12 Apr 2014

BIMBINGAN DAN KONSELING; Perbedaan Konsep Dan Teknik Pemahaman Individu Dan Pemahaman Kelompok


1. Pengertian Pemahaman individu
Pemahaman individu adalah suatu cara untuk memahami, menilai karakteristik, potensi, dan masalah-masalah yang ada pada individu atau sekelompok individu. Cara yang digunakan meliputi observasi, interview, skala penilaian, daftar cek, inventori, teknik projektif, dan beberapa jenis tes.

Pemahaman atau penilaian tersebut dimaksudkan untuk kepentingan pemberian bantuan bagi pengembangan potensi yang ada padanya (development) dan atau  penyelesaian masalah-masalah yang dihadapinya (klinis). Aiken (1997:1) menunjukkan bahwa manusia dalam kenyataannya berbeda-beda dalam kemampuan berpikirnya, karakter kepribadiannya, dan tingkah lakunya. Semua itu bisa diukur dengan bermacam-macam cara.
Dengan demikian pemahaman individu adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk mengerti dan memahami individu lain. Dalam konteks bimbingan dan konseling, mengerti dan memahami tersebut dilakukan oleh konselor terhadap konseling, dan atau sumber data.
Perlunya pemahaman individu dalam bimbingan dan konseling sebagai berikut :
a.    Di dalam bimbingan dan konseling, kita tidak mungkin dapat memberikan pertolongan kepada seseorang sebelum kita kenal atau paham dengan orang tersebut.
b.    Salah satu hal yang penting dalam bimbingan dan konseling ialah memahami individu secara keseluruhan baik masalah yang dihadapi maupun latar belakangnya. Dengan demikian individu akan memperoleh bantuan yang tepat dan terarah. Dengan kata lain perlunya pemahaman individu dalam layanan bimbingan dan konseling adalah agar individu memperoleh bantuan yang sesuai dengan kemampuan dan potensinya agar apa yang diharapkannya dapat tercapai (artinya individu dapat mencapai penyesuaian diri dengan dirinya sendiri, lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat).
•    Tujuan Pemahaman Individu.
Pemahaman individu dalam layanan bimbingan dan konseling bertujuan antara lain agar :
a.    Kita semakin mampu menerima keadaan individu (siswa) seperti apa adanya dan sekaligus keberadaan siswa baik dari segi kelebihan maupun kekurangannya.
b.    Agar kita semakin mampu memperlakukan siswa sebagaimana mestinya dalam arti lain mampu memberikan bantuan seperti yang dikehendaki oleh siswa.
c.    Kita terhindar dari gangguan komunikasi, sehingga mampu menciptakan relasi yang
semakin baik.

2. Pengertian Pemahaman kelompok
Prayitno (1995: 178) mengemukakan bahwa Bimbingan kelompok adalah Suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Artinya, semua peserta dalam kegiatan kelompok saling berinteraksi, bebas mengeluarkan pendapat, menanggapi, memberi saran, dan lain-lain sebagainya; apa yang dibicarakan itu semuanya bermanfaat untuk diri peserta yang bersangkutan sendiri dan untuk peserta lainnya.
Sementara Romlah (2001: 3) mendefinisikan bahwa bimbingan kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan yang berusaha membantu individu agar dapat mencapai perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, serta nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencagah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa.
Dari kedua pengertian bimbingan kelompok di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah Suatu kegiatan kelompok yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu adanya interaksi saling mengeluarkan pendapat, memberikan tanggapan, saran, dan sebagainya, dimana pemimpin kelompok menyediakan informasi-informasi yang bermanfaat agar dapat membantu individu mencapai perkembangan yang optimal.
Tujuan Bimbingan Kelompok
Ada beberapa tujuan bimbingan kelompok yang dikemukakan oleh beberapa ahli, adalah sebagai berikut:
Menurut amti (1992: 108) bahwa tujuan bimbingan kelompok terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus. Secara umum bimbingan kelompok betujuan untuk membantu para siswa yang mengalami masalah melalui prosedur kelompok. Selain itu juga menembangkan pribadi masing-masing anggota kelompok melalui berbagai suasana yang muncul dalam kegiatan itu, baik suasana yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Secara khusus bimbingan kelompok bertujuan untuk:

Melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat di hadapan teman-temannya.
Melatih siswa dapat bersikap terbuka di dalam kelompok
Melatih siswa untuk dapat membina keakraban bersama temanteman dalam kelompok khususnya dan teman di luar kelompok pada umumnya.
Melatih siswa untuk dapat mengendalikan diri dalam kegiatan kelompok.
Melatih siswa untuk dapat bersikap tenggang rasa dengan oran lain.
Melatih siswa memperoleh keterampilan sosial
Membantu siswa mengenali dan memahami dirinya dalam hubungannya dengan orang lain.
Tujuan bimbingan kelompok seperti yang dikemukakan oleh (Prayitno, 1995: 178) adalah:

Mampu berbicara di depan orang banyak
Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan dan lain sebagainya kepada orang banyak
Belajar menghargai pendapat orang lain,
Bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.
Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan yang bersifat negatif).
Dapat bertenggang rasa
Menjadi akrab satu sama lainnya,
Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau menjadi kepentingan bersama
Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. (Sukardi, 2003: 48).
Layanan bimbingan kelompok merupakan media pengembangan diri untuk dapat berlatih berbicara, menanggapi, memberi menerima pendapat orang lain, membina sikap dan perilaku yang normatif serta aspek-aspek positif lainnya yang pada gilirannya individu dapat mengembangkan potensi diri serta dapat meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi yang dimiliki.
B.    Teknik Pemahaman Individu dan Kelompok
Dalam tekhnik pemahaman individu dan kelompok dibagi menjadi dua diantaranya:
1.    Teknik Tes
Teknik tes atau sistem testing merupakan usaha pemahaman murid dengan menggunakan alat-alat yang bersifat mengungkap atau mentes. Sedangkan tes adalah sebagai suatu prosedur yang sistematis untuk mengobservasi (mengamati) tingkah laku individu melalui skala angka atau sistem kategori.
Menurut (Shertzer & Stone; 1971:235) penggunaan teknik dari tes bertujuan untuk:
a.    Menilai kemampuan belajar murid
b.    Memberikan bimbingan belajar kepada murid
c.    Mengecek kemampuan belajar
d.    Memahami kesulitan-kesulitan belajar
e.    Menilai efektivitas (keberhasilan) mengajar
Tes dibedakan menjadi:
1)    Tes intelegensi
Yaitu suatu teknik atau alat yang digunakan untuk mengungkapkan tarap kemampuan dasar seseorang yaitu kemampuan dalam berpikir, bertindak dan menyesuaikan dirinya secara efektif.

2.    Tehnik Non-tes
Teknik non-tes merupakan prosedur mengumpulkan data untuk memahami pribadi siswa pada umumnya bersifat kualitatif. Teknik-teknik tersebut bertujuan untuk membantu memberi informasi kepada guru untuk mengetahui anak yang berbakat, kemampuan tinggi, kemampuan rendah,anak bermasalah dan sebagainya. Untuk itu kita bisa mencoba melakukan teknik tes ataupun non-tes untuk mengetahui suatu informasi yang diperlukan.
Beberapa cara yang dilakukan tanpa tes adalah:
1). Observasi.
Yaitu teknik atau cara mengamati suatu keadaan atau suatu kegiatan (tingkah laku). Yang paling berperan disini adalah panca indra atau pengindraan terutama indra penglihatan, dan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
-    dilakukan sesuai dengan tujuan yang dirumuskan terlebih dahulu
-    direncanakan secara sistematis
-    hasilnya dicatat dan diolah sesuai tujuan
-    perlu diperiksa ketelitiannya.
Catatan anekdot
Yaitu catatan otentik hasil observasi yang menggambarkan tingkah laku murid atau kejadian dalam situasi khusus, bisa menyangkut individu juga kelompok.
Dengan menggunakan catatan anekdot guru dapat:
-    memperoleh pemahaman yang lebih tepat tentang perkembangan anak
-    memperoleh pemahaman tentang sebab-sebab dari gejala tingkah laku murid
-    memudahkan dalam menyesuaikan diri dengan murid.
Catatan anekdot yang baik memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
a.    Objektif
Untuk mempertahankan objektivitas dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:
-    catatan dibuat sendiri oleh guru
-    pencatatan dilakukan segera setelah suatu kegiatan terjadi
-    deskripsi dari suatu peristiwa dipisahkan dari tafsiran pencatatan sendiri
b.    Deskriptif
Catatan suatu peristiwa mengenai murid hendaknya lengkap disertai latar belakang, percakapan dicatat secara langsung, dan kejadian-kejadian dicatat secara tersusun sesuai dengan kejadiannya.
c.    Selektif
Situasi yang dicatat adalah situasi yang relevan dengan tujuan dan masalah yang sedang menjadi perhatian guru sesuai keadaan murid.

3.)    Wawancara
Wawancara merupakam teknik untuk mengumpulkan informasi melalui komunikasi langsung dengan responden atau orang ynag diminta informasi.
Kelebihan dan kekurangan wawancara
Kelebihannya yaitu:
-    merupakan teknik yang paling tepat untuk mengungkap keadaan pribadi murid
-    dapat dilakukan terhadap setiap tingkatan umur
-    dapat dilaksanakan serempak dengan kegiatan observasi
-    digunakan untuk pelengkap data yang dikumpulkan dengan teknik lain
Kekuranganya yaitu:
-    tidak efisien, yaitu tidak dapat menghemat waktu
-    sangat bergantung terhadap kesediaan kedua belah pihak
-    menuntut penguasaan bahasa dari pihak pewawancara

4.)    Angket
Angket (kuesioner) merupakan alat pengumpul data melalui komunikasi tidak langsuang, yaitu melalui tulisan. Angket ini berisi daftar pertanyaan yang bertujuan untuk mengumpulkan keterangan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan responden.
Beberapa petunjuk untuk menyusun angket:
-    gunakan kata-kata yang tidak mempunyai arti lengkap
-    susun kalimat sederhana tapi jelas
-    hindari kata-kata yang sulit dipahami
-    pertanyaan jangan bersifat memaksa untuk dijawab
-    hindarkan kata-kata yang negatif dan menyinggung perasaan responden
.
4.)   Autobiografi
Yaitu sebuah karangan pribadi seseorang (siswa) yang murni hasil dirinya sendiri tanpa dimasuki pikiran dari orang lain, ini lebih menjurus tentang pengalaman hidup, cita-cita dan lain sebgainya.
Autobiografi bagi guru bertujuan untuk mengetahui keadaan murid yang berhubungan dengan minat, cita-cita, sikap terhadap keluarga, guru atau sekolah dan pengalaman hidupnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata