7 Mei 2014

Muhkam dan Mutasyabih serta Permasalahannya; Studi Ulumul Quran



Oleh MuFe El-Bageloka[1]

A.    Pendahuluan
Dalam al-Quran ada ayat-ayat yang bersifat umum dan bersifat samar-samar sehingga menimbulkan keraguan bagi yang membacanya dan ayat-ayat seperti ini menimbulkan ijtihad bagi para mujtahid untuk mengembalikan kepada makna yang jelas dan tegas.
Kelompok yang pertama, yang maksudnya sudah jelas itulah  yang disebut dengan muhkam. Sedangkan pada kelompok ayat kedua yang masih samar-samar disebut Mutasyabih. Untuk selanjutnya silahkan membaca sendiri.

B.    Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
Secara etimologi muhkam artinya suatu ungkapan yang maksud dan makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah. Muhkam diambil dari kata ihkam, artinya kekokohan, kesempurnaan. Bisa bermakna menolak dari kerusakan. Muhkam adalah ayat-ayat yang petunjuknya jelas dan tegas, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dan kekeliruan pemahaman. Mutasyabih adalah ungkapan yang maksud dan makna lahirnya samar, Mutasyabih diambil dari kata tasyabaha-yatasyabahu, artinya keserupaan dan kesamaan, terkadang menimbulkan kesamaran antara dua hal. Mutasyabih adalah ayat-ayat yang makna lahirnya bukanlah yang dimaksudnya.
Ada beberapa pendapat para ulama tentang pengertian muhkam dan mutasyabih secara terminologi, yaitu:
1)    Menurut ahlussunnah ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang, baik melalui takwil (metafora) atau tidak. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui Allah, misalnya tentang kedatangan hari kiamat, keluarnya dajjal dan huruf-huruf muqaththa’ah.
2)    Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya jelas, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya tidak jelas
3)    Ibnu ‘Abbas mendefinisikan ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi arti lain, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai sisi banyak arti.
4)    Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang dapat berdiri sendiri dalam pemaknaan sedangkan ayat-ayat mutasyabih bergantung pada ayat yang lain.
5)    Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui tanpa penakwilan, sedangkan ayat mutasyabih memerlukan penakwilan untuk mengetahui maksudnya.
6)    Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang berbicara tentang kefarduan, ancaman dan janji. Sedangkan mutasyabih adalah berbicara tentang kisah-kisah dan perumpamaan.
7)    Ibnu Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang menghapus (nasikh), berbicara tentang halal haram, ketentuan-ketentuan (hudud), kefarduan serta yang harus diimani dan diamalkan. Adapun ayat mutasyabih adalah ayat yang dihapus (mansukh), yang berbicara tentang perumpamaan-perumpamaan (amtsal), sumpah (aqsam) dan harus diimani, tetapi harus diamalkan.
8)    Muhkam ialah ayat yang jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungkinan nasakh.
9)    Mutasyabih ialah ayat yang tersembunyi (maknanya), tidak diketahui maknanya baik secara aqli maupun naqli, dan inilah ayat-ayat yang hanya Allah yang mengetahuinya, seperti datangnya kiamat, huruf-huruf yang terputus-putus di awal surat.

C.    Pandangan Para Ulama terhadap Ayat-Ayat Mutasyabih dan Ayat-Ayat Muhkam
Menurut Al-Zarqani, ayat-ayat Mutasyabih dapat dibagi 3 macam;
1)    Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat mengetahui maksudnya, seperti pengetahuan tentang dzat Allah dan hari kiamat, hal-hal ghaib, hakikat dan sifat-sifat Dzat Allah. Contoh QS. Al-An’am ayat 59, QS. Luqman ayat 34
2)    Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan pengkajian seperti ayat-ayat: Hutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutannya dan seumpamannya, contohnya surah An-Nisa ayat 3.
3)    Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukan semua Ulama. Maksud yang demikan adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati seseorang yang jernih jiwanya dan mujahid. Sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi dengan doanya bagi Ibnu Abbas “Ya Tuhannku, jadikanlah seseorang yang paham agama dan ajarkanlah kepada takwil”.
Mengenal ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah, pendapat ulama terbagi dua mazhab: (1) Mazhab salaf, yaitu mazhab yang mempunyai dan mengimani sifat-sifat Allah yang mutasyabih dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah. (2) Mazhab khalaf, yaitu ulama yang menakwilkan lafal yang maknya lahir mustahil kepada makna yang bagi zat Allah, contohnya mazhab ini mengartikan mata dengan pengawasan Allah, tangan diartikan kekuasaan Allah dan lain-lain.
Pada hakikatnya tidak ada pertentangan antara pendapat para ulama tersebut, permasalahannya hanya berkisar pada perbedaan dalam menakwilkannya. Secara teoritis pendapat ulama dapat dikompromikan dan secara praktis penerapan mazhab khalaf lebih dapat memenuhi tuntutan kebutuhan intelektual yang semakin hari semakin berkembang dan kritis. Dengan melihat kondisi obyektif intelektual masyarakat modern yang semakin berpfikir dewasa, maka mazhab khalaf atau mazhab takwil ini yang lebih ditepat diterapkan dalam menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat dengan mengikuti ketentuan takwil yang dikenal dengan ilmu tafsir. Contoh ayat-ayat yang berbicara sifat Allah diantaranya; (QS. Thaha: 5, QS. Al-Qashasash: 88, Ar-Rahman: 27, Al-Fath: 10, Al-Fajr: 22).

D.    Fawatih As-Suwar
Ialah pembukaan-pembukaan surat yang dimulai dengan potongan-potongan huruf yang ada umumnya terdapat pembukaan surah.
1)    Terdiri dari satu ayat; Surat Shad (38: 1), Surat Qaf (50: 1), Al-Qalam (68: 1).
2)    Teridiri atas dua huruf, diantaranya; Al-Mukmin (40: 1), Fushilat (41: 1), Asy-Syura (42: 1), Az-Zukhruf (43: 1), Ad-Dukhan (44: 1), Al-Jatsiyah (45: 1), Al-Ahqaf (46: 1), Thaha, An-Naml (27: 1), Yasin (36: 1).
3)    Terdiri dari tiga huruf, diantaranya; Al-Baqarah (2: 1), Ali Imran (3: 1), Al-Ankabut (29: 1), Ar-Rum (30: 1), Luqman, Surat As-Sajadah, Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, Al-Hijr, Asy-Syuara, Al-Qashasash
4)    Terdiri dari empat huruf, terdapat pada dua tempat; al-A’raf dan Ar-Ra’d
5)    Terdiri dari lima huruf, terdapat pada surat Maryam.
Pendapat para ulama tentang ayat ini
1)    Ulama memahami fawatih As-Suwar ini sebagai rahasia Allah dan hanya Dia yang mengetahuinya
2)    Menurut Az-Zamarkasi; merupakan nama surat, sumpah Allah, supaya menarik hati orang yang mendengarnya.
Adapun hikmah dari ayat-ayat muhkam dan mutasyabihat, antara lain;
•    Ayat-ayat mutasyabihat ini mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap maksudnya sehingga menambah pahala orang yang mengkajinya
•    Jika ayat-ayat al-Quran mengandung ayat mutasyabihat maka untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan tarjih antara satu dengan yang lainnya, hal ini memerlukan berbagai ilmu, seperti bahasa, gramatika, Ma’ni, ilmu bayan, ushul fiqh dan lain sebagainya.
•    Ayat ini merupakan cobaan bagi manusia apakah mereka percaya atau tidak tentang hal yang ghaib.
•    Ayat ini menjadi dalil atas kebodohan dan kelemahan manusia.
•    Ayat ini menguatkan tentang kemukjizatan dari al-Quran.

[1] Nama Pena dari M. Feri Firmansyah S.PdI, penulis bercita-cita menjadi Prof.Dr.M. Feri Firmansyah M.PdI & King of Novelis (sastrawan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata