17 Mar 2014

PENDIDIKAN KARAKTER ISLAM SEBAGAI POROS PEMBENTUKAN MORALITAS ANAK MUSLIM

Ruslan Abubakar
Alumnus Syariah FAI UMM

PENDAHULUAN
    Pada dasarnya pendidikan memiliki dua tujuan, yaitu membimbing para generasi muda untuk menjadi cerdas dan memiliki perilaku berbudi. Pendidikan moral bukanlah sebuah topik baru dalam dunia pendidikan, karena pendidikan moral merupakan dasar dari pembentukan karakter.  Membentuk dan membangun pendidikan karakter  di sekolah atau institusi pendidikan saat ini, menjadi perhatian kuat pemerintah yang harus disambut baik dan dirumuskan dengan langkah-langkah sistematik dan komprehensif.
    Secara sederhana pendididkan karakter dapat diartikan membentu tabiat, perangai, watak dan kepribadian seseorang, dengan cara menanamkan nilai-nilai luhur, sehingga menyatu dalam hati, pikiran, ucapan dan perbuatan dan menampakan pengaruhnya dalam realitas kehidupan semata ikhlas karena Allah swt.

    Pendidikan karakter harus dikembangkan dalam bingkai utuh  Sistem Pendidikan Nasional sebagai rujukan normatif yang dirumuskan dalam sebuah kerangka pikir yang utuh. Saat ini merupakan situasi di mana bangsa Indonesia dalam posisi perubahan menuju puncak peradaban dunia, sehingga dalam proses perubahan itu pendidikan karakter merupakan sebuah solusi yang tepat, karena bangsa yang memiliki karakter yang kuat akan mampu mencapai puncak peradaban dunia.
    Perhatian pemerintah yang lebih besar terhadap pendidikan karakter, sesunggunya bukanlah sesuatu yang baru, melainkan menempatkan pendidikan pada porsi yang sebanarnya. Jika pendidikan yang diberikan tidak mampu menjawab kebutuhan  mereka, maka bangsa ini akan kehilangan satu generasi. Bangsa Indonesia ke depan akan dipegang oleh anak bangsa,  oleh karenanya dibutuhkan generasi muda yang dibekali dengan pendidikan karakter, bermoral dan berkepribadian baik.
    Pengembangan pendidikan karakter adalah sebuah proses kelanjutan dan tidak pernah berakhir, selama suatu bangsa ada dan tetap eksis. Pendidikan karakter harus menjadi bagian terpadu dari pendidikan alih generasi. Proses pendidikan karakter akan melibatkan beragam aspek perkembangan peserta didik, agar menyatu dalam proses pendidikan yang mendididik oleh guru sebagai tujuan pendidikan, untuk bisa menghadapi kehidupan yang kultural, karena karakter tidak bisa dibentuk secara instan.
    Dalam rangka menciptakan perkembangan ke arah manusia yang totalitas (kaafah), maka penerapan pendidikan karakter sebagai pendidikan sepanjang hayat perlu diterapkan. Pendidikan karakter memerlukan keteladanan dan sentuhan yang dimulai sejak dini sampai dewasa. Para ahli pendidikan telah menyepakati pentingnya periode kanak-kanak dalam kehidupan manusia. Menurut mereka, beberapa tahun pertama pada masa kanak-kanak merupakan kesempatan yang paling tepat dalam upaya member pendidikan karakter, karena pada periode-prode tersebut kepribadian anak mulai terbentukdan kecenderungan-kecenderungannya semakin tampak. Masa kanak-kanak juga merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk membentuk pengendalian agama, sehingga anak mengetahui perkara-perkara yang diharamkan atau dihalalkan dalam agama. Pada masa tersebut juga sangat menentukan proses pembentukan akhlak individu dan sosial. Hal tersebut dikarenakan pengaruh kehidupan sekitar terhadap anak, dimana dirinya dapat merespon berbagai pengaruh lingkungan dengan cepat.
    Penanaman dan pembentukan kepribadian tersebut dilakukan bukan hanya dengan cara emberikan pengertian, mengubah pola piker dan cara pandang tentang sesuatu yang benar, melainkan nilai-nilai kebaikan tersebut harus dibiasakan, dilatih, dicontohkan, dilakukan secara terus menerus dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari. Periode yang paling sensitive dan menentukan adalah pendidikan dalam keluarga yang menjadi tanggung jawab orang tua. Sebagai figur yang memegang peran utama dalam keluarga, maka ketauladanan orang tua menjadi faktor penting dalam mendidik dan menanamkan moral kepada anak-anaknya, sebagaimana ketauladanan Rasulullah saw kepada umatnya.


Firman Allah swt:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu 
    Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang tidak tergantikan dan menjadi tonggak utama dalam membentuk karakter anak, sebelum pendidikan lingkungan atau pendidikan formal. Pola asuh adalah salah satu faktor yang secara signifikan turut membentuk karakter anak untuk membangun sebuah community of learner tentang pendidikan anak dan perlu dijadikan sebuah kebijakan pendidikan dalam upaya membangun karakter bangsa secara berkelanjutan.
    Pendidikan karakter harus bersifat multilevel dan multi chanel karena tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh sekolah. Pembentukan karakter memerlukan ketauladanan berupa perilaku nyata dalam kehidupan otentik. oleh karena itu pendidikan karakter harus menjadi sebuah gerakan moral yang bersifat holistic dengan melibatkan berbagai pihak dan jalur. Pendidikan karakter tak ubahnya seperti mengukir, memberikan sentuhan agar barang lebih bernilai. Itu sebabnya, ukiran sering lebih bernilai ketimbang arga barang yang tidak pernah diukir.
    Dalam karakter terdapat nilai inti yang berasal dari budaya dan kita tidak bisa terlepas darinya. Pendidikan karakter hendaknya dimulai dari sekarang dan dijadikan tolak ukur akan keberhasilan suatu pendidikan dan sebaik-baik bekal yang harus diberikan bagi generasi mendatang adalah pendidikan karakter. Agar pendidikan karakter tersebut dapat tercapai sebagaimana yang dikehandaki, maka diperlukan pula dukungan dari pendididkan moral, nilai, agama dan kewarganegaraan
    Hanya dengan pendidikan karakter inilah, anak-anak atau generasi muda yang menjadi penerus bangsa memiliki nilai moralitas yang tinggi dan berkribadian baik. Sungguh, nilai tersebut merupakan nilai yang sangat berharga.

PEMBAHASAN
    Dewasa ini pendidikan Islam berada berada dalam era globalisasi yang ditandai oleh kuatnya tekanan ekonomi dalam kehidupan, tuntutan masyarakat untuk memperoleh perlakuan yang adil dan sejahtera. Kecenderungan tersebuit merupakan tantangan dan sekaligus menjadi peluang, jika mampu dihadapi dan dipecahkan dengan arif dan bijaksana, yakni dengan merumuskan  kembali berbagai komponen pendidikan, baik visi, misi, kurikulum, proses belajar mengajar dan sebagainya .
    Menghadapi keadaan yang demikian, dunia pendidikan pada umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya, menghadapi pengaruh era globalisasi tersebut dan harus kembali kepada misi utama pendidikan, yaitu membentuk manusia sutuhnya dengan moralitas yang baik. Menghadapi permasalahan tersebut, maka munculah dinamika baru dalam pendidikan Islam, yakni meninjau kembali seluruh komponennya secara inovatif, kreatif, holistic dan adaptif dengan tuntutan modernitas. Sejalan dengan berbagai kemajuan tersebut, maka bermunculan madrasah-madrasah yang tergolong unggul dengan konsep pendidikan karakter yang bernilai plus yang menekankan pengetahuan agama juga pelajaran umum, sedangkan sekolah-sekolah umum lebih menekankan  dari segi pengetahuan umum belaka.
    Upaya modernisasi pendidikan Islam pada saat ini telah menjadi agenda nasional, sebagaimana tercermin dalam spirit yang terkandung dalam Undang-Undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Dengan melakukan perbaikan terhadap berbagai komponen di dunia pendidikan , seperti perumusan kembali tentang paradigma pembangunan sumber daya manusia, menjadikan Tarbiyah Islamiyah sebagai pendidikan yang unggul dengan madrasah sebagai pilihan utama.
    Islam telah menggambarkan metode pendidikan yang lengkap dan mencakup semua aspek kehidupan. Apabila metode ini diterapkan secara benar, maka akan sosok pelajar-pelajar Islam yang bermoral dan mampu merealisasikan tujuan pendidikan Islam. Allah swt menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi dengan tujuan yang mulia, oleh karena itu sewajarnya manusia harus bertanggung jawab dalam membangun bumi yang tentunya dengan ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman Allah:
Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi 
    Sejak awal kedatangannya ke Indonesia pada abad ke 6 M, Islam telah mengsmbil peran yang sangat signifikan dalam kegiatan pendidikan. Peran ini dilakukan karena beberapa pertimbangan sebagai berikut:
1.    Islam memiliki karakter sebagai agama dakwah dan pendidikan, maka Islam dengan sedirinya berkewajiban mengajak, membibing dan membentuk kepribadian umat manusia dengan nilai-nilai ajaran Islam. Inisiatifnya adalah berusaha membangun system dan lembaga-lembaga pendidikan sesuai dengan keadaan zaman, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Melalui lembaga pendidikan ini, akan melahirkan tokoh agama, ulama, para pemimpin masyarakat  yang mumpuni.
2.    Terdapat hubungan simbiotik fungsional antara ajaran Islam dengan kegiatan pendidikan. Dari satu sisi Islam memberikan dasar bagi perumusan visi, misi dari berbagai aspek pendidikan. Islam juga membutuhkan pendidikan sebagai sarana yang strategis untuk menyampaikan nilai dan praktek ajaran Islam kepada masyarakat.
3.    Islam melihat bahwa pendidikan merupakan sarana yang paling strategis untuk mengangkat harkat dan martabat manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Allah swt berfirman:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya .

    Tidaklah mengherankan jika dalam surah al-‘alaq ayat 1-5 mengandung isyarat tentang pentingnya pendidikan. Pada ayat tersebut terdapat paling kurang lima aspek pendidikan, yakni:
1.    Aspek proses dan metodologinya, yaitu membaca dalam arti yang seluas-luasnya, baik dengan mengumpulkan informasi, memahami, mengklarifikasi atau mengategorisasi, membandingkan, menganalis, menyimpulkan dan memverivikasi
2.    Aspek guru, dalam hal ini adalah Allah swt
3.    Aspek murid, dalam hal ini nabi Muhammad saw dan umat manusia
4.    Aspek sarana dan prasarana yang dalam hal ini diwakili oleh kata qalam (pena) dan
5.    Aspek kurikulum, yang dalam hal ini segala sesuatu yang belum diketahui oleh manusia (maa lam ya’lam)
Kelima hal tersebut Merupakan aspek atau komponen utama dalam kegiatan pendidikan

    Pendidikan Islam telah menampilkan diri sebagai pendidikan yang fleksibel, responsif sesuai dengan perkembangan dan tututan zaman, berorientasi pada mutu yang unggul, egaliter, adil, demokratis dan dinamis. Sesuai dengan sifat dan karakternya yang demikian itu, pendidikan Islam senantiasa mengalami inovasi dari waktu ke waktu, dimulai dari sistem dan lembaganyayang paling sederhana, seperti pendidikan di rumah, surau, masjid ataupun majelis ta’lim, pesantren, madrasah hingga k pergguruan tinggi modern.
    Inovasi pendidikan Islam juga terjadi hampir ke seluruh aspeknya, seperti kurikulum, proses belajar mengajar, tenaga pengajar, sarana prasarana, manajemen dan lain sebagaianya. Dengan adanya inovasi tersebut, diharapkan pendidikan Islam menjadi lebih baik.

A.    Pendidikan Karakter dalam Wacana Intelektual Muslim
    Pendidikan karakter dalam wacana intelektual muslim memiliki perbedaan dan persamaan dengan wacana pendidikan karakter yang dikemukakan berbagai aliran diluar Islam, seperti mazhab kaum adat, kaum hedonis, kaum intuition, dan kaum evolutioner.
    Kaum adat mendasarkan pandangannya pada pendapat umum, riwayat, hikayat dan tradisi, bahwa segala sesuatu yang baik dan buruk berdasarkan adat istiadat yang diriwayatkan secara turun temurun, sedangkan hedonis mendasarkan pendapatnya pada dorongan biologis (syahwat), jiwa dan akal bahwa kebahagiaan adalah tujuan akhir dalam kehidupan. Dalam hal ini kaun intuition mendasarkan pendapat pada instinct batin, berpendapat bahwa sejak lahir setiap manusia memiliki instinct batin yang dapat membedakan baik dan buruk dengan sekilas pandang, sementara itu kaum evolution mendasarkan teorinya pada prinsip selection of nature bahwa alam menyaring segala yang ada dalam kehidupan ini dan mentapkan mana yang baik atau tidak, pantas atau tidak dalam kehidupan.
    Konsep pendidikan karakter dalam Islam merupakan penyempurna dari konsep pendidikan karakter yang dikemukakan oleh para nabi, filsuf dan pemikir sebelumnya. Dalam hal ini, Islam menerima sebagian konsep pendidikan karakter yang dianggap baik dan menolak yang tidak baik. Kenyataan ini dapat dipahami dari ucapan Rasulullah saw yang menyatakan :”bahwa aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”, artinya, bahwa Rasulullah saw mengakui adanya akhlak atau karakter mulia yang diwarisi para nabi, filsuf dan pujangga di masa lalu.
    Konsep pendidikan karakter dalam Islam dibangun berdasarkan sumber yang lengkap, yakni selain bersumber pada wahyu, intuisi, juga bersumber pada akal pikiran, panca indera dan lingkungan yang dibangun secara serasi dan seimbang. Dalam kosep pendidikan karakter Islam tersebut, telah diatur tentang hak-hak yang harus dilakukan manusia secara lengkap, yaitu hak untuk Allah, kedua orang tua, anak-anak, kerabat dan saudara, tetangga, pekerja, sesame Muslim, non Muslim, negara dan makhluk secara umum . Pendidikan karakter dalam Islam selanjutnya menjadi landasan terpenting dalam kehidupan sosial.

B.    Pendidikan Anak Usia Dini dalam Perspektif Islam
    Terdapat sejumlah alasan mengapa Islam memberi perhatian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sebagai berikut:
1.    Islam datang ke dunia bukan dalam ruang yang hampa, melainkan dalam situasi yang kacau, baik masalah sosial, ekonomi, budaya, hokum dan lain sebagainya. Sebagaimana firman Allah swt: telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)
2.    Islam datang untuk mengatasi masalah dengan strategi, bukan pada dampak atau akibatnya tapi dari akar permasalahannya.
3.    Fungsi dan peran yang dilakukan Islam dalam mengatasi masalah tersebut antara lain dengan memberikan hidayah , mengeluarkan manusia dari kesesatan dan kegelapan ke dalam kelurusan dan kebenaran
4.    Islam menempuh cara evolutif dan persuasive, yakni melalui kegiatan dakwah dan pendidikan.

    Konsep Islam tentang pendidikan anak usia dini, bersifat sistemik, yaitu konsep yang di dalamnya terkandung berbagai komponen: visi, misi, tujuan, dasar, prinsip, kurikulum, pendidik, strategi proses belajar mengajar, institusi, strategi sarana prasarana, pembiayaan, lingkungan dan evaluasi, yang mana semua komponen tersebut saling berkaitan dan berhubungan antara satu sama lain.
    Pendidikan anak usia dini dalam Islam dilakukan dengan dua cara, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Secara lngsung dengan cara memberikan contoh, keteladanan, bimbingan, kasih saying untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan dalam ajaran Islam, misalkan berdo’a sebelum tidur ataupun makan dan sebagainya. Sedangkan secara tidak langsung antara lain: memilih jodoh yang soleh soleha, banyak berdoa dan beribadah, berakhlak mulia dan sebagainya.
        Islam memandang bahwa berbagai keutamaan yang dimiliki anak, amat bergantung pada kemampuan orang tuanya dalam mendidik. Selain dapat menjadi buah hati yang menyejukan (qurratu a’yun), seorang anak bisa menjadi fitnah dan musuh. Sehubungan dengan itu, Islam memiliki konsep dan strategi pendidikan anak usia dini yang sisitemik dan holistik, dengan menekankan pada keprofesionalan pendidik, proses belajar mengajar yang efektif, serta metode, pendekatan dan strategi yang cerdas.
C.    Pembentukan Moralitas dan Perilaku Anak Muslim
    Salah satu tujuan pendidikan karakter Islam adalah membentuk generasi Islam yang bermoral baik atau berakhlak mulia. Dalam rangka menghasilkan anak-anak Muslim yang berkarakter, maka pelu ditanamkan tiga hal pokok kepada mereka, antara lain membentuk moralitas anak Muslim, menjauhkan diri dari perilaku moral yang buruk dan mengajarkan anak tentang etika yang Islami.
1.    Moralitas Anak Islam
    Fondasi utama ajaran Islam adalah mengajak manusia untuk menciptakan moral yang baik. Moral yang dapat diperoleh dengan berjuang menyucikan jiwa, mengarahkan untuk berbuat taat, menjauhkan diri dari berbagai perbuatan dosa dan maksiat.  Dapat dikatakan bahwa berbagai perbuatan ibadah tidak lain merupakan sarana untuk mencapai moral yang baik, sebagaimana yang telah diajarkan dan dicontohkan nabi Muhammad saw dengan suri tauladan yang baik. Firman Allah:
dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung .
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia ”
    Untuk itu anak Muslim hendaknya diajarkan sifat ihsan (kebaikan), sifat ikhlas, sifat sabar, sifat jujur, tawadhu (rendah hati), sifat malu, nasihat, sifat adil, silaturahmi, menepati janji, sifat kasih sayang, arti kebersihan dan sikfat memahami arti sebuah pengorbanan dan mendahulukan kepentingan orang lain.


2.    Menjauhkan diri dari perilaku moral yang buruk
    Seorang guru atau orang tua diharuskan untuk menjelaskan kepada anak-anak tentang akhlak yang buruk, sehingga si anak berusaha untuk menjauhkan diri dari perbuatan tersebut. Perlu juga ditegas kepada anak, bahwa akhlak yang buruk bukanlah bagian dari sifat orang-orang yang beriman. Perilaku buruk yang dimaksud adalah ghibah, namimah, riya, hasad atau hasud, ucapan yang keji, sombong, menyindir, malas, marah, kikir, bohong, tamak dan sebagainya..
3.    Mengajarkan anak tentang etika yang Islami   
    Nilai-nilai etika selayaknya harus dipelajari anak-anak, karena etika merupakan nilai moral yang diterapkan dalam kehidupan praktis. Adapun etika-etiaka anak Muslim adalah sebagai berikut:
a.    Etika anak terhadap Allah swt yakni dengan mendirikan shalat, berzikir.
Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang
b.    Etika anak terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni dengan menghormati dan memuliakan beliau. Selain itu bersalawat dan menjadikan nabi saw sebagai tauladan yang baik
c.    Etika anak terhadap Al-Qur’an. Sebagai kalam Allah, Al-Qur’an menjadi pedoman hidup umat Islam, oleh karenanya kita dianjurkan untuk membaca dan mengkaji dengan keadaan yang suci.
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar
d.    Etika anak terhadap ilmu dan para ulama. Keberadaan ilmu agama tidak terlepas dari peran para ulama yang telah berkorban untuk agama Allah. Menuntut ilmu agama menjadi tingkatan fardu ‘ain, sedangkan ilmu yang bermanfaat untuk duniawiyah bersifat fardu kifayah bagi setiap Muslim.
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
e.    Etika anak terhadap orang tua. Menghormati dan taat kepada orang tua merupakan anjuran yang harus dilakukan. Dengan menjalankan pesan atau nasihatnya maka ini tergolong ibadah. Firman Allah swt:
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu

f.    Etika anak terhadap dirinya sendiri. Dalam hal ini melakukan muhasabah atau instropeksi diri terhadap apa yang telah diperbuat.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan
g.    Etika terhadap keluarga dan kerabat, yakni menghormati saudara baik kakak ataupun adik paman, bibi, kakek, nenek dan kerabat.
orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya daripada yang bukan kerabat di dalam kitab Allah

D.    KESIMPULAN
    Berdasarkan uraian pembahasan yang telah dipaparkan diatas, dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
Pertama, pendidikan merupakan salah satu kegiatan sosial kemanusiaan yang memiliki hubungan dengan berbagai aspek kehidupanyang amat luas, baik di bidang sosbud, ekonomi, politik, hokum, budaya dan lain sebagainya. Berbagai perkembangan tersebut memiliki hubungan dengan pendidikan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kedua, pendidikan karakter sudah diajarkan oleh Islam sejak dahulu kala dan pada saat ini pendidikan karakter menjadi perhantian penting pemerintah, demi terciptanya moralitas anak-anak bangsa yang berkarakter.
Ketiga, pendidikan karakter dalam Islam menjadi fondasi utama dalam membina generasi-generasi yang berakhlak mulia dan berpegang teguh pada ajaran agama, sehingga tidak mudah terombang ambing terseret arus perubahan di era globalisasi.
Ke empat, lingkup pendidikan karakter pada anak usia dini dapat menjadikan mereka sebagai anak-anak yang soleh soleha, karena pada masa anak-anak itulah merupakan waktu yang tepat mebimbing dan menanamkan karakter anak Muslim padanya.
Ke lima, pendidikan karakter Islam menjadi senjata ampuh untuk generasi muda saat ini, dalam rangka mengeluarkan Indonesia dari segala permasalahan yang ada.




DAFTAR PUSTAKA


Mustafa Fuhaim, Manhaj Pendidikan Anak Muslim. Jakarta: penerbit Mustaqiim, 2004

Mudyahardjo Redja, PENGANTAR PENDIDIKAN sebuah studi awal tentang dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010

J.R. Adisusilo Sutarjo, Pembelajaran Nilai Karakter. Jakarta : PT. Raja Grafindo, 2012

Holt John, Mengapa Siswa Gagal (How Children Fail). Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010

Nata Abuddin, Kapita Selekta Pendidikan Islam isu-isu kontemporer tentang pendidikan Islam. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2012

Thomas Lickona, Education For Character Bagaiman sekolah dapat mengajarkan sikap hormat dan tanggung jawab. Jakarta : PT.Bumi Aksara, 2012

Hawa said, Al-Islam, Jakarta: Gema Insani: 1993

A Koesoema Doni, Pendidikan karakter strategi mendidik anak di zaman Global, Jakarta: Grasindo, 2007

Nata Abuddin. Ilmu pendidikan Islam, Jakarta:PrenadaMedia Group,2010

Nata  Abuddin, Teori dan perilaku organisai pendidikan Islam. Jakarta:UIN Jakarta Press, 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata