7 Mei 2014

Kajian Orientalisme terhadap Al-Quran



Oleh MuFe El-Bageloka[1]

A.    Pendahuluan
Beberapa tahun terakhir ini umat Islam dihujani buku-buku provokatif mengenai al-Quran. Tidak salah dan patut diapresiasi. Namun perlu juga dicermati beberapa buku yang beredar bukan mencerahkan dan menyegarkan melainkan, semakin mengeruhkan dan mengaburkan perkara-perkara yang pokok dalam tradisi intelektual islam.
Karya-karya tersebut merupakan ladang subur untuk menyempitkan Islam yang dipelopori kelompok-kelompok yang tidak senang dengan Islam dan kemajuan yang pernah diraih dan akan diraihnya. Salah satu kelompok tersebut adalah orientalisme pemahaman ini dibentuk dengan tujuan mempelajari dunia timur yang mayoritas dihuni oleh masyarakat Islam untuk kemudian dijajah dalam berbagai aspek.

B.    Pengertian Orientalisme
Orientalisme berasal dari kata ‘orient’ yang berarti timur dan secara etimologis berarti bangsa-bangsa yang ada di timur serta secara geografis bermakna hal-hal yang bersifat ketimuran. Sedangkan secara terminologi adalah sebagai suatu cara atau metode yang digunakan untuk memahami dunia timur atau gaya berfikir yang dipakai berlandaskan pada pembedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara Timur dan Barat.
Orientalisme adalah suatu gerakan yang timbul di zaman modern, pada lahirnya bersifat ilmiah, yang meneliti dan memperdalam masalah ketimuran dengan motif memalingkan masyarakat Timur dari kebudayaan timurnya.
Intinya adalah sebuah studi atau kajian yang digunakan oleh Barat atas dunia Timur yang membahas Islam dan kaum muslimin secara umum, di bidang akidah, sosial, politik, syari’ah, pemikiran dan seni.

C.    Tujuan-Tujuan Orientalisme
Tujuan utama mereka antara lain;
1)    Tujuan agama; karena kedengkiannya inilah Kristen berusaha menjelek-jelekkan Islam agar tidak di dekati oleh orang Kristen dan orang Islam menjauh dari agamanya sendiri.
2)    Tujuan ilmiah; sebagai asas inspirasi atas kebangkitannya pada abad ke-16, yakni dengan mengkaji penemuan-penemuan ilmiah yang telah ditemukan pemikir-pemikir Islam dalam berbagai bidang pengetahuan.
3)    Tujuan ekonomi; pada saat eropa mengalami kebangkitan ilmiah, pemikiran dan industri mereka membutuhkan bahan-bahan mentah untuk industrinya dan sekaligus membutuhkan pasar-pasar baru untuk menjual produksinya yang melimpah.
4)    Tujuan politik; orientalisme adalah pelayanan imperialisme. Para orientalis memasok berbagai informasi kepada para penjajah berupa informasi keagamaan, bahasa, politik, ekonomi, sejarah, budaya, kekayaan alam dan lain sebagainya dari daerah yang hendak dijajahnya.
5)    Tujuan budaya; penyebaran budaya Barat merupakan salah satu tujuan utama orientalisme.

D.    Orientalisme dalam Kajian Al-Quran
Dalam buku The Major Themes of the Quran disebutkan tiga tipe karya orientalis tentang al-Quran. Pertama, karya-karya yang ingin membuktikan keterpengaruhan al-Quran oleh tradisi Yahudi dan Kristen. Kedua, karya-karya yang ingin mencoba untuk membuat rangkaian kronologis dari ayat al-Quran. Ketiga, karya-karya yang bertujuan untuk menjelaskan keseluruhan atau aspek-aspek yang tertentu saja di dalam al-Quran. Seperti pendapat John Wansbrough sebagai tokohnya banyak menggunakan berbagai pendekatan dalam menyatakan bahwa al-Quran tidak lebih dari kitab biasa yang tidak perlu dianggap suci.
Dalam menganalisis ayat-ayat al-Quran, John Wansbrough berkesimpulan bahwa ada keterpengaruhan Yahudi-Kristen, perpaduan antara tradisi dan al-Quran sebagai penciptaan post-profetik. Secara umum karya John Wansbrough memberikan kritik tajam atas kenabian Muhammad dan al-Quran. Kenabiannya dianggap imitasi (tiruan) dari kenabian Nabi Musa AS, yang dikembangkan secara teologis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Arab. Al-Quran menurut John Wansbrough bukan sumber biografis Muhammad, melainkan sebagai konsep yang disusun sebagai teologi Islam tentang kenabian.
Menurut Wansbrough al-Quran sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW merupakan kepanjangan dari kitab Taurat. Salah satu buktinya adalah pengambilan istilah syaitan. Akan tetapi, menurutnya isi-isi al-Quran kemudian dinaikkan derajatnya oleh umat Islam menjadi kitab suci yang bernilai mutlak. Dalam merujuk QS. Ash-Shaffat, John Wansbrough memberi arti kata al-kitab/kitabullah yang ada di dalam al-Quran dengan ketetapan, otoritas bukan sebagai kitab suci.
Adapun mengenai perjalanan Isra Nabi Muhammad yang disebutkan dalam al-Quran, John Wansbrough mengungkapkan bahwa informasi dalam al-Quran adalah tidak benar, karena di dalam al-Quran adalah tidak benar, karena di dalam QS. Al-Isra: 1 merupakan perjalan Nabi Musa dan dimodifikasi oleh penulis al-Quran, ini menunjukkan adanya tambahan hingga seolah-olah Muhammad sendiri yang melakukan perjalan malam.
Pendekatan yang dilakukan oleh Wansbrough lebih jauh diungkap Rippin adalah skeptisisme, ketika menjawab pertanyaan yang diajukan mengenai ketidakpercayaan atas sumber-sumber Islam. Pendekatan histories dalam keislaman menimbulkan nilai yang berbeda tergantung bidang apa yang dikaji. Metode ini memiliki kelemahan dimana menampakkan sisi bidang apa yang dikaji. Metode ini memiliki kelemahan dimana menampakkan sisi luar dari fenomena keagamaan yang dikaji dan tidak mampu mengungkapkan makna yang esensial dan subtansial. Kekurangan tersebut sering juga didukung oleh ketidaktersediaannya sumber kajian yang lengkap dan sumber yang salah.
Pendapat dari Wansbrough dikritik oleh Watt dengan mengatakan bahwa asumsi yang dilakukan adalah meragukan walaupun kajiannya dilakukan secara ilmiah. Penyanggah lain adalah Bucaille, ia menyetarakan Bibel dengan Hadist. Sedangkan al-Quran tidak dapat disangkal keotentikannya dan telah ada ditulis sejak zaman nabi Muhammad saw. Dan dikumpulkan oleh sahabat-sahabat pada masa nabi hidup. Fazlur Rahman mengungkapkan untuk mendapat latar belakang historis harus dicari dalam tradisi arab sendiri bukan pada tradisi Yahudi dan Kristen, setelah sebelumnya menyatakan bahwa all religions are in history. Daru hal ini tampak bahwa al-Quran tetap transenden, tapi disesuaikan dengan masyarakat waktu itu.

E.    Tanggapan-Tanggapan mengenai Orientalisme
Kemunculan orientalisme yang melakukan penyelidikan dunia timur dilatar belakangi oleh tiga hal yaitu; pertama, seorang orientali adalah orang yang mengajarkan menulis, membaca dan meneliti tentang Timur, artinya orientalis yang lebih tahu (dalam pandangan penulis mereka bersifat angkuh). Kedua, orientalisme merupakan gaya berfikir yang mendasarkan pada pembedaan ontologis dan epistimologis yang dibuat antara Timur dan Barat. Ketiga orientalisme merupakan institusi yang berbadan hukum yang dapat dianalisis untuk menghadapi dunia Timur dan sekaligus menguasainya. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa orientalisme adalah cara Barat untuk mendominasi, membangun kembali sesuai keinginan Barat dan menguasai semua yang ada di Timur. Watak asli orientalis dalam meneliti Islam adalah kebencian berbalut kekaguman.
Tanggapan mengenai orientalisme yang muncul di kalangan Islam dibedakan menjadi dua bagian yakni yang menolak dan menerima. Kalangan yang menolak dikarenakan pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh orientalisme, antara lain; akidah berupa lahirnya generasi sekuler, baik dikalangan intelektual, pemerintah, militer maupun orang awam di dunia Islam. Mereka menjadi satu arus dan tren yang meneriakkan pemisahan agama dari kehidupan. Kedua pengaruh sosial; mereka berusaha mencari faktor yang dapat merusak soliditas masyarakat muslim. Contohnya terancamnya keutuhan keluarga, karena kaum orientalis menaruh perhatian besar pada ide-ide gender dan feminisme yang membodohi sekaligus memprovokasi kaum muslimah untuk memberontak terhadap hukum-hukum Islam tentang pengaturan keluarga (misalnya ketaatan pada suami, nafkah dah hak cerai). Ketiga pengaruh politik-ekonomi; mempropagandakan sistem demokrasi dan dikatakannya sebagai sistem paling ideal untuk umat manusia dan menjelek-jelekkan sistem khilafah. Keempat, budaya pemikiran. Mengalihkan pemikiran orang Islam agar jangan selalu bersandar pada al-Quran dan Sunnah (Hadist) serta tuntunan dari para ulama salaf.
Kelompok kedua, menerima pemikiran orientalisme. Artinya karya para orientalis harus ditolak dan dianggap tidak berguna, sebab diantara mereka ada yang bersifat jujur (fair-minded orientalist). Dan jika mereka mendeskreditkan Islam tanpa menukil sumber yang jelas berarti para orientalis sudah keluar dari etika akademik dan keilmuan yang diakui secara universal yang tujuannya tidak lain adalah mendeskreditkan Islam.

F.    Kesimpulan
Berdasarkan kajian di atas penulis menyimpulkan, diantaranya;
•    Orientalisme adalah sebuah kajian yang dilakukan Barat terhadap Timur khususnya Islam
•    Ada tiga tipe kajian orientalis terhadap Islam;
a.    Karya-karya yangg ingin membuktikan keterpengaruhan al-Quran oleh tradisi Yahudi dan Kristen
b.    Karya-karya yang ingin mencoba untuk membuat rangkaian kronologis dari ayat-ayat al-Quran
c.    Karya-karya yang bertujuan untuk menjelaskan keseluruhan atau aspek-aspek yang tertentu saja di dalam ajaran al-Quran.
•    Orientalisme pada hakikatnya adalah tidak lebih dari alat penjajah bangsa-bangsa Barat atas bangsa-bangsa Timur khususnya Islam.

[1] Nama pena dari M. Feri Firmansyah S.PdI, bercita-cita menjadi Prof. Dr. M. Feri Firmansyah M.PdI & King of Novelis (Sastrawan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata