4 Mei 2014

PANGGILAN USTADZ

Oleh Sangadji EM

Kata-kata ustadz itu saya masih ingat ketika saya masih sekolah di Madrasah ibtidaiyah, kami lalu memanggil guru pria kami dengan ustadz dan guru wanita kami dengan nama ustadza. Atau ketika saya belajar ngaji di Musholla kampung lalu kami memanggil nama guru ngaji kami sebagai ustadz.
Sebuah panggilan penuh makna, karena akhlak mereka begtiu terpuji. Mereka mendapat honor mengajar apa adanya, atau bahkan tidak mendapatkan honor, mereka hanya menerima hadiah lebaran berupa kain sarung atau beras zakat selama setahun sekali, tapi sama sekali tidak mengurangi semangat mereka untuk mengajar.

Setiap kali kami berjumpa mereka kami mencium tangan mereka karena mereka pantas dihormati seperti itu. Mereka tidak pernah menpiu, tidak pernah berselingkuh, tidak pernah berbohong, tidak pernah memasang tarif ketika memberi pengajian. Kehadiran mereka begitu disegani walaupun dari segi ekonomi mereka bukan tergolong orang berada. itulah ustadzku di desa terpencil di di sebuah perkampungan Islam namanya kampung lamahala, di sebuah pulau kecil pulau Adonara, kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Di Flores timur ini banyak perkampungan Islam yang diberi nama Solor lima pantai, lima kampung besar Islam ini, menyebar di pulau Adonara dan pulau solor. Diperkampungan hanya ditempati penduduk yang beragama Islam, mereka yang tidak beragama Islam punya kampung tersendiri, namun semangat kekerabatan tetap terjalin baik. Islam di wilayah ini berasal dari nenek moyang kami dari Maluku Utara, sehingga banyak suku bangsa disini namanya mirip dengan nama suku di Maluku, seperti Sangadji, Hukum, Seram, Pati radja, Ratuloli dll. Islam masuk di wilayah ini sama dengan Islam masuk wilayah Aceh dan ternate. Dari perkampungan Islam ini banyak lahir para Pejuang Islam dan mubaligh termasuk Prof.Dr. Thohir Luth MA. Guru besar Hukum Islam Universitas Brawijaya Malang dan sekaligus Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

Kembali lagi ke topik Ustadz

Namun Istilah Ustadz sekarang begitu gampang dilekatkan kepada siapa saja. Ada orang yang memakai sorban haji atau kopiah putih dan berjenggot sedikit, yang berpraktek sebagai dukun saja, dipanggil sebagai ustadz, contoh kasus UGB. Atau istilah ustadz dilekatkan pada anak-anak muda yang mampu memberi pengajian di TV yang menurut saya kualitasnya biasa-biasa saja, tapi dengan tarif yang sangat mahal dan mereka hidup bak selebritis dan parlente yang mempunyai rumah mewah dan mobil yang mewah.

Pada hal mereka tau bahwa Rasulullah sangat membenci mereka yang membangun kemewahan ditengah umat yang miskin, sampai-sampai orang-orang seperti ini digolongkan Allah sebagai pendusta agama (lihat surat almaun). Bahwa mereka kaya silahkan tapi jangan terlalu pamer, sebab pamer itu sebuah unsur kesombongan, dan kesombongan itu bagian dari riya dan riya itu syirik kecil.

Mereka paham betul bunyi hadist nabi yang menyatakan "barang siapa di dalam hatinya ada unsur riya sebesar zarrahpun" maka dia tidak akan masuk surga. dan anehnya banyak itu golongan tertentu begitu gigih membela mereka, ketika ustadz-ustadz itu terlibat masalah hukum, sambil memakai sorban, kopiah putih ditangannya memegang tasbeh dan memekik kata-kata Allahu Akbar. Allahhu Akbar digunakan untuk membela yang salah. Sebuah proses pendegradasian makna ustdaz yang luar biasa.

Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata