29 Apr 2014

Warung Pojok MuFe El-Bageloka; Refleksi Pendidikan nan Usil

Oleh MuFe El-Bageloka
*Pendahuluan

Warung pojok ini hanya komentar usil tentang dunia pendidikan yang terkadang semerawut dan terkadang tertata juga, tapi ini sebagai wacana untuk kita belajar bersama. Yakni bagaimana cara membangun pendidikan Indonesa agar lebih maju lagi. Untuk  itu silahkan anda mojok di sini, Okeeeeee

*FENOMENA KOMERSIALISASI PENDIDIKAN

Adanya fenomena Bimbingan Belajar (BIMBEL) untuk masuk perguruan tinggi menandakan ada komersialisasi dalam dunia pendidikan, dengan jaminan pasti lolos, sedangkan kalau tidak
lolos uang hanya dikembalikan 15%. Menurut saya ini adalah upaya pembodohan secara sistematis yang mana para peserta didik hanya menerima ikan yang sudah jadi yakni berupa soal-soal yang mirip dengan ujian seleksi. Hal ini serupa dengan Direktur Pendidikan Karakter Education Consulting, Doni Koesoema "Kebocoran soal sering terjadi ini mengindikasikan penurunan kualitas Pendidikan" (Kompas, 28/4 2014)
Secara tidak langsung ini menghilangkan karakter peserta didik dalam menuntut ilmu karena tinggal terima beres. Pertanyaannya, bagaimana nasib si miskin dengan adanya fenomena komersialisasi pendidikan, seolah-olah masyarakat tidak percaya pada hasil pembelajaran di Sekolah. Terus bagaimana dengan orang miskin yang tinggal di pelosok, bolehkah mereka mendapatkan pendidikan yang bermutu?, kalau begini terus kapan kecerdasan anak bangsa merata
Perlu pendidikan gratis kaleeeeee,,,,,,

Malang, 28 Apr. 2014
*Kekerasan dalam Pendidikan
Akhri-akhir ini kriminalitas, kekerasan dan pelecehan seksual bukan barang baru dalam dunia pendidikan, seperti kasus yang terjadi yang terjadi di STIP Jakarta, yang mana salah satu peserta didiknya meninggal dunia yakni Dimas Dikita Handoko, katanya ia dianggap tidak hormat oleh seniornya (Kompas, 29 April. 2014). Selain itu, ada juga kasus pembunuhan seorang kekasih pada kekasihnya sendiri, karena ia diminta pertanggung jawaban atas perbuatannya.
Melihat fenomena degradasi moral yang menimpa pendidikan Indonesia sudah menandakan kalau pendidikan bangsa ini, baik kurikulum, metodologi pembelajaran, dunia kampus belum bisa membentuk karakter peserta didik (taruna) untuk menjadi agen of change, secara tidak langsung ini mengancam masa depan bangsa Indonesia itu sendiri, seperti pendapat Doni Koesoema,
 "Kasus kejahatan seksual di JIS dan meninggalnya mahasiswa STIP adalah fakta terbaru betapa kekerasan dalam pendidikan senantiasa mengancam masa depan dan kehidupan anak-anak kita," ujar Doni Koesoema dari Dewan Pertimbangan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), saat jumpa pers di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Selasa (Kompas, 29/4/2014).
Artinya di sini adalah Pendidikan Indonesia harus lebih memperhatikan tingkat perkembangan peserta didik dari berbagai aspek seperti akal, jiwa dan badan. Dan ini harus selaras dan perlu evaluasi pendidikan.

Sepertinya Pendidikan Indonesia hanya mampu mencetak karakter peserta didik yang bermental petinju, BUKAN CENDIKIAWAN ATAUPUN SAINTIS
Malang, 30 Apr. 2014

*Rendahnya Minat Baca Generasi Muda Bangsa Indonesia
 Masalah klasik yang terjadi di Indonesia adalah rendahnya minat baca. Minat baca yang rendah khususnya di kalangan pelajar, bisa berdampak pada buruknya terhadap kualitas pendidikan di Indonesia. Rendahnya kualitas pendidikan berimplikasi pada minimnya kemampuan SDM dalam mengelola masa depan. Minat baca yang rendah ini salah satunya dipengaruhi minimnya kulaitas falisilitas pendukung, misalnya perpustakaan di sekolah (Kompas, 29 April. 2014)
Terkait dengan minat baca sebenarnya Islam telah menyuruh kita untuk belajar, yakni salah satunya dengan MEMBACA. Ini sesuai dengan firman Allah SWT "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmulah yang maha mulia. Yang mengajarkan kamu dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS. Al-'Alaq [96]: 1-5).
Secara gamblang surat ini mengajarkan kepada manusia untuk membaca entah itu tekstual ataupun kontekstual (tadabur alam) karena dengan membaca dapat menambah khazanah keilmuan kita. Selain membaca, metodologi belajar yang diajarkan dalam Islam yakni mendengar, menulis dan mengamalkan apa yang kita baca dan kita tahu.
Saya tidak heran jika minat baca di Indonesa itu rendah, karena generasi kita sudah gandrung dengan budaya MENONTON. Ini sudah dibuktikan dengan kurang pedulinya pemerintah dengan pendidikan, yakni mereka lebih sibuk mencari koalisi dari pada mensejahterakan para peserta didik, seharusnya mereka diberi buku gratis untuk merangsang minat baca atau diadakan PELATIHAN MEMBACA ASYIK.

Seharusnya pemerintah mendirikan warung baca di pinggir jalan atau membaca sambil menonton, yakni tulisan itu dibuat animasi dalam bentuk film atau video
Malang, 7 Mei 2014
 

*Pendidikan Multidimensi
Menurut filsuf Sudiarja, Romo Mangun mencita-citakan pendidikan yang komperehensif dan multidimensi. Dalam versi Mangunwijaya, pendidikan harus membebaskan peserta dan menolak nilai-nilai lama yang tidak lagi relevan. Hubungan guru-murid juga mesti diubah menjadi lebih cair dan penuh rasa kekeluargaan, (Kompas, 8 Mei 2014)
Dalam konteks ini Romo Mangun menginginkan kurikulum pendidikan Indonesia mencakup semua aspek, diantaranya aspek sosial, Religiositas, histori dan yang paling penting pendidikan itu membangun karkater anak bangsa. Sebagai contoh pertama, religiositas yang harus diberdayakan, yakni kesadaran tentang hubungan manusia dengan tuhan atau hubungan secara vertikal (Hablumminallah). Kedua, aspek historis, pemeliharaan museum-museum karena ini merupakan tempat wisata belajar bagi pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum. Melalui museum masyarakat bisa mengambil pelajaran dari masa lalu untuk bekal masa depan.
Kayaknya pendidikan Indonesia perlu dimuseumkan agar menteri pendidikan berkaca terlebih dahulu dalam menjalankan programnya.
Malang, 8 Mei 2014
*Bibit Korupsi, Kecurangan dan Keputusasaan di Ujian Nakal
Sunnah bukan hal baru lagi dalam Ujian Nasional di Pendidikan Indonesia terjadi, ketidakjujuran bahkan yang paling tragis siswa/siswi berada dalam tekanan sehingga tidak heran jika mereka mengakhirkan hidupnya dengan bunuh diri. Pelaksanaan UN dari tahun ke tahun tidak pernah berubah yakni tetap terjadi kebocoran soal dan kecurangan dalam pelaksanaannya, yakni mengasih tahu jawaban para peserta didik.
Masih kecil saja sudah dididik untuk berbuat curang, bagaimana mau membentuk pendidikan karakter kalau sejak dini saja sudah diajarkan sikap seperti ini. Mungkin moto pendidikan yang untuk diterapkan di Indonesia "Berbuat curang itu sunnah"
Malang, 8 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata