14 Mei 2014

Qadha dan Qodhar dalam Tinjaun Syariat dan Perspektif Sains

Oleh MuFe El-Bageloka

A. Pendahuluan
Pada tanggal 30 November 2009 di Rusunawa, saya pernah berdebat dengan teman-teman, dan statemen mereka "Mana yang benar jodoh ditakdirkan atau jodoh itu sebuah pilihan?". Pertanyaan ini dapat kita indikasikan berbagai macam paradigma muncul dalam masyarakat seolah-olah mereka mempertanyakan status dari Qadha dan Qadhar. Lebih parahnya lagi mengaitkan Qadha dan Qadhar dengan perbuatan manusia dan kerapkali timbul pertanyaan-pertanyaan kontroversial, antara lain;

  1. Jika segala sesuatu tergantung kehendak Allah, apakah manusia tidak mempunyai pilihan dalam melakukan sesuatu dalam kehidupannya?
  2. Jika segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah SWT dan sudah tertulis dalam Lauh Mahfuzh, lalu untuk apa manusia berusaha? Apa peran dari usaha itu?
  3. Jika Allah SWT menciptakan kita untuk beribadah, lalu kenapa Allah menciptakan perbuatan baik dan perbuatan buruk?
  4. Jika Allah SWT yang menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk pada siapa saja yang Dia kehendaki, lalu kenapa orang-orang itu tidak mendapat petunjuk?
Pertanyaan-pertanyaan ini berimplikasi terhadap kesalahan dalam memahami syariat Islam atau lebih tepatnya memahami takdir. Padahal kalau dikaitkan, antara takdir dengan perbuatan manusia mempunyai korelasi yang sangat kuat.

B. Tinjauan Qadha dan Qadhar dalam Syariat Islam
Takdir yang dimaksud oleh penulis adalah al-qadharu khairuhu wa syarruhu. Secara etimologis Qadhar adalah bentuk mashdar dari kata Qadha yang berarti kehendak atau ketetapan hukum. Dalam hal ini Qadha adalah kehendak/ketetapan hukum Allah SWT terhadap segala sesuatu. Menurut Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, kata al-qadar dengan huruf fathah pada huruf al artinya takdir Allah SWT untuk seluruh mahluk yang ada sesuai dengan ilmu, tuntunan dan hikmah-Nya.
Untuk lebih menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah, maka keimanan kita kepada takdir memiliki empat unsur, diantaranya;
  1. Ilmu; mengimani Allah SWT maha tahu tentang segala sesuatu, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya ataupun perbuatan hamba-Nya.
  2. Kitabah ialah mengimani bahwa Allah SWT telah mencatat di Lauh Mahfuzh apa yang terjadi sampai hari kiamat. Firman Allah SWT "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya, itu semua tertulis dalam sebuah kitab (lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Hajj: 70).
  3. Masyi'ah; menginmani bahwa seluruh yang ada tidak akan ada, kecuali dengan kehendak Allah SWT, baik yang berkaitan dengan perbuatan maupun yang berkaitan dengan yang lainnya. Tidak ada sesuatupun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya. Dan firman Allah "Kalau Allah mengkhendaki, maka Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadapmu, lalu pastilah mereka memerangimu.." (QS. An-Nisa: 90).
  4. Khalq; Mengimani bahwa Allah SWT adalah pencipta segala sesuatu. Firman Allah SWT "Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Hanya kepunyaan-Nya kunci-kunci (perbendaharaan) di langit dan di bumi.(QS. Az-Zumar: 62-63).
Keempat tingkatan tingkatan ini meliputi apa yang terjadi dari Allah sendiri dan apa yang terjadi dari mahluk sendiri. Maka segala apa yang dilakukan oleh mahluk berupa ucapan, perbuatan atau tindakan meninggalkan apa yang dilarangnya, adalah diketahui, dicatat, dikhendaki serta diciptakan oleh Allah SWT.

C. Qadha dan Qadhar dalam Perspektif Sains
Iman kepada takdir sebagaimana penulis kemukakan, tidak berarti menafikan manusia mempunyai kehendak dan kemampuan dalam berbagai perbuatan yang sifatnya ikhtiar, syara' dan kenyataan menunjukkan ketetapan itu sebagaimana perspektifnya kaum Qadhariah. Namun bukan berarti penulis menafikan kehendak Allah sebagaimana pemahaman kaum Jabariah. Allah sendiri telah menjelaskan tentang takdir yang mana takdir itu dalam ajaran Islam sesuai dengan logika dan akal manusia, hal ini dibuktikan dalam dua bukti nyata, yakni;
  • Secara syara' (tentang kehendak manusia);
Berikut ini frman Allah yang terkait "Maka barangsiapa yang mengkhendaki, niscaya Ia menempuh jalan kembali pada Rab-Nya".
"Maka datangilah tanah tempat kamu bercocok tanam itu sebagaimana saja kamu kehendaki (Al-Baqarah: 223).
"Allah tidak membenani seseorang melainkan dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala dari kebajikan yang dikerjakannya serta mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya" (QS. Al-Baqarah: 286)
  • Secara kenyataan
Manusia mengetahui dirinya mempunyai kehendak dan kemampuan yang menyebabkannya mengerjakan/ meninggalkan sesuatu manusia juga membedakan antara kemauan dan yang bukan kemauannya, kehendak serta kemampuan seseorang itu akan terjadi dengan masyiah (kehendak) serta qudrah (kemampuan) Allah SWT, seperti dalam firmannya;
"Bagi siapa diantara kamu yang menempuh jalan lurus. Dan kamu tidak menghendaki (manusia menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah Rabb semesta alam (At-Takwir: 28-29).
Dalil di atas menerangkan bahwa kalau seseorang bermaksiat kerana takdir atau karena kabanyakan manusia memiliki paradigma aneh "Mengapa anda tidak melakukan kemaksiatan, kan tidak ada bedanya maksiat dengan taat, karena anda tidak akan mengetahui dimana anda ditakdirkan Allah. Perlu diketahui hidayah itu akan kita dapatkan apabila kita mau mencari.
Dengan demikian tidak ada alasan untuk meninggalkan kewajiban untuk bermaksiat, kalaupun  dibuat alasan, maka jelas itu bertentangan dari beberapa segi;
  1. Intelektualitas; mengajarkan kepada kita untuk memilih dan memilah mana yang terbaik untuknya karena manusia punya akal dan fikiran. Allah SWT telah menyeru kepada manusia untuk memilih agama yang akan mereka, seperti firman Allah "Tidak ada paksaan dalam agama... (QS. Al-Baqarah: 256). Ini mengindikasikan kalau manusia menggunakan akalnya untuk memilih mana yang terbaik untuknya.
  2. Religiusitas; mengingkari takdir, yakni bermaksiat dengan alasan sudah ditentukan oleh takdir tanpa berusaha sesuai dengan syaraiat Islam sebagaimana penulis paparkan tadi.

D. Golongan-Golongan yang Mengingkari Takdir
Permasalahannya sekarang adalah adanya kelompok-kelompok tertentu yang salah dalam memahami takdir baik dalam aqidah maupun ucapan;
  • Golongan Jabaraiah;
Menurut perspektifnya bahwa manusia itu dipaksa oleh takdir dalam berbuat, tidak mempunyai kehendak dan kemauan. Untuk menjawab pendapat golongan ini, dapat dibantah dengan dua dalil, yakni syariat dan secara kenyataan;
*Secara syariat; bahwasanya Allah menetapkan seorang manusia memiliki iradah (keinginan) dan kehendak, dan Allah menyandarkan (mengaitkan) sebuah amalan kepada manusia yang melakukannya "Diantara kalian ada yang menghendaki dunia dan ada pula mengkhendaki akhriat (QS.)
*Bantahan secara realita (kenyataan); bahwasanya manusia mengetahui perbedaan antara perbuatan yang bersifat ikhtiar yang dilakukannya dengan kehendaknya, seperti makan, jual beli. Sementara satu sisi, ada yang terjadi di luar kehendaknya, seperti kaget, demam dll. Pada jenis perbuatan pertama manusia dapat memilih sesuai dengan kehendak. Sedangkan yang kedua, ia tidak dapat memilih dan tidak pula bisa menginginkan hal yang terjadi padanya.
  • Golongan Qadariah
 Mereka beranggapan bahwa manusia bebas berbuat menurut kemauannya dan tidak dipengaruhi oleh kehendak dan takdir Allah sama sekali. Maka bantahan terhadapa golongan qadariah,
*Bantahan Syariat;Bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu. Segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah SWT telah menjelaskan dalam al-Quran bahwa perbuatan hamba-hamba-Nya terjadi karena kehendak-Nya, (QS. Al-Baqarah: 253).
*Bantahan secara akal; bahwa alam semesta ini milik Allah SWT dan berada dalam kekuasaannya. Sementara manusia termasuk bagian alam semesa. Maka ia berada dalam kekuasaan-Nya. Dan manusia tidak mungkin bertindak sesuai dalam lingkup kekuasaan-Nya kecuali dengan seizin-Nya dan kehendak-Nya.

E. Kesimpulan
Dari pemaparan penulis, ini kesimpulannya;
  1. Manusia mempunyai keinginan, kehendak dan ikhtiar tetapi Allahlah yang lebih berkehendak
  2. Takdir itu ada yang dapat diubah dan ada yang tidak dapat diubah
  3. Manusia mempunayi akal, sehingga ia dapat memilih mana yang akan ditempuh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata