14 Apr 2014

Perbedaan Pendidikan Moral, Pendidikan Akhlak dan Pendidikan Moral



Oleh MuFe El-Bageloka[1]

Konsep dasar pendidikan karakter yang perlu dijelaskan di sini adalah teori-teori yang terkait dengan pengertian beberapa istilah, kemudian dari situ peneliti mencoba memaknai apa pengertian pendidikan karakter, lalu peneliti mencoba mencari titik temu antara pendidikan karakter dan pendidikan akhlak. Sehingga peneliti dapat menemukan makna yang hakiki dari pendidikan karakter.
Tapi sebelum membahas tentang pendidikan karakter terlebih dahulu yang pertama diketahui yakni perbedaan pendidikan moral, pendidikan karakter dan pendidikan akhlak.
Terminologi pendidikan moral dalam dua dekade terakhir secara umum digunakan untuk menjelaskan penyelidikan isu-isu etika di ruang kelas dan sekolah. Setelah itu nilai-nilai pendidikan menjadi lebih umum. Pengajaran etika dalam pendidikan moral lebih cenderung pada penyampain nilai-nilai yang benar dan nilai-nilai yang salah. Sedangkan penerapan nilai-nilai itu dalamkehidupan sehari-hari baik pribadi, keluarga maupun masyarakat tidak mendapat porsi yang memadai. Namun demikian Abdul Madjid menegaskan bahwa terminologi dapat dikatakan sebagai terminologi tertua dalam menyebut pendidikan yang bertujuan mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan manusia.
Pendidikan akhlak bisa dikatakan sebagai pendidikan moral dalam diskursus pendidikan Islam. Telaah lebih dalam terhadap konsep akhlak yang telah dirumuskan oleh para tokoh pendidikan Islam masa lalu seperti Ibnu Maskawaih, Al-Qabisi, ibnu Sina, Al-Ghazali dan Al-Zaenuji, menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah terbentuknya karakter positif dalam perilaku anak didik. Karakter positif itu tidak lain adalah penjelmaan sifat-sifat mulia Tuhan dalam kehidupan manusia.
Pendidikan karakter berasal dari dua suku kata yang berbeda yaitu pendidikan dan karakter. Kedua kata ini mempunyai makna sendiri-sendiri. Pendidikan lebih merujuk pada kata kerja, sedangkan karakter lebih pada sifatnya. Artinya, melalui proses pendidikan tersebut, nantinya dapat dihasilkan sebuah karakter yang baik. (Muhammad Fadlillah & Mualifatu Khorida. 2013: 16).
 Jadi Pendidikan Karakter menurut peneliti adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi pengetahuan, kesadaran, tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut yang kesemuanya itu melalui metode pembiasaan, keteladanan dan pengajaran sehingga bisa tertanam dalam benak peserta didik.
Pendidikan Karakater di Indonesia didasarkan pada sembilan karakter dasar. Karakter dasar menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan karakter dasar ini, antara lain: (1) cinta kepada Allah; (2) tanggung jawab, displin dan mandiri; (3) jujur; (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang, peduli dan kerja sama; (6) percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah; (7) keadilan dan kepemimpinan; (8) baik dan rendah hati, dan; (9) toleransi, cinta damai dan persatuan (Zubaidi. 2011: 72).
Kesembilan  karakter dasar ini menjadi urgen dalam Pendidikan Karakter, karena kesembilan dasar ini adalah pondasi utama dari Pendidikan Karakter dan ini menjadi tujuan dari penanaman karakter pada peserta didik (tujuan dari Pendidikan Karakter). Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah menyebutkan bahwa tujuan pendidikan ialah untuk berkembang potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
 Antara pendidikan akhlak dan pendidikan karakter mempunyai orientasi yang sama, yaitu pembentukan karakter. Perbedaan bahwa pendidikan akhlak terkesan timur dan Islam, sedangkan pendidikan karakter terkesan Barat dan sekuler, bukan alasan untuk dipertentangkan. Pada kenyataannya kedua konsep ini memiliki ruang untuk saling mengisi. Bahkan Lickona sebagai Bapak Pendidikan Karakter di Amerika justru mengisyaratkan keterkaitan erat antar karakter dan spiritualitas. Dengan demikian, bila sejauh ini pendidikan karakter telah berhasil dirumuskan oleh para penggiatnya sampai pada tahapan yang sangat operasional meliputi metode, strategi dan teknik, sedangkan pendidikan akhlak sarat dengan informasi kreteria ideal dan sumber karakter baik, maka memadukan keduanya menjadi suatu tawaran yang sangat inspiratif. Hal ini sekaligus menjadi entry point bahwa pendidikan karakter memiliki ikatan yang kuat dengan nilai-nilai spiritualitas dan agama. (Zubaidi. 2011: 65).
Menurut Khomeini memberikan komentar yang tegas bahwa pelajaran akhlak yang mencakup sejarah akhlak, tinjauan filosofis sampai pada pembersihan diri tidak akan membantu perbaikan akhlak dan pencerabutan akar kejahatan, bahkan tidak akan membawa pada penyucian jiwa (Progresiva. 2011: 143-144).
Dalam pandangan peneliti subtansi dari pendidikan karakter sama dengan pendidikan akhlak cuma yang menjadi titik perbedaanya adalah Pendekatan yang digunakan dari kedua Konsep Pendidikan ini. Kalau Pendidikan Akhlak menggunakan pendekatan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang dipadukan dengan metodologi pembelajaran ta’lim al-kitab karya para ulama sehingga mindset peserta didik tertanam untuk berbuat kebaikan. Sedangkan Pendidikan Karakter lebih tanpa menggunakan pendekatan tazkiyatun nafs tetapi konsep pendidikan ini langsung pada praktiknya melalui pembiasaan dan keteladanan.
Berdasarkan yang peneliti teliti dari kedua konsep Pendidikan ini, perbedaan yang mencolok juga yakni sumbernya. Kalau pendidikan akhlak sumbernya dari Al-Quran dan Hadist atau dengan kata lain sisi religiusnya lebih kental. Sedangkan pada pendidikan karakter sumbernya adalah moral yang berlaku dalam masyarakat Barat. Adapun tujuan, nilai dan manfaat dari kedua konsep pendidikan ini bermuara pada satu yakni membentuk peserta didik yang berakhlak mulia atau berperilaku baik.
Sebagai penguat pernyataan tersebut, hal yang sama juga pernah dinyatakan oleh Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, H. Sunaryo Kartadinata dalam sambutannya beliau menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak ubahnya seperti mengukir, memberikan sentuhan agar barang tersebut memiliki nilai lebih. Itulah sebabnya, ukiran itu lebih bernilai ketimbang harga yang diukir itu sendiri. “Di dalam karakter ada nilai inti yang berasal dari budaya. Kita tidak mungkin membangun karakter yang terlepas dari budaya kita sendiri. Pendidikan alih generasi harus dilakukan sejak sekarang. Dan sebaik-baik bekal yang diberikan bagi generasi mendatang adalah pendidikan karakter” (Thomas Lickona. 2013: viii-ix).
Selain itu, Rektor Universitas Malang, H. Suparno mengatakan, pendidikan character building pada intinya untuk membentuk insan yang berkarakter. Ini yan didasarkan pada norma yang berlaku, yaitu mencakup aspek religius maupun aspek kebangsaan yang menjadi landasan bangsa dalam kehidupan yang multietnis. Menurutnya secara garis besar terdapat beberapa program yang harus dijalankan untuk melaksanakan pendidikan berbasis pembangunan karakter “Program tersebut antara lain untuk membentuk manusia yang terpelajar dengan karakter yang kuat dan kepribadian yang kokoh dalam pengembangan serta pengamalan, pengabdian, pemberdayaan ilmu dalam kemaslahatan” (Matan. 2011: 9).
Selain itu, sumber yang paling penting dalam pendidikan akhlak yang tidak dimilik oleh Pendidikan Karakter yakni Nabi Muhammad SAW karena Beliau SAW adalah sumber segala akhlak yang terpuji dan budi pekerti yang luhur, maka beliau pun membersihkan jiwa para pengikutnya dari akhlak-akhlak yang tercela. Dan itu beliau lakukan dengan memberi teladan dengan akhlaknya yang mulia dan budi pekertinya yang luhur. (M. Mujib Anshor. 2013: 115-116). Ini berarti keteladanan Rasulullah SAW adalah sumber pendidikan karakter yang hakiki.
Berdasarkan berbagai penjelasan yang peneliti uraikan di atas terkait pendidikan karakter dan pendidikan akhlak, maka ada beberapa poin yang perlu diperhatikan terkait perbedaan dan persamaannya antara lain:
a)    Pendidikan akhlak dan pendidkan karakter merupakan dua konsep pendidikan yang bermuara pada satu tujuan yakni membentuk peserta didik yang berakhlak mulia dan berkarakter kuat.
b)    Selain itu, pendidikan karakter tidak ada bedanya dengan pendidikan akhlak baik secara subtansi, esensi dan manfaatnya.
c)    Perbedaan yang mendasar antara pendidikan karakter dengan pendidikan akhlak adalah pendekatan dan sumber dari konsep pendidikan itu.
d)    Pendidikan akhlak sumbernya dari al-Quran dan Al-Hadist sedangkan Pendidikan Karakter sumbernya dari norma dan moral yang berlaku dalam masayarakat setempat.
 


[1] Nama Pena dari M. Feri Firmansyah S.PdI, sang pemimpi menjadi Prof. Dr. M. Feri Firmansyah M.PdI & King of Novelis (Sastrawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata