24 Apr 2014

Belajar dari Nabi Ibrahim

Ibrahim kecil sudah memiliki kecerdasan yang luar biasa; hatinya bersih, sensitif,dan peka terhadapemua peristiw yag terjadi di sekitarnya.Akalnya gemilang,jernih serta memiliki filter untuk membedakan antara yang benar dan yang batil. fitrah Rabbaniyah tertancap kokoh dalam dirinya sehingga komunitas kuffar di sekelilingnya tak bia mempengaruhi akal sehatnya.

Ibrahim kecil hidup dalam keluarga yang menyembah berhala, bahkan Ayahnya "AZAR" memiliki perusahaan pembuatan "tuhan" (patung) yang di jualnya ke pasar. dan Ibrahim seringkali di suruh oleh ayahnya untuk menjualkan patung2 itu ke pasar. berangkatlah ibrahim membawa patung-patung itu ke pasar, tapi setiap ada orang yang mau beli ibrahim berkata :"benda ii tidak bisa menmberikan mamfaat danmudharat karena patung ini hanyalah benda mati", maka orang iupun tidak jadi membeli dan pergi sambil mengumpat dan menyumpahi ibrahim, lalu pulang dngan membawa patung2 itu kembali tanpa ada yang laku. begitulah ibrahim muda memenangkan suara ilahiyah dalam nuraninya,
Ketika dia sudah dewasa Allah memilihnya untuk mengemban risala-hNya dan mendakwahkan kepada kaumnya. semakin tegarlah dia menyuarakan kebenaran dan memerangi kesyirikan. dia berdiri dihadapan kaumnya menjelaskan logika ketuhanan dan hakekat penciptaan. dia memberikan hujjah kepada kaumnya kalo yang mereka sembah itu bukanlah tuhan, tetapi makhluk seperti mereka. ibrahim berkata " semula aku mnegira bintang itu tuhanku karena banyaknya dan bissa bersinar indah, tetapi ketika bintang itu lenyap aku tiddak lagi percaya kalo itu adalah tukan, karena tuhan tidak mungkin lenyap.
Ibrahim Melanjytkan hujjahnya " ketika aku melihat bulan aku juga mengira kalo iyu adalah tuhanku, tetapi bulan itu juga ada masanya, dia juga lenyap di penghujung malam, maka itu bukanlah tuhan, ibrahim kembali berkata " ketika aku menyaksikan matahari aku berharap iu dalah tuhanku, karena matahari lebih besar dari bulan dan bintang, tetapi mataharipun juga lenyap,.... ( bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata