22 Apr 2014

Coretan tentang Pendidikan Karakter; Sebuah Wacana nan Melegenda



Oleh MuFe El-Bageloka[1]
Renungkanlah


A.    Pandangan Umum
Pada dasarnya pendidikan memiliki dua tujuan yaitu membimbing para generasi muda untuk menjadi cerdas dan memiliki perilaku berbudi. Menurut Plato, mereka telah mendidik karakter masyarakat setara dengan pendidikan inteligensi, mendidik kesopanan setara dengan pendidikan literasi, mendidik kebajikan setara dengan pendidikan ilmu pengetahuan. Mereka pun telah mencoba untuk membentuk masyarakat yang dapat menggunakan inteligensi untuk memberikan manfaat baik bagi masyarakat maupun dirinya sendiri sebagai bagian dari masyarakat yang membangun kehidupan yang lebih baik.
Pendidikan moral sebagai dasar demokrasi adalah menghargai hak-hak setiap individu, menghormati hukum yang berlaku, secara sukarela terlibat dalam kehidupan bermasyarakat dan memiliki kepedulian untuk bersikap baik. Loyalitas terhadap kesopanan dalam berdemokrasi tersebut harus sudah dimulai ditanamkan sejak dini.
Berikut ini gejala yang menjadi kendala dalam penerapan pendidikan moral (karakter), antara lain; kekerasan (tindakan anarkis), pencurian, tindakan curang, pengabaian terhadap aturan yang berlaku, tawuran, ketidaktoleran, penggunaan bahasa yang tidak baik, kematangan seksual yang terlalu dini dan penyimpangannya.
Alasan dalam pengembangan pendidikan karakter, antara lain;
•    Adanya kebutuhan mendesak; banyaknya para pemuda yang melakukan tindak kekerasan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang
•    Proses penghubungan nilai dan sosialisasi karena dalam suatu masyarakat membutuhkan pendidikan nilai baik untuk sikap penyelamatan perbaikan untuk tetap bersatu di dalamnya
•    Pendidikan nilai memiliki pandangan dasar bermakna luas yang mendukung perkembangan pendidikan.

B.    Mendidik untuk Membentuk Karakter
Manfaat Pendidikan Karakter, antara lain;
•    Sikap terhadap kegiatan pembelajaran kelas
•    Sikap dalam penggunaan arena bermain sekolah
•    Kemampuan dalam menyelesaikan masalah yang bersifat sosial
•    Komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi.
Secara umum orang-orang memandang bahwa keluarga merupakan sumber pendidikan moral paling utama bagi anak-anak. Orang tua adalah guru pertama mereka dalam pendidikan moral. Mereka jugalah yang memberikan pengaruh paling lama terhadap perkembangan moral anak-anak di sekolah. Jadi pada dasarnya keluarga memiliki peran yang fundamental yakni sebagai peletak batu dasar, jika anak tidak memiliki hubungan dengan keluarga biasanya mereka lebih lemah dalam menghadapi tekanan. Nilai karakter yang harus diajarkan pertama kali di sekolah yakni; kejujuran, tanggung jawab, keadilan, tanggung jawab, kerjasama, rasa hormat, empati, toleransi, rendah hati.


C.    Strategi Kelas dalam Pengajaran tentang Rasa Tanggung Jawab dan  Hormat
Paling penting dalam pengajaran penanaman nilai yakni pendekatan terhadap para peserta didik kita, dapat dilakukan cara ini;
1)    Guru dapat menjadi seorang penyayang yang efektif,
2)    Menjadi seorang teladan
3)    Dapat menjadi mentor yang beretika.

