12 Apr 2014

WACANA FILOSOFIS PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMIKIRAN K.H. AHMAD DAHLAN

A.    Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah
K.H Ahmad Dahlan sebelumnya bernama Muhammad Darwis, beliau berasal dari keluarga yang berpengaruh dan terkenal di lingkungan kesultanan Yogyakarta
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya dalam nahwu, fiqih, dan tafsir di Yogyakarta, Muhammad Darwis pergi ke Makkah pada tahun 1890 untuk belajar agama di sana selama satu tahun atas bantuan dana dari kakak perempuannya yang kaya. Sepulang dari Makkah beliau mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan,. Sekitar tahun 1903 beliau kembali berkunjung ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji kedua dan menetap di kota ini selama dua tahun. Kesempatan ini digunakan oleh K.H. Ahmad Dahlan untuk belajar ilmu fiqih, ilmu hadist, ilmu falaq, dan ilmu qira’ah.

Sekembalinya dari Makkah, dengan berbekal ilmu yang cukup, Ahmad Dahlan diangkat sebagai khatib di masjid Agung Yogyakarta, menggantikan ayahnya.
 Ahmad Dahlan bekerja sebagai pedagang kain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan pekerjaan ini , beliau sering melakukan berpergian dan mengadakan hubungan dengan pedagang lain, termasuk sejumlah pedagang keturunan Arab. Selain berdagang , Ahmad Dahlan juga menjadi guru pengajian agama bagi beberapa kelompok orang pada hari-hari tertentu, terutama bagi sekelompok murid pendidikan guru pribumi di Yogyakarta. Dengan kegiatan sampingnya sebagai guru mengaji, beliau pernah mencoba untuk mendirikan sebuah madrasah dengan bahasa Arab sebagai pengantarnya di lingkungan keratin Yogyakarta, namun usaha ini gagal.
Karena aktivitas dengan orang-orang Arab, Ahmad Dahlan sering mengadakan hubungan dengan Syaikh Ahmad Surkati, pendiri Jami’atul Khair. Keduanya akhirnya sepakat untuk mendirikan organisasi kader yang mendukung cita-cita kemajuan Islam. Ahmad Dahlan pada tahun 1909 masuk menjadi anggota Budi Utomo, sebuah organisasi yangdidirikan oleh kaum eli intelektual kependidikan Barat, yang bertujuan menciptakan kemajuan dan kemuliaan bangsa dan tanah air Indonesia. Ahmad Dahlan juga menjadi anggota organisasi syarikat Islam yang didirikan di solo pada 12 september 1912.
Dari organisasi-organisasi tersebut, kiranya Budi Utomo yang memiliki konteks yang cukup historis dengan Ahmad Dahlan. Di sini Ahmad Dahlan mempunyai gagasan untuk memasukkan pelajaran agama Islam ke sekolah model Gubernemen. Gagasan ini disetujui oleh pengurus Budi Utomo sehingga beliau diberi tugas menyampaikan pengajian pada setiap rapat anggota. Ini merupakan peristiwa pertama di mana pelajaran agama dimasukkan ke sekolah umum, meskipun masih bersifat ekstrakurikuler yang dilaksanakan setiap sabtu sore dan minggu pagi.
Pada tanggal 1 Desember 1911, Ahmad Dahlan berhasil mendirikan sebuah sekolah agama di lingkungan keratin dengan sistem pendidikan Gubernemen yang memberikan pelajaran umum.
Di sekolah ini, Ahmad Dahlan menerapkan segala gagasan dan pikirannya mengenai pendidikan. Dengan menggunakan metode pendidikan Barat, memakai kursi dan meja, dan dalam bentuk klasikal, sekolah ini menjadi cikal bakal tumbuhnya gagasan pendirian Muhammadiyah.
Tahun 1911 merupakan masa-masa sibuk bagi Ahmad Dahlan, selain sebagai khatib, aktif di organisasi Budi Utomo, sebagai pedagang, pengajar di Kweekschool, Ahmad Dahlan juga pengelola di sekolahnya sendiri. Melihat kesibukan seperti ini, Raden Sosrosoegondo dan Mas Radji menyarankan agar sekolah miliknya didukung oleh sebuah organisasi tersendiri. Saran kedua temannya merupakan masukan bagi Ahmad Dahlan untuk mengembangkan sistem sekolah miliknya. Saran ini menjangkau bidang yang cukup luas, yaitu umat Islam Indonesia. Pemikiran ini kemudian dibulatkan untuk mendirikan sebuah organisasi pembaharuan Islam.
Dalam musyawarah dengan kepala Kweekschool yaitu Budihardjo dan sekertaris Budi Utomo yaitu Dwidjosewodjo beberapa saran diberikan kepada Ahmad Dahlan. Budi Utomo dalam hal ini siap membantu Ahmad Dahlan mendirikan organisasi baru apabila sediktnya tujuh anggotanya menyetujui gagasan Ahmad Dahlan. Setelah melalu diskusi, akhirnya tuh=juh anggota budi utomo, Raden Haji Syarkawi, Haji Abdoelgani, Haji Moehammad Soedja, Haji Moehammad Hisjam, Haji Moehammad Fachroeddin, Haji Moehammad Tamim, dan termasuk Ahmad Dahlan, sepakat agar mendirikan organisasi baru. Organisasi ini bertujuan “anyebaraken piwucalipun Kanceng Nabi Muhammad saw wonten ing karesidenan Ngayokyakarta” (menyebarkan ajaran Nabi Muhammad saw di Keresidenan Yogyakarta). Sesuai dengan tujuan ini, nama yang diangkat tepat bagi organisasi ini adalah “Moehammadiyah” yang artinya umat Muhammad. Organisasi ini didirikan pada 18 Dzulhijjah 1330 H, atau bertepatan dengan 12 November 1912 M di Yogyakarta, dengan pengurus besar terdiri dari K.H. Ahmad Dahlan, H. Abdoellah Siradj, H. Ahmad, H. Abdoel Rahman, Raden H. Syarkawi, H. Moehammad, Raden H. Djaelani, H Anis, dan H. Moehammad Fakih. Muhammadiyah yang semula diperuntukkan bagi masyarakat Yogyakarta, pada 1927 mengalami perkembangan lain. Di dalam statute dan Algemeen Huishoudelijk Reglement dari pada “Moehammadiyah” disebutkan bahwa tujuan organisasi ini adalah “memajukan pendidikan dan ilmu pengetahuan di Hindia-Belanda berdasarkan ajaran Islam dan meningkatkan kehidupan beragama di antara para anggotanya”. Dengan tujuan ini, berarti Muhammadiyah sudah menasional, yaitu bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Lambat laun Muhammadiyah berkembang di seluruh pulau jawa dan mendirikan berbagai cabangnya di wilayah Indonesia, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Muhammadiyah dengan tujuan ini tidak pernah meninggalkan prisip-prinsip keagamaannya dan tidak pernah menjadi suatu partai politik, walaupun para pemimpinnya cenderung untuk memperlihatkan aktivitas politiknya.

B.    Corak Pembaruan Ahmad Dahlan
Sebagai seorang ulama yang memiliki banyak guru, Ahmad Dahlan banyak membaca buku-buku dan majalah-majalah, baik yang agama maupun yang umu. Dengan posisinya sebaga pedagang, Ahmad Dahlan banyak bergaul dengan berbagai kalangan, terutama dengan orang-orang Arab. Dari pergaulan dan bacaan inilah beliau senantiasa bertambah dan berkembang wawasan dan pengetahuannya. Pandangan dan ide-idenya di salurkan bukan lewat tulisan, melainkan lewat organisasi yang didirikannya, yaitu Muhammadiyah.
Ahmad Dahlan telah menghayati cita-citanya pembaharuan sekembali dari hajix yang pertama. Tidak di temukan bukti dengan pasti, apakah cita-citanya diperoleh secara perorangan atau dipengaruhi oleh orang lain. Beliau pertama kali memperkenalkan gagasan pembaharuannya dengan mengubah arah tempat orang shalat kea rah kiblat yang sebenarnya, yaitu di Masjid Agung Yogyakarta.
Kepergian Ahmad Dahlan ke Makkah untuk kedua kalinya memiliki nilai historis yang sangat besar bagi tumbuhnya modernism Islam di Indonesia. Selain bertemu dengan guru-guru agama, Ahmad Dahlan disini mendapatkan kesempatan bertukar pikiran dengan Muhammad Rasyid Ridla, seorang  tokoh modernis di mesir yang menjadi murid Muhammad Abduh.
Pemikkran modernis ini kiranya berkesesuaian dengan pemikiran dan pandangan Ahmad Dahlan yang berkeinginan melakukan perbaikann kehidupan masyarakat jawa agar sesuai dengan pemahaman Islam yang benar.
Konteks sosial di mana Ahmad Dahlan hidup mencerminkan tiga, yaitu modernisme, tradisionalisme, dan jawaisme. Menghadapi modernism, Ahmad Dahlan menyikapi dengan mendirikan sekolah-sekolah model barat. Tradisionalisme, Ahmad Dahlan menyikapi dengan metode tabligh, yaitu mengunjingi murid-muridnya untuk melakukan pengajian. Pada saat itu guru mencari murid merupakan perbuatan aib sosial-budaya , tetapi Ahmad Dahlan melakukannya sebagai perbuatan luar biasa. Sedangkan Jawaisme, Ahmad Dahlan menyikapi dengan metode positive action yang mengedepankan amar ma’ruf nahi munkar.
Ketiga sikap dan respon Ahmad Dahlan terhadap konteks sosial di masa itu dilakukan sebagai wujud dari keinginannya untuk melakukan pembaharuan. Pembaharuan ini dilakukan dengan mendirikan pengajian di pondok, sepulangnya dari Makkah.
Pemikiran-pemikiran pembaruan Ahmad Dahlan yang dilakukan secarabebas itu merupakan pengaruh modernism di dunia Arab. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya selalu  berupaya menciptakan Islam yang murni, yang bebas dari bid’ah, khurafat, dan syirik.
Selain masalah pemurnian, Ahmad Dahlan juga melakukan pembaruan Islam melalui agenda perubahan sosial melalui metode ijtihad dan tajdidnya. Dalam melakukan proses ijtihad tanpa harus lagi memperhatikan berbagai persyaratan yang ketat sebagai seorang mujtahid,  hal penting dalam ijtihad bagi Ahmad Dahlan adalah berpedoman pada Al-Quran dan Sunnah. Inilah yang membedakan Ahmad Dahlan dengan tokoh pembaruan Islam lainnya.

C.    Pendidikan Dalam Pandangan Ahmad Dahlan
Pendidikan menurut Ahmad Dahlan bertujuan menciptakan manusia yang baik budi, yaitu alim dan agama, luas pandangan, yaitu alim dalam ilmu-ilmu umum, bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat. Pandangan Ahmad Dahlan ini dikemukakan sebagai bukti ketidakpuasan beliau terhadap sistem dan praktik pendidikan yang ada pada saat itu. Dengan mengadopsi substansi dan metodologi pendidikan model Barat yang dipadukan dengan sistem pendidikan model tradisional, Ahmad Dahlan berhasil mensintesiskan keduanya dalam bentuk pendidikan model Muhammadiyah.
Di dalam Muhammadiyah, pendidikan agama dan umum dipadukan sedemikian rupa dengan tetap berpegang pada ajaran Al-Quran dan Sunnah.selain kitab-kitab klasik berbahasa Arab, kitab-kitab kontemporer berbahasa Arab juga di lembaga Muhammadiyah, yang dipadukan dengan pendidikan umum. Muhammadiyah dengan model ini telah menggunakan sistem klasikal model Barat, yang meninggalkan metode weton dan sorogan dalam sistem tradisional. Hubungan guru dengan murid di dalam lembaga pendidikan Muhammadiyah kiranya lebih akrab, bebas, dan demokratis, yang berbeda dengan lembaga pendidikan tradisional yang mengesankan guru bersifat otoriter dengan keilmuannya.
Pendirian lembaga Muhammadiyah dengan model pendidika seperti itu merupakan kepedulian utama Ahmad Dahlan dalam mengimbangi dan menandangi sekolah pemerinta h belanda. Beliau merasa terkesan dengan kerja para misionaris Kristen yang mendirikan sekolah dengan fasilitas yang lengkap. Dengan mencontoh ini, Ahmad Dahlan telah menciptakan lembaga pendidikan Muhammadiyah sebagai lembaga yang mengajarkan pendidikan agama sebagai mata pelajaran wajib. Ilmu bahasa dan ilmu pasti disampaikan dalam Muhammadiyah sebagai mata pelajaran yang mengimbangi mata pelajaran agama. Dengan ini, sistem Muhammadiyah mempertahankan dimensi Islam yang kuat, namun dalam bentuk yang berbeda dengan sistem tradisional. Dari sini dapat dikatakan bahwa Ahmad Dahlan telah berhasil melakukan modernisasi sekolah keagamaan tradisional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata