangi Malaikat Jibril, yang saat itu beliau sedang bermain-main dengan beberapa anak kecil lainnya. Malaikat Jibril memegang beliau dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata, “Ini adalah bagian Syaitan yang ada pada dirimu”, Lalu Malaikat Jibril mencucinya di sebuah baskom dari emas dengan menggunakan air Zamzam, kemudian menata dan memasukkannya ke tempat semula. Anak-anak kecil lainnya berlarian mencari ibu susunya dan berkata “Muhammad telah dibunuh!” Merekapun dating menghampiri beliau dan wajahnya semakin berseri-seri”.
Rasulullah  SAW berumur 63 tahun, negeri kelahiran beliau adalah Mekkah dan beliau berhijrah ke Madinah. Rasulullah SAW tinggal di Mekkah hingga umur 53 Tahun, lalu berhijraha ke Madinah dan tinggal di sana selama sepuluh tahun. Rasulullah SAW berdakwah selama 23 Tahun dan menerima wahyu sejak berumur 40 tahun, sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang penyair beliau:
Sampailah padanya umur empat puluh tahun
Maka bersinarlah matahari kenabian darinya di bulan Ramadhan.
Mengetahui dengan apa beliau dinobatkan menjadi nabi dan rasul: Nabi Muhammad SAW menjadi Nabi ketika turun firman Allah (QS. AL-‘ALAQ: 1-5).
Kemudian menjadi Rasul ketika turun kepada beliau firman Allah SWT (QS. Al-Muddatstsir: 1-7). Seruan Rasulullah SAW kepada ummatnya yakni mengesakan Allah SWT (mentauhidkan Allah) dan menjauhi syirik. Selain itu seruan dakwah juga bertujuan mengajak manusia kepada Allah SWT, dengan rinciannya sebagai berikut;
•    Takwa kepada Allah, fanatik hanya kepada Allah SWT.
•    Member kabar gembira untuk orang beriman dan memberi peringatan untuk orang-orang kafir.
•    Memperbaiki jiwa dan mensucikannya
•    Meluruskan pemikiran yang menyimpang dengan aqidah yang menyeleweng
•    Menegakkan hujjah agar manusia tidak ada alasan untuk membangkang dihadapan Allah
•    Memimpin Umat, Al-Maidah: 47

Empat tahanpan dakwah Rasulullah SAW, antara lain:
1.    Dakwah sembunyi-sembunyi selama tiga tahun
2.    Dakwah terang-terangan tanpa peperangan
3.    Dakwah terang-terangan sambil memerangi orang-orang yang mau memerangi (Jihad Defensif).
4.    Memerangi orang-orang yang menghalangi dakwah
Tiga permasalahan Nabi SAW ketika berdakwah dengan orang kafir, antara lain;
1.    Permasalahan tauhid, QS. Yunus: 31
2.    Risalah, mereka tidak menerima Nabi dari manusia biasa, QS. Ibrahim: 10-11 karena mereka minta yang menjadi Nabi itu adalah Malaikat, Al-An’Am: 9, QS. Az-Zukhruf: 31-32. QS. Al-Furqan: 7-8.
3.    Kebangkitan setelah kematian: Ash-Shaffat: 16
Menurut Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, hikmah Nabi Muhammad SAW dijadikannya Nabi yang ummi dan hikmah Islam diturunkan di Jazirah Arab, antara lain:
1.    Agar manusia tidak ragu terhadap kenabiannya, dan agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan dalam kebenaran dakwah Islam. Sebab, orang yang ragu dan menolak mungkin akan menuduh dakwah Islam sebagai mata rantai pengalaman budaya dan pemikiran-pemikran filosofis yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perundang-undangan yang sempurna. Selain itu, supaya tidak ada pembauran dakwah Islamiyah dan dakwah manusia yang sering diselewengkan bahkan menyeleweng (bermacam-macam).
2.    Sebagaimana telah diketahui, Allah menjadiakn Baitul-Haram sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman (QS. 2: 125), dan rumah yang dibangun pertama kali bagi manusia untuk beribadah dan menegakkan syiar-syiar Islam. Allah juga telah menjadikan dakwah Bapak bagi Para Nabi, Ibrahim as, di lembah tersebut. Maka semua itu merupakan kelaziman dan kesempurnaan, jika lembah yang diberkahi ini juga menjadi tempat lahirnya dakwah Islam yang notabene, adalah millah Ibrahim dan menjadi tempat diutus dan lahirnya Nabi terakhir.
3.    Secara geografis, Jazirah Arabia sangat kondusif untuk mengemban tugas dakwah seperti ini. Karena Jazirah Arab yang terletak diantara umat-umat yang sedang dilanda pergolakan dan kondisinya yang dikelilingi oleh gurun pasir sehingga membuat Jazirah Arab bebas dan merdeka.
4.    Selain itu bahasa Arab mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.

c.    Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalilnya
Secara etimologi Islam yakni menyerahkan diri, secara terminologi adalah berserah diri kepada Allah dengan bertauhid dan tunduk kepada-Nya dengan menjalankan ketaatan (melaksanakan Rukun Islam) serta berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya. Jadi agama Islam menginginkan pemeluknya agar selamat. Seorang hamba berserah diri kepada Rabbnya dengan penyerahan diri secara Syari’i, yaitu dengan mentauhidkan Allah SWT dan mengensakan-Nya dalam peribadatan. Penyerahan jenis inilah yang seseorang hamba akan dipuji dan diberi pahala bila melaksanakannya. Adapun penyerahan diri (pasrah) kepada takdir; maka tida ada padanya, karena manusia tidak mampu menghindar dalam perkara tersebut, Allah SWT berfirman (QS. Ali Imran: 83).

Komentar penulis;
Menurut Penulis agama Islam adalah agama yang paling benar, karena sesuai dengan akal; hanya agama Islam saja yang bertuhankan Dzat yang satu dan tuhannya tida bisa dibawa sebagaimana agama yang lain, tidak bisa dibuat. Mungkin bagi orang yang berakal masa kita mau menyembah benda yang kita buat sendiri.
Sesuai dengan psikis, dalam sebuah Negara masa ada dua presiden, begitu juga dengan tuhan masa kita punya dua tuhan bahkan tiga, terus kalau seandainya kita mengakui tuhan itu beranak, siapa isterinya, logika ini adalah logika yang sangat tidak masuk akal, ketahuilah saudaraku, tuhan kita Cuma satu yakni Allah; QS. Al-Ikhlas

1 komentar:

Mari kita membaca dengan hati plus mata