Intinya di sini adalah mengajarkan siswa untuk bekerjasama dengan cara memberikan tauladan pada mereka baik di kelas maupun di dunia nyata. Nilai pendidikan karakter sangat penting untuk ditanamkan pada usia dini, yakni dengan langsung dipraktikkan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam mendidik para sahabatnya, keluarganya dan anak-anaknya.
Menurut penulis penanaman nilai ini dapat dilakukan dengan permainan yang menonjolkan nilai-nilai karakter ataupun akhlak yang tergambar dalam pribadi Rasulullah SAW. Karena ini lebih cepat menyerap dari pada hanya belajar tekstual. Contoh penanaman nilai karakter dapat dilakukan dengan pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif adalah sebuah pembelajaran yang mengajarkan kepada peserta didik untuk saling tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan ketakwaan. Keuntungan dari sebagai berikut:
a)    Proses belajar kooperatif mengajarkan nilai-nilai kerja sama
b)    Proses belajar kooperatif membangun komunitas di dalam kelas
c)    Proses belajar kooperatif mengajarkan keterampilan dasar keterampilan.
d)    Proses belajar kooperatif memperbaiki pencapaian akademik, rasa percaya diri dan penyikapan terhadap sekolah.
e)    Proses belajar kooperatif menawarkan alternatif dalam pencatatan.
f)    Proses belajar kooperatif memiliki untuk mengontrol efek negatif dari persaingan.

Menurut Thomas Lickona, format pembelajaran kooperatif antara lain; partner belajar, pengaturan tempat duduk berkelompok, proses belajar tim, proses belajar jigsaw, ujian berkelompok, proyek kelompok kecil, kompetensi tim, proyek satu kelas. Adapn cara memaksimalkan pembelajaran kooperatif, diantaranya;
1)    Jelaskan bahwa kerjasama merupakan tujuan yang penting bagi kelas
2)    Membangun komunitas
3)    Ajarkan keterampilan spesifik untuk dapat kerjasama
4)    Buat aturan-aturan dalam kerjasama
5)    Asuh akuntabilitas setiap kelompok untuk bekerja sama dan berkontribusi.
6)    Ikut serta semua siswa untuk merefleksikan kerja sama
7)    Menugas peran pada anggota kelompok
8)    Cocokkan proses belajar kooperatif dengan tugas yang diberikan.
9)    Gunakan berbagai strategi proses belajar kooperatif.

Namun yang terpenting dalam pembelajaran adalah feedback (evaluasi diri). Cara yang paling ampuh untuk memotivasikan anak yakni memberikan peserta didik untuk mengembangkan kepakaran mereka yang sesungguhnya pada suatu mata pelajaran atau kecakapan. Namun satu hal yang harus diperhatikan yakni; guru mengomunikasikan ekpektasi tinggi pada semua siswanya untuk meraih performa akademik yang lebih baik dari pada guru yang mengomunikasikan ekspektasi rendah. Lebih sederhananya cara yang paling tepat untuk membangun kesadaran nurani, sebagai berikut:
1)    Menyusun tujuan sekolah yang bersinggungan dengan sikap dalam bekerja
2)    Menggunakan sistem pembelajaran kooperatif untuk mengembangkan etika dengan rekan sebaya yang mendukung pekerjaan akademik.
3)    Menciptakan budaya sekolah dengan konsistensi pada keunggulan dengan apa yang disebut sekolah efektif.
4)    Mengajar dengan ekspektasi yang setiap siswa dapat lakukan.
5)    Mengkombinasikan ekspektasi tinggi dengan dukungan penuh
6)    Mengembangkan kapasistas siswa untuk evaluasi diri
7)    Membantu perkembangan kecintaan siswa akan belajar dan kebanggaan akan pengetahuan dengan membantu mereka mengembangkan diri sebagai pakar yang sesungguhnya.
8)    Mengembangkan komunitas belajar yang merayakan keberhasilan anggota kelas.
9)    Mengajar untuk gaya belajar siswa yang berbeda.
10)    Mengajar sesuai dengan ketertarikan siswa dan membantu mereka menemukan dan mengembangkan bakat individual mereka.
11)    Membantu siswa mengembangkan sikap displin dalam mengerjakan pekerjaan rumah.
12)    Membantu mengembangkan kebaikan dari kerja keras dalam konteks kurikulum yang menarik dan berarti, sebuah lingkungan yang bernilai bagi orang banyak, dan pandangan seimbang mengenai pekerjaan sebagai satu dari nilai kehidupan yang penting.

Moral itu perlu direfleksi, di-tadaburi (diambil hikmahnya) dengan berpijak pada enam sisi karakter yakni;
a.    Sadar moral---melihat dimensi moral dari situasi kehidupan
b.    Memiliki pemahaman mengenai keseluruhan nilai moral dengan objektif dan mengaplikasikan dalam situasi kongkret
c.    Mampu melihat secara sesuatu dari sudut pandang orang lain.
d.    Mampu memberikan alasan dengan pertimbangan moral.
e.    Mampu membuat keputusan moral yang sudah dipertimbangkan dengan matang,
f.    Mengenali diri sendiri.

Mendiskusikan pendidikan karakter merupakan hal yang unik untuk dikaji apa lagi yang dibahas adalah isu kontroversial karena di sini peserta didik akan diajarkan bagaimana cara menyelesaikan konflik, Adapun panduan yang dapat digunakan oleh guru, antara lain
a.     Atur konteks yang nonrelativistik untuk diskusi.
b.    Merencakan masalah pertanyaan spesifik yang akan menantang pikiran siswa.
c.    Pilih cerminan/format diskusi yang membutuhkan pemikiran yang teliti
d.    Menantang siswa untuk tetap berfikir tentang isu tersebut
e.    Diskusi berlabuh dalam kurikulum berbasis pendekatan.
Menurut Lickona bahwa pendekatan yang memadai untuk pengajaran resolusi konflik termasuk lima elemen sebagai berikut;
1.    Kurikulum terencana yang telah siswa pikirkan tulis dan bicarakan dalam berbagai jenis konflik.
2.    Pelatihan kemampuan terstruktur yang membimbing siswa menghindari konflik dan kemampuan resolusi konflik.
3.    Menggunakan rapat kelas untuk konflik yang terjadi di antara anggota kelas dan untuk memantapkan norma penyelesaian konflik yang baik dan tanpa kekerasan.


D.    Strategi Umum Sekolah dalam Pengajaran tentang Rasa Hormat dan Tanggung Jawab
Sekolah dapat membantu membentuk sikap peduli pelajar dan warga yang aktif di luar kelas jika mereka; (1) membuat siswa sadar tentang kebutuhan dan penderitaan orang lain di negaranya  dan seluruh dunia; (2) menawarkan kelompok-kelompok yang dapat dijadikan sebagai contoh; (3) menyediakan role model yang menginspirasi dan teman sebaya yang positif; (4) memberikan kesempatan pada belajar untuk melakukan kegiatan pelayanan sekolah; (5) memberikan pelajar untuk mengabdi dalam masyarakat dengan program-programnya; (6) menyediakan pendidikan di bidang keahlian sosial, politik perubahan dan aksi warga masyarakat.
Enam elemen budaya moral positif di sekolah diantaranya;
1)    Kepemimpinan moral dan akademis dari kepala sekolah
2)    Displin sekolah dalam memberikan teladan, mengembangkan dan menegakkan nilai-nilai sekolah dalam keseluruhan lingkungan sekolah
3)    Pengertian sekolah terhadap masyarakat
4)    Pengelola sekolah yang melibatkan murid dalam pengembangan diri yang demokratis
5)    Tanamkan sikap toleransi dan saling menghormati


Sumber; Mendidik untuk Membentuk Karakter; Bagaimana Sekolah dapat Memberikan Pendidikan tentang Sikap Hormat dan Bertanggung Jawab
Judul Asli: Educating Character; How Our Schools Can Teach Respect and Responsbility.
Penulis: Thomas Lickona
Penerjemah: Juma Abdu Wamaungo
Tahun Terbit: 2013
Jakarta; Bumi Aksara

[1] Nama Pena dari M. Feri Firmansyah S.PdI, Sang Pemimpi menjadi Prof. Dr. M. Feri Firmansyah M.PdI & King of Novelis (Sastrawan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata