31 Mei 2014

Lazuardi Putih

Oleh Uswatun Khasanah
Confuse, darat yang tak pernah sepi akan sebuah bangunan. Terisi berbagai insan dari tiap kalangan hidup. Menjelma Lazuardi putih yang terbaca oleh nafas segar subuh menjadi ramainya gelak tawa yang berkepanjangan. Dingin namun berkarakter, tiap yang tersentuh tak terhindar dari tawa yang tergelak. Tak terlihat akan kabut hitam menyelimuti tiap sudut matanya. Mencoba berdiri di tengah Badui, mencoba menopang raga yang semakin menggelayut. Namun terlihat dari seberang, sebuah raga yang terparing tanpa tergoyah. Tak pernah terlihat kecamuk hati yang begitu mengoyak dan menguras fikirannya. Jaring-jaring kehidupan memang tidaklah besar, namun bentuk-bentuk kepribadian kitalah yang harus memahami tiap-tiap rajutan yang terbentuk sebagaimana yang terlihat.
Terjelas dari tiap jari yang berjalan mengiringi tiap huruf yang terukir. Menjelajah tiap fikir yang bercabang mencari landasan. Gemuruk hidup yang bersua memekikkan tiap pandangan, menapaki satu persatu jalan yang tak beralas, tangga tinggi yang tak bertepi, buat diri harus menopang tiap percik api dan air yang beruas dalam satu hirup kesuksessan. Kapalpun tak berlayar begitu lamanya, menteri dan rembulan temani tiap sepinya. Berpandanglah pada suatu pulau yang ia tuju. Para elang pun kini mengepakkan sayapnya mengerti akan angin yang berhembus beirama. Si nahkoda menarik sebuah tali semangat hidup. Hingga kini sampailah bendera kesuksesan diujung tiang layarnya. Gigi gemertak, bukan pertanda amarah. Namun semangat berkobar membakarnya hingga terdengar suara lantang membela udara. Tertarik tiap sudut bibir di raut wajahnya, tampak sebuah kebahagiaan menghias tiap jaringan tubuhnya. Teriring hujan rintik dari tiap awan matanya. Tak menghitam kelabu, namun memerah pudar. Titik itupun kini sampai pada jari-jari lengahnya. Tertunduk, terisyarat dalam hatinya. ‘’Dialah yang berkehendak dan akulah akibatNya. Dia yang memutus dan menyambung tiap-tiap syaraf hidupku. Menjadikannya bervolume, hingga tak penat fikirku hilang. Menggelayutku di kolong langitMu. Berucap syukur akan takdirku. Kau memang raja dari segala raja. Terindah dari yang terindah. Syuqro Jazilan ‘alaikum Robby’’.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata