29 Mei 2014

Satu kata beda isi; Kritik Sastra

Kehilangan, semua orang pasti tidak ingin merasakan satu kata. Karena kata kehilangan merupakan kata-kata yang akan membuat hidup orang tersiksa. Bisa kita bayangkan dan rasakan ketika sesuatu yang sangat berharga dalam hidup ini tiba-tiba tidak kita rasakan lagi keberadaannya, sungguh tersiksa batin dan raga ini. Namun hal itu juga tidak bisa kita pungkiri dalam hidup ini, pasti semua orang pernah merasakan hal itu, terima atau tidak terima, semua orang pasti akan merasakan hal itu.

Begitu pula dengan yang dirasakan oleh Andre Hardjana dan Wing Kardjo. Dengan sebuah karya sastra, mereka mengungkapkan perasaan kehilangan yang terjadi pada dirinya. Di dalam karya sastra ini mereka menggambarkan betapa tersiksanya keadaan tokoh ketika kehilangan hal yang begitu berharga dan penting dalam hidupnya. Tergambar secara indah dengan beberapa pilihan kata yang sesuai dengan suasana batin yang sedang dirasakan oleh tokoh karya sastra ini. 
Hal itu bisa terbukti dengan pilihan kata yang dipilih oleh kedua penyair ini untuk menetapkan judul dari karya sastra yang mereka ciptakan. kita lihat judul karya sastra ini adalah “salju”. Kata salju cukup mewakili apa yang sebenarnya sedang dialami oleh tokoh dalam karya sastra ini. Kata salju sama-sama digunakan sebagai simbol yang menyatakan kesuraman, kesedihan, dan kebekuan yang menyelimuti.
Jika dilihat dari segi tema memang kedua karya ini bertemakan sama, yakni “kehilangan”. Namun tidak berhenti sampai disitu saja. Penulis juga menemukan perbedaan yang terdapat dala karya puisi ini yakni dilihat dari segi isinya. Kehilangan yang dirasakan oleh tokoh dalam karya sastra ini tidaklah sama. Terdapat perbedaan yang sangat mencolok dari kedua karya puisi ini jika dilihat dari segi isinya.
Andre Hardjana dengan judul karya puisinya “salju” mengungkapkan perasaan yang kehilangan yang sangat berharga dalam hidupnya, yakni seorang kekasih yang ia sayangi. Terlihat pada bait pertama Andre Hardjana menggambarkan sebuah kenangan dengan kata “batang-batang”. Kenangan yang pernah dirasakan bersama dengan kekasihnya semakin lama semakin hilang dan tidak dirasakan.
Bait kedua dan ketiga masih berkaitan dengan bait pertama, di sana digambarkan hari-hari yang biasa ia lalui bersama kekasihnya baik, duka dan suka kini telah menjadi sebuah kenangan dalam cerita cinta yang pernah ia rasakan. Namun di bait terahir Andre Hardjan mengungkapkan ketulusan cinta yang pernah diberikan hanya menjadi kenangan dalam hidup sang tokoh dengan diselimuti perasaan rindu. Hal itu terbukti dengan kata “putih rinduku putih cintaku adalah cinta dalam kenangan dan rindu.
Berbeda dengan Andre Hardjana, yang sebenarmya perasaan kehilangan yang dirasakan oleh Wing Kardjo adalah kehilangan akan rahmat dari Tuhan. Ia merasa tidak berdaya karena telah kehilangan rahmat dari Tuhan. Perasaan itu ia rasa karena telah melakukan banyak dosa. Dalam puisi ini juga tergambar kebingungan sang tokoh, hal itu terlihat pada setiap bait  diawali dengan kalimat pertanyaan yang menggambarkan kebingungan mencari sebuah petunjuk, salah satu contohnya pada bait pertama ada kalimat “kemanakah pergi”. Kalimat itu menunjukkan bahwa dia tidak lagi mendapat petunjuk untuk menjalani hidup. Ditengah-tengah kebingungan sang tokoh ada poin yang penting untuk dilakukan, ketika seorang merasakan apa yang dirasa oleh tokoh jalan taubatlah yang harus dilakukan.
Dari beberapa uraian di atas, kedua karya puisi ini mengandung tema yang sama yakni “kehilangan”. Pemilihan kata salju pada judul kedua karya satra ini cukup mewakili pa yang sebenarnya dirasakan oleh masing-masing tokoh. Hanya perbedaannya terletak  pada isi dari puisi ini. Andre Hardjana mengungkapkan kehilangan kekasih sedangkan Wing Kardjo kehilangan akan rahmat Tuhan.




Nama    : MOH. ANIS
Nim    : 09340119

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata