11 Mei 2014

Santri dan Kyai Ikhlas

Oleh MuFe El-Bageloka

Di sebuah desa hidup seorang kyai yang sehari-harinya mengajar para santri yang belajar agama padanya. Kyai itu sangat ikhlas dan bersemangat dalam mengajarkan al-Quran dan pelajaran agama yang lainnya, ia teringat sebuah hadist “Sebaik-baiknya kalian yang mempelajari al-Quran kemudian mengajarkannya”. Di gubuk reotnya dia hidup sederhana bersama isterinya berbalut semangat dalam mengajar dan mendakwahkan syiar Islam.

Sore hari ketika Kyai itu sedang asyik membaca kitab Minhajul Muslim di beranda rumahnya yang ditemani oleh kicauan burung, suara alam serta angin sepoi-sepoi membelai rambutnya. Dari kejauhan dia melihat salah satu santrinya yang bernama Achmad membawa bungkusan dalam karung entah apa isinya. Begitu si Achmad itu berada dihadapan Kyainya, dia langsung menyalami hormat,
        “Assalamualaikum Buya”
“Waalaikumussalam warahamatullahi wabarakatuh, kamu bawa apa Mad?” Tanya Kyai itu heran
“Ini Buya, saya bawa jagung karena baru panen”
“Jazakallahu khairan katsira, sini saya bawa ke belakang ya nak”
“Ya Buya” Achmad sambil menunduk hormat
“Kamu tunggu di sini ya”
“Ya Buya”
Kyai itu langsung membawa karung yang berisi jagung itu ke dapur yang berada di belakang rumahnya. Kebetulan di situ ada isterinya,
        “Maa, apa yang ada buat kita hidangkan ke Achmad?”
        “Tidak ada apa apa Pak” Jawab Mbak Nyai
        “Beneran?” Pak Kyai heran
        “Ya cuma ada satu kambing di belakang”
        “Ya sudah, kambing itu dikasih ke Achmad ya”
        “Ya Paa”
Kyai itu langsung keluar dari dapur rumahnya dan menemui si Achmad, dalam hatinya berdoa kepada Allah “Ya Allah semoga amal kebaikanku Engkau terima”. Begitu tiba dihadapan si Achmad,
“Nak, saya tidak punya apa-apa, tapi tolong bawa kambing yang ada di belakang rumah ya
        “Terima kasih Buya” Acmad pamit dan mencium tangan Kyainya
Kemudian dia membawa kambing itu pulang ke rumahnya, di tengah jalan dia bertemu dengan Paino. Si Paino ini heran dan bertanya heran
        “Loh itukan kambingnya Buya, Mad?”
        “Tadi dikasih sama Buya ketika saya ngantar jagung satu karung”
Si Acmadpun berlalu dari hadapan Paino, dalam hati Paino berfikir “Achmad aja ngasih jagung dapat kambing, bagaimana kalau saya ngasih kambing mungkin dapat sapi, kalau gitu saya coba aja”. Si Paino langsung membawa kambing di kandang yang terletak di belakang rumahnya, bapak Paino ini heran melihat anaknya membawa kambing itu
        “Nak, kamu bawa kemana kambing itu?”
        “Lihat aja Pak ntar”
Ketika Paino tiba di rumah Kyai itu, dia salam hormat kemudian berkata
        “Buya, ini saya bawakan kambing untuk Buya”
“Terima kasih Nak, sini saya bawakan ke belakang ya, kamu tunggu di sini dulu” Seru Kyai pada Paino
“Ya Buya”
Dalam perjalanannya Kyai itu berfikir heran dan berkata dalam hatinya “Tadi saya sudah bersedakah kambing, sekarang malah kambing itu datang lagi, Alhamdulillah”. Kyai itu tersenyum sendiri. Setibanya di belakang rumah dia melihat isterinya yang sedang masak air
“Maa, apa yang bisa kita berikan pada Paino, tadi dia memberikan kita kambing”
“Gak ada apa-apa pak, yang ada cuma  sekarung jagung itu”
“Ya udah, kalau gitu, kita kasih aja jagung itu setengahnya saja ya”
Begitu keluar dia menemui Paino, “Nak, saya hanya punya jagung, mohon diterima dengan ikhlas ya”. Awalnya Paino hanya melongo tetapi akhirnya ia mengangguk juga “Ya Buya”. Dia langsung ke belakang diiringi dengan suara hatinya yang menggerutu “ADUH TADI SAYA KASIH KAMBING, KOK DAPAT JAGUNG CUMA SETENGAH KARUNG, KENAPA INI HARUS TERJADI”


NB:
1.    Cerita ini hanya fiktif belaka, sekedar menghibur
2.    Nama Asli dari penulis adalah M. Feri Firmansyah S.PdI
3.    Penulis bercita-cita ingin menjadi Prof.Dr. M. Feri Firmansyah M. PdI
4.    Dan King of Novelis (Sastrawan)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata