12 Apr 2014

GERAKAN ALIGARH

BAB I

PENDAHULUAN

Salah satu masalah yang telah lama dihadapi oleh orang-orang Islam di India di akhir abad 19 adalah ketidakmampuan pendidikan Islam untuk memenuhi tuntutan perkembangan dunia. Keberadaan lembaga-lembaga pendidikan Muslim di negara ini relatif belum berkembang. Lembaga-lembaga ini hanya memusatkan perhatian pada ilmu pengetahuan keislaman yang terbatas dan sebagian besar berhubungan dengan praktek-praktek pelaksanaan ajaran agama yang menghindarkan diri dari ilmu-ilmu modern yang dibutuhkan sesuai dengan tuntutan dunia modern. Di negara ini (India) orang-orang Islam pada umumnya tidak dipersiapkan untuk melakukan pengkajian-­pengkajian ilmu-ilmu dan literatur modern karena dianggap tidak sesuai dengan agama. Di sisi lain, ilmu-ilmu tua dari Timur yang dipelajari oleh kaum Muslimin, dianggapnya sama sekali tidak berguna dan tidak mengandung kepentingan praktis. Selain itu, ada sebagian masyarakat India yang ingin maju dalam bidang perdagangan, pertanian, industri dan kerajinan, yang menurut pendapat Sayyid Ahmad Khan, seorang pemikir India yang sangat penting peranannya dalam Aligarh College, bahwa semua itu tergantung pada pendidikan dari dunia modern.

Sementara itu, sistem pendidikan kolonial tidak bisa memenuhi harapan orang-orang Islam karena dianggap tidak sesuai dengan agama dan hanya merupakan upaya untuk menghentikan mereka agar tidak melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang telah lama dianut oleh nenek moyang mereka. Sayyid Ahmad Khan memahami sepenuhnya bahwa orang-orang Islam sangat tidak suka kepada sistem pendidikan Barat dan dia mengetahui pula bahwa sikap mereka yang menentang sistem pendidikan pemerintah (kolonial) bukan merupakan "suatu kebetulan", orang-grang Islam menolaknya karena empat alasan :

1) Tradisi politik mereka;

2) Keyakinan agama mereka;

3) Adat-istiadat mereka; dan

4) Kemiskinan sosial.

Di antara alasan-alasan tersebut, agama dipercaya sebagai alasan yang sangat prinsipal. Hal ini karena, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Sayyid Ahmad Khan, orang-orang Islam diwajibkan untuk mengetahui semua ajaran agamanya, mendiskusikannya dan mengatur kehidupan mereka sesuai dengan agamanya. Oleh karena itu, berdasarkan alasan ini dia berpendapat bahwa pendidikan sekuler murni tanpa ajaran agama bagaikan raga (badan) tanpa jiwa (ruh).  Di samping itu, dia tidak pernah setuju bila pendidikan bagi orang-orang Islam harus dibimbing dan dikendalikan oleh kekuatan asing. Dia mengatakan bahwa rakyat India tidak bisa mengharapkan adanya karakter dan integritas nasional melalui sekolah-sekolah dan perguruan tinggi milik pemerintah (kolonial Inggris).  Dia juga mengatakan bahwa bangsa apapun yang menginginkan untuk meningkatkan pendidikan nasionalnya tidak bisa berharap terlalu banyak untuk mencapai tujuannya sebelum bisa menanganinya sendiri.

Dalam bidang pendidikan, orang-orang Hindu di India memperoleh beberapa keuntungan dari kebijakan pendidikan pemerintah Inggris. Mereka merasa bahwa pendidikan milik pemerintah akan memberikan akses kepada mereka untuk mendapatkan pekerjaan di pemerintahan, dan pada saat itu, mereka meninggalkan orang-orang Islam jauh di belakang baik dalam bidang pendidikan maupun ekonomi. Akibatnya, orang-orang Hindu menjadi favorit (disukai) oleh pemerintah Inggris karena kesediaan mereka untuk mengadopsinya, sementara orang-orang Islam tidak mendapatkan dukungan dari manapun disebabkan oleh propaganda yang bersifat memusuhi penguasa yang berasal dari lingkungan Muslim konservatif.

