28 Apr 2014

PENGERTIAN FILSAFAT ILMU DAN METODOLOGI KEILMUAN.

KATA PENGANTAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

     Al-hamdulillah, Hamdan li Robbil’alamin, segala puji sepatutnya hanya   milikNya. Dengan izinNyalah hingga kami dapat menyusun makalah ini guna memenuhi tugas dari mata kuliah Filsafat Ilmu yang berjudul PENGERTIAN FILSAFAT ILMU DAN METODOLOGI KEILMUAN.

     Filsafat merupakan sebuah disiplin ilmu yang terkait dengan perihal kebijaksanaan, kebijaksanaan merupakan titik ideal dalam kehidupan manusia, karena ia dapat menjadikan manusia untuk bersikap dan bertindak atas dasar pertimbangan kemanusiaan yang tinggi (actus humanus) , bukan asal bertindak sebagaimana yang biasa di lakukan manusia.
Kami sadari bahwa makalah yang telah kami selesaikan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai perbaikan untuk kami kedepan.
Terakhir, ucapan terima kasih kami persembahkan kepada pihak yang turut membantu dalam penyusunan dan perbaikan makalah kami.
Semoga bermanfaat.^_^

Palopo, 05 Maret 2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Salah satu matakuliah yang sering dikeluhkan Mahasiswa sebagai matakuliah yang sulit dipahami, kurang diminati, dan kerap kali dipandang sebagai ilmu yang abstrak adalah matakuliah filsafat. Menurut mereka mempelajari filsafat adalah sesuatu yang menyulitkan dan membuat kepala pusing. Tujuan pembuatan makalah kami ini, untuk menjelaskan pengertian dan metode-metode dari filsafat ilmu, secara ringkas dan jelas (insya Allah), agar para pembaca sekalian dapat dengan mudah memahami PENGERTIAN FILSAFAT ILMU khususnya.

B.    RUMUSAN MASALAH
Dalam Rumusan Masalah ini maka akan dicari jawaban dari:

a.    Pengertian Filsafat Ilmu
b.    Perkembangan Filsafat Ilmu
c.    Metode-metode Filsafat Ilmu.

C.    TUJUAN PENELITIAN
1.    Untuk memenuhi tugas matakuliah FILSAFAT ILMU
2.    Untuk menjelaskan atau memberikan gambaran tentang pengertian Filsafat Ilmu, Perkembangan-perkembangan Filsafat Ilmu, dan Metode-metode yang digunakan dalam Filsafat Ilmu.
3.    Sebagai pengikis anggapan-anggapan miring mahasiswa tentang Filsafat, utamanya dalam matakuliah Filsafat Ilmu.
4.    Terakhir dari tujuan penelitian kami, adalah agar mahasiswa mampu berfikir kritis, logis dan sistematis.

BAB II
PEMBAHASAN

1.    SELAYANG PANDANG
a.    PENGANTAR
Perbincangan tentang filsafat ilmu baru mulai merebak di awal abad keduapuluh, namun FRANCIS BACON dengan metode induksi yang ditampilkannya pada abad kesembilanbelas dapat dikatakan sebagai peletak dasar filsafat ilmu dalam khasanah bidang filsafat secara umum. Sebagaimana ahli filsafat berpandangan bahwa perhatian                             mengedepan tatkala ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) mengalami kemajuan yang sangat pesat. Mulailah muncul semacam keraguan di kalangan Ilmuan, filsuf dan kalangan Agamawan, bahwa kemajuan IPTEK dapat mengancam eksistensi Manusia, alam dan Isinya. Para filsuf melihat ancaman-ancaman tersebut muncul lantaran terlepas dari asumsi-asumsi dasar IPTEK yang cenderung berjalan sendiri-sendiri. Untuk memahami gerak perkembangan IPTEK yang sedemikian itulah maka kehadiran filsafat ilmu sebagai upaya meletakkan kembali peran dan fungsi IPTEK sesuai dengan tujuan semula, yakni mendasarkan diri dan concern terhadap kebahagiaan umat manusia.*

b.    PENGERTIAN FILSAFAT ILMU
Ada berbagai definisi filsafat ilmu, namun disini kami hanya akan mengutarakan empat pendapat yang menurut kami paling representatif:
1.    LEWIS WHITE BECK, Berpendapat bahwa filsafat ilmu atau philosophy of science adalah ilmu yang mengkaji dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan ”(philosophy of science questions and evaluates the methods of scientific thinking and tries to determine the value and significance of the scientific enterprise as a whole)”. Jadi menurut Lewis White Beck, filsafat ilmu adalah ilmu yang mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan. Melalui filsafat ilmu ini kita mampu memahami dan menetapkan akan arti pentingnya usaha ilmiah, pengkajian tentang ilmu pengetahuan ilmiah secara menyeluruh.
2.    A. CORNELIUS BENYAMIN, Mengemukakan bahwa filsafat ilmu adalah “(that philosophic wich the systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellektual disciplins)”. Filsafat ilmu adalah studi sistematis mengenai sifat dan hakikat ilmu, khususnya yang berkenaan dengan metodenya, konsepnya, kedudukannya di dalam skema umum disiplin intelektual. Benyamin lebih melihat sifat dan hakikat ilmu ditinjau dari aspek metode, konsep, dan kedudukannya dalam disiplin keilmuan.
3.    ROBERT ACKERMANN, Menurut Ackermann filsafat adalah, “(one aspect is critique of current scientific opinion by comparison to proven past views, on in terms of criteria developed from such views, but such a philosophy of science is clearly not a discipline autonomous of actual scientific practice)”. Filsafat ilmu adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah dibuktikan atau dalam rangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu demikian jelas bukan suatu cabang ilmu yang bebas dari praktik ilmiah senyatanya. Dengan filsafat ilmu ini seseorang dapat mengkaji secara kritis tentang pendapat-pendapat atau karya ilmiah seseorang melalui kriteria tertentu agar dimanfaatkan secara maksimal dan realistis.
4.    PETER CAW, Mengemukakan bahwa filsafat ilmu adalah “(a part of philosophy, which attempt to do for science what philosophy in general does whole for whole of human experience. Philosophy does two sort of thing on the one hand, it construct theories about man and the universe, offers them as ground for belief abd action on the offer, it examines critically everything that may be offered as a ground for belief in action, including its own theories, with a view to the elimination of inconsistency and error)”. Filsafat ilmu adalah suatu bagian filsafat yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat umumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikan landasan bagi keyakinan dan tindakan di pihak lain, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat di sajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan/tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri dengan harapan dan penghapusan tidak ajegan dan kesalahan. Caw yakin bahwa melalui filsafat ilmu seseorang membangun dua hal, menyajikan teori sebagai landasan bagi keyakinan dan tindakan, dean memeriksa secara kritis segala sesuatu sebagai landasan bagi sebuah keyakinan atau tindakan.

Keempat definisi tersebut memperlihatkan ruang lingkup atau cakupan yang dibahas di dalam filsafat ilmu, meliputi:
1.    Komparasi kritis sejarah perkembangan ilmu
2.    Sifat dasar ilmu pengetahuan
3.    Metode ilmiah
4.    Pra anggapan-praanggapan ilmiah
5.    Sikap etis dalam pembangunan ilmu pengetahuan.
Di antara faktor-faktor itu, terutama yang paling banyak dibicarakan adalah sejarah perkembangan ilmu, metode ilmiah dan sikap etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.  
    Sejarah perkembangan ilmu memaparkan berbagai wacana yang berkembang seputar temuan-temuan ilmiah sesuai dengan periodesasi-periodesasi. Setiap periodesasi menampakkan ke-khasannya masing-masing, sehingga perbandingan secara kritis antara satu periode dengan periode yang lain akan memperlihatkan kekayaan paradigma ilmiah sepanjang sejarah perkembangan ilmu. Kuhn bahkan menegaskan terjadinya revolusi sains yang didukung oleh penemuan paradigma baru dalam bidang ilmu tertentu, sehingga mampu mengubah pola pikir masyarakat. Sebagai contoh: pada jaman Yunani sampai abad pertengahan masyarakat masih berpegang pada pandangan geosentris, yakni bumi sebagai pusat jagat raya. Namun setelah revolusi Copernicus, masyarakat mempercayai bahwa bukan bumi sebagai pusat jagat raya, melainkan matahari, sehingga terjadi pergeseran paradigmatis dari geosentris ke heliosentris.
    Sikap etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan merupakan salah satu isu penting dalam filsafat ilmu, terutama untuk menjawab persoalan, apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan ada dua kubu yang saling berhadapan, satu pihak beranggapan bahwa ilmu itu harus bebas nilai (misalnya positivisme), di pihak lain ada yang beranggapan bahwa ilmu itu tidak mungkin bebas nilai, karena selalu terkait dengan kepentingan sosial.

2.    METODE-METODE FILSAFAT ILMU
Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, di antaranya adalah sebagai berikut.
a.    Metode Induksi
Induksi yaitu suatu metode yang menyampaikan pernyataan-pernyataan hasil observasi dan disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Yang bertolak dari pernyataan-pernyataan tunggal sampai pada pernyataan-pernyataan universal.
    Dalam induksi, setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan hal-hal lain, seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam di panasi ia akan mengembang, bertolak dari teori ini akan tahu bahwa logam lain yang kalau dipanasi juga akan mengembang. Dari contoh di atas bisa diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut sinetik.
b.    Metode Deduktif
Ialah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empiris diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Ada penyelidikan bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut.
c.    Metode Positivisme
Metode ini di keluarkan oleh August Comte (1798-1857). Metode ini berpangkal dari apa yang diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengesampingkan segala uraian di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
d.    Metode Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indra dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda, harusnya di kembangkan satu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh Al-Ghazali.
e.    Metode Dialektis
Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Plato mengartikannya diskusi logika. Kini dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematis tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.    Dari keempat definisi filsafat ilmu, memperlihatkan ruang lingkup atau cakupan yang dibahas di dalam filsafat ilmu, meliputi:
a.    Komparasi kritis sejarah perkembangan ilmu
b.    Sifat dasar ilmu pengetahuan
c.    Metode ilmiah
d.    Pra anggapan-praanggapan ilmiah
e.    Sikap etis dalam pembangunan ilmu pengetahuan.
Di antara faktor-faktor itu, terutama yang paling banyak dibicarakan adalah sejarah perkembangan ilmu, metode ilmiah dan sikap etis dalam pengembangan ilmu pengetahuan.  
2.    Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, di antaranya adalah sebagai berikut:
a.    Metode Induktif, Induksi yaitu suatu metode yang menyampaikan pernyataan-pernyataan hasil observasi dan disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Yang bertolak dari pernyataan-pernyataan tunggal sampai pada pernyataan-pernyataan universal
b.    Metode Dedukif, Ialah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empiris diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri. Ada penyelidikan bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut.
c.    Metode Positivisme, Metode ini di keluarkan oleh August Comte (1798-1857). Metode ini berpangkal dari apa yang diketahui, yang faktual, yang positif. Ia mengesampingkan segala uraian di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
d.    Metode Kontemplatif, Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indra dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda, harusnya di kembangkan satu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh Al-Ghazali.
e.    Metode Dialektis, Dalam filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Plato mengartikannya diskusi logika. Kini dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematis tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan.

B.    KRITIK DAN SARAN
Al-hamdulillah atas terselesaikannya tugas makalah sosiologi ini. kurang lebihnya kami mohon maaf atas segala kekurangan yang kami miliki, Dan kami senantiasa mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan agar kedepannya kami bisa lebih baik lagi.



DAFTAR PUSTAKA

1.    Filsafat ilmu: suatu kajian dalam dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis / A. Susanto;--Cet. 2. – jakarta: Bumi Aksara, 2011.

2.    Filsafat ilmu / Drs. Rizal Mustansyir M. Hum ;–
Drs. Misnal Munir M. Hum;-- Cet. X. – Yogyakarta: September 2010.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata