2 Nov 2012

METODE NON-DIRECTIVE dalam Pembelajaran


 A.    Pendahuluan
Dalam dunia pendidikan, metode pembelajaran merupakan salah satu faktor penting yang menunjang keberhasilan dalam proses belajar-mengajar tersebut. Seperti telah dikenalkan dalam banyak buku, banyak sekali metode-metode pengajaran tersebut, seperti metode ceramah, diskusi, atau musyawarah, metode kerja kelompok, metode sosiodrama atau bermain peran (role playing), metode latihan siap (drill), metode resitasi (pemberian tugas), metode sistem regu (team teaching), dan lain-lain.

Dari sekian banyak metode yang telah disebutkan di atas memungkinkan para guru untuk memilih metode mana yang cocok untuk digunakan dalam melaksanakan proses pembelajaran, bahkan guru dapat memakai satu, dua atau lebih metode dalam sekali mengajar.
Dalam makalah ini kami akan mengangkat tema tentang sebuah metode yang merupakan sebuah inovasi dalam metodologi Pendidikan Agama Islam yaitu metode Non-Directive yang akan dijelaskan di bawah ini.

B.    Pembahasan
1.    Pengertian Metodologi
Secara etimologi istilah metodologi berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata Metodos yang berarti cara atau jalan, dan Logos artinya ilmu.
Sedangkan secara terminologi, metodologi berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang cara-cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan metodologi adalah cara atau jalan yang ditempuh bagaimana menyajikan bahan-bahan pelajaran, agar mudah diterima, diserap dan dikuasai oleh anak didik dengan baik dan menyenangkan.
2.    Metode Mengajar Non-Directive dan Orientasinya
Metode ini dikemukakan oleh Carl Rogers. Dalam pengajaran seharusnya didasarkan pada konsep-konsep hubungan manusiawi diri pada konsep-konsep bidang studi, proses berpikir atau sumber-sumber intelektual lainnya. Menurut metode ini guru berperan sebagai fasilitator dan membantu siswa menjelajahi ide-ide baru tentang hidupnya, tugas sekolahnya dan kehidupan dengan teman-temannya.
Peran guru dari pengajaran non-direktif adalah pada peran dari guru tersebut sebagai fasilitator bagi pertumbuhan dan perkembangan siswa. Didalam peran ini, guru akan membantu siswa untuk menemukan gagasan-gagasan baru tentang kehidupannya, baik yang berhubungan dengan sekolah maupun dalam kehidupannya sehari-hari.
Metode ini berasumsi bahwa siswa mau bertanggungjawab atas proses belajarnya dan keberhasilannya sangat tergantung kepada keinginan siswa dan pengajar untuk berbagi gagasan secara terbuka dan berkomunikasi secara jujur dan terbuka dengan orang lain.
Metode ini dikembangkan untuk membuat pendidikan menjadi suatu proses yang aktif bukan pasif. Cara belajar ini dilakukan agar para siswa mampu melakukan observasi mereka sendiri, mampu mengadakan analisis mereka sendiri, dan mampu berpikir sendiri. Mereka bukan hanya mampu menghafalkan dan menirukan pendapat orang lain. Juga dapat merangsang para siswa agar berani dan mampu menyatakan dirinya sendiri aktif, bukan hanya menjadi pendengar yang pasif terhadap segala sesuatu yang dikatakan oleh guru.
Siswa diizinkan untuk meneliti sendiri dari perpustakaan, ataupun kenyataan di lapangan. Guru hanya memberi pokok-pokok tugas, yang telah tersusun sehingga dengan tugas tersebut siswa dapat melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:
a.    Observasi pada objek pelajaran;
b.    Menganalisa fakta yang dihadapi;
c.    Menyimpulkan sendiri hasil pengamatannya;
d.    Menjelaskan apa yang telah ditemukan;
e.    Membendingkan dengan fakta yang lain.
Guru hanya memberi permasalahan yang merangsang proses berpikir siswa, sehingga objek belajar itu berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan yang digalinya, aktif berpikir dan menyusun pengertian yang baik.
Perlu disampaikan juga disini bahwa yang dimaksud dengan non-direktif adalah TANPA MENGGURUI. Model pengajaran non-direktif merupakan hasil karya Carl Roger dan tokoh lain pengembang konseling non-direktif.
Peran guru dalam model pembelajaran ini adalah sebagai fasilitator. Karena itu guru hendaknya mempunyai hubungan pribadi yang positif dengan siswanya, yaitu sebagai pembimbing bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Dalam menjalankan perannya ini, guru membantu siswa menggali ide/gagasan tentang kehidupannya, lingkungan sekolahnya dan hubungannya dengan orang-orang lain. Model ini menggambarkan konsep yang dikembangkan oleh Carl Roger untuk konseling non-direktif, dimana kapasitas klien untuk memperlakukan kehidupannya secara konstruktif sangat ditekankan. Dengan demikian, didalam pengajaran non-direktif guru sangat mempedulikan kemampuan siswa untuk mengidentifikasi masalah-masalahnya dan merumuskan solusi-solusinya.
Pengajaran non-direktif cenderung bersifat berfokus kepada siswa dimana fasilitator berusaha untuk melihat dunia sebagiamana siswa melihatnya. Hal ini akan menciptakan suasana komunikasi yang empathetic dimana pengendalian diri siswa dapat dipupuk dan dikembangkan.
Guru juga berperan sebagai benevolent after ego, dimana ia menerima semua perasaan dan pemikiran, bahkan dari siswa yang memiliki pendapat keliru. Disini guru secara tidak langsung berkomunikasi dengan siswa bahwa semua pendapat dan perasaan bisa diterima.
3.    Model Belajar
Joyce & Weil mengelompokkan model-model belajar adalah sebagai berikut:
a.    Model pengelolaan informasi
Model pengelolaan informasi ditekankan pada pengambilan, penguasaan, dan pemrosesan informasi. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik.
Model ini didasari oleh teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan peserta didik memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pengelolaan Informasi merujuk pada cara mengumpulkan/menerima stimulus dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep, dan menggunakan simbol verbal dan visual.
b.    Model personal
Model personal menekankan pada pengembangan konsep diri setiap individu. Hal ini meliputi pengembangan proses individu dan membangun serta mengorganisasikan dirinya sendiri. Model memfokuskan pada konsep diri yang kuat dan realistis untuk membantu membangun hubungan yang produktif dengan orang lain dan lingungannya.
Model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu berorientasi pada pengembangan individu. Perhatian utamanya pada emosional peserta didik dalam mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini menjadikan pribadi peserta didik mampu membentuk hubungan harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif.
c.    Model sosial
Model interaksi sosial menekankan pada hubungan personal dan sosial kemasyarakatan diantara peserta didik. Model tersebut berfokus pada peningkatan kemampuan peserta didik. untuk berhubungan dengan orang lain, terlibat dalam proses-proses yang demokratis dan bekerja secara produktif dalam masyarakat.
d.    Model sistem perilaku
Model behavioral menekankan pada perubahan perilaku yang tampak dari peserta didik sehingga konsisten dengan konsep dirinya. Sebagai bagian dari teori stimulus-respon. Model behaviorial menekankan bahwa tugas-tugas harus diberikan dalam suatu rangkaian yang kecil, berurutan dan mengandung perilaku tertentu.
Model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu bertujuan mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement). Model ini lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perlilaku yang tidak dapat diamanti karakteristik model ini adalah penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari peserta didik lebih efisien dan berurutan.
4.    Prosedur Pembelajaran
Teknik utama dalam mengaplikasikan model pembelajaran pengajaran tidak langsung adalah apa yang diistilahkan oleh Roger sebagai Non-directive Interview atau wawancara tanpa menggurui, yaitu wawancara tatap muka antara guru dan siswa. Selama wawancara, guru berperan sebagai kolaborator dalam proses penggalian jati diri dan pemecahan masalah siswa. Inilah yang dimaksud dengan tanpa menggurui non-directive.
Kunci utama keberhasilan dalam menerapkan model ini adalah kemitraan antara guru dan siswa. Menurut Rogers, iklim wawancara yang dilakukan oleh guru harus memenuhi empat syarat yaitu:
a.    Guru harus mampu menunjukkan kehangatan dan tanggap atas masalah yang dihadapi siswa dan memperlakukannya sebagaimana layaknya manusia.
b.    Guru harus mampu membuat siswa dapat mengekspresikan perasaanya tanpa tekanan dengan cara tidak memberikan penilaian (mencap salah atau mencap buruk).
c.    Siswa harus bebas mengekspresikan secara simbolis perasaanya, dan
d.    Proses konseling (wawancara) harus bebas dari tekanan;


C.    Penutup
Metode mengajar Non-Directive (tidak langsung/tanpa menggurui) bisa digunakan untuk berbagai situasi masalah, baik masalah pribadi, sosial dan akademik. Dalam masalah pribadi, siswa menggali perasaannya tentang dirinya. Dalam masalah sosial, ia menggali perasaannya tentang hubungannya dengan orang lain dan menggali bagaimana perasaan tentang dirinya tersebut berpengaruh terhadap orang lain. Dalam masalah akademik, ia menggali perasaannya tentang kompetensi dan minatnya. Dari semua kasus di atas, esensi atau muatan wawancara harus bersifat personal, bukan eksternal. Artinya harus datang dari perasaan, pengalaman, pemahaman dan solusi yang dipilihnya sendiri. Inilah inti dari istilah Tidak Menggurui (Non-Directive) yang dimaksud oleh Rogers.



DAFTAR PUSTAKA
Roestiyah. Cetakan VII: 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta. Ahmadi, Abu. 1985. Metodik Khusus Pendidikan Agama (MKPA). Bandung: Armico.
Yusuf, Tayar. & Anwar, Syaiful. 1995. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta: Grafindo Persada.
http://wawan-junaidi.blogspot.com
http://ndhiroszt.multiply.com
http://laily-myblog.blogspot.com

1 komentar:

  1. wah bagus lanjutkan pemikiran dan ide idenya demi dunia pendidikan ( laily-myblog.blogspot.com )

    BalasHapus

Mari kita membaca dengan hati plus mata