Selain itu, isu tentang adanya hubungan antara kolonialisme dengan Kristenisasi di negara-negara jajahan telah mendorong reaksi terhadap pendidikan pemerintah kolonial. Pada tahun 1835, misalnya, ketika orang-orang Islam India mulai mengetahui bahwa pemerintah Inggris bermaksud untuk memulai `pengajaran bahasa Inggris di semua sekolah, mereka menyampaikan keberatan dengan menyatakan bahwa rencana itu jelas-jelas bertujuan untuk mengubah keyakinan mereka dan mengajak rakyat untuk menjadi Kristen. Meskipun pemerintah sesudah itu mengumumkan kebijakan tentang adanya netralitas agama yang sangat ketat, propaganda para misionaris Kristen telah menakutkan orang Islam. Mereka bahkan menginterpretasikan jaminan netralitas agama yang tulus dari pemerintah sebagai alat licin untuk merampas mereka dari keimanannya.

Kondisi-kondisi pendidikan Muslim tersebut di atas mendorong semangat Sayyid Ahmad Khan di India untuk berjuang membangun lembaga pendidikan bagi generasi mendatang.

Makalah ini berusaha untuk rnengkaji lembaga pendidikan Aligarh yang dirikan oleh Sayyid Ahmad Khan, bukan mengenal Sayyid Ahmad Khan itu sendiri.



BAB II

PEMBHASAN

A.    Mengenal Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M)

Setelah hancurnya Gerakan Mujahidin dan Kerajaan Mughal sebagai pemberontakan 1857, muncullah Sayyid Ahmad Khan untuk memimpin ummat Islam India, yang telah kena pukul itu untuk dapat berdiri dan maju kembali sebagaimana di masa lampau. Ahmad Khan lahir tanggal 6 Dzulhijjah 1232 Hijriyah atau 17 Oktober 1817 Masehidi kota Delhi. Ia biasa dipanggil dengan Sir Sayyid. Sebutan Sir ia dapatkan dari bangsa Inggris atas jasa-jasanya terhadap Inggris. Sedangkan sebutan Sayyid karena ia masih keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Ia merupakan keturunan dari Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah.

Masa hidupnya yang relatif panjang, sekitar delapan puluh tahunan secara garis besar dapat dibagi menjadi empat periode. Pertama, masa pendidikan (1817-1837). Kedua, masa pengabdiannya menjadi pegawai peradilan (1838-1857). Ketiga, masa minatnya terhadap kesejahteraan umum. Khususnya dalam mengembangkan bidang pendidikan di negaranya (1858-1877) dan keempat, masa terpenting dalam hidupnya (1878-1877) di mana ia mendapat reputasi sebagai pemimpin politik dan pendidikan Islam terbesar selama abad XIX .

Ahmad Khan mendapat pendidikan formal pertama kali disebuah maktab (mungkin kalau di Indonesia semacam madrasah diniyah), yaitu lembaga pendidikan Islam tradisional yang khusus mengajarkan ilmu agama. Di Maktab ini ia belajar bahasa Parsi, bahasa “beradab” bagi muslim India pada waktu itu, dan juga berhitung. Boleh dibilang pendidikan formal yang diperolehnya pada waktu ia kecil tidaklah demikian mendalam dan sistematis. Ia lebih banyak mendapat bimbingan dari ibunya, seorang wanita yang bijaksana, yang mengasuhnya dengan sungguh-sunguh, sehingga ia memperoleh pengetahuan yang cukup tentang beberapa ilmu pengtahuan yang biasa diajarkan di madrasah-madarasah muslim pada waktu itu. Selain itu, ia seorang anak yang sangat rajin membaca berbagai ilmu pengetahuan. Dan ditambah pengetahuannya tentang masalah-masalah kenegaraan (ilmu pemerintahan). Pengenalannya dengan kebudayaan barat diperolehnya dari sang kakek dari pihak ibu, Khawaja Fariduddin, yang pernah menjadi Perdana menteri di Istana Mughal masa Sultan Akbar II selama delapan tahun.

B.     Munculnya Gerakan Aligarh

Gerakan Aligarh muncul setelah wafatnya Ahmad Khan. Keberadaan Gerakan Aligarh tidak dapat lepas dari ketokohan Sayyid Ahmad Khan dan Perguruan Tinggi yang didirikannya, yaitu MAOC Melalui MAOC ini, ide-ide pembaruan yang dicetuskan Sayyid Ahmad Khan dianut dan disebarkan selanjutnya oleh murid serta pengikutnya yang kemudian muncullah apa yang dikenal dengan Gerakan Aligarh.  MAOC merupakan markas Gerakan Aligarh dengan potensinya yang telah berkembang menjadi sebuah institusi yang memainkan peran dalam mencarikan jalan keluar persoalan di bidang pendidikan, sosial dan politik umat Islam di India.



Gerakan Aligarh inilah yang menjadi penggerak utama bagi terwujudnya pembaruan dikalangan ummat Islam India. Dengan adanya gerakan ini, ide-ide pembaruan selanjutnya bermunculan seperti yang dicetuskan oleh Amir Ali, Muhammad Iqbal, Maulana Abdul Kalam Azad, dan sebagainya. Gerakan ini pula yang yang meningkatkan umat Islam India untuk bangkit menuju kemajuan. Pengaruhnya telah dirasakan pada golongan intelektual Islam India.

C.     Ciri- ciri Pokok Gerakan Aligarh

Adapun cirri-ciri pokok gerakan Aligarh sebagaimana yang disempaikan oleh Mustafa Khan dalam An Apology for the New Light 1891 yaitu:

    Gerakan ini ingin mengadopsi berbagai macam peradaban Eropa.
    Gerakan ini menginginkan adanya perbaikan kondisi sosial, terutama sosial minoritas Muslim India.
    Gerakan ini menginginkan adanya perubahan pemahaman keagamaan dari yang bercorak tradisional menuju corak moderen.

Akbar S. Ahmad mengatakan, bahwa Aligarh merupakan jawaban Muslim India terhadap modernitas. Lebih lanjut lagi, bahwa Universitas ini memberi kesadaran baru dan kepercayaan diri bagi umat Islam di anak Benua India pada gilirannya mendorong lahirnya Negara Islam Pakistan. Sedangkan keberhasilan Gerakan Aligarh melalui MAOC dalam menempa tokoh pemikir Muslim India ditunjang oleh beberapa faktor, di antaranya sebagai berikut:

    Bidang Kurikulum.

Kemajuan Gerakan Aligarh disebabkan adanya mata pelajaran umum, seperti ilmu alam, filsafat, humaniora dan sebagainya.

    Bahasa.

Bahasa yang dipakai sebagai bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Hal ini didasari bahwa ilmu pengetahuan di Barat kebanyakan ditulis dalam bahasa Inggris.

    Tujuan pendidikan dan kurikulum pendidikan

Berdirinya lembaga pendidikan MAOC atau dengan sebutan Aligarh yang digagas Ahmad Khan mempunyai tujuan penting dalam bidang pendidikan dengan Tujuan untuk melahirkan satu generasi Muslim yang menguasai ilmu-ilmu modern Barat namun tetap mempertahankan komitmen yang tinggi terhadap Islam. Sedangkan dalam bidang kurikulum diajarkan ilmu-ilmu agama islam dan ilmu-ilmu modern.

D.    Tokoh – tokoh Penerus Gerakan Aligarh

Ahmad Khan mengabdikan diri bagi pembaharuan melalui MAOC selama lebih kurang dua dekade. Selanjutnya ide-idenya dikembangkan dan disebarkan oleh murid dan pendukungnya. Dengan demikian gerakan Aligarh ini tetap berkembang walaupun beliau telah tiada. Gerakan Aligarh dipimpin secara silih berganti oleh para tokoh yang memperjuangkan nasib umat Islam India. Di antaranya adalah:

1.         Sayyid Mahdi Ali (Nawab Muhsin al-Mulk) (1837-1907).

Setelah Sayyid Ahmad Khan wafat, maka kepemimpinan Aligarh pindah ke tangan Sayyid Mahdi Ali, yang dikenal dengan nama Nawab Muhsin al-Mulk (1837-1907). Pada mulanya dia adalah pegawai Serikat India Tifluk, kemudian menjadi pembesar di Hyderabad. Dia pernah berkunjung ke Inggris untuk keperluan Pemerintah Hyderabad. Di tahun 1863 dia berkenalan dengan Sayyid Ahmad Khan dan kemudian antara keduanya terjalin tali persahabatan yang erat. Dia banyak rnenulis artikel di Tahzib Al Akhlaq dan juga di majalah yang diterbitkan M.A.O.C. Dia pindah ke Aligarh dan menetap di sana mulai pada tahun 1893. Pada tahun 1897 dia menggantikankan kedudukan Sayyid Ahmad Khan di M.A.O.C. Dia mempunyai jasa yang besar dalam menyebarkan ide ide Sayyid Ahmad Khan yang dilakukannya melalui Muhammedan Educational Conference.

