28 Apr 2014

Pentingnya Ilmu Islam




بسم لله الرحمن الرحيم
الحمدا لله رب العلمين الصلا تو السلا م علئ الرسل لله، وبعد.....
قل لله تعلئ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ -١٠٢-

Alhamdulillah, adalah kata untaian kepada ALLAH Azzawajalla yang sangat pantas dan rasa yang patut diutarakan pada-Nya adalah yaitu rasa syukur. Karena segala nikmat ALLAH merupakan kelebihan hidup yang sangat istimewa dalam segala aspek kelebihan.

Menurut ulama ternama di dunia yaitu Ibnu Qayyim Al-Jauziah : Penyakit ummat islam pada akhir zaman itu  fitnah syubhat. Banyak ummat muslim yang sejak lahir telah kabur akan arti dan ilmu islam, mereka telah buta akan ketauhidan, contohnya saja orang muslim yang sangat takut terhadap orang kafir, ini merupakan suatu keterpurukan aqidah yang ada pada kebanyakan ummat islam pada masa sekarang ini, makanya ilmu islam pada masa sekarang sangat ditakuti oleh orang-orang kafir agar ummat islam tetap pada kebodohan cara berfikirnya.
Disebut dalam hadits:
من خرفي طلب العلم فهو في سبيل الله حتئ يرخعا

Barang siapa yang keluar untuk ber-thalabul ‘ilmi, maka ia berada dijalan Allah sampai ia kembali (pulang kerumahnya)
Siapa yang mau kalau orang musuh kita berada pada satu jalur keberuntungan sedangkan diri kita berada pada suatu keburukan dan dijamin celakanya. Itulah iblis yang tidak akan pernah senang terhadap kebenaran suatu perilaku yang manis bagi bangsa orang-orang yang kafir dan tolol, merasa dirinya yang sangat sempurna suatu mesombingan yang tiada tara, menolak aturan Allah yang memang sudah disyari’atkan dimuka bumi ini contohnya yaitu ketika Nabi Adam AS diciptakan sedangkan mereka diseru untuk tunduk kepada manusia akan tetapi semua diluar kehendak Allah seolah iblis itu lebih pintar dan menganggap Allah itu salah yang mengeluarkan pertentangan terhadap Allah “Buat apa saya tunduk kepada Manusia sedangkan aku lebih sempurna asal penciptaanya, kami dari golongan Api sedangkan Adam dari tanah hitam yang sangat hina”. Na’udzubillahi min dzalik, seperti inikah dan sampai situkah suatu perbuatan dan ucapan dari sosok hamba kepada tuhan yang menciptakannya.
Seperti itulah manusia saat ini, terlalu berani akan penentangan terhadap aturan Allah SWT. Menganggap seolah aturan yang disyari’atkan dari Allah itu sebagai suatu penghalang hidupnya, memangnya kita itu siapa, hidup saja menumpang di bumi Allah, makan saja hasil rezki dari Allah, bernafas saja diberi dari Allah, namun kenapa rasa sombong itu terkadang masih saja kita pelihara dalam hidup kita, selalu menawar hukum syari’at sampai situkah rasa sombong kepada kita.? Hidup saja tidak ada rasa sedikitpun hormat kepada Allah. Bahkan kita malah menyentuh suatu kehinaan yang sangat hina bahkan bangga dalam kebodohan dan sangat merasa bisa sendiri akan hidup kita, merasa paling paripurna terhadap keputusan kita yang dipenuhi hawa nafsu, merasa hero karena takut terhadap orang kafir, memang itu sudah realita kebodohan ummat islam saat ini, terlalu tunduk kepada penguasa yang dzolim, musyrik, kafir,sombong, dsb. Masih banggakah kita terhadap pemimpin kita yang sangat takut terhadap orang kafir, terlalu terlaknat hingga menghina aturan hukum syari’at yang bahkan berkata kalau hukum Al-Qur’an yang dijadikan asas dasar pemerintahan pada bangsa indonesia ini maka akan terjadi keguncangan dalam memerintah, negara akan kacau, Na’dzu billahi tsumma na’udzubillah orang seperti itu apanya yang harus ditakuti, apakah kita juga harus kafir pergi meninggalkan Allah yang menjadi segala seseuatu bagi hidup ini.
Marilah kita kembali melihat sosok pemuda yang berani menentang kedzoliman, yaitu Ash-habul kahfi mereka yang sebelumnya hidup dalam detornator kepemimpinan penguasa dzolim dimana ke-7 pemuda tersebut merupakan para prajurit penting dalam kerajaan tersebut dan hidupnya telah sangat berkecukupan dan ditanggung kerajaan, akan tetapi mereka melihat, mempelajari arti hidup, bahkan menggerakkan kembali hatinya yang mati untuk menyentuh ajaran tauhid yang sebenarnya hingga Allah memberikan mereka pintu hidayah, akhirnya ketika para pemuda tersebut telah mencium aroma kenikmatan tauhid mereka menentang para penebar bangkai pada kerajaan itu akhirnya sampailah disuatu masa yang ia nantikan bahwa tauhid harus disebar secara terang-terangan dihadapan raja yang dzolim tersebut. Dari seonggok kisah tersebut kita seharusnya kembali bangkit dan sadar akan mimpi buruk ini, bukankan Allah SWT telah menyempurnakan agama ini dengan sesempurna mungkin kita kembali pada Al-qalam ilahirrahman pada surah Al-maidah ayat 3
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً

Sudah sangat jelas bahwa pada hari ini, yaitu hari yang terkhir diturunkannya firman Allah SWT. Agama islam menjadi suatu keridhaan dari sang malik, namun ummat muslim saja masih tidak tau, tidak faham apa itu islam, ketika dijelaskan apakah itu islam, kebanyakan malah membuat suatu pernyataan bahwa mangapa anda menjelaskan suatu yang konyol.? Inilah realita pada zaman sekarang, pantasan saja negeri ini mendapat banyak musibah, pelu kita ketahui segala musibah baik bencana alam, atau segala musibah terkhususnya itu semua ada karena kemungkaran itu sangat kental pada daerah yang tertimpa adzab tersebut, mengapa demikian.? Lihat firman Allah didalam surah Ibrahim ayat 7 :
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ -٧-
Lalu apakah yang membuat kita sebagai umat islam yang seharusnya bersyukur dan kembali pada syari’at Allah lalu kemudian hati kita sangat berat untuk menjalankan hukum syari’at.? Mau jika kita terkena adzab Allah yang sangat pedih.? Bayangkan saja ini baru adzab didunia yang berupa tsunami, gempa, longsor, gunung meletus dsb. Ini semua belum jika Allah sudah sangat murka melihat ciptaanya yang sangat durhaka. Kita saja sebagai manusia yang jika mempunyai anak lalu anak tersebut melecehkan kita betapa murka diri kita, apalagi Allah yang menciptakan kita, memberi segala kebutuhan hidup kita tapi kita hanya diserukan untuk enjalankan syari’at islam ini lalu diri kita menolak dan bahkan menghina aturan dari Allah tersebut. Hati-hati dengan sikap yang berlebuhan dalam kesombongan seperti ini jangan sampai kita menyasal dan merengek ketika adzab yang sebenarnya telah menimpa diri kita

Sebagai hamba yang beriman, kita semestinya membuka kembali pernyataan tentang kesempurnaan agama ini, yang disebutkan Allah SWt dalam surah ali imran ayat yang ke 19

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ إِلاَّ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْياً بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللّهِ فَإِنَّ اللّهِ سَرِيعُ الْحِسَابِ -١٩-

Didalam firman tersebut, kita menjumpai kata “inna” yang bermakna sesungguhnya dalam kehidupan kata sesungguhnya adalah merupakan suatu hal yang patent, tidak bisa di ubah lagi kedudukannya dan dalam aturan hidup jika mengubah ketetapan atau aturan yang telah ada maka sanksi-sanksi akan di timpa kepada diri kita, kembali kepada ayat tersebut, setelah kata sesungguhnya ada kata “ad-din” yang berarti agama, didalam aspek keagamaan pula disebutkan faktor terpentinh yang memang harus dijalani ketetapannya, agama adalah penentu jalan hidup kita, setelah kata tersebut disusul lagi dengan kata “Al-islam” yang berarti khusus untuk islam dimana kalimat tersebut dilengkapi oleh ‘lam alif’ yang secara penafsiran diartikan sebagai suatu karya yang teramat sangat dan diharuskan, oleh karena itu ayat tersebut menjelaskan bahwa, sesungguhnya agama yang benar-benar di ridhai atau di pilih Allah adalah agama islam ini, nah terus didalam islam itu memiliki aturan-aturan yang patent, yang memang harus dikerjakan oleh ummat islam, yaitu menjalankan syari’at islam yang sebenar-benarnya. Bagaimana cara menjalankan syari’at tersebut yaitu satu caranya harus menjadikan Al_Qur’an sebagai landasab dan pedoman hidup ‘abadan’ (selamanya). Tapi realita sekarang ini, orang islam yang seharusnya menjalankan aturan islam secara kaffah dan murni, malah melecehkan Al-Qur’an tersebut, menganggap A-Qur’an itu hanya sebagai tambahan ibadah saja dan tidak layak untuk dijadikan landasan undang-undang kehidupan karena zamannya sudah moderen, nah inilah pemahaman orang yang ngakunya islam tapi hatinya kafir, ada lagi yang mengatakan bahwa mereka tidak terima dikatakan kafir karena mereka memang islam dan yakin dengan adanya Allah, pernyatann ini tidak beda denga keyakinan Fir’aun la’natullah, Fir’aun itu percaya bahwa Allah itu ada

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنصَرُونَ -٤١-

Dan Kami Menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang menyeru ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan diberi pertolongan
Wa ja‘alnāhum (dan Kami Menjadikan mereka), yakni Kami Menghinakan mereka.
A-immatan (sebagai pemimpin-pemimpin), yakni sebagai para dedengkot orang-orang kafir dan sesat.
Yad‘ūna ilan nāri (yang menyeru ke neraka), yakni yang mengajak kepada kekafiran, kemusyrikan, dan penyembahan berhala-berhala.
Wa yaumal qiyāmati lā yuηsharūn (dan pada hari kiamat mereka tidak akan diberi pertolongan), yakni tidak akan dibela dari Azab Allah Ta‘ala.

  Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, atau mendustakan yang hak ketika datang kepadanya? Bukankah di dalam Jahannam itu terdapat tempat bagi orang-orang kafir?
Wa man azhlamu (dan siapakah yang lebih zalim), yakni siapakah yang lebih lancang dan berani terhadap Allah Ta‘ala.
Mimmaniftara (daripada orang-orang yang mengada-adakan), yakni yang mereka-reka.
Alallāhi kadziban (kebohongan terhadap Allah) dengan menetapkan anak dan sekutu bagi-Nya.
Au kadz-dzaba bil haqqi (atau mendustakan yang hak), yakni mendustakan Nabi Muhammad saw. dan al-Quran.
Lammā jā-ah (ketika datang kepadanya), yakni ketika Nabi Muhammad saw. datang kepadanya dengan membawa al-Quran.
A laisa fī jahannama matswal (bukankah di dalam Jahannam terdapat tempat), yakni tempat kediaman.
Lil kāfirīn (bagi orang-orang kafir), yakni Abu Jahl dan kawan-kawannya.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata