11 Apr 2014

Pendidikan Karakter Berlandaskan Shahih Bukhari dan Muslim

Oleh Ramedan


ABSTRAK

Wacana pendidikan karakter menjadi begitu santer di dunia pendidikan Indonesia. Hal ini, disebabkan degradasi moral yang menimpa kalangan dewasa maupun kalangan remaja kian marak. Seperti meningkatnya angka kekerasan pada anak-anak dan remaja setiap tahunnya, pemerkosaan, pencurian, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pornografi beserta kriminal-kriminal yang lain.

Persoalan karakter memang tidak sepenuhnya tanggung jawab lembaga pendidikan. Akan tetapi, adanya fakta-fakta seputar kemerosotan karakter yang terjadi saat ini mengindikasikan adanya kegagalan pada keluarga, institusi pendidikan dan masyarakat dalam menumbuhkan manusia Indonesia yang berkarakter atau berakhlak mulia. Kondisi dan fakta kemorosotan karakter yang terjadi saat ini menuntut para orangtua dan praktisi pendidikan harus saling bahu membahu memberikan perhatian dan menekankan pentingnya pendidikan karakter kepada para peserta didik baik secara teori maupun praktik (contoh). Namun yang terjadi pada saat ini, para peserta didik saat ini tidak memiliki figur yang patut dijadikan contoh (tauladan, idola) bagi mereka, sehingga tidak heran jika yang ditiru hanya para artis yang menjadi idola mereka. Padahal Islam telah memberikan umatnya suri tauladan yang terbaik di bumi yakni Nabi Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik…”. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode library research. Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti menggunakan pendekatan kualitatif yaitu jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara kuantifikasi lainnya.
Hasil penelitian ditemukan bahwa karakter nabi Muhammad SAW yang terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim antara lain; Rendah hati (tawadhu), sabar, memuliakan tamu, ceria, pemberani, jujur, murah hati, lemah lembut, amanah, malu, zuhud, menjaga kehormatan diri, pekerja keras, pemaaf, kasih, kasih sayang, bergaul dengan baik, menepati janji dan cinta perdamaian.
Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Shahih Bukhari  dan Muslim, Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an

A.     PENDAHULUAN
Bangunan agama Islam tidak lepas dari empat pondasi yang saling berkaitan erat satu dengan yang lainnya yaitu, aqidah, ibadah, mu’amalat dan akhlak (Yusuf Al-Qaardhawi, 1997: 101). Boleh jadi pengakhiran akhlak atau karakter akan memberikan asumsi salah bahwa ia adalah pondasi terakhir yang diperhatikan Islam, padahal sebenarnya kalau  Islam dikaji secara mendalam  melalui firman Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi-Nya, maka dalam tingkat substansi esensialnya merupakan risalah akhlak dengan segala pengertian yang dikandungnya secara menyeluruh.
Membicarakan akhlak atau karakter merupakan hal yang sangat penting dan mendasar. Karakter merupakan mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang. Manusia tanpa karakter adalah manusia yang sudah “membinatang”. Orang-orang yang berkarakter kuat dan baik secara individual maupun sosial adalah mereka yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik. Mengingat begitu urgennya karakter, maka institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkannya melalui proses pembelajaran
Persoalan karakter memang tidak sepenuhnya terabaikan oleh lembaga pendidikan. Akan tetapi, dengan fakta-fakta seputar kemerosotan karakter terjadi saat ini menunjukkan ada kegagalan pada institusi pendidikan, masyarakat dan lingkungan keluarga dalam menumbuhkan manusia Indonesia yang berkarakter atau berakhlak mulia. Kondisi dan fakta kemerosotan karakter yang terjadi menuntut para orangtua dan praktisi pendidikan harus saling bahu membahu memberikan  perhatian dan menekankan pentingnya pendidikan karakter pada para peserta didik dengan memberikan contoh yang baik seara kongkrit, sehingga pepatah yang mengatakan “Guru kencing berdiri murid kencing berlari” (Mandaru, 2005: 27) tidak akan terjadi.

Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam membangun generasi yang berperadaban dan berakhlak tidak hanya diakui oleh kaum muslimin, bahkan oleh orang-orang non-muslim diantaranya Michael Hart, dalam bukunya 100 tokoh yang paling berpengaruh di Dunia, Michael Hart menempatkan Muhammad sebagai tokoh nomor satu yang paling berpengaruh di Dunia (Hart, 1982:2). Oleh karena itu Muhammad tidak saja seorang Nabi dan Rasul melainkan juga seorang guru agung (Untung, 2005:52)
Rasulullah SAW memberikan keteladan langsung yang bisa disaksikan oleh para Sahabatnya, inilah yang menjadi faktor penting keberhasilan Beliau, Aisyah istri termuda Beliau pernah ditanya oleh sahabat Said Bin Hisyam tentang akhlak Rasulullah SAW. Aisyah menjawab bahwa akhlak Beliau adalah Al-Qur’an (Al-Ghazali, 1995: 148) sehingga dalam al-Qur’an sendiri Allah SWT. menegaskan dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Qs. Al-Qalam/68: 04).
Untuk mengetahui lebih jauh tentang nilai-nilai karakter pribadi Nabi Muhammad SAW. tentu kita harus mengkaji sirah nabawiyah dan juga  hadits-hadits beliau baik berupa ucapan, perbuatan, taqriri maupun sifat khulqiyah dan khuluqiyah selama hidupnya. Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW. sekarang sudah terkumpul dalam kitab-kitab Hadits yang dikenal dengan sebutan Kutubu As-Sittah atau Kutubu At-Tis’ah, seperti kitab Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Ad-Darimi dan masih ada yang lainnya yang memudahkan generasi berikutnya untuk meniti sunnahnya.
Berdasarkan fenomena-fenomena di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji masalah pendidikan karakter dalam Hadist dengan judul “Karakter Nabi Muhammad SAW dalam Shahih Bukhari dan Muslim ”.

B.    RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan peneliti jawab dalam penelitian ini adalah: Bagaimanakah pendidikan berdasarkan sifat Nabi Muhammad SAW dalam kitab Bukhari dan Muslim?



C.    METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau dengan cara kuantifikasi lainnya (Sukidin, 2002: 2). Sedangkan, metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian studi pustaka (Library Research),   yakni menelusuri literatur yang ada serta menelaahnya secara tekun (Nazir, 2005: 93). Dengan demikian, peneliti akan berusaha mengungkap data-data yang terdapat dalam pelbagai literatur untuk dijadikan rujukan dalam penelitian ini.
Teknik  analisis data yang digunakan dalam   penelitian ini adalah deskriptif, yaitu metode penelitian yang menggambarkan dan menginterpretasikan objek atau data sesuai apa adanya tetapi dapat mengembangkan generalisasi dari teori yang memiliki validitas universal (Sukardi, 2004: 157).
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi, yaitu suatu teknik penelitian untuk menguraikan isi komunikasi yang jelas secara objektif, sistematis dan kuantitatif atau teknik penelitian yang ditujukan untuk membuat kesimpulan dengan cara mengidentifikasikan karakteristik tertentu pada pesan-pesan secara sistematis dan objektif (Stefan Titscher. 2009: 97). Analisis isi bukan sekedar merupakan persoalan isi teks yang komunikatif, melain juga bentuk (linguistik)nya. Oleh karena itu, analisis isi adalah lebih mengenai sebuah strategi penelitian dari pada sekedar sebuah metode analisis teks tunggal (Stefan Titscher. 2009: 97).
Prof. Dr. Burhan Bungin, S. Sos, M. Si mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Penelitian Kualitatif; Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya bahwa dalam penelitian analisis isi titik tekannya adalah bagaimana peneliti memaknakan isi komunikasi membaca simbol-simbol dan interaksi simbolis yang terjadi dalam komunikasi (Burhan Bungin. 2007: 156).  



D.    HASIL PENELITIAN
Dari analisis yang peneliti lakukan terhadap matan-matan hadits yang terdapat dalam kitab Bukhari dan Muslim yang peneliti kelompokkan menjadi delapan belas kelompok di atas, peneliti menemukan bahwa karakter-karakter pribadi Rasulullah SAW yang dapat peneliti identifikasi antara lain:


1.    Rendah Hati (Tawadhu’).

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ َسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al A'laa dari Bapaknya dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim, hadits no 4689, bab sunnahnya memberi maaf dan berlaku tawadhu’)
Rasulullah SAW senantiasa menunjukkan sikap tawadhu’ kepada siapa pun. Jika beliau melewati sekumpulan anak-anak kecil, maka beliau mengucapkan salam kepada mereka. Ada seorang budak wanita yang menggelendeng tangan beliau menuju tempat yang dikehendakinya. Jka beliau makan, maka beliau menjilat jari jemari tangan tiga kali. Jika berada di rumah, maka beliau mengerjakan tugas-tugas keluarganya. Beliau biasa menjahit sandalnya, menambal pakaian, memerah susu untuk keluarganya, member makan unta, makan bersama pelayan, duduk bersama orang-orang miskin, berjalan bersama para janda dan anak-anak yatim, memenuhi keperluan mereka, selalu mengucapkan salam terlebih dahulu kepada mereka, memenuhi undangan siapa pun yang mengundangnya, sekalipun untuk keperluan sangat ringan dan remeh. Akhlak beliau lembut, tabi’at beliau mulia, pergaulan beliau baik, wajah senatiasa berseri, mudah tersenyum, rendah hati namun tidak menghinakan diri. Dermawan tapi tidak boros, hatinya mudah tersentuh dan menyayangi setiap orang muslim dan siap melindungi mereka (Ibnu Qoyim Al-Jauzi: 263).

2.    Sabar

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِنِسْوَةٍ مِنْ الْأَنْصَارِ لَا يَمُوتُ لِإِحْدَاكُنَّ ثَلَاثَةٌ مِنْ الْوَلَدِ فَتَحْتَسِبَهُ إِلَّا دَخَلَتْ الْجَنَّةَ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ أَوْ اثْنَيْنِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَوْ اثْنَيْنِ
“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id; Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz yaitu Ibnu Muhammad dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada para wanita Anshar: "Tidaklah salah seorang dari kalian ditinggal mati oleh tiga orang anaknya, lalu ia sabar dan mengharap pahala dari Allah, kecuali pasti ia akan masuk surga." Lalu berkatalah seorang wanita dari mereka; "Bagimana jika dua orang saja?" Rasulullah bersabda: "Meskipun dua orang." (HR. Muslim, Kitab: Berbuat baik, menyambut silaturahmi dan adab, Bab: Keutamaan seseorang yang ditinggal mati oleh anaknya, No. Hadist : 4767).
Sabar menurut bahasa berarti mencegah, menahan dan mengekang. Sedangkan menurut istilah syara’, sabar berarti mencegah jiwa agar tidak bersedih, menahan lidah agar tidak mengeluh, mengekang anggota badan agar tidak melakukan perbuatan yang sia-sia (Ahmad Farid:288)

3.    Memuliakan Tamu dan Menghormati Tetangga

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari, Kitab: Adab, Bab: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, jangan mengganggu tetangganya, No. Hadist: 5559).
Tetangga mempunyai hak-hak dalam syari’at Islam. Hal itu tidak lain adalah untuk memperkuat ikatan komunitas masyarakat muslim. Orang tua harus mendidik anaknya untuk tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti tetangga. Seperti melarang anak untuk keluar dari ruamh dengan membawa makanan atau buah-buahan yang tidak dipunyai anak tetangga, sehingga membuatnya iri (Muhammad Nur Abdul Hafidz: 183-184).

4.    Ceria dan Riang Gembira

حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ صَخْرٍ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَزْهَرَ اللَّوْنِ كَأَنَّ عَرَقَهُ اللُّؤْلُؤُ إِذَا مَشَى تَكَفَّأَ وَلَا مَسِسْتُ دِيبَاجَةً وَلَا حَرِيرَةً أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا شَمِمْتُ مِسْكَةً وَلَا عَنْبَرَةً أَطْيَبَ مِنْ رَائِحَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Dan telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Sa'id bin Shakhr Ad Darimi; Telah menceritakan kepada kami Habban; Telah menceritakan kepada kami Hammad; Telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa ceria dan keringatnya bagai kilau mutiara. Apabila beliau berjalan, maka langkahnya terayun tegap. Sutera yang pernah saya sentuh tidak ada yang lebih halus dari pada telapak tangan beliau. Minyak misik dan minyak ambar yang pernah saya cium, tidak ada yang melebihi semerbak wanginya badan beliau." (HR. Muslim, Kitab: Keutamaan, Bab: Harumnya bau tubuh nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam, No. Hadist: 4299),
Seorang muslim senantiasa periang dalam bergaul dengan orang lain. Dia tidak segan-segan bergabung bersama mereka dan bercanda ria secara baik dan benar serta tidak berlebih-lebihan. Di dalam bercanda tersebut dia tidak melakukannya dengan hal-hal yang dapat menyakitkan mereka, melainkan dengan cara yang Islami yang penuh toleran dan tidak keluar dari wilayah kebenaran (DR. M ali Al-Hasyimi:194)


5.    Pemberani

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ هُوَ ابْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَأَجْوَدَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ وَلَقَدْ فَزِعَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَانْطَلَقَ النَّاسُ قِبَلَ الصَّوْتِ فَاسْتَقْبَلَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ سَبَقَ النَّاسَ إِلَى الصَّوْتِ وَهُوَ يَقُولُ لَنْ تُرَاعُوا لَنْ تُرَاعُوا وَهُوَ عَلَى فَرَسٍ لِأَبِي طَلْحَةَ عُرْيٍ مَا عَلَيْهِ سَرْجٌ فِي عُنُقِهِ سَيْفٌ فَقَالَ لَقَدْ وَجَدْتُهُ بَحْرًا أَوْ إِنَّهُ لَبَحْرٌ

“Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin 'Aun telah menceritakan kepada kami Hammad yaitu Ibnu Zaid dari Tsabit dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah sosok yang paling baik (perawakannya), orang yang paling dermawan dan pemberani, Pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara, lalu orang-orang keluar ke arah datangnya suara itu. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang hendak pulang. Rupanya beliau telah mendahului mereka ke tempat datangnya suara itu. Beliau mengendarai kuda yang dipinjamnya dari Abu Thalhah, beliau tidak membawa lampu sambil menyandang pedang beliau bersabda: "Jangan takut! Jangan takut!" kata Anas; "Kami dapati beliau tengah menunggang kuda yang berjalan cepat atau sesungguhnya kudanya berlari kencang." (HR. Bukhari, Kitab: Adab, Bab: Berbuat baik, dermawan, dan dibencinya kebakhilan, No. Hadist: 5573)

6.    Jujur
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wa`il dari Abdullah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Sesungguhnya kejujuran akan membimbing pada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga, sesungguhnya jika seseorang yang senantiasa berlaku jujur hingga ia akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan sesungguhnya kejahatan itu akan menggiring ke neraka. Dan sesungguhnya jika seseorang yang selalu berdusta sehingga akan dicatat baginya sebagai seorang pendusta." (HR. Bukhari, Kitab: Adab, Bab: Firman Allah "Wahai orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah", No. Hadist: 5629).

7.    Murah Hati dan Dermawan

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari 'Ubaidallah bin 'Uqbah bahwa Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dalam segala kebaikan. Dan kelembutan Beliau yang paling baik adalah saat bulan Ramadhan ketika Jibril alaihissalam datang menemui Beliau. Dan Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur'an) hingga Al Qur'an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Apabila Jibril Alaihissalam datang menemui Beliau, maka Beliau adalah orang yang paling lembut dalam segala kebaikan melebihi lembutnya angin yang berhembus". (HR. Bukhari, Kitab: Shaum, Bab: Di bulan ramadan Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam lebih banyak beramal kebaikan, No. Hadist: 1769)
Sifat dermawan adalah akhlak seorang muslim, sedangkan sifat murah hati adalah tabiatnya. Ia bukanlah seorang yang kikir atau bakhil. Karena, difat kikir dan bakhil itu dua akhlak yang tercela yang keduanya berasal dari kotornya jiwa dan gelapnya hati. Apabila seorang muslim beriaman dan beramal shalih maka jiwanya bersih dan hatinya bercahaya. Keduanya dapat menghilangkan sifat kikir dan bakhil (Abu Bakar Al-Jazairi:298).


8.    Lemah Lembut.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ دَخَلَ رَهْطٌ مِنْ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُمْ قَالَتْ عَائِشَةُ فَفَهِمْتُهَا فَقُلْتُ وَعَلَيْكُمْ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ قَالَتْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَهْلًا يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الْأَمْرِ كُلِّهِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ

“Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Shalih dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair bahwa Aisyah radliallahu 'anha isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata; "Sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam, mereka lalu berkata; "Assaamu 'alaikum (semoga kecelakaan atasmu). Aisyah berkata; "Saya memahaminya maka saya menjawab; 'wa'alaikum as saam wal la'nat (semoga kecelakaan dan laknat tertimpa atas kalian)." Aisyah berkata; "Lalu Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tenanglah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara." Saya berkata; "Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidak mendengar apa yang telah mereka katakan?" Rasulullah shallaallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Saya telah menjawab, 'Wa 'Alaikum (dan semoga atas kalian juga)." (HR. Bukhari, Kitab: Adab, Bab: Bersikap santun dalam semua masalah, No. Hadist : 5565)
Seorang Muslim yang benar-benar taat selalu lemah lembut kepada orang lain. Yang demikian itu karena lemah lembut merupakan perangai yang sangat terpuji, suatu sifat yang disukai Allah dari orang-orang yang beriman. Dengan sifat itu seseorang akan bepenampilan menyenangkan, baik dalam memerlukan orang lain, dan dekat dengan hati orang lain, serta dicintai oleh mereka (M ali Al-Hasyimi:182).
Hikmah bersifat lemah lembut: dicintai oleh Allah swt bagi orang yang memiliki sifat lemah lembut, sesungguhnya kelembutan adalah perhiasan bagi seorang muslim, pintu-pintu hati akan terbuka dan manusia pun akan akan menerima kebenaran dengan kelembutan, akan mendapatkan teman yang banyak, dengan kelemah lembutan seseorang akan mudah menerima kebenaran, akan dipermudah untuk masuk surga, akan mudah memperoleh kebaikan dalam segala hal.

9.    Dapat Dipercaya (Amanah)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ ح و حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنِي هِلَالُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan berkata, telah menceritakan kepada kami Fulaih. Dan telah diriwayatkan pula hadits serupa dari jalan lain, yaitu Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al Mundzir berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fulaih berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku berkata, telah menceritakan kepadaku Hilal bin Ali dari Atho' bin Yasar dari Abu Hurairah berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam suatu majelis membicarakan suatu kaum, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui lalu bertanya: "Kapan datangnya hari kiamat?" Namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tetap melanjutkan pembicaraannya. Sementara itu sebagian kaum ada yang berkata; "Beliau mendengar perkataannya akan tetapi beliau tidak menyukai apa yang dikatakannya itu, " dan ada pula sebagian yang mengatakan; "bahwa beliau tidak mendengar perkataannya." Hingga akhirnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyelesaikan pembicaraannya, seraya berkata: "Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?" Orang itu berkata: "saya wahai Rasulullah!". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila sudah hilang amanah maka tunggulah terjadinya kiamat". Orang itu bertanya: "Bagaimana hilangnya amanat itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat". (HR. Bukhari, Kitab: Ilmu, Bab: Siapa yang bertanya tentag ilmu sedang dia terus menyampaikan pertanyaannnya, No. Hadist: 57).
Agama Islam mengaharuskan setiap pemeluknya memiliki hati dan perasaan memiliki hati dan  perasaan yang mawas dan kuat, dengan hati yang mawas dan kuat semua hak-hak Allah dan hak-hak manusia dapat dipelihara dengan baik, semua amal perbuat dapat dijauhkan dari sikap ekstrim dan memudah-mudahkan. Karena itulah agama Islam ini mewajibkan setiap muslim memiliki sifat dapat dipercaya (amanah) (Ali Fikri Noor:1).
Amanah adalah sebuah kewajiban, di mana sudah seharusnya semua orang Islam saling mewasiatinya dan memohon bantuan kepada Allah dalam menjaganya, bahkan seseorang hendak berpergian sekalipun.

10.    Malu

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al Ju'fi dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqadi yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman". (HR. Bukhari, Kitab: Iman, Bab: Tentang Perkara-perkara Iman, No. Hadist: 8).
Dalam bahasa arab, al-haya’ itu berasal dari kata al-hayah yang secara harfiyah berarti hidup. Ini mengandung makna bahwa sifat malu itu bergantung pada hidupnya hati dan jiwa seseorang. Semakin hidup rohani dan jiwa manusia, semakin tinggi dan besar pula sifat manusia yang dimiliki (Ilyas Ismail: 138).
Macam-macam malu dalam kitab Madariju Salikin, antara lain: Malu karena berbuat salah, Malu karena keterbatasan diri, Rasa malu Karena pengagungan, Malu karena kehalusan budi, Malu karena menjaga kesopanan, Malu karena merasa diri terlalu hina, Malu karena cinta, Malu Karen ubudiya (yaitu rasa malu yang bercampur dengan cinta dan rasa takut), Malu karena kemuliaan, Nalu terhadap diri sendiri (Ibnu Qoyim: 242).

11.    Sederhana (Zuhud)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ ارْزُقْ آلَ مُحَمَّدٍ قُوتًا

“Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudlail dari Ayahnya dari 'Umarah dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ya Allah, jadikanlah rizki atas keluarga Muhammad sekedarnya." (HR. Bukhari, Kitab: Hal-hal yang melunakkan hati, Bab: Kehidupan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam dan para sahabatnya, No. Hadist: 5979)
Zuhud di dunia dan tidak cendrung kepadanya adalah cirri-ciri orang-orang saleh dan derajat yang tinggi yang didapat oleh orang-orang yang menjalani penyucian jiwa dan menyiapkan diri ke negeri akhirat (Anas Ahmad Karzon: 308).
Ibnu Taimiyah mendefinisikan zuhud yang dibolehkan sebagai, meninggalkan segala yang tidak bermanfaat bagi negeri akhirat dan kepercayaan hati kepada segala yang ada di sisi Allah swt. Ini adalah sifat di dalam hati. Sedangkan zahirnya adalah, meninggalkan segala kelebihan yang tidak membantu ketaatan kepada Allah swt, berupa makanan, minuman, dan harta (Ibnu Taimiyah: 641-642).


12.    Menjaga Kehormatan Diri (Muru’ah)

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ هَذَا الْمَالُ وَرُبَّمَا قَالَ سُفْيَانُ قَالَ لِي يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِطِيبِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى

“Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dia berkata; saya mendengar Az Zuhri berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Urwah dan Sa'id bin Musayyab dari Hakim bin Hizam dia berkata; saya meminta sesuatu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau memberiku, lalu aku meminta lagi dan beliau pun memberiku, lalu aku memintanya lagi dan beliau pun memberiku, kemudian beliau bersabda: "Harta ini." -Sufyan mengatakan- beliau bersabda kepadaku: 'Wahai Hakim, sesungguhnya harta benda ini kelihatan hijau dan manis, barangsiapa mengambilnya dengan cara yang baik, maka ia akan diberkahi, dan barangsiapa mengambilnya dengan berlebihan, maka ia tidak akan diberkahi, yaitu seperti orang yang makan dan tak pernah kenyang, tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. (HR. Bukhari, Kitab: Hal-hal yang melunakkan hati, Bab: Sabda Nabi Shallallahu'alaihiwasallam "Harta ini adalah hijau ranau', No. Hadist : 5960)
Hakikat muru’ah ialah jika engkau membenci penyeru yang pertama dan kedua dan memenuhi penyeru yang ketiga. Kemanusiaan, keperwiraan dan kejantanan terjadi ketika mengingkari penyeru yang dua penyeru dan mematuhi penyeru yang ketiga (Ibnu Qoyim:272).

13.    Pekerja Keras

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى أُمِّ مُبَشِّرٍ الْأَنْصَارِيَّةِ فِي نَخْلٍ لَهَا فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ غَرَسَ هَذَا النَّخْلَ أَمُسْلِمٌ أَمْ كَافِرٌ فَقَالَتْ بَلْ مُسْلِمٌ فَقَالَ لَا يَغْرِسُ مُسْلِمٌ غَرْسًا وَلَا يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ
“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah mengabarkan kepada kami Laits. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh telah mengabarkan kepada kami Laits dari Ibnu Zubair dari Jabir bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menemui Ummu Mubasyir Al Anshariyah di kebun kurma miliknya, lantas Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya: "Siapakah yang menanam pohon kurma ini? Apakah ia seorang muslim atau kafir? Dia menjawab, "Seorang Muslim." Beliau bersabda: "Tidaklah seorang Muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman lalu tanaman tersebut dimakan oleh oleh manusia, binatang melata atau sesuatu yang lain kecuali hal itu berniali sedekah untuknya." (HR. Muslim, Kitab: Pengairan, Bab: keutamaan bercocok tanam. No. Hadist: 2901)
 Islam mengajarkan kepada umatnya untuk giat bekerja guna mencukupi kebutuhan hidupnya, dengan tanpa membeda-bedakan jenis kerja yang harus ditekuninya. Ini berarti bahwa seorang Muslim boleh menjadi pegawai pemerintah, boleh menjadi pedagang, boleh menjadi petani, boleh menjadi tukang becak, boleh menjadi pencari kayu bakar, dan pekerjaan-pekerjaan lainya di yang halal, asalkan dengan pekerjaan itu menjadikan ia tercukupi dan tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain, misalnya dengan meminta-minta ( al-mahiri:149).

14.    Pemaaf

حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِعَن قوله ( خُذْ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ ) قَالَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا فِي أَخْلَاقِ النَّاسِ وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَرَّادٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ أَمَرَ اللَّهُ نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَأْخُذَ الْعَفْوَ مِنْ أَخْلَاقِ النَّاسِ أَوْ كَمَا قَالَ
“Telah menceritakan kepada kami Yahya Telah menceritakan kepada kami Waki' dari Hisyam dari Bapaknya dari 'Abdullah bin Az Zubair mengenai firman Allah; Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf (Al A'raf: 199). Dia berkata; Tidaklah Allah menurunkannya kecuali mengenai akhlak manusia. 'Abdullah bin Barrad berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Bapaknya dari 'Abdullah bin Az Zubair dia berkata; 'Allah menyuruh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar memaafkan kesalahan manusia kepada beliau.' -atau kurang lebih demikianlah apa yang ia katakan.- (HR. Bukhari. Kitab: Tafsir Al Qur`an. Bab: Surat Al A'raaf ayat 199. No. Hadist : 4277)
Sifat pemaaf Rasulullah telah mengakar di dalam diri beliau yang sangat mulia, hal itu terlihat saat beliau memberikan maaf kepada wanita yahudi yang menghadiahkan daging beracun kepada beliau. Disebutkan bahwa wanita yahudi itu memberikan daging kambing yang beracun kepada beliau, lalu beliau memakan sedikit dan diikuti oleh sebagian sahabat, Rasulullah berkata kepada mereka hentikan, “hentikan, jangan makan, daging ini beracun.” Selanjutnya wanita itu dibawa kepada rasulullah, maka beliau pun bertanya. “ apa yang menyebabkan kamu seperti ini?” wanita itu menjawab, “ aku hanya ingin tahu, jika engkau seorang nabi maka Allah akan memberitahumu akan racun itu dan tidak akan mencelakaimu. Tetapi jika kamu bukan nabi, maka kami akan tenang dari gangguanmu.” Para sahabat berseru, “ bukankah kita harus membunuhnya?” beliau menjawab, “tidak!” maka beliau pun memaafkan wanita yahudi itu (ali al-hasyimi:190).

15.    Kasih Sayang

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ قَالَ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَطَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقُلْتُ فِي نَفْسِي مَا يُبْكِي هَذَا الشَّيْخَ إِنْ يَكُنْ اللَّهُ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ مَا عِنْدَ اللَّهِ فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الْعَبْدَ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ أَعْلَمَنَا قَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ لَا تَبْكِ إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أُمَّتِي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ لَا يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابُ أَبِي بَكْرٍ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan berkata, telah menceritakan kepada kami Fulaih berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Nadlr dari 'Ubaid bin Hunain dari Busr bin Sa'd dari Abu Sa'id Al Khudru berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan khuthbahnya, "Sesungguhnya Allah telah menawarkan kepada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya. Kemudian hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah." Maka tiba-tiba Abu Bakar Ash Shidiq menangis. Aku berpikir dalam hati, apa yang membuat orang tua ini menangis, hanya karena Allah menawarkan kepada seorang hamba untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah?" Dan ternyata Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah yang dimaksud hamba tersebut. Dan Abu Bakr adalah orang yang paling memahami isyarat itu. Kemudian beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, jangalah kamu menangis. Sesungguhnya manusia yang paling terpercaya di hadapanku dalam persahabatannya dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil kekasih dari ummatku, tentulah Abu Bakar orangnya. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan berkasih sayang dalam Islam. Sungguh, tidak ada satupun pintu di dalam Masjid yang tersisa melainkan akan tertutup kecuali pintunya Abu Bakar." (HR. Bukhari. Kitab: Shalat. Bab: Pintu dan jalan untuk berlalu lalang di masjid. No. Hadist: 446).
Hikmah bersifat penyayang antara lain; orang yang bersifat penyayang akan disayangi oleh Allah, orang yang bersifat penyayang akan disayangi oleh makhluk yang ada di langit, sifat penyayang adalah buah dari keimanan, sifat penyayang merupakan sumber manusia disayangi oleh orang lain, sasih sayang menumbuhkan ketentraman kepada pemiliknya, kasih sayang merupakan akar dasar perdamaian.

16.    Bergaul Dengan Baik

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى رَجُلَانِ دُونَ الْآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ أَجْلَ أَنْ يُحْزِنَهُ
“Telah menceritakan kepada kami Utsman telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wa`il dari Abdullah radliallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila kalian bertiga, maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa menyertakan yang ketiga sebelum ia berbaur dengan yang lain, karena hal itu dapat menyinggung perasaannya." (HR. Bukhari. Kitab: Meminta Izin. Bab: Jika lebih dari tiga orang, tidak masalah berbisik-bisik. No. Hadist: 5816)
Bergaul adalah hidup bersama-sama. Berhubung manusia tidak semuanya sama, maka lahirlah dalam pergaulannya bermacam hal. Bila tiap orang hanya memperhatikan keinginannya sendiri-sendiri, maka terjadilah pertengkaran dan mungkin pembunuhan dari atas manusia, sehingga hidup manusia tidak akan aman. Untuk mempunyai keamanan tersebut manusia dalam pergaulannya harus mempunyai batas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Untuk mencapai kemanan hidup itu maka manusia haruslah menghindarkan apa yang dilarang dan melakukan apa yang disuruhkan dalam masyarakat (Kahar Masyur:142).


17.    Menepati Janji

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنْ الْإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ أَعْطُوهُ فَطَلَبُوا سِنَّهُ فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا فَقَالَ أَعْطُوهُ فَقَالَ أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاء

“Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Ada seorang laki-laki yang dijanjikan diberi seekor anak unta oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka dia datang kepada Beliau untuk menagihnya. Maka Beliau bersabda: "Berikanlah". Maka para sahabat mencarikan anak unta namun tidak mendapatkannya kecuali satu ekor anak unta yang umurnya lebih diatas yang semestinya. Maka Beliau bersabda: "Berikanlah kepadanya". Orang tersebut berkata: "Engkau telah menepati janji kepadaku semoga Allah membalasnya buat Tuan". Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah siapa yang paling baik menunaikan janji". (HR. Bukhari. Kitab: Al-Wakalah (perwakilan). Bab: Perwakilan orang yang hadir atau yang tidak hadir adalah dibolehkan. No. Hadist: 2140)
 Orang Muslim hakiki yang jiwanya diliputi petunjuk Islam juga menghiasi dirinya dengan sifat suka memenuhi janji. Tidak berlebihan jika kita mengatakan, bahwa sifat ini merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan seseorang di masyarakatnya, sekaligus bukti paling kuat yang menunjukkan ketinggian derajat dan tingkat sosial seseorang di masyarakatnya ( Muhammad Ali al-Hasyimi:174).

18.    Cinta Perdamaian

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مُعْتَمِرًا فَحَالَ كُفَّارُ قُرَيْشٍ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ فَنَحَرَ هَدْيَهُ وَحَلَقَ رَأْسَهُ بِالْحُدَيْبِيَةِ وَقَاضَاهُمْ عَلَى أَنْ يَعْتَمِرَ الْعَامَ الْمُقْبِلَ وَلَا يَحْمِلَ سِلَاحًا عَلَيْهِمْ إِلَّا سُيُوفًا وَلَا يُقِيمَ بِهَا إِلَّا مَا أَحَبُّوا فَاعْتَمَرَ مِنْ الْعَامِ الْمُقْبِلِ فَدَخَلَهَا كَمَا كَانَ صَالَحَهُمْ فَلَمَّا أَنْ أَقَامَ بِهَا ثَلَاثًا أَمَرُوهُ أَنْ يَخْرُجَ فَخَرَجَ
“Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi' Telah menceritakan kepada kami Suraij Telah menceritakan kepada kami Fulaih -lewat jalur periwayatan lain- telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Husain bin Ibrahim katanya, telah menceritakan kepadaku ayahku Telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman dari Nafi' dari Ibnu Umar radliallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berangkat umrah, kemudian orang kafir quraisy menghalangi antara beliau dan Baitullah, lantas beliau sembelih sembelihannya, beliau cukur kepalanya di Hudaibiyah, dan beliau putuskan kepada mereka agar beliau berumrah tahun berikutnya, dan tidak membawa senjata selain pedang dan tidak berdiam di Makkah selain yang Quraisy inginkan. Tahun selanjutnya beliau melakukan umrah, dan beliau memasuki Makkah sebagaimana perdamaian yang beliau janjikan, setelah beliau bermukim disana selama tiga hari, orang-orang Quraisy menyuruhnya agar beliau keluar. Beliaupun keluar. (HR. Bukhari. Kitab: Peperangan. Bab: Umrah pengganti, Anas menyebutkannya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. No. Hadist: 3921).
Perdamaian adalah suatu perlombaan, yang mana masing-masing individu, tiap-tiap masyarakat, dan semua Negara-negara harus mengambil bagian. Pemenang pertama adalah Muslim yang pertama. Perdamaian adalah suatu persetujuan antara individu, perkumpulan Negara untuk implementasi perintah tuhan, dan untuk perwujudan perdamian universal, bukan suatu penolakan berdasar pada kekuatan atau pencegahan (Hasan Hanafi: 8).

E.    KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dalam bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa karakter nabi Muhammad SAW yang terdapat dalam kitab shohih Bukhari dan Muslim antara lain: 1). Rendah Hati (Tawadhu’), 2) Sabar, 3) Memuliakan Tamu dan Menghormati Tetangga, 4) Ceria dan Riang Gembira, 5) Pemberani, 6) Jujur, 7) Murah Hati dan Dermawan, 8) Lemah Lembut, 9) Dapat Dipercaya (Amanah), 10) Malu , 11) Sederhana (Zuhud), 12) Menjaga Kehormatan Diri (Muru’ah), 13) Pekerja Keras, 14) Pemaaf, 15) Kasih Sayang, 16) Bergaul dengan baik, 17) Menepati Janji, 18) Cinta Perdamaian.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa, karakter Nabi Muhammad SAW yang tterdapat dalam kitab Bukhari dan Muslim yang berhasil peneliti temukan adalah delapan belas karakter.

F.    SARAN
Bagi para tenaga pendidikan, orang tua hendaknya memahami, menelaah, mempraktekkan cara, metode, pendidikan karakter sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam Shahih Bukhari dan Muslim, sehingga bisa menjadikan out put-nya berkualitas, generasi tangguh dimasa yang akan datang sebagai pelanjut estafet tugas mulia ini dibidangnya masing-masing, maka pendidikan karakter dalam Al-Qur‟an perlu masukkan dalam semua bahan ajar, dan perlu dikaji terus menerus. sehingga anak-anak bisa menjadi permata hati, kebanggaan orang tua, masyarakat, bangsa dan negara. Wallahu A'lam Bishawab.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran dan Terjemahnya, Mujamm’a al-khadim al-Haramain al-Syarifain, MalikFuad li Thiba’at al-Mushaf al-Syarif, Medinah Munawarah P.O. BOX. 6262
Al-Ghazali, Imam. (1995). Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. (Terjemahan). Jakarta: Pustaka amani.
Al-Qardhawy, Yusuf. (1997). Pengantar Kajian Islam: studi analistik Komprehensif tentang Pilar-pilar Substansial, Karakteristik, tujuan dan sumber acuan Islam (Terj. Setiawan Budi Utomo). Jakarta: Pustakata Al-Kautsar.
Al-Himsyi, Muhammad Hasan. (1999). Tafsir Wabayan Mufrodaatu al-Qur’an. Bairut: Mu’assatu al-Iman.
Al-Jauziyah, Qoyim. (1999). Madariku Salikin. Jakarta:Pustaka Al-Kautsar.
Al-Mahirz. (1997). Pesan-Pesan Rasulullah. Bandung: Citra Umbara.
Al-Hasyimi, M, Ali. (1999). Jati Diri Muslim. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar.
Abdul Hafidz, M, Nur. (1997). Mendidik Anak Bersama Rasulullah. Bandung:Al-Bayan.
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Abdul Mujib, Jusuf  Mudzakkir. (2006). Ilmu Pendidikan Islam.  Jakarta: Kencana Prenada Media.
Azzet, Akhmad Muhaimin. (2011). Urgensi Pendidikan Karakter di Indonesia. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Al-Kutub al-Tis’ah. CD Hadits.
Barnawi. Arifi, M. (2012). Strategi & Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif; Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana
Daraat, Zakiah. (1992). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Agama RI. 1984. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Departemen Agama RI.
Echols, John M. Shadily Hassan. (2000). Kamus Indoneisa Inggris. Jakarta: PT Gramedia Jakarta.
Hasbullah. (2006).  Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.
Hart, Michael H. (1982).  Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah. (Terj. H. Mahbub Djunaidi). Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.
Halim Mahmud, Ali Abdul. (1995). At-Tarbiyah Al-Khuluqiyah. (Terj. Abdull Hayyie Al-Kattani mature). Jakarta: Gema Insani Press.
Hanafi, Hasan. (2003).  Rekonsiliasi: Dalam Perspektif Al-Qur’an dalam buku Islam dan Perdamian. Jakarta: Progres.
Kahar, Masyhur. (1985). Membina Moral dan Akhlak. Jakarta: Kalam Mulia.
Lickona, Thomas. 1991. Educating for Character. New Yok: Bantams Books.
Lickona, Thomas. (1991). Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. New York, Toronto, London, Sydney, Aucland: Bantam books.
Mandaru, M.Z. (2005). Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari. Yoyakarta: Ar-ruzz.
Madjid, Abdul. (2011). Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mausyu’ah Al-Hadits As-Syarif Version 2,00. (1991-1997).  CD Program di produksi oleh Global Islamic Sofware Company.
Matta, Anis. 2001. Membentuk Karakter Muslim. Jakarta : Shout Al Haq Press.
Mausyu’ah Al-Qur’an Al-Karim Version 1.0. CD Program di produksi oleh Ecs-Sof.co. Mesir.
Mudyahardjo, redja. (2001). Pengantar Pendidikan. Jakarta: rajawali Press.
Mu’in, Fatchul. (2011). Pendidikan Karakter; Kontsruksi Teoritik dan Peraktik. Yogyakarta: Ar-Ruzz.
Mudyahardjo, redja. (2001). Pengantar Pendidikan. Jakarta: rajawali Press.
Marzuki. (2009). Prinsip Dasar Akhlak Mulia: Pengantar Studi Konsep-Konsep DasarEtika dalam Islam. Yogyakarta: Debut Wahana Press-FISE UNY.
Mahali, Mujab. (1986). Insan Kamil. Yogyakarta BPFE.
Nazir, Moh. (2005). Metode penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.
Patilima, Hamid. (2005).  Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Quraish Shihab, Muhammad. (1998). Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Qatthan, Manna’ul. (1973). Mabaahits Fii Ulumi Al-Qur’an. Riyad:  Mansurats Al-Asrul Hadits.
Qadir Hasan, Abdul. (1992). Ushul Fiqih. Bangil: Amprin Bangil.
Sukidin, Basrawi. (2002). Metode Penelitian Perspektif Mikro. Bandung: Insan Cendikia.
Sukardi. (2004). Metode Penelitian Pendidikan: kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Shihab, M. Quraish. (1996). Wawasan Al-Qur’an. Bandung: Mizan.
Tafsir,  Ahmad. (2005).  Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Rosda Karya.
Titscher, Stefan et al. 2009. Metode Analisis Teks dan Wacana (Terj. Ghazali dkk). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Untung, Moh Slamet. (2005).  Muhammad Sang Pendidik. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Wibowo, Agus. (2012). Pendidikan Karakter; Strategi Membangun Karakter Bangsa Berperadaban. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Zubaidi. (2011). Desain Pendidikan Karakter; Konsepsi dan aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mari kita membaca dengan hati plus mata