Jasanya dalam memajukan M.A.O.C terlihat dengan bertambah banyaknya jumlah mahasiswa lembaga pendidikan tersebut, keuangan perguruan tinggi meningkat, administrasi juga tertata rapi dan pengembangan pembangunan sarana dan prasarana fisik juga tidak luput dari perhatiannya. Dalam soal keagamaan Nawab Muhsin al-Mulk dengan idenya menentang taklid pada ulama’ klasik dan mengadakan ijtihad baru. Tetapi dalam menghadapi ulama’ klasik dia lebih lembut dari pada Sayyid Ahmad Khan.

Muhsin al-Mulk berhasil membuat golongan ulama India merubah sikap keras terhadap Gerakan Aligarh. Sebagaimana diketahui bahwa Deoband yang banyak menghasilkan ulama ulama India tradisional, mempunyai sikap yang tidak kooperatif dengan Inggris, sedang Sayyid Ahmad Khan terkenal dengan sikap pro Inggris. Jadi antara M.A.O.C terdapat perbedaan bukan hanya dalam soal-soal keagamaan saja tetapi juga mengenai sikap politik. Muhsin al-Mulk tidak hanya membawa para ulama dekat dengan Aligarh, lebih jauh dia mampu menarik beberapa lawan politik pendiri Perguruan Tinggi tersebut. Dia adalah orang yang paling cinta damai, namun dia dihadapkan juga kepada kontraversi Hindu-Urdu yang telah ada sejak akhir-akhir kehidupan Sayyid Ahmad.

2.      Viqar al-Mulk (1841 1917)

Tokoh lain yang berpengaruh ialah Viqar al-Mulk (1841 1917). semenjak muda dia telah menjadi Penolong dan pengikut Sayyid Ahmad Khan. Pada tahun 1907 dia menggantikan Nawab Muhsin al-Mulk dalam pimpinan M.A.O.C. Masa inilah terjadinya perubahan-perubahan besar dalam adminsitrasi Perguruan Tinggi Aligarh, bahkan dalam kebijaksanaan politik umat Muslim India.[24] Viqar al-Mulk bernama Mushtaq Hussain yang lahir 1841, di Distrik Moradabad, United Pravinces. Dia adalah rekan Sayyid Ahmad Khan dan juga Muhsin al-Mulk. Bersama dengan Muhsin al-Mulk dia selalu bekerja sama dalam masalah administrasi Aligarh. Pada masa Viqar ini terjadi pertentangan antara Viqar al-Mulk dengan Mr. Archbold yang menjadi Direktur M.A.O.C di waktu itu. Dalam pertentangan ini Gubernur Daerah menyebelah Archbold sedang Viqar al-Mulk disokong oleh Agha Khan serta Amir Ali dan selanjutnya oleh masyarakat Islam di luar. Archbold akhirnya terpaksa mengundurkan diri. Kekuasaan Inggris di M.A.O.C dari semenjak itu mulai berkurang.

Viqar al-Mulk sebagai seorang ulama yang keras pendirian dan pegangannya terhadap agama, hidup keagamaan di M.A.O.C diperkuatnya. Pelaksanaan ibadah, terutama shalat dan puasa diperketat pengawasannya. Lulus dalam ujian, agama menjadi syarat untuk dapat naik tingkat. Hal-hal tersebut di atas membuat M.A.O.C menjadi lebih populer di kalangan ulama India.

3.      Altaf Husain Hali (1837-1914).

Tokoh India lainnya yang terkenal sebagai penyebar ide ide pembaruan Sayyid Ahmad Khan adalah Altaf Husain Hali (1837 1914). Dia pernah bekerja sebagai penerjemah di kantor Pemerintah Inggeris di Lahore, tetapi kemudian pindah ke Delhi. Di sinilah dia berkenalan dengan Sayyid Ahmad Khan dan keduanya menjadi teman baik. Hali terkenal sebagai seorang penyair, tetapi dia juga menulis karangan karangan untuk Tahzib al-Akhlaq. Atas permintaan Sayyid Ahmad Khan dia menulis syair tentang peradaban Islam di Zaman Klasik. Keluarlah di tahun 1879 apa yang terkenal dengan nama Musaddas.

Syair itu antara lain juga mengandung ide-ide Aligarh. Musaddas sangat berpengaruh terhadap ummat Islam India, sehingga dikatakan bahwa di samping M.A.O.C dan Muhammedan Educational Conference, Musaddas-lah yang mempunyai jasa besar dalam mempopulerkan Gerakah Aligarh. Terhadap pendidikan wanita dia memandang adanya kesejajaran yang sama dengan lelaki. Oleh karenanya dia lebih progresif dari Sayyid Ahmad Khan yang memandang bahwa kaum wanita saat itu belum perlu mendapat pendidikan sebagai kaum lelaki.

4.      Muhammad Syibli Nu’mani

Muhammad Syibli Nu’mani (1857 1914) diangkat pada tahun 1883 sebagai Asisten Profesor Bahasa Arab di Aligarh. Dia mempunyai pendidikan Madrasah Tradisional dan pernah pergi ke Mekah dan Madinah memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam. Ketika di M.A.O.C., dia berjumpa dengan ide ide baru yang dikemukakan oleh Gerakan Aligarh dan tertarik padanya. Latar belakang pendidikan madrasahnya, membuat dia tidak mempunyai sikap se-liberal Sayyid Ahmad Khan. Tetapi dia tidak menentang pemakaian akal dalam soal-soal agama; mempelajari falsafat barat bukanlah haram. Ulama-ulama zaman klasik juga mempelajari dan banyak yang menguasai filsafat. Pemikiran modern dalam bentuk moderat dapat diterimanya.

Syibli Nu’mani tidak lama dalam pengabdiannya di Aligarh dan pada akhirnya dia meninggalkannya, kemudian pergi ke Lucknow untuk memimpin perguruan tinggi Nadwat al-Ulama (yang didirikannya pada tahun 1894). Pemikiran modern moderat yang dianutnya membawa perubahan pada perguruan tinggi ini.



BAB III

PENUTUP

Sayyid Ahmad Khan memberikan pemahaman baru kepadaa umat islam India bahwa keterpurukan umat Islam pada masa itu di karenakan ketertinggalan di bidang pendidikan modern. Inggris yang menjajah pada masa itu dilawan dengan tenaga, namun semua itu tidak akan memberikan hasil yang memuaskan namun sebaliknya umat Islam India akan semakin tertindas, oleh karena itu Sayyid Ahmad Khan melakukan pembaharuan serta memberikan pemahaman kepada umat Islam harus bisa bangkit dari keterpurukan dengan jalan harus meguasai ilmu pengetahuan modern, karena dengan demikian umat Islam akan bisa bangkit dan bisa mengusir penjajah, Sayyid Ahmad Khan juga mengatakan bahwa orang Inggris tidak perlu di musuhi tapi menjalin kerja sama dengan mereka sehingga bisa mengembangkan ilmu pengetahuan modern, karena pada masa itu Inggris sudah maju dibidang ilmu pengetahua dan teknologi yang modern.

Dengan Gerakan Aligarh-nya pemikiran dan ide-ide-nya terus berkembang kepada masyarakat India bahkan sampai kepada masyarakat Islam di luar India. Sayyid Ahmad Khan adalah tokoh yang mempunyai jiwa yang besar dalam memberikan pemikiran tentang Islam yang sebenarnya, di mana sebelumnya peradaban Islam di masa Dinasti Abbasiyah sangat menjadi sorotan seluruh dunia, peradaban yang penuh dengan pengetahuan yang sangat maju. Namun pada periode selanjutnya Islam mengalami kemuduran, sehingga timbullah para tokoh yang mempunyai pemikiran bahwa Islam harus bangkit kembali dengan ilmu pengetahuan yang modern, seperti pemikiran yang dikembangkan oleh sayid Ahmad Khan di India.

DAFTAR PUSTAKA

Rais, Amin. 1987. Cakrawala Islam Antara Cita Dan Fakta. Bandung: Mizan

Nasution, Harun . 1975. Pembaharuan Dalam Islam ,Seajarah Pemikiran dan Gerakan. Jakarta: PT. Bulan Bintang

Asari, Hasan. 2007. Modernisasi lslam. Bandung : Citapustaka Media

Nasution, Harun. 1987 Islam Ditinjau dari Berbagai Aspek Jilid II. Jakarta: UI Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata