7 Mei 2014

PENDEKATAN INQUIRI

 A.    Pengertian
Inquiri berasal dari bahasa Inggris yaitu “Inquiry” yang berarti penyelidikan. Menurut Piaget inquri adalah metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari jawaban sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain.

Strategi pembelajaran ini adalah strategi yang menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Dimana seorang guru tidak memberikan materi pelajaran secara langsung kepada siswa, dengan cara demikian diharapkan seorang siswa mampu berperan untuk mencari dan menemukan sendiri materi yang dipelajari.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran inquiri adalah  suati rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
pendekatan inquiri ini menganggap bahwa siswa sebagai subyek dan obyek dalam belajar yang mempunyai kemampuan-kemampuan dasar dalam berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Maka dalam menggunakan pendekatan ini proses pembelajaran yang diberikan harus dipandang sebagai stimulus yang dapat menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar. Pada pendekatan ini peranan guru/pendidik lebih banyak menempatkan diri sebagai pembimbing atau pemimpin belajar serta fasilator belajar. Dengan demikian siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan permasalahan dengan bimbingan guru.
Menurut Sund and Trown (1973) pendekatan inquiri ada 3 macam:
1.    Inquiri terpimpin (Guide Inquiry); peserta didik memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan. Pedoman-pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang membimbing. Pendekatan ini digunakan terutama bagi para peserta didik yang belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inquiri, dalam hal ini guru memberikan bimbingan dan pengarahan yang cukup luas. Pada tahap awal bimbingan lebih banyak diberikan akan tetapi lama kelamaan sedikit demi sedikit dapat dikurangi sesuai dengan perkembangan peserta didik.
2.    Inquiri bebas (Free Inquiry); peserta didik melalukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuan. Pada pengajaran ini peserta didik harus dapat mengidentifikasi dan merumuskan berbagai topik permasalahan yang hendak diselidiki.
3.    Inquiri bebas yang dimodifikasi (Modified Free Inquiry); guru memberikan permasalahan dan kemudian peserta didik diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pengamatan, eksplorasi dan prosedur penelitian.
B.    Konsep Dasar
Pendekatan inquiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analistis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berfikir ini sendiri biasanya diperoleh melalui diskusi atau tanya jawab antara siswa dengan guru.
Pendekatan inquiri berangkat dari asumsi bahwa manusia lahir ke dunia telah memiliki potensi atau dorongan untuk menemukan sendiri. Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui indra pengecapan, pendengaran, pengelihatan dan indra-indra lainnya. Hingga manusia itu dewasa keingintahuan mereka pun secara terus menerus berkembang dengan menggunakan otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan berkembang manakala didasari oleh keingintahuan. Dari dasar inilah strategi inquiri dikembangakan.
Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama strategi pembelajaran inquiry:
•    Strategi inquiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inquiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya berperan sebagai penerima tetapi juga mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran.
•    Seluruh aktivitas yang dilakukan oleh siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat menumbuhkan sikap percaya diri siswa. Aktivitas belajar biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa, oleh sebab itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama untuk melakukan inquiri.
C.    Prinsip-prinsip Penggunaan Pendekatan Inquiri
Pendekatan inquiri merupakan strategi yang menekankan pada pengembangan intelektual anak. Pengembangan itu menurut Piaget dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu:  Pertama, maturation atau kematangan adalah proses perubahan fisiologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, otak dan pertumbuhan sistem saraf. Pertumbuhan otak merupakan salah satu aspek yang snagat berpengarug terhadap kemampuan berfikir anak. Kedua, Phyisical experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda disekitarnya. Ketiga, Social experience adalah aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain. Melalui pengembangan sosial anak tidak hanya dituntut untuk mempertimbangkan dan mendengarkan pandangan orang lain tetapi juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada aturannya sendiri. Keempat, iquilibratio yaitu proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya.
D.    Langkah-Langkah Pendekatan Inquiri.
Secara umum pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inquiri dapat mengikuti langkah-langkah seabgai berikut :
1.    Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Dalam melaksanakan langkah ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh seorang guru :
a.    Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa
b.    Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inquiri serta tujuan setiap langkahnya
c.    Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar, hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa
2.    Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki tersebut. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah yang dikaji adalah masalah yang membutuhkan jawaban. Dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang sesuai. Dalam merumuskan masalah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a.    Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa, karena dengan hal demikian siswa akan memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala mereka dilibatkan dalam merumuskan masalah yang hendak dikaji. Pada masalah ini guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari
b.    Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada. Tinggal siswa mencari dan mendapatkan jawaban yang secara pasti
c.    Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa, artinya sebelum siswa diminta untuk mengkaji masalah tersebut lebih jauh maka terlebih dahulu seorang guru harus mengetahui bahwa dalam masalah tersebut siswa sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang sudah ada dalam rumusan masalah
3.    Mengajukan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari permasalahan yang dikaji, karena dia adalah jawaban sementara maka perlu diadakan pengujian untuk memastikan kebenaran hipotesis tersebut
4.    Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
5.    Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan hasil pengumpulan data. Yang terpenting dalam pengujian ini adalah sejauh mana jawaban tersebut dapat meyakinkan siswa atas hasil yang mereka temukan.
6.    Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Dalam melakukan penelitian biasanya siswa menemukan banyak data. Oleh sebab itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat seorang guru sebaiknya menunjukkan kepada siswa data yang relevan terhadap penelitian yang mereka lakukan.
E.    Syarat-Syarat Penggunaan Pendekatan Inquiri.
Dalam menggunakan pendekatan inquiri ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik diantaranya:
1.    Guru/pendidik harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada siswa (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa) serta harus sesuai dengan daya nalar siswa.
2.    Guru/pendidik harus terampil dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa dan mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
3.    Adanya sumber belajar dan fasilitas yang memadai.
4.    Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya dan berdiskusi
5.    Mampu memunculkan partisipasi siswa dalam setiap kegiatan belajar mengajar
6.    Guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa.

F.     Tujuan Metode Inquiri
•    Agar siswa tahu dan mentransfer pengetahuan kedalam situasi lain
•    Memperoleh keterampilan untuk memproses secara ilmiah (mengamati, mengumpulkan dan mengorganisasikan data, mengidentifikasi variabel, merumuskan, dan menguji hipotesis, serta mengambil kesimpulan).
•    Lebih berkembangnya daya kreativitas anak
•    Belajar secara mandiri
•    Perolehan sikap ilmiah terhadap ilmu pengetahuan yang menerimanya secara tentatif

G.    Keunggulan Pendekatan Inquiri
1.    Mendorong siswa untuk berfikir secara ilmiah dalam setiap pemecahan masalah yang dihadapi.
2.    Membantu peserta didik dalam menggunakan ingatan, dan transfer pengetahuan pada situasi proses pengajaran.
3.    Mendorong peserta didik untuk berfikir kreatif dan intuitif, serta mendorong peserta didik untuk bekerja atas dasar inisiatif sendiri.
4.    Situasi proses belajar mengajar akan menjadi hidup dan dinamis.
5.    Memberi kebebasab siswa untuk belajar secara mandiri
6.    Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu
7.    Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasikan dan mengakomodasikan informasi
8.    Siswa tidak hanya belajar tentang konsep-konsep dan prinsip-prinsip, tetapi juga belajar tentang pengarahan diri sendiri, tanggung jawab dan komunukasi sosial.

H.    Kekurangan Pendekatan Inquiri
1.    Memerlukan perencanaan yang teratur dan matang. Bagi pendidik yang telah terbiasa dengan cara tradisional, akan menjadi beban yang sangat berat.
2.     Pelaksanaan pengajaran melalui metode ini akan memakan waktu yang cukup panjang, apalagi proses pemecahan masalah itu memerlukan pembuktian secara ilmiah.
3. Proses jalannya inquiri akan menjadi terhambat, apabila peserta didik telah terbiasa dengan cara belajar yang hanya menerima materi dari guru tanpa kritik dan pasif terhadap apa yang diberikan oleh guru.
4.     Tidak semua pelajaran mengandung masalah. Akan tetapi justru memerlukan pengulangan dan penanaman nilai. Misalnya pada pengajaran agama, mengenai keimanan, ibadah dan akhlak.
5.     Pendekatan inquiri ini baru dilaksanakan pada tingkat SLTP, SMA daan untuk tingkat perguruan tinggi. Pada tingkat SD masih sulit untuk dilaksanakan. Sebab, pada tingkat tersebut anak didik belum mampu berfikir secara ilmiah.
6. Pelaksanaan memerlukan penyediaan berbagai sumber belajar dan fasilitas yang memadai yang tidak selalu mudad disediakan.


Daftar Pustaka

Mulyasa, E. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
NK, Roestiyah. 1985 . Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Sagala, Syaiful. 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
www.af-file.google.com (15-April-2012